
Jian Heng telah memilih sepuluh orang prajurit yang akan ikut bersamanya pergi ke Benua Timur. Mereka adalah prajurit pilihan yang telah menjadi langganan melakukan misi penting.
Sesaat sebelum keberangkatannya, seorang prajurit mendekati salah seorang prajurit yang berada di posisi paling belakang dan melemparinya dengan jarum beracun. Prajurit malang itu tumbang dan mati mengenaskan.
Sebelum tubuhnya jatuh menyentuh tanah, pria asing yang menyamar sebagai prajurit menangkapnya dan menyeretnya menjauh. Dia menyembunyikannya di tempat yang jarang dikunjungi. Pria itu bergerak sangat cepat lalu kembali ke dalam barisan untuk menggantikan prajurit yang dia bunuh.
Tidak ada yang mencurigainya karena mereka mengenakan seragam yang sama dengan mereka.
Jian Heng berjalan dengan santai meninggalkan istananya. Dia tidak mempedulikan pengawalnya telah siap dan menunggunya di halaman depan istana.
Setelah berpamitan kepada keluarganya, Jian Heng merasa lebih tenang untuk pergi.
'Setelah hari ini, aku akan datang ke istana ini sebagai tamu.' Jian Heng menatap istana megah milik keluarganya.
Kenangan selama tinggal di sana tidak akan pernah menghilang dari hatinya. Dia berjalan melewati setiap sudut istana dan menatapnya penuh perasaan. Terbayang kembali masa kecilnya bersama kedua kakaknya yang saat ini sedang menjalankan misi. Mereka pasti sangat marah setelah tahu dia pergi tanpa menunggu mereka.
Perasaan Jian Heng begitu campur aduk hari ini. Sesaat dia tersenyum, sesaat bersedih, dan sesekali dia terlihat tenang seperti tidak memikirkan apapun.
Jian Heng melangkah lebih cepat ketika dirinya hampir sampai di tempat para prajurit berkumpul menunggunya. Namun, tiba-tiba dia berhenti saat melihat sebuah token milik pasukan khusus tergeletak di hadapannya.
'Ini adalah token milik prajurit khusus. Bagaimana bisa dia terlalu ceroboh dan menjatuhkannya di sini.' Jian Heng mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Di sebelah kirinya ada sebuah bangunan kosong yang telah ditinggalkan pemiliknya. Bangunan itu terlihat masih kokoh tetapi tidak terawat. Jian Heng mengawasi sekitar.
Beberapa penjaga di sekitar bangunan kosong itu hampir tidak ada. Tidak ada orang yang melewati tempat di mana Jian Heng berdiri.
"Apa ini?" Seseorang tergeletak di hadapannya dengan posisi tengkurap. Jian Heng membalikkan tubuhnya lalu memeriksa denyut nadinya. Prajurit itu tidak lagi bernafas.
'Bukankah ini adalah salah satu anggota pengawal khusus yang akan menemani perjalananku? Aku ingin tahu apakah ada yang sengaja menyabotase ataukah kecelakaan biasa.'
Sebelum meninggalkan tempat itu, Jian Heng memberinya tanda di bagian depan bangunan. Empat orang pengawal sedang berpatroli dan melihat tanda yang dibuatnya. Dia tidak kembali untuk memberitahu mereka dan memilih pergi untuk melanjutkan perjalanannya.
Pengawal yang ikut dalam perjalanan telah bersiap. Jian Heng memasuki kereta yang diperuntukan untuknya.
'Prajurit yang mengawalku masih lengkap. Aku tidak mengenali mereka satu persatu. Aku yakin salah satu di antara mereka adalah penyusup. Entah apa tujuannya, aku harus waspada.' Jian Heng bermonolog dalam hati.
"Kita berangkat sekarang!" seru Jian Heng pada kusir yang duduk di bagian depan keretanya.
Rombongan Jian Heng berangkat untuk menempuh perjalanan kurang lebih selama dua hari perjalanan. Selama perjalanan Jian Heng harus bersikap waspada dan tidak boleh lengah. Penyusup yang ikut dalam rombongannya bisa saja berniat untuk membunuhnya.
Mengingat jarak yang cukup jauh mereka butuh beristirahat beberapa kali di pergantian hari. Matahari mulai turun ke peraduannya, Jian Heng memerintahkan pasukannya untuk berhenti di tempat mereka berada saat ini.
