Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 178


__ADS_3

Sore itu para prajurit mandi bersama-sama di sungai dan terbagi dalam beberapa kelompok.


Yonjie datang menghampiri Fang Yin dan mengajaknya untuk pergi mandi. Fang Yin terlihat bingung dan secara spontan mengatakan jika dia sedang tidak enak badan.


Tanpa diduga, Yonjie meminta prajurit lain untuk menyiapkan air hangat untuk dirinya. Namun apesnya, bak mandi yang mereka siapkan berada di antara tenda para prajurit.


'Astaga! Bagaimana ini? Simbol di punggungku pasti akan menarik perhatian orang. Selain itu aku tidak mungkin mandi di tengah tenda para pria.' Fang Yin terkesiap dengan wajah yang memucat ketika Yonjie menunjukkan air mandinya.


"Aku tidak terbiasa mandi saat tidak enak badan, Yonjie. Maaf sudah merepotkanmu. Seharusnya tadi kamu bertanya dulu padaku," ucap Fang Yin berharap Yonjie akan menyerah untuk memintanya mandi.


Terlintas kembali dalam ingatan Yonjie saat Fang Yin mengobati para prajurit yang terluka. Yonjie berpikir jika seorang ahli pengobatan seperti Fang Yin pasti tahu apa yang dia alami. Mungkin dengan mandi itu akan membuatnya semakin parah.


"Oh, baiklah, Tuan. Beristirahatlah dengan baik. Saya akan mengambilkan makanan untukmu setelah ini."


Fang Yin menghembuskan napas lega, tetapi dia takut jika Yonjie benar-benar mengiranya sedang sakit.


"Ahh, tunggu!" panggil Fang Yin membuat langkah Yonjie terhenti dan kembali ke hadapan Fang Yin.


"Tidak perlu melayaniku, Yonjie. Aku tidak sakit. Aku hanya merasa badanku tidak enak saja setelah berada di tengah matahari terik seharian. Aku akan kembali pulih sebentar lagi. Percayalah!"


Yonjie mengerutkan alisnya mendengar semua ucapan Fang Yin.


"Oh, jadi begitu, Tuan. Aku merasa khawatir jika tuan benar-benar sakit."


Fang Yin tersenyum saat melihat kebaikan hati Yonjie.


"Aku tidak selemah itu kawan." Fang Yin menepuk bahu Yonjie dan mereka pun tersenyum bersama.


***


Hari telah berganti malam.


Panglima Jin mengatur strategi penyerangan di depan para pemimpin regu penyerangan. Fang Yin pun ikut mendengarkan arahan dari Panglima Jing.


Diam-diam Fang Yin mengagumi kecerdasan Panglima Jing yang sangat pandai dalam membuat strategi. Tidak heran jika dia mampu mengatasi banyak sekali pemberontakan di negerinya.


'Andai Kekaisaran Gu punya seorang panglima sepertimu, mungkin ayahku masih hidup sampai sekarang. Eh, tapi bagaimana denganku. Apakah aku tetap menjadi seorang dokter? Terimalah nasibmu Agata. Ini adalah takdir.' Fang Yin melamun mengingat jatidirinya.


Pertemuan itu pun berakhir. Tidak ada kegiatan lain setelah ini selain beristirahat dan mempersiapkan diri untuk penyerangan ke markas pemberontak yang berada di sebuah perkampungan.


Fang Yin mengisi waktunya untuk berkultivasi sebelum dia tertidur. Esensi energi alam di sekitar tempat itu cukup melimpah. Mungkin masih banyak sumberdaya yang belum tergali di sana.


'Aku harus memperbesar kolam Qi-ku untuk mempersiapkan diriku besok. Mengingat ini adalah penyerangan kedua. Bisa dipastikan jika musuh yang merupakan dalang pemberontakan ini tidak bisa dianggap enteng. Huh, ini adalah ujian yang sangat sulit untuk mendapatkan Kitab Sembilan Naga yang belum tentu aku dapatkan.' Fang Yin berusaha meyakinkan dirinya yang mulai hilang semangat.


Di tengah kultivasinya, Panglima Jing datang ke tenda Fang Yin. Ketika melihat Fang Yin sedang melakukan kultivasi, dia duduk di dalam tenda Fang Yin tanpa mengganggunya.


Fang Yin sedang berada di alam bawah sadar di kedalaman jiwanya. Di sana dia bisa berlatih dengan bebas tanpa menimbulkan kekacauan di sekitarnya.


