Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 167


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa saat akhirnya keluarlah seorang nenek-nenek dari dalam pondok itu. Rambutnya yang telah memutih dengan kulitnya yang keriput menandakan jika usianya sudah sangat renta.


Nenek tua itu berjalan mendekati Fang Yin lalu melihatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Maaf Nek, bolehkah saya menumpang untuk menginap di sini malam ini?" tanya Fang Yin.


Nenek tua itu terlihat menengok ke kiri dan ke kanan. Merasa tidak ada orang yang melihatnya, dia kemudian menarik tubuh Fang Yin untuk masuk ke dalam pondoknya sambil memberi isyarat pada Fang Yin untuk diam.


"Ini bukan tempat yang aman untuk singgah. Setiap ada orang baru yang datang maka pemimpin kami pasti akan membunuhnya. Beruntung kamu tidak mengeluarkan hawa kehadiranmu dan juga tidak memiliki aura energi."


Fang Yin tertegun setelah mendengar penjelasan nenek tua itu.


"Namaku Yun Feng, Nek."


Nenek tua itu mengangguk lalu membawa Fang Yin ke sebuah ruangan yang berada di bagian paling belakang pondok. Di dalam ruangan itu banyak sekali perabot usang yang sepertinya sangat jarang dipakai


"Panggi saja aku nenek Lu. Diamlah di sini apapun yang terjadi. Jangan pernah keluar jika aku tidak memintamu keluar!" ucap Nenek Lu.


Tidak disangka perempuan tua itu bisa membuat segel mantra untuk melindungi ruangan itu.


"Segel ini akan rusak jika kamu melangkahkan kakimu keluar dari ruangan ini." Nenek Lu kembali mengingatkan Fang Yin.


"Baik, Nek!"


Ruangan tempat Fang Yin berada saat ini kira-kira hanya berukuran dua setengah meter kali dua meter. Sangat sulit bagi Fang Yin untuk duduk dengan nyaman karena di kedua sisinya terdapat tumpukan perabot yang disusun rapi.


Nenek Lu terdengar sedang menyalakan perapian yang berada di sebelah ruangan tempat Fang Yin bersembunyi.


Ketajaman indera Fang Yin meningkat tajam setelah menyelesaikan mempelajari Kitab Sembilan Naga bintang empat. Telinganya mendengar ada langkah kaki yang datang mendekat ke pondok Nenek Lu.


Seperti yang diperintahkan oleh Nenek Lu, Fang Yin tidak akan keluar dari ruangan itu tanpa diminta.

__ADS_1


Seseorang mengetuk pintu pondok Nenek Lu dari luar dan Nenek Lu terdengar menyahut sambil berjalan menghampiri pintu.


"Nek! Aku merasakan hawa manusia di sekitar tempat ini. Apakah kamu melihatnya?" tanya pria yang datang itu.


Nenek Lu tidak membuka pintuk rumahnya secara lebar melainkan hanya membukanya sedikit saja. Tubuhnya sedikit bergetar karena menyembunyikan sebuah kebohongan. Namun dia mencoba untuk bersikap sebiasa mungkin.


"Aku tidak melihatnya. Sedari tadi aku sedang merebus batu kristal biru."


Penjelasan Nenek Lu ternyata tidak lantas membuat pria itu percaya. Dia sedikit mendorong tubuh Nenek untuk mendapatkan jalan masuk.


Dia berjalan sambil mendorong tangannya ke depan dengan energi yang dia keluarkan untuk mendeteksi keberadaannya manusia.


"Sudah kubilang tidak ada siapa-siapa di rumah ini. Aku ingin merebus kristal obat itu. Sekarang pergilah!" Nenek Lu mencoba menghalangi pria itu agar tidak mencapai pintu di mana gudang perabot Nenek Lu berada.


"Aku akan pergi sendiri tanpa kau usir, Nenek tua!"


Dengan kasar pria itu mendorong tubuh Nenek Lu hingga jatuh terduduk di lantai.


"Buka pintu ini!" teriak pria itu.


"Itu hanya gudang perabot," jawab Nenek Lu tidak menggubris omongan pria itu.


"Jika hanya perabot saja yang kamu simpan, tidak perlu kamu memberinya segel berlapis untuk melindunginya!"