Mereka telah melewati perbatasan ibukota dan melewati sebuah hutan. Pemukiman penduduk di negara bagian timur hampir tercapai. Jika perjalanan mereka berjalan dengan lancar, mereka akan sampai di ibukota Kekaisaran Benua Timur keesokan harinya sebelum tengah malam.
Jian Heng memberikan jamuan untuk prajurit yang mengawalnya. Mereka duduk melingkar mengelilingi makanan yang dikeluarkannya. Dia sengaja melakukan ini untuk mengamati wajah-wajah para pengawalnya.
Selama ini Jian Heng lebih banyak melewatkan waktunya di luar istana ketimbang di dalam istana sehingga dia tidak bisa mengenali mereka dengan baik. Tidak ada satupun yang bisa dicurigainya.
"Jangan sampai kalian menjatuhkan token yang menjadi identitas kalian sebagai pengawal khusus. Aku ingin lihat apakah kalian masih memilikinya?" tanya Jian Heng.
Dia berharap dengan cara ini dia bisa menangkap basah penyusup yang menjatuhkan tokennya.
'Jika penyusup itu menyamar sebagai prajurit khusus yang mati tentu dia tidak memiliki token karena dia telah menjatuhkannya. Token itu kini ada di tanganku.' Jian Heng merasa yakin jika caranya ini akan berhasil.
"Kami menjaganya dengan baik, Yang Mulia." Salah seorang prajurit memimpin yang lain untuk menunjukkan tokennya.
Sepuluh pasukan yang mengawalnya menunjukan token mereka. Jian Heng merasa heran karena semuanya memiliki token yang sama dengan yang ditemukannya dalam perjalanan.
'Ini aneh. Penyusup itu begitu cerdik. Aku yakin dia telah berada di istana sejak lama. Keberadaannya memang masih misteri tetapi hatiku mengatakan jika dia ada di dalam pasukan ini. Prajurit yang mati seharusnya ada dalam pasukan dan sebelum keberangkatan tidak ada yang melaporkan adanya pergantian.' Jian Heng mencoba menganalisa.
"Apakah kalian ingin minum arak? Udara malam ini begitu dingin. Aku takut jika kondisi tubuh kalian tiba-tiba menurun."
Jian Heng mengeluarkan beberapa bejana berisi arak. Arak yang disediakannya mengandung alkohol yang memiliki kadar tinggi. Seseorang akan mabuk berat dan kehilangan kesadarannya setelah meminumnya.
"Pangeran Ketiga baik sekali. Bukankah ini adalah arak yang sangat mahal?" tanya salah seorang pengawal.
"Tentu saja. Bukankah setelah ini aku akan menikah? Kapan lagi kita akan bertemu? Mari kita nikmati kebersamaan ini sebelum kita berpisah."
Ucapan Jian Heng membuat mereka bersorak senang. Para prajurit mengambil arak itu satu persatu.
Agar tidak ada yang curiga, Jian Heng juga mengambil sebuah bejana tetapi isinya bukan arak seperti yang mereka minum.
'Minumlah sepuasnya Pangeran Ketiga agar aku bisa membunuhmu dengan mudah.' Seorang pria tersenyum iblis sambil melirik ke arah Jian Heng.
Para pengawal Jian Heng mabuk berat malam itu sedangkan Jian Heng hanya berpura-pura saja. Dia menyandarkan kepalanya pada sebuah pohon dan menutup matanya.
Tidak ada yang mengira jika dirinya baik-baik saja. Matanya memicing mengamati para pengawal dan kusir yang tergeletak di tanah. Mereka meracau tanpa henti dengan suara yang semakin lama semakin melemah.
Jian Heng menghitung jumlah mereka sambil terus berpura-pura tidak sadarkan diri. Dia mengikuti apa yang dilakukan oleh pasukannya yang sedang mabuk agar tidak menimbulkan kecurigaan.
'Jumlah mereka berkurang satu. Sejak kapan dia pergi? Aku tidak bisa mengambil kesimpulan hanya karena kehilangan seorang anggota pasukan. Mungkin saja dia sedang membuang hajat. Tapi aku tidak boleh lengah, bisa saja dia sedang menyusun sebuah rencana penyerangan.' Jian Heng mempertajam kepekaannya.