Meskipun latihan itu tidak menggunakan tubuh fisiknya, tetapi semua yang dia alami adalah nyata. Selain jurus-jurus lamanya, dalam latihannya kali ini Fang Yin melatih teknik pedang Yin Yang yang baru saja dia dapatkan.


Dengan pedang Yin Yang dan didukung oleh Qi yang besar dalam tubuhnya, Fang Yin merasa begitu percaya diri menghadapi peperangan esok hari.

__ADS_1


Merasa lelah menunggu Fang Yin yang tidak kunjung selesai di dalam kultivasinya, Panglima Jing memutuskan untuk meninggalkan tenda Fang Yin dan kembali ke tendanya.


Ketika berada di dalam pertemuan, dia lupa mengatakan jika dirinya meminta Fang Yin untuk berada di garis depan bersama dirinya.


Setelah selesai melakukan kultivasi Fang Yin tidak langsung tertidur karena tubuhnya terasa pegal dan lengket.


Dengan alasan ingin pergi membuang hajat, Fang Yin pun pergi ke sungai untuk mandi.


'Aku baru merasa aman jika mandi di tengah malam. Semoga aku bisa segera pergi dari sini dan terlepas dari penderitaan ini.'


Fang Yin merasa tubuhnya kembali segar setelah mandi malam itu. Akhirnya dia bisa tidur dengan nyaman sebelum menghadapi pertempuran.


Pagi-pagi buta, Yonjie sudah membangunkan Fang Yin dan membawakannya makanan. Beruntung Fang Yin tidak lupa untuk membuat mantra perlindungan sebelum dia tertidur, jika tidak penampilannya yang tidak bercadar akan terlihat oleh Yonjie.


"Terimakasih!" ucap Fang Yin setelah menerima makanan dari Yonjie lalu berbalik dan kembali masuk ke dalam tendanya.


Yonjie mengikutinya masuk ke tenda Fang Yin untuk menemaninya makan.


"Sebentar lagi kita akan berangkat," ucap Yonjie terlihat sedih.


"Hmm."


Fang Yin tidak membuka mulutnya yang penuh dengan makanan.


"Aku senang bertemu dengan orang yang baik sepertimu. Semoga hari ini bukan hari terakhir kita bertemu."


"Uhukk! Uhukk!" Fang Yin tersendak makanan saat mendengar kalimat terakhir dari Yonjie.


Yonjie juga membantu Fang Yin menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.


Deh


Jantung Yonjie berdetak sangat kencang ketika dia berada di dalam jarak yang sangat dekat dari Fang Yin.


'Perasaan macam apa ini. Tidak ... tidak ... aku masih waras dan tidak mungkin menyukai seorang pria. Tuan Xu Chen adalah seorang pria meskipun dia memiliki mata indah dengan bulu matanya yang lentik.' Yonjie segera memalingkan wajahnya ke arah lain dan menjauh dari Fang Yin.


Tangannya masih memegangi dadanya yang bergemuruh.


"Kamu membuatku terkejut, Yonjie. Jangan pernah berpikir tentang kematian! Karena rasa takutmu itulah yang akan membawamu padanya. Sekuat apapun musuhmu tetaplah melawannya dengan keberanian dan keyakinan akan sebuah kemenangan." Fang Yin memberikan semangat pada Yonjie yang terlihat ketakutan.


Fang Yin mengira jika wajah pucat Yonjie itu disebabkan oleh rasa takutnya akan pertempuran yang akan dia hadapi.


"Ah, iya. Aku akan mengikuti apa yang Tuan katakan." Yonjie kembali melanjutkan makannya karena dia harus kembali ke barisan setelah ini.


Di tengah makan mereka Panglima Jing datang ke sana.


Fang Yin dan Yonjie sedikit terkejut dengan kedatangannya. Mereka meletakkan makannya lalu memberi hormat pada Panglima Jing.


"Maaf mengganggu waktu makan kalian," ucap Panglima Jing menyusul mereka duduk.


"Sepertinya ada hal penting yang membuat Anda datang kemari," ucap Fang Yin masih dengan posisinya memberi hormat.

__ADS_1


"Kalian bisa melanjutkan makan sambil mendengarkan aku bicara." Panglima Jing melirik ke arah mangkuk mereka yang masih berisi setengah porsi makanan.


