
Crashh!
Ujung jari Da Xia menggores pipi pria itu hingga membuat tubuhnya menggigil. Bibirnya berubah warna menjadi sedikit kebiruan akibat suhu tubuhnya menurun. Ketakutan mulai menyelimuti hatinya, bersiap untuk menerima kematiannya yang tragis.
Tidak ada gunanya menjawab jujur atau tidak. Lawannya akan tetap membunuhnya meskipun dia sudah bicara hal yang sebenarnya. Tidak ada hukum yang nengikat mereka di alam bebas, yang ada hanya siapa yang kuat pasti akan menjadi pemenang.
Pria yang belum terluka pun ikut menggigil ketakutan ketika Da Xia meliriknya dengan tatapan elangnya.
"Kamu juga akan dapat giliran nanti," ucap Da Xia lalu kembali menatap pria di hadapannya.
"Kalau kamu mau bicara maka aku akan membebaskanmu, tetapi jika kamu tetap pada pendirianmu maka jangan salahkan aku jika hari ini menjadi hari terakhirmu melihat matahari." Da Xia menggerakkan jarinya di depan mata pria itu.
"Ketua Akademi Tujuh Bintang!" Akhirnya pria itu membuka mulutnya di saat nyawanya sudah di ujung tanduk.
"Bagus! Aku akan memenuhi janjiku!" seru Da Xia.
Bamm!
Telapak tangannya Da Xia memukul dada pria itu dan membiarkan telapak tangan itu menempel di sana beberapa saat.
"Aaarrgghh!" pekik pria itu, merasakan tubuhnya seperti terkena sengatan listrik beribu-ribu volt.
__ADS_1
Cahaya berwarna biru kemilau mengalir masuk ke tubuh Da Xia melalui tangannya.
Cerdik!
Da Xia mengambil kultivasi pria itu sebelum dia melepaskannya.
Pria itu akan menjadi manusia tidak berguna setelah kultivasinya di ambil. Untuk menjadi kuat, pria itu harus mengulangi semuanya dari awal. Mengingat usianya yang telah dewasa dan sumber energinya terkuras habis maka dia harus berusaha lebih kuat lagi jika ingin kembali mencapai tingkatan seperti yang dia miliki saat ini.
Setelah energi pria itu terserap habis dan kehilangan seluruh kultivasinya, Da Xia segera menarik tangannya ke belakang.
Kini dia beralih pada pria yang seorang lagi. Teriakan memilukan kembali terdengar ketika tangan Da Xia menyerap energi Kultivasi miliknya. Mereka kembali ke titik nol setelah ini dan harus berjuang dengan keras jika ingin keluar dari Hutan Kegelapan itu dengan selamat.
Fang Yin tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Da Xia.
'Aku harus tahu cara melakukan itu semua. Setelah ini aku akan bertanya pada kak Da Xia.'
Kekuatan Fang Yin mulai pulih. Dia berjalan menghampiri Da Xia yang telah selesai bertarung. Aura energinya meningkat tajam setelah menyerap kultivasi milik kedua pria pembunuh bayaran itu.
"Kak Da Xia hebat! Aku baru melihat kemampuan ini. Sungguh aku ingin memilikinya juga!" jujur Fang Yin.
Da Xia tersenyum mendengar pujian Fang Yin.
__ADS_1
"Apa kamu mengenal pria-pria ini?" tanya Da Xia.
Fang Yin menggeleng.
"Mereka memang bukan berasal dari daerah sini." Da Xia menatap Fang Yin tajam.
"Apa kamu bermasalah dengan ketua Akademi Tujuh Bintang?" lanjutnya.
Lagi-lagi Fang Yin menggeleng.
"Beberapa waktu lalu dia mengirimkan empat orang pembunuh bayaran untuk membunuhku. Setelah merasa gagal mungkin dia mengirimkan orang yang baru untuk kembali membunuhku," cerita Fang Yin.
"Ada masalah apa kamu dengan pria tua itu?" Da Xia masih tidak habis pikir mengapa Tetua Song sangat bernafsu untuk menghabisi gadis di depannya itu.
Fang Yin menatap Da Xia dengan tatapan yang terlihat gamang seolah dia ingin mengadukan ketidakadilan yang dia terima selama berada di akademi itu.
"Mari kita pulang ke goa! Aku akan menceritakannya sambil berjalan," ucap Fang Yin.
****
Bersambung ...
__ADS_1