Sebuah gerakan dari daun yang jatuh pun mampu dirasakannya dan diketahui di mana daun itu berada. Jian Heng merasakan sebuah gerakan seseorang yang berjalan tanpa suara di belakangnya.
Jian Heng merasa yakin jika orang itu memiliki niat yang buruk terhadapnya. Langkah kaki asing kian mendekat dan mengendap-endap tepat di belakang Jian Heng.
Tangan penyusup mulai mengayunkan sebuah pisau ke arahnya, Jian Heng menahan nafasnya dan mengeluarkan sebuah armor pelindung sesaat sebelum pisau menyentuh kulitnya.
Penyusup segera berbalik dan mencoba kabur. Dia masih berpikir jika Jian Heng benar-benar sedang mabuk berat. Meskipun tidak berhasil membunuhnya setidaknya dia akan selamat.
'Armor pelindung Pangeran Ketiga aktif ketika bahaya mendekatinya. Aku tidak ingin dia mengenaliku dan memberiku serangan balasan.' Penyusup mengambil langkah seribu meninggalkan Jian Heng.
Teknik meringankan tubuhnya memiliki tingkatan yang cukup tinggi sehingga membuatnya pergi dengan cepat. Merasa keadaan telah aman dia berhenti sejenak untuk mengambil nafas dan menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa tidak ada yang mengejarnya.
"Syukurlah! Tidak ada yang mengejarku." Penyusup berbalik dan terperanjat saat melihat seseorang yang akan dia bunuh berdiri di hadapannya.
"Aku tidak mengejarmu tetapi aku menunggumu tiba di sini." Jian Heng tersenyum mengejek.
Penyusup terlihat gelagapan. Tidak ada gunanya mundur. Saat ini dia telah tertangkap basah dan tidak memiliki kesempatan lagi untuk lari.
"Pangeran Ketiga!" pekiknya.
Jian Heng melipat tangannya di dada. Tanpa mengeluarkan auranya pun dia terlihat sangat berwibawa.
"Kamu ingin membunuhku, bukan? Lakukanlah!" ucap Jian Heng santai.
Penyusup kini mengeluarkan pedangnya. Pedang itu tidak asing di mata Jian Heng karena dulu dia adalah pemiliknya.
"Kamu juga mencuri pedangku? Bagus! Kamu memang pemain yang handal. Sebelum kamu menyerangku dan membuatku mati, aku ingin tahu alasanmu melakukan semua ini."
__ADS_1
Sorot mata Jian Heng tidak menunjukkan kemarahannya.
"Pangeran Ketiga telah membuat wanita yang aku cintai mati. Aku lebih rela jika dia menikah denganmu ketimbang melihatnya pergi untuk selama-lamanya."
"Tidak masuk akal. Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita selain Yin'er. Kamu telah diperbudak oleh cinta. Aku bahkan tidak tahu siapa wanita yang kamu maksud," ucap Jian Heng tidak habis pikir dengan kebodohan pria yang berdiri di hadapannya itu.
"Jing Jihua," ucap pria itu lagi.
"Jadi gadis manja itu sudah mati? Pantas saja tidak ada yang menggangguku selama aku tinggal di istana." Jian Heng menanggapi kabar yang disampaikan penyusup dengan santai.
"Kamu yang membuatnya mati. Kamu membuatnya patah hati dan mengalami sakit yang berkepanjangan. Aku tahu kamu tidak mencintainya tapi tidak seharusnya kamu membunuhnya."
"Pria tolol! Hati-hati dengan ucapanmu. Sekarang aku tahu siapa dirimu. Kamu adalah pangeran dari negara bagian selatan. Aku turut sedih untukmu. Pulanglah dan lupakan masalah ini." Jian Heng berbalik. Dia tidak ingin menyulut dendam dengan putra mahkota kerajaan yang berada dalam naungan kekaisaran yang dipimpin oleh ayahnya.
Pangeran Qin Meng An tidak bergeming. Sudah terlanjur jauh dia melangkah, dia tidak ingin melepaskan Jian Heng begitu saja. Selama ini. Identitasnya juga telah terbongkar di hadapan Jian Heng.
Qin Meng An menyerang Jian Heng dari belakang dengan pedangnya. Pedang diarahkan ke lehernya dan mengayunkannya dari arah kanan.
