Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 174


__ADS_3

Hao Xiang kembali tersenyum. Dia benar-benar terpesona oleh gadis biasa seperti Fang Yin. Namun aturan istana tentu tidak akan berpihak padanya.


Seorang pangeran tidak akan diijinkan untuk mengangkatnya seorang gadis biasa menjadi permaisurinya. Dan Hao Xiang tidak mungkin mengambil Fang Yin sebagai selirnya di usianya yang masih sangat muda.


Xi Hao Xiang adalah pangeran kedua Kaisar Xi yang memiliki usia satu tahun lebih muda dari Jian Heng. Itulah mengapa wajah mereka sangat mirip dan seperti kembar. Hanya kulit Hao Xiang sedikit lebih bersih dan terawat ketimbang Jian Heng karena dia tinggal di istana.


Tidak banyak yang mereka obrolkan di kedai itu. Selain keadaannya yang sangat ramai, rasa canggung keduanya membuat mereka sulit untuk berbicara.


Pandangan mata para pengunjung kedai juga membuat Hao Xiang merasa tidak nyaman. Dia terlihat berhati-hati, takut jika ada yang mengenalinya sebagai pangeran kedua.


"Hari sudah malam, Tuan. Saya juga sudah memenuhi undangan Tuan untuk minum teh di sini. Sekarang sudah waktunya bagi saya untuk undur diri," pamit Fang Yin dengan sopan.


"Ah, iya. Maaf sudah menyita waktumu. Mari saya antar!" Hao Xiang masih mencari kesempatan untuk bisa berdekatan dengan Fang Yin.


"Terimakasih, Tuan. Tetapi sepertinya itu tidak perlu. Sebaiknya kita menghindari pandangan buruk orang lain. Maafkan saya, kali ini saya benar-benar tidak bisa menerima niat baik Tuan." Fang Yin menyatukan kedua tangannya berbicara dengan hormat pada Hao Xiang.


"Baiklah, aku mengerti. Maafkan aku, Nona. Berhati-hatilah. Meskipun kota ini aman kita tidak tahu akan adanya bahaya yang tiba-tiba datang." Hao Xiang membalas hormat Fang Yin.


Mereka pun akhirnya berpisah. Hao Xiang masih berdiri di tepi jalan melihat kepergian Fang Yin hingga jarak pandang mereka tertutup oleh kegelapan malam.


Merasa tidak ada yang perlu dia lakukan lagi di sana, Hao Xiang pun kembali ke istana dan berharap bisa kembali bertemu lagi dengan Fang Yin suatu saat nanti.


Pagi-pagi sekali, Fang Yin sudah pergi untuk meninggalkan penginapan itu. Dia ingin segera sampai di Kekaisaran Benua Barat dan bertemu dengan Panglima Jing Zhoushan.


Setelah berada jauh dari keramaian, Fang Yin kembali menggunakan artefak kristal daunnya untuk pergi ke Benua Barat. Kali ini dia menambahkan Qi pada artefak itu agar bisa sampai lebih cepat.


Di tengah perjalanan Fang Yin melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Kali ini dia kembali memakai identitasnya sebagai seorang pria jadi-jadian.


Terlihat sekitar sepuluh orang pasukan sedang berperang melawan sejumlah orang berpakaian serba hitam dengan penutup kepala berupa topi yang terbuat dari anyaman bambu seperti yang biasa digunakan oleh seorang petani.

__ADS_1


Banyak sekali prajurit yang terluka meskipun mereka hanya melawan lima orang pria bertopi.


Dari kejauhan Fang Yin mengamati pertarungan itu dan menganalisa kekuatan mereka. Kelima bandit itu rata-rata berada di tingkat kultivasi ranah langit bintang awal. Tentu saja mereka bukan tandingan para prajurit yang rata-rata berada di ranah bumi dan sebagian lain hanya mengandalkan bela diri tanpa kultivasi.


Melihat para bandit itu sudah melumpuhkan hampir setengah dari prajurit itu, Fang Yin merasa terpanggil untuk membantu para prajurit yang bernasib buruk itu.