"Kami tidak keberatan untuk menunda waktu makan kami untuk mendengarkan titah Panglima Jing." Fang Yin merasa tidak sopan jika dirinya harus makan dihadapan Panglima Jing.


Panglima Jing mengerti jika mereka merasa sungkan padanya.


"Baiklah! Aku akan mengatakan tujuanku datang kemari. Xu Chen, semalam aku mencarimu kemari tetapi kamu sedang berkultivasi dan tidak bisa diganggu. Aku ingin kamu membantuku di garis depan untuk mengatur para prajurit dan menjadi penyerang depan." Panglima Jing menjelaskan maksudnya.


"Saya bersedia. Saya akan melakukan apapun untuk membantu Panglima Jing memenangkan pertarungan ini. Kalau boleh tahu, apakah pasukan pemberontak memiliki dukungan dari para kultivator yang hebat?" tanya Fang Yin.


Panglima Jing memegang janggutnya sebelum kembali bicara. Dia tidak bisa memastikan ada berapa orang kuat yang mendukung pemberontak. Sebelumnya ada lima orang kultivator, tetapi setelah itu belum ada informasi lagi.


Waktu terus berjalan, Panglima Jing segera pergi dari tenda Fang Yin setelah selesai berbicara dan meminta keduanya untuk melanjutkan makannya.


Mereka menyelesaikannya dengan cepat lalu bergabung bersama pasukan yang mulai bersiap.


Panglima Jing meminta Fang Yin untuk memilih senjatanya. Tidak mungkin Fang Yin menunjukkan senjata yang dia miliki jika tidak dalam keadaan terdesak untuk melawan musuh yang kuat. Untuk itu Fang Yin mengambil sebuah pedang besi yang sama dengan milik para prajurit.


Fang Yin menolak pedang bagus yang ditawarkan oleh Panglima Jing karena dia masih memiliki pedang yang lebih hebat dari itu. Panglima Jing juga menyiapkan seekor kuda perang untuk Fang Yin di samping kudanya.


Menjelang keberangkatan, Panglima Jing memimpin mereka mengucapkan yel yel untuk membakar semangat mereka. Fang Yin pun ikut mengucapkannya dan memacu kudanya mengikuti Panglima Jing.


Markas musuh berjarak sekitar dua kilometer dari kamp mereka. Udara dingin dan segar pagi itu membangkitkan semangat mereka. Matahari mengintip mereka dari balik bebukitan dan terlihat malu-malu untuk menampakkan dirinya.


'Ini pertama kalinya aku berada dalam sebuah pertarungan besar. Suatu saat aku yang akan menjadi pemimpin pasukan untuk merebut tahta Kekaisaran Benua Timur dan mengibarkan kembali kehormatan Klan Gu dan ibuku.' Fang Yin menjadikan peperangan ini sebagai sebuah pelatihan untuk dirinya.


Dengan berada di tengah-tengah pertempuran, Fang Yin bisa mengetahui strategi perang yang bisa dia gunakan suatu hari nanti. Dari pertemuan singkatnya dengan Panglima Jing, dia juga mengetahui beberapa jenis formasi perang dan langkah-langkah dalam sebuah penyergapan.


Tidak butuh waktu lama bagi pasukan Panglima Jing dan Fang Yin sampai di tempat pertempuran karena mereka memacu kuda mereka dengan cepat.


Pasukan pemberontak tidak tahu akan ada serangan mendadak dari Panglima Jing. Pasukan Panglima Jing berhasil mengepung markas pemberontak dan memaksa para pemimpin mereka keluar.


Pemberontak itu dipimpin oleh seorang raja kecil bernama Yang Siau Hong. Raja Yang ingin merdeka dan menolak untuk bergabung bersama Kekaisaran Benua Barat.


Raja Yang sering memaksa warga sipil yang berada di luar wilayahnya untuk bergabung bersamanya melawan pemerintahan kaisar. Banyak korban berjatuhan dalam aksi pemberontakan mereka.


Entah sudah berapa desa yang mereka bumi hanguskan karena menolak untuk bergabung.


Prajurit musuh terlihat berlarian mencari senjata mereka sambil terus berteriak untuk mengumpulkan pasukan mereka.


****


Bersambung ....





Numpang promo karya temen-temen ya ... sambil menunggu punyaku update ... Thank you my lovely readers ...😘

__ADS_1


__ADS_2