Jian Heng tetap berjalan memunggunginya tanpa mengeluarkan senjata apapun. Saat pedang Qin Meng An hampir menyentuh lehernya, dia menangkapnya dengan tangan kanannya. Jurus Tapak Berlian yang dikeluarkannya membuat pedang itu meleleh saat tersentuh oleh tangannya.
Qin Meng An mengambil banyak sekali jarum beracun dan melemparkannya pada Jian Heng. Namun, lagi-lagi dia harus gagal karena armor pelindung di tubuh Jian Heng menahannya. Jarum-jarum beracun yang terlempar jatuh ke tanah tanpa sedikit pun melukai Jian Heng.
"Sudahlah! Jangan menguji kesabaranku. Harusnya kamu bersyukur karena aku tidak membalas mu dan membiarkan mu pergi begitu saja setelah apa yang kamu lakukan padaku." Jian Heng berbalik menghadap ke arah Qin Meng An.
"Wanita manja itu bukan seleraku. Sedikit pun aku tidak tertarik padanya. Apa pun yang dilakukannya bukan urusanku. Jadi, jangan pernah berpikir jika aku lah orang yang telah membunuhnya. Jangan bodoh Pangeran Qin!" lanjut Jian Heng.
"Aku tidak peduli! Kamu adalah orang yang menyebabkannya mati. Sebelum bisa membunuhmu maka Jing Jihua tidak akan pernah merasa tenang. Aku akan melakukan ini untuknya dan membalaskan dendam ini padamu." Qin Meng An tetap pada pendiriannya.
"Pria sakit jiwa." Jiang Heng mendengus kesal dengan tatapan tidak habis pikir.
Jian Heng tidak lagi memiliki kesabaran. Qin Meng An yang menolak belas kasihan darinya dan memilih menjadi musuhnya. Sebuah energi berwarna biru menyelimuti tubuhnya dan menimbulkan tekanan yang besar ke sekelilingnya.
Untuk menahan dirinya dari tekanan itu, Qin Meng An pun mengeluarkan aura energi yang dimilikinya. Dirinya merasa sangat percaya diri karena memiliki roh pendamping yang bisa diandalkan.
Roh pendamping banteng hitam bertanduk emas muncul di belakang Qin Meng An. Auranya yang besar membuat tempat di sekeliling mereka bergetar. Tabrakan kedua gelombang dasyat dari tubuh mereka menimbulkan getaran yang terasa hingga beberapa kaki dari tempat mereka berdiri saat ini.
"Lumayan," ucap Jian Heng saat merasakan aura binatang roh banteng milik Qin Meng An.
"Sekarang kita tunjukkan siapa yang lebih hebat. Aku akan membunuhmu Pangeran Ketiga, hiyah!" Qin Meng An memulai melakukan serangan jarak jauhnya dengan melemparkan bola energi ke arah Jian Heng.
Jian Heng menghindar lalu membalasnya dengan serangan yang sama. Kedua bola energi yang berbenturan menghasilkan suara ledakan yang sangat keras.
Tidak berhenti sampai di situ saja, binatang roh pendamping Qin Meng An menyerang secara pribadi pada Jian Heng dengan pancaran energinya yang melesat ke arahnya.
Jian Heng menyambut pancaran energi itu dengan pancaran energi yang sama melalui telapak tangan kirinya. Tangan kanannya digunakan untuk membalas serangan Qin Meng An itu sendiri.
Mereka terlalu asyik bertarung hingga tidak menyadari jika ada orang yang menyaksikan pertarungan mereka sejak awal. Orang itu adalah Mo Bing, seorang pendekar yang mendiami wilayah itu. Meskipun dia tidak menyukai sikap kurang ajar Qin Meng An tetapi dia tidak ingin ikut campur dalam masalah mereka.
'Aku herang mengapa Pangeran Qin begitu bodoh. Mungkin dia pria paling bodoh yang aku temukan sepanjang hidupku.' Mo Bing tertawa geli.
Pertarungan antara Jian Heng dan Qin Meng An mulai tidak seimbang ketika Jian Heng meningkatkan energi yang dikeluarkannya setingkat lebih besar. Energi yang terpancar dari telapak tangan kirinya menekan energi yang dikeluarkan oleh binatang roh banteng.
