Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 51. Pergi Bersama


__ADS_3

Jian Heng menatap Fang Yin dengan perasaan yang sulit dipahami. Dalam hatinya dia sangat mengagumi gadis di depannya itu. Di usianya yang masih belia dia sudah mampu hidup mandiri dan melakukan sesuatu hal yang besar.


Ada sebuah harapan di hatinya yang menginginkan Fang Yin menjadi istrinya kelak di kemudian hari.


Tanda yang dia tanam di keningnya akan memudahkannya untuk mengenali Fang Yin meskipun suatu saat dia telah bertransformasi dan mengalami banyak perubahan fisik seiring dengan perkembangan kultivasinya.


'Semoga pria aneh ini mau mengajarkan Kitab Sembilan Naga yang ada di tangannya padaku. Aku telah mengatakan hal yang jujur padanya dan semoga itu membuat hatinya terketuk untuk membantuku,' gumam Fang Yin dalam hatinya.


"Xiao Yin, aku ingin mengatakan satu rahasia lagi padamu. Aku berharap kamu tidak akan marah padaku setelah mendengarnya." Jian Heng berbicara dengan nada menyesal.


Tergambar rasa bersalah di wajahnya meskipun tidak tahu rasa bersalah untuk apakah itu.


"Katakan saja. Kita baru saja saling kenal dan sudah pasti kita punya banyak rahasia yang tidak diketahui oleh satu sama lain terlepas dari kita ingin mengatakannya atau tidak."


Fang Yin membalas tatapan Jian Heng dengan tatapan yang sama-sama sulit diartikan.


Jian Heng tampak menghembuskan nafas kasar sebelum dia mengatakan hal yang sejak tadi mengganggu pikirannya.


"Xiao Yin, aku menguasai salah satu Kitab Sembilan Naga yang kamu cari."

__ADS_1


Fang Yin tersenyum lebar di balik cadarnya.


"Apakah kamu tidak keberatan jika aku meminjam kitab itu darimu?" tanya Fang Yin hati-hati.


"Kitab itu ada di tangan ayahku, sangat sulit untuk membawanya keluar dan terlepas dari tangannya. Tapi ... kalau kamu mau aku bisa mengajarkan isinya padamu karena aku telah menguasai seluruhnya." Jian Heng terlihat malu-malu mengatakannya.


Membayangkan hari-harinya yang akan dia lalui bersama Fang Yin membuat perasaannya tidak menentu.


"Aku bersedia asal kamu tidak keberatan. Tapi aku tidak suka tinggal di desa ini. Para penduduk desa ini merasa takut dengan keberadaanku di sini."


"Aku akan membawamu ke Sekte Sembilan Bintang dan mengajarkan Kitab Sembilan Naga itu di sana."


"Apakah ada murid atau penghuni wanita di sekte itu?" tanya Fang Yin.


Sebelumnya dia harus kecewa saat berada di Akademi Tujuh Bintang yang ternyata semua muridnya adalah seorang pria dan tidak ada seorang wanita pun di sana.


"Ada. Bahkan ada juga murid wanita di sana," jelas Jian Heng.


"Syukurlah! Aku tidak ingin kejadian yang aku alami berulang. Aku tidak banyak bertanya pada ayah angkatku yang ternyata memasukanku ke sebuah akademi yang semua muridnya adalah pria."

__ADS_1


Jian Heng tertawa mendengar perkataan Fang Yin. Dia membayangkan betapa susahnya seorang gadis galak sepertinya hidup di tengah murid pria yang mungkin saja suka iseng seperti murid-muridnya. Tidak jarang murid pria di sekte-nya membuat murid wanitanya menangis karena keusilan mereka.


"Malah tertawa!" seru Fang Yin dengan wajah kesalnya.


"Maaf ... maaf. Aku tidak bermaksud untuk menertawakanmu. Aku hanya teringat bagaimana kelakuan murid-muridku yang sangat suka menjahili murid wanita." Masih ada sisa-sisa senyuman di wajah Jian Heng.


"Lihat saja kalau mereka berani mengerjaiku. Aku akan membuat mereka menyesal seumur hidup jika sampai itu terjadi."


"Hahaha! Jangan terlalu kejam, Nona manis! Mari kita berkemas lalu pergi ke Sekte Sembilan Bintang!" ajak Jian Heng tidak ingin membuang waktunya.


Perjalanan menuju ke Sekte Sembilan Bintang akan sedikit melelahkan. Lokasi sekte yang berada di pegunungan berbatu membuat medan menuju ke sana sedikit sulit.


Saat meninggalkan penginapan, Fang Yin melirik rumah keluarga Xiao yang terlihat sepi. Baik Xiao Chen maupun orang tuanya tidak terlihat di luar.


'Mungkin ayah telah kembali pulang atau menjalankan misi yang lain.' Fang Yin kembali melihat jalanan mengikuti langkah Jian Heng.


Jika perjalanan mereka lancar, mereka bisa sampai di sekte sebelum matahari terbenam. Untuk manusia normal yang tidak memiliki kekuatan spiritual seperti mereka, mungkin butuh waktu dua sampai tiga hari untuk sampai di sana.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2