'Aku tidak akan membiarkan banyak anak menjadi yatim dan mati kelaparan karena ayah mereka yang seorang prajurit mati di dalam tugas.' Fang Yin melompat turun dari artefak daunnya lalu melesat ke tengah pertarungan.


Fang Yin mengambil sebuah pedang dari prajurit yang terluka lalu berjalan menghampiri bandit berjubah hitam itu.


Awalnya para prajurit itu mengira jika Fang Yin adalah anggota kawanan bandit itu karena menggunakan pakaian dan penutup wajah dengan warna yang sama. Bedanya hanya penutup kepalanya saja yang tidak dimiliki oleh Fang Yin.


Diluar perkiraan para prajurit itu, Fang Yin segera maju untuk menyerang dua orang bandit yang ada di hadapannya.


Pedang milik prajurit yang semula hanyalah sebuah pedang biasa menjadi sangat berkilau dan luar biasa setelah Fang Yin mengalirkan Qi di dalamnya.


Para bandit itu tidak mengeluarkan kemampuannya secara maksimal karena mereka berpikir jika Fang Yin hanya pendekar biasa yang mengandalkan kemampuan pedangnya untuk melawan mereka.


Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Fang Yin dengan gerakan yang super cepat Fang Yin berhasil mengalahkan keempat bandit itu.


Dia diantaranya meninggal di tempat dan tiga yang lainnya berhasil kabur.


Dari pihak prajurit itu, ada lima orang yang meninggal dan sebelas lainnya terluka.


Kelima mayat prajurit dan mereka yang mengalami luka-luka dibawa oleh pasukan berkuda ke tempat tujuan mereka.


"Terimakasih, Tuan. Berkat tuan kami bisa selamat dari para bandit itu." Salah satu orang prajurit berbicara kepada Fang Yin.


Mereka serempak memberi hormat padanya.

__ADS_1


Fang Yin membalas hormat mereka.


"Kebetulan saja saya lewat dan melihat kalian membutuhkan bantuan. Jangan menganggap ini sesuatu hal yang besar."


"Sungguh Anda orang yang sangat rendah hati Tuan. Kalau boleh tahu, ke mana Tuan akan pergi?" tanya prajurit itu lagi.


"Namaku, Xu Chen. Aku merasa berhutang budi pada Panglima Jing Zhoushan karena telah menyelamatkan keluargaku di masa lalu. Aku ingin mencarinya dan mengantarkan hadiah untuknya." Fang Yin kembali mengganti namanya agar identitas aslinya tetap terjaga.


Bukan hal yang mustahil dia akan bertemu dengan orang-orang yang dia kenal sebelumnya di benua ini. Semuanya akan berakibat fatal jika sampai itu terjadi.


"Oh, kebetulan sekali. Kami adalah pasukan tambahan yang dikirim oleh Kekaisaran Benua Barat untuk membantu Panglima Jing yang sedang bertugas di perbatasan sebelah Utara. Kami juga membawa bahan makanan untuk pasukan karena persediaan di sana sudah menipis," jelas prajurit itu.


Fang Yin tersenyum senang di balik wajahnya yang tertutup.


"Dengan senang hati aku akan ikut bersama kalian." Fang Yin tersenyum senang.


Prajurit itu pun merasa senang karena merasa aman dengan adanya Fang Yin di sana. Dia meminta salah satu rekannya untuk memberikan seekor kuda untuk Fang Yin.


Perbatasan Kekaisaran Benua Barat di sebelah utara bisa mereka tempuh setengah hari dari tempat mereka sekarang.


Seharusnya mereka bisa sampai di sana sebelum matahari terbenam. Namun karena dihadang oleh para bandit itu membuat mereka sedikit terlambat.


Matahari sudah bersembunyi dibalik rimbunnya bebukitan ketika mereka sampai di sebuah perkampungan yang berjarak sekitar lima kilometer dari kamp prajurit yang dipimpin oleh Panglima Jing.


"Apakah kamp Panglima Jing masih jauh dari sini?" tanya Fang Yin sambil menyapu pandangan melihat ke sekelilingnya.


"Mungkin sekitar lima kilometer dari sini, Tuan. Kita akan sampai di sana saat hari sudah benar-benar gelap."


Fang Yin mengangguk dan kembali memacu kudanya mengikuti para prajurit di depannya.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2