Sekilas Jian Heng seperti akan menarik energi yang dipancarkannya tetapi sampai di tengah-tengah jarak dia menghentakkannya dengan menambahnya hingga beberapa tingkat. Apa yang dilakukannya membuat binatang roh pendamping Qin Meng An terbakar dan perlahan menghilang.
Qin Meng An masih tidak menyerah juga dan terus menyerang Jian Heng dengan lemparan energinya. Dia menyerang Jian Heng dengan tempo serangan yang lebih cepat berharap salah satu serangannya bisa melukainya. Namun, hal yang terjadi justru malah sebaliknya.
Saat fokus dengan serangannya Qin Meng An melupakan tentang bagaimana dia harus menghindar. Dia tidak bisa mengelak ketika Jian Heng melepaskan sebuah serangan yang diarahkan kepadanya. Tubuh Qin Meng An terseret ke belakang hingga beberapa langkah karena terdorong oleh energi yang dilepaskan oleh Jian Heng. Darah segar menyembur dari mulutnya dan membuat dadanya terasa terbakar.
Qin Meng An terkapar tak berdaya meregang nyawa. Nafasnya tersengal-sengal karena dia mengalami luka dalam yang sangat parah. Tidak ada harapan lagi untuk hidup mengingat keadaannya yang telah sangat memprihatinkan.
Tanpa perasaan iba Jian Heng meninggalkannya. Sebelum ini dia telah memperingatkannya dan memberinya kesempatan untuk pergi. Justru Qin Meng An yang memilih kematiannya.
Saat berjalan untuk menyusul para pengawalnya Jian Heng merasakan hawa kehadiran seseorang tidak jauh dari tempatnya. Hawa energi yang dimilikinya jauh berbeda dengan hawa energi milik Qin Meng An mau pun orang-orang yang dikenalnya. Energi asing itu milik seseorang yang mungkin belum pernah bertemu dengannya.
"Sampai kapan kamu akan bersembunyi? Keluarlah!" seru Jian Heng.
Mo Bing tidak ingin membuat masalah dengan Pangeran Ketiga dari negerinya tersebut. Dia segera keluar lalu memberi hormat ketika dirinya sampai di hadapan Jian Heng.
"Mo Bing memberi hormat pada, Pangeran Ketiga."
Jian Heng mengangguk. Suasana hatinya belum membaik setelah melakukan pertarungan. Kemunculan Qin Meng An yang menjadi penyusup dalam pasukannya membuatnya gerah.
"Apakah kamu juga ingin membalaskan dendam untuk seseorang yang aku sakiti? Sepertinya orang-orang sangat senang membuat masalah dengan ku." Jian Heng merasa tidak habis pikir atas apa yang baru saja menimpanya.
"Saya tidak sebodoh itu, Pangeran. Buat apa saya menyinggung Anda. Hanya seorang pria gila yang mengorbankan nyawanya untuk membalaskan dendam wanita yang tidak pernah mencintainya."
Jian Heng tertawa mendengar ucapan Mo Bing. Gaya bicaranya yang unik dan lucu membuatnya menarik. Ekspresi wajahnya tampak begitu polos setiap kali dia mengeluarkan kata-katanya.
"Kisah cinta memang sangat rumit. Aku tidak menyalahkannya yang menjadi gila setelah ditolak oleh Jing Jihua. Sebenarnya keduanya adalah pasangan yang cocok. Sama-sama gila." Jian Heng berbalik lalu kembali berjalan.
Mo Bing mengikutinya di belakang. Mereka berdua berjalan santai menuju ke tempat peristirahatan pasukan. Letaknya cukup jauh dari tempat pertarungannya bersama Qin Meng An.
"Bolehkah saya tahu ke mana pangeran akan pergi?" tanya Mo Bing.
Pertanyaannya terdengar sedikit ikut campur dan membuatnya ragu apakah Jian Heng akan menjawabnya atau tidak. Meskipun seorang pendekar dia tetaplah seorang rakyat biasa yang tidak sepantasnya bertanya seperti itu pada seorang putra penguasa tertinggi di negaranya.
"Aku akan pergi kekaisaran Benua Timur. Apakah kamu mendengar berita tentang Putri Gu?" Jian Heng berharap Mo Bing tahu sesuatu tentang Fang Yin.
