
Di dalam kamarnya, Jian Heng sedang berlatih. Dengan kekuatan barunya, dia bisa memperkuat jurus-jurus yang selama ini dia kuasai. Segala upaya yang dia lakukan agar bisa sejajar dengan Fang Yin. Ke depannya, dia harus berhadapan dengan bahaya yang belum mereka ketahui.
Jian Heng tidak mendengar suara ketukan pintu kamarnya, terlebih lagi ketukan itu sangat pelan. Di gedor-gedor sekalipun dia tidak akan mendengarnya karena terhalang oleh mantra pelindung yang ditanamkan oleh Fang Yin.
Seluruh orang telah terbangun dan kembali beraktivitas. Namun, Fang Yin belum juga terbangun dan Jian Heng baru mulai terlelap.
Guan Xing terlihat seperti orang hilang saat berada di tengah-tengah keluarga Qin Yushang tanpa Jian Heng dan Fang Yin. Beberapa kali dia menghampiri kamar Jian Heng dan mengetuk pintunya, tetapi tidak mendapatkan tanggapan sama sekali. Dia mengetuk pintu kamar Fang Yin juga demikian.
'Sebenarnya mereka tertidur atau pingsan. Tau begini aku tidak terburu-buru untuk bangun.' Guan Xing menggerutu dalam hati.
Merasa bosan berada di dalam rumah, Guan Xing pergi keluar untuk menikmati pemandangan bukit Giok Hitam di sore hari. Dia ingin melihat setiap sudut tempat di desa yang cukup luas itu.
Para penduduk sudah mulai beraktifitas seperti biasanya. Mereka melihat ke arah Guan Xing dan memberikan penghormatan ketika mereka berpapasan. Penduduk yang dia temui terlihat begitu ramah, setelah racun sihir itu menghilang mereka kembali memiliki sifat manusia.
Fang Yin terbangun terlebih dahulu dan merasa jika tubuhnya begitu kaku. Tidur terlalu lama membuat wajahnya lebih segar. Nanti malam, dia bisa menggunakan waktu tidurnya untuk berlatih.
"Sepertinya aku lupa belum membuka mantra pelindung di ruanganku dan kak Heng. Pasti dia tidak bisa keluar." Fang Yin meringis lalu bergegas untuk berdiri.
Fang Yin membuka telapak tangannya lalu menggerakkan jari-jarinya seketika itu mantra yang dia tanamkan terlepas. Setelah itu dia bergerak mendekati dinding pembatas yang terhubung langsung dengan kamar Jian Heng, kemudian dia menempelkan telinganya pada dinding itu untuk mendengarkan suara yang mungkin terdengar.
"Sepertinya kak Heng masih tertidur. Aku akan membangunkannya." Fang Yin keluar dari dalam kamarnya.
Di depan kamar Jian Heng berdiri Xin Nian sedang membawa beberapa buah-buahan. Fang Yin tidak menaruh curiga padanya. Dengan wajah ramah dia mendekatinya.
"Biar aku saja yang berikan. Kak Heng masih tertidur," ucap Fang Yin sambil membuka telapak tangan kanannya.
Xin Nian pun memberikan keranjang buah itu kepada Fang Yin. Wajahnya terlihat kecewa tetapi dia tetap berusaha untuk bersikap biasa saja.
Fang Yin memindahkan keranjang buah itu ke tangan kirinya lalu tangan kanannya mendorong pintu yang ternyata terkunci dari dalam. Tidak ingin merusak pintu itu, dia kemudian melakukan gerakan pada tangan kanannya. Jari-jarinya terbuka lalu bergerak seiring dengan telapak tangannya yang terbuka.
Klekk
Kunci pintu kamar Jian Heng terbuka. Fang Yin segera mendorong pintu lalu masuk ke dalam kamar. Dia membiarkan pintu itu terbuka.
__ADS_1
Xin Nian tidak beranjak dari tempatnya dan melihat apa yang dilakukan oleh Fang Yin.
"Kak Heng, bangunlah! Hari sudah sore," ucap Fang Yin sambil meletakkan keranjang buah di samping tempat tidur Jian Heng.
"Aku tidak ingin terbangun dari mimpi. Jangan pergi, Yin'er!" Jian Heng berpikir jika dia sedang bermimpi dan Fang Yin yang ada di hadapannya kali ini hanyalah semu.
Pintu kamarnya masih terbuka dan Xin Nian masih berdiri di depan pintu. Fang Yin menjatuhkan tubuhnya di samping Jian Heng dan menepuk pipinya pelan. Di luar dugaannya, Jian Heng menarik tubuhnya dan memeluknya dengan erat.
Mata Xin Nian terbelalak saat melihat pemandangan itu. Dia menutup mulutnya dengan telapak tangannya lalu buru-buru bersembunyi ketika Fang Yin menoleh ke arah pintu.
