
Langkah Fang Yin terhenti di depan pintu villa belakang. Sama seperti villa-villa yang lainnya, villa ini juga mengalami kerusakan meskipun tidak parah. Ketika Ketua Lama menyentuh pintu itu, pintunya sudah roboh dan jatuh.
"Kita menderita kerugian yang sangat besar malam ini." Ketua Lama menoleh pada Fang Yin mengungkapkan kekesalannya.
"Maafkan aku, Ketua. Aku juga ikut andil dalam pengrusakan ini." Fang Yin menggaruk keningnya sambil meringis dalam cadarnya.
"Masuklah!" Ketua Lama kembali melangkah mendahului Fang Yin lalu menuju ke sisi dalam ruangan dan duduk di depan sebuah meja.
Fang Yin mengikutinya lalu duduk di hadapannya.
Perasaan Fang Yin menjadi tidak menentu ketika Ketua Lama menatapnya tajam dan tidak kunjung mengatakan sesuatu.
'Bersiaplah, untuk menerima hukuman mu, Fang Yin! Sungguh aku benar-benar sial hari ini. Aku tidak menyalahkan Tetua Yu yang meneriakkan namaku. Jika dia tidak melakukannya mungkin aku akan mati, tapi aku juga harus dihujat karena dianggap kurang ajar oleh para tetua karena berani membohongi mereka.' Fang Yin menunduk tidak berani membalas tatapan Ketua Lama.
Ketua Lama menyadari rasa bersalah di mata Fang Yin meskipun sebenarnya bukan untuk itu dia memanggilnya ke mari.
"Ehemm ...!" Ketua Lama berdehem untuk mencairkan kesunyian di ruangan itu.
Dia juga bingung untuk memulai dari mana cerita yang akan dia ungkapkan pada Fang Yin.
__ADS_1
"Namamu Xiao Yin, bukan?" tanya Ketua Lama kemudian.
"Benar, Ketua!" Fang Yin berusaha menutupi jati dirinya dari Ketua Lama.
"Bolehkah aku tahu nama klan atau marga yang kamu miliki?"
Deg!
Pertanyaan Ketua Lama membuat Fang Yin sedikit merasa kebingungan. Haruskah dia memakai marga Xi dari ayah angkatnya atau pura-pura tidak tahu. Fang Yin masih terdiam tak berkutik sambil meremas baju yang menutupi lututnya.
"Tidak perlu menjawabnya jika kamu tidak ingin menjawabnya. Kegugupanmu sudah membuatku yakin jika kamu adalah putri dari sahabatku." Ketua Lama kembali menatap mata Fang Yin, sorot mata yang sama dengan mata Gu Ming Hao.
Mata Fang Yin melebar ketika mendengar pernyataan Ketua Lama. Dia merasa semakin bingung dengan apa yang dikatakan oleh pria asing di depannya itu. Meskipun dia mengaku sebagai sahabat dari ayahnya, Fang Yin masih tetap waspada dan tidak ingin mengungkapkan jati dirinya pada Ketua Lama.
Ketua Lama tersenyum melihat Fang Yin yang terlihat sangat waspada. Dari gerak-gerik gadis di hadapannya itu dia bisa menebak apa yang ada di dalam pikirannya.
'Sepertinya anak ini telah melewati banyak sekali kesulitan dan bahaya sehingga membuatnya sangat waspada. Lolos dari pembantaian dalam pemberontakan itu tentu membuatnya menjadi satu-satunya klan Gu yang masih tersisa. Aku mengerti mengapa sekarang alasan apa yang membuatnya menutupi identitasnya dan menjadi orang lain. Mungkin dia akan selalu berubah menjadi orang yang berbeda juga di tempat-tempat yang telah disinggahinya. Tapi aku tidak bisa untuk tidak mengatakan semua tentang ayahnya.' Ketua Lama terus berbicara dalam hatinya.
"Xiao Yin! Maafkan aku jika aku tahu semua tentang rahasiamu. Tetapi percayalah, aku berjanji untuk tidak akan mengatakannya pada siapapun."
__ADS_1
Fang Yin hanya menunduk tanpa berani menatap wajah Ketua Lama.
Dia tidak mengiyakan atau menyanggah ucapan pria tua yang berwajah muda itu.
"Aku dan ayahmu adalah pendiri sekte ini. Saat itu ayahmu masih lajang dan belum di angkat menjadi putra mahkota. Pertemuan yang tidak sengaja. Namun memberi kesan yang tidak akan pernah terlupakan."
Ucapan Ketua Lama membuat Fang Yin benar-benar terkejut. Tubuhnya gemetar ketika dia merasa apa yang dikatakan oleh Ketua Lama telah mendekati kebenaran.
"Aku sangat merindukan Pangeran Gu. Hatiku merasa sakit ketika mendengar bahwa dia sudah tidak ada dan aku belum bisa berbuat sesuatu untuknya. Aku merasa bodoh dan menjadi orang tak berguna karena terus bersembunyi di dalam sepi selama ini."
Dari sudut mata Ketua Lama terdapat titik bening yang tidak begitu terlihat. Namun Fang Yin tahu jika itu adalah air mata kesedihan. Hanya saja sebagai seorang pria tentu saja dia tidak akan menangis.
Sampai detik ini, Fang Yin belum bisa berucap apa-apa dan memilih untuk mendengarkan cerita Ketua Lama.
"Xiao Yin, berjanjilah padaku untuk tetap hidup dan membalaskan dendam ayahmu! Habisi semua orang yang telah mengkhianatinya untukku juga! Jika tiba saat hari pembalasan itu, jangan pernah ragu untuk memanggil si tua ini untuk membantumu!"
Mendengar kata-kata itu, Fang Yin langsung menjatuhkan tubuhnya di hadapan Ketua Lama untuk memberikan penghormatan.
"Gu Fang Yin memberi hormat pada Ketua Lama! Terimakasih atas kerendahan hati Ketua." Kepala Fang Yin hampir menyentuh lantai dengan kedua tangannya yang menyatu berada di atasnya.
__ADS_1
****
Bersambung ....