"Aku sedikit mendengar beritanya tetapi tidak tahu seperti apa yang terjadi sebenarnya."
Jawaban Mo Bing membuat Jian Heng menatapnya dengan binar-binar harapan. Apa pun yang dikatakan olehnya akan membuatnya berpikir jika calon istrinya dalam keadaan baik-baik saja.
"Katakanlah!" seru Jian Heng bersemangat.
"Putri Gu merubah Bukit Lentera Emas di wilayah yang berbatasan langsung dengan Benua Utara menjadi Bukit Salju Abadi. Aku bertemu dengan beberapa penduduk yang semula tinggal di kaki bukit itu. Mereka bermigrasi ke daerah lain yang lebih aman," jelas Mo Bing.
"Hahaha!" Jian Heng tertawa. Kali ini dia benar-benar bahagia. Kekhawatiran tentang keadaan Fang Yin lenyap sudah.
"Terimakasih, Mo Bing. Aku sangat senang mendengarnya. Semula aku berpikir jika Yin'er berniat untuk pergi meninggalkanku."
"Meskipun posisi Putri Gu sangat tinggi, aku yakin dia adalah orang yang tulus. Hanya Pangeran Ketiga yang pantas menjadi pendamping hidupnya." Mo Bing ikut senang melihat Jian Heng kembali ceria.
"Kamu sangat pandai mengambil hati lawan bicaramu. Maukah kamu menyertaiku pergi ke Benua Timur?" Jian Heng berpikir jika pergi bersama Mo Bing akan membuat perjalanan yang membosankan menjadi lebih berwarna.
Malam itu Jian Heng memutuskan untuk beristirahat di hutan itu.
Pagi hari,
Pengawal Jian Heng bergegas untuk menyegarkan diri dengan mandi di sungai yang terletak tidak jauh dari tempat pemberhentian. Sebelum matahari terbit mereka telah siap. Tubuh mereka tampak lebih segar setelah beristirahat semalaman dalam keadaan mabuk.
__ADS_1
"Mo Bing! Bangunlah!" seru Jian Heng.
Mo Bing terperanjat saat melihat prajurit Jian Heng telah siap dengan kuda-kuda mereka. Kusir yang mengemudikan kereta Jian Heng pun telah siap di tempatnya bekerja.
"Maaf, Pangeran Ketiga. Aku tidak sadar jika hari telah pagi. Aku akan pergi membersihkan diri sebentar." Mo Bing beranjak dan berjalan dengan cepat menuju ke sungai.
"Hoam! Aku sangat malas." Jian Heng berjalan pelan menuju sungai yang sama.
Langkah kakinya yang pelan membuatnya sampai di sana dengan lambat. Mo Bing telah selesai dengan keperluannya ketika dia datang.
"Tunggu aku di kereta, Mo Bing!" seru Jian Heng.
"Baik, Pangeran!" jawabnya sambil melongo menatap Jian Heng yang berjalan sangat santai.
'Astaga! Aku ingin cepat-cepat selesai agar dia tidak menunggu tetapi dia begitu santai pergi ke sungai itu.' Mo Bing mendengus kesal.
Benar saja, Jian Heng pergi sangat lama sekali dan membuat para pengawal dan Mo Bing merasa bosan menunggu. Berhadapan dengan seorang penguasa memang membutuhkan kesabaran ekstra. Terkadang mereka memang suka bertingkah semaunya.
"Apakah Pangeran Ketiga biasa pergi selama ini?" tanya Mo Bing pada kusir yang duduk di sampingnya.
"Ini perjalanan pertama kami. Pangeran Ketiga terbiasa hidup di alam bebas. Kami jarang sekali bertemu dengannya dan mungkin juga ini pertama kalinya Pangeran Ketiga pergi membawa pengawal," jelas sang kusir.
"Iya juga, ya. Pangeran Ketiga terbiasa hidup bebas dan tinggal entah di mana." Mo Bing membenarkan ucapan sang kusir.
Hingga saat ini tidak banyak yang tahu jika Jian Heng merupakan salah satu guru terbaik di Sekte Sembilan Bintang. Mereka hanya tahu jika Pangeran Ketiga mereka senang berpetualang dan tinggal di alam bebas.