"Kak Heng, lepaskan aku. Kamu tidak sedang bermimpi." Fang Yin berbisik pada Jian Heng.
Bibir Fang Yin yang menempel di telinganya membuatnya bergidik dan akhirnya membuka matanya. Jian Heng terlihat sangat malu ketika menyadari apa yang telah dia lakukan.
"Jadi aku tidak sedang bermimpi?" Jian Heng bertanya tanpa melepaskan pelukannya.
"Benar. Orang akan salah paham jika melihatnya, lepaskan aku." Fang Yin mengulang permintaannya.
"Sebentar lagi. Aku masih ingin memelukmu sebagai balasan ciumanmu sebelumnya," bisik Jian Heng.
"Aku ingin secepatnya kita menikah agar tidak ada lagi penghalang bagi kita untuk saling memiliki." Jian Heng mengelus rambut panjang Fang Yin, memegang ujungnya lalu menciumnya.
"Aku tidak menolakmu tetapi aku ingin kita menikah setelah tidak ada lagi yang memanggilku anak haram." Fang Yin menunduk sedih.
"Aku akan menantikan saat itu tiba. Jangan bersedih!" Jian Heng menarik kepala Fang Yin dan meletakkannya di bahunya.
Sekuat apapun Fang Yin melawan musuh-musuhnya, dia tetaplah seorang wanita yang memiliki sisi lemah. Dia tetap membutuhkan seorang pria untuk menjadi tempatnya bersandar.
'Anak haram?' Xin Nian masih menguping pembicaraan mereka.
Qin Yu Zhu datang dan menepuk bahunya.
Xin Nian terkejut dan hampir saja berteriak. Segera saja dia menoleh ke belakang. Melihat yang datang itu adalah Qin Yu Zhu dia merasa lega. Dia lalu menarik Qin Yu Zhu menjauh dari kamar Jian Heng.
__ADS_1
"Xin Nian, apa yang kamu lakukan di sana?" tanya Qin Yu Zhu penasaran.
Mereka berdua memang sama-sama mengagumi Jian Heng tetapi Qin Yu Zhu lebih elegan dalam bersikap. Tidak terburu-buru dan ceroboh seperti Xin Nian.
"Aku mengantarkan buah-buahan untuk Tuan Muda itu, lalu aku bertemu dengan wanita itu di depan pintu."
Xin Nian tidak menceritakan semua yang didengarnya. Dia ingin menyimpannya untuk dirinya sendiri.
"Hmm, jangan bertidak bodoh! Nona Yin bukanlah orang sembarangan. Tentunya dia akan sangat marah jika mengetahui kamu begitu lancang mengintip apa yang dia lakukan." Qin Yu Zhu mengingatkan Xin Nian agar tidak bersikap seenaknya di rumahnya.
Xin Nian mengangguk lalu berpamitan untuk pulang sedangkan Qin Yu Zhu kembali bekerja untuk membantu ibunya menyiapkan jamuan makan malam.
Guan Xing kembali dari berkeliling. Melihat pintu kamar Jian Heng yang telah terbuka, dia segera datang untuk menghampirinya.
"Ehem!" Guan Xing pura-pura terbatuk agar keduanya segera menyadari kedatangannya.
Fang Yin menggeser tubuhnya mengambil jarak. Sedangkan Jian Heng terlihat begitu tenang.
"Masuklah! Kami tidak sedang melakukan sesuatu yang rahasia," ucap Jian Heng sambil melihat Guan Xing.
Tanpa pikir panjang, Guan Xing pun segera masuk ke kamar Jian Heng. Mereka duduk di lantai kamar yang beralaskan tikar itu. Fang Yin membawa keranjang buahnya ke hadapan mereka.
"Pangeran Ketiga, aku merasakan aura yang begitu kuat dari dalam tubuhmu. Dan, matamu terlihat indah dengan pupil berwarna biru itu." Guan Xing menatap Jian Heng dengan tatapan penuh kekaguman.
"Sekarang kita bertiga sama-sama telah mencapai ranah dewa. Kita akan menjadi lawan yang cukup diperhitungkan oleh Kaisar Ning." Guan Xing tersenyum penuh semangat.
"Tentu saja. Apa rencana kalian setelah ini? Kapan kalian akan memulai pelatihan pada penduduk desa?" tanya Fang Yin sambil menatap dua pria itu bergantian.
Keduanya berpikir untuk melakukan pelatihan itu di luar pemukiman penduduk. Pelatihan yang mereka lakukan bisa saja menimbulkan kerusakan di sekitarnya. Fang Yin membenarkan pendapat mereka karena hari ini dia telah mengalami pengalaman buruk saat sedang berlatih di dalam ruangannya.
Mereka menghentikan pembicaraan saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Qin Yushang berdiri di depan pintu lalu menyatukan tangannya memberi hormat pada mereka bertiga. Wajahnya terlihat serius, sepertinya dia datang membawa berita yang penting.
****
__ADS_1
Bersambung ...