"Itu bukan urusanmu! Ini adalah rumahku." Nenek Lu tetap bersikeras untuk tidak membuka segel pelindung yang dia buat.


Pria itu menjadi marah dan menyerang Nenek Lu dengan serangan jarak dekat. Rupanya Nenek Lu bisa mengimbangi serangan pria itu meskipun usianya telah renta


Fang Yin mengintip keduanya dari lubang kecil yang ada di dinding gudang itu. Dia melihat dengan jelas Nenek Lu bertarung dengan seorang pria misterius yang berpakaian serba hitam.


Nenek Lu berhasil mendesak pria itu hingga terdorong ke belakang dan tubuhnya menghantam dinding rumah.

__ADS_1


Merasa dipecundangi oleh seorang nenek-nenek, pria itu terlihat emosi. Dari dalam tubuhnya keluar aura energi yang sangat kuat. Terlihat cahaya ungu kehitaman menyelimuti tubuhnya dan fisiknya mengalami perubahan.


Pria itu berubah menjadi manusia Monster dengan mulut yang menyeringai seperti seekor serigala.


'Menyeramkan! Sepertinya pria itu bukanlah manusia biasa. Dia memiliki aura yang mirip seperti bintang roh tetapi bertubuh manusia. Mungkinkah dia adalah seorang kultivator yang bermutasi? Tidak ... tidak! Aku tidak merasakan energi lain selain energi dari wujud serigala itu.' Fang Yin mengamati pria itu dari tempat persembunyiannya.


Nenek Lu kembali menyerang pria aneh itu. Namun tenaga Nenek Lu yang sekarang tidak sebanding dengan tenaga pria itu.


Saat menggunakan teknik meringankan tubuh, Nenek Lu terbang menuju ke sebuah tiang di mana tergantung sebuah pedang yang masih berada di dalam sarungnya.


Dengan pedang itu Nenek Lu kembali menyerang pria itu. Pedang Nenek Lu bersinar sangat terang dengan warna kuning keemasan karena mendapatkan aliran energi murni dari Nenek Lu.


Sebenarnya Nenek Lu sangat hebat dalam pertarungan meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Namun kekuatannya tidak bisa melawan pria aneh itu.


Tubuh Nenek Lu terpelanting menatap dinding lalu jatuh tersungkur. Meskipun luka yang dialaminya cukup parah, tetapi dia masih tetap bangkit dan tidak ingin menyerah.


"Aku tidak peduli kamu akan membunuhku Liu Xiangqi. Kamu selalu berbuat sesuka hatimu. Tidak heran kamu juga akan membunuh wanita tua sepertiku."


"Ohho! Jadi kamu sudah menyerah sekarang! Cepat buka segel itu maka aku akan melepaskanmu! Jangan sampai aku bertindak kejam dan melupakan jika kita berasal dari ras yang sama!" seru pria yang dipanggil dengan sebutan Liu Xiangqi itu


Nenek Lu tidak gentar. Dia mengelap darah segar yang mengalir di sudut bibirnya lalu berjalan dengan berani menghampiri Liu Xiangqi.


"Kamu telah menodai darah ras manusia serigala dengan membantai manusia yang datang ke desa ini. Aku tidak peduli jika aku akan mati ditanganmu. Setelah ini pasti kamu pun akan menemui ajalmu karena kesombongan dan keserakahanmu!" Nenek Lu berkata lantang sambil menatap Liu Xiangqi dengan tatapan penuh kebencian.


"Aku hanya menginginkan kehidupan yang abadi dan menjadi manusia terkuat dari ras serigala. Dengan menyerap esensi dari manusia yang datang kemari maka aku akan segera mendekati tujuanku. Siapa suruh mereka datang dan mengantarkan nyawanya kemari?! Hemh!" Liu Xiangqi tersenyum menyeringai.


"Tidak selamanya kamu akan beruntung. Berhentilah untuk membunuh manusia yang datang ke tempat ini! Kamu bisa meningkatkan kultivasimu dengan cara yang lebih manusiawi dan usaha yang gigih!" Nenek Lu mencoba mengingatkan Liu Xiangqi.


"Tutup mulutmu, Nenek tua! Aku tidak butuh nasehatmu! Bersiaplah untuk menerima kematianmu! Haaaa!" pekik Liu Xiangqi maju dengan kekuatan penuh di kedua telapak tangannya menyerang Nenek Lu.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2