Mo Bing yang tidak terbiasa duduk tenang pergi menangkap unggas hutan yang tinggal di sekitar tempat itu. Beberapa dia dapatkan dan cukup untuk sarapan semua orang yang ada di sana. Para pengawal membantunya membersihkan unggas dan membuat perapian.
Ketika unggas-unggas itu matang Jian Heng baru kembali. Rupanya dia juga menangkap ikan untuk sarapan mereka.
"Yang Mulia! Pantas saja kamu pergi begitu lama. Ternyata menangkap begitu banyak ikan. Aku pikir Yang Mulia pergi meninggalkan kami." Mo Bing berteriak dan berjalan menyongsong Jian Heng.
"Aku sangat lapar. Eh, bau apa ini?" tanya Jian Heng saat hidungnya mengendus aroma sedap makanan.
"Aku menangkap beberapa ekor unggas hutan. Kami tidak berani menyentuhnya sebelum Yang Mulia datang," jelas Mo Bing.
Jian Heng sangat senang melihat kesetiaan mereka dan merasakan suasana yang hangat.
'Ternyata pergi bersama pengawal cukup menyenangkan. Mengapa dulu aku selalu menolaknya.' Jian Heng tersenyum.
Perjalanannya menuju ke Benua Timur menjadi lebih lama dari yang seharusnya. Jian Heng tidak ingin terburu-buru setelah mengetahui keadaan Fang Yin baik-baik saja.
***
Kaisar Xi berangkat sehari setelah keberangkatan Jian Heng. Dia berangkat bersama Selir Tang dan seratus orang pengawal. Mereka melakukan perjalanan melalui rute yang berbeda dengan Jian Heng.
Untuk menghindari bahaya yang berlebihan, Kaisar Xi memilih melewati jalur perdagangan untuk pergi. Sepintas jalur ini lebih panjang tetapi memiliki sedikit resiko dan jauh lebih aman. Kemungkinan waktu yang ditempuh juga lebih sedikit.
Selama dua hari perjalan, Kaisar Xi mengambil waktu istirahat yang sangat sedikit. Dia ingin segera sampai di istana Kekaisaran Benua Timur sesaat setelah Jian Heng tiba di sana.
"Yang Mulia, kita telah melewati batas negara. Mungkin kita akan sampai sebelum malam terlalu larut." Wajah Selir Tang terlihat berseri. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan anak dan calon menantunya.
"Benar. Aku tidak ingin Jian Heng menunggu kita terlalu lama. Saat dia berangkat wajahnya terlihat begitu murung. Aku tidak tahan melihatnya." Kaisar Xi mengatakan isi hatinya.
"Aku tidak sabar lagi bertemu mereka." Selir Tang terlihat sangat bahagia.
Belum genap sebulan Fang Yin mengambil alih Kekaisaran Benua Timur tetapi berbagai perubahan sudah mulai terlihat. Kota-kota yang mereka lalui terlihat lebih tertata dengan beberapa pembangunan yang sedang berlangsung. Kerjasama dengan Kekaisaran Benua Tengah juga berjalan dengan baik.
Kaisar Xi seringkali mendengar pujian untuk Fang Yin ketika berada di tengah masyarakatnya. Tersirat rasa bangga di hatinya dan merasa beruntung memiliki seorang menantu sepertinya.
Kaisar Xi sangat yakin jika Jian Heng dan Fang Yin bersatu maka negara ini akan lebih maju dari negaranya. Jian Heng adalah seorang ahli strategi yang handal sedangkan Fang Yin adalah orang yang tegas. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan yang saling melengkapi hingga menjadi sempurna.
Pengawas gerbang yang berjaga di atas menara melihat kedatangan Kaisar Xi bersama rombongan. Dia segera turun dan pergi melapor pada Guan Xing perihal kedatangan tamu istimewa tersebut.
Guan Xing berjalan menuju ke istana Fang Yin. Setelah kembali dari Bukit Salju Abadi dia kembali menjalankan pemerintahan yang telah ditinggalkannya begitu lama. Mau tidak mau Fang Yin harus melakukan pekerjaan yang menumpuk setelah kepergiannya.
"Guan Xing memberi hormat, Yang Mulia!" seru Guan Xing ketika telah berdiri di ruang kerja Fang Yin.
"Masuklah! Tidak biasanya kamu datang sesore ini. Ada apa?" Fang Yin meletakkan kuas tintanya.
"Ampun, Yang Mulia. Penjaga menara melihat kedatangan rombongan yang membawa bendera Benua Tengah. Mereka akan sampai di sini sebentar lagi, Yang Mulia," ucap Guan Xing melapor.
Fang Yin beranjak dari duduknya. Penampilannya saat ini masih berantakan. Seharusnya dia menggunakan baju yang lebih bagus dari itu untuk menyambut kedatangan calon suami dan mertuanya.
"Mereka datang tanpa memberi kabar? Atau jangan-jangan kamu melupakan sesuatu, Guan Xing." Fang Yin menatap Guan Xing tajam.
Guan Xing melambaikan kedua tangannya di depan dadanya. Sebelum dia berbicara karena tiba-tiba mulutnya terasa kaku.
"Tidak, Yang Mulia. Sebelumnya Kaisar Xi mengatakan akan datang dua pekan lagi dari hari ini. Mungkin beliau ingin memberikan kejutan untuk Anda, Yang Mulia."
Fang Yin mengendurkan ketegangannya dan mencoba untuk berpikir positif. Sesekali Jian Heng memiliki sifat yang kekanak-kanakan terlebih lagi ketika berada di hadapan ibunya. Dia berpikir jika ini adalah ulahnya.
"Pasti Kak Heng yang memaksa untuk datang ke sini lebih awal. Hmm. Tidak sabaran." Fang Yin menghela nafas panjang.
Guan Xing segera mempersiapkan penyambutan. Pengawal yang lain telah memberitahukan perihal kedatangan Kaisar Xi kepala seluruh anggota keluarga dan pembesar istana. Mereka berbondong-bondong datang ke aula istana untuk menyambut kedatangan Kaisar Xi dan rombongannya.
Begitu sampai di aula, orang pertama yang dicari oleh Kaisar Xi adalah putranya. Dia merasa heran ketika melihat Fang Yin berdiri seorang diri saat menyambut kedatangannya. Hanya keluarga besarnya yang ada di sampingnya.
Perasaan heran juga dirasakan oleh Fang Yin saat tidak melihat Jian Heng dalem rombongan. Mereka sama-sama diperdaya oleh keadaan yang membuat mereka merasa aneh.
"Yin'er, di mana Heng'er? Aku belum melihatnya sejak aku datang. Apakah dia sedang pergi keluar?" tanya Kaisar Xi.
Pertanyaan itu membuat Fang Yin terkesiap. Bagaimana tidak, seharusnya dia lah yang bertanya kepada calon mertuanya perihal masalah ini.
"Maaf, Yang Mulia. Kak Heng tidak di sini. Apakah dia pergi dari istana?" tanya Fang Yin.
Kaisar Xi terkejut mendengar ucapan Fang Yin. Mereka sama-sama terkejut saat menerima kenyataan bahwa Jian Heng tidak ada di istana Kekaisaran Benua Timur.
Selir Tang berjalan menghampiri Fang Yin dengan wajah yang sedih.
"Tiga hari yang lalu Heng'er berangkat kemari dengan membawa sepuluh orang pengawal. Dia terlihat sangat murung saat mendengar kabar jika kamu menghilang. Kami sendiri tidak tahu mengenai berita ini tetapi Heng'er sangat sedih karenanya." Selir Tang menjelaskan tentang apa yang terjadi sebelum Jian Heng berangkat ke sana.
Air mata Fang Yin meluncur jatuh saat mendengar cerita Selir Tang. Kabar menghilangnya Jian Heng membuat sendi-sendinya terasa lemas. Dia tidak menyangka jika kepergiannya ke dimensi naga terdengar hingga ke Benua Tengah.
"Ibu, aku yakin Kak Heng akan segera datang. Mungkin dia melewati jalur yang sulit sehingga sampai di sini sedikit lama," hibur Fang Yin.
Meskipun dirinya sendiri merasa sedih tetapi dia tidak ingin melihat Selir Tang merasa cemas.
"Apa yang dikatakan Yin'er benar. Heng'er bisa sampai di sini dengan cepat tetapi para pengawalnya tidak. Tentunya Heng'er tidak akan membiarkan mereka kelelahan." Kaisar Xi turut meyakinkan Selir Tang.
__ADS_1
****
Bersambung ....