
Ning Yao Xi berjalan gontai menuju ke istananya. Semakin dekat dengan pertarungan, dirinya malah semakin tidak bersemangat. Pertarungan yang harus melibatkan perasaan akan sangat sulit dia menangkan.
Sifat Ning Mu Shen yang licik tidak mengenal keluarga dan persaudaraan. Meskipun dia tidak sehebat Ning Yao Xi tetapi dia memiliki akal yang cerdik. Dia mewarisi sifat ayahnya yang bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya.
Dari kejauhan dia memata-matai kakaknya. Untuk mendapatkan keuntungan, dia harus mengabaikan rasa irinya. Justru sekarang Ning Mu Shen berpikir bagaimana caranya untuk bisa memanfaatkan kehebatan Ning Yao Xi.
'Aku melihat kakak Xi seperti sedang tidak bahagia. Sepertinya dia sedang ada masalah aku akan berusaha untuk mencari tahu.' Ning Mu Shen berjalan menuju ke istana Ning Yao Xi.
Sebenarnya dia sudah mengikuti Ning Yao Xi dari istana kekaisaran. Namun, dia bersembunyi dan mengawasi kakaknya itu dari tempat yang tak terlihat.
"Tunggu, Kak!" panggil Ning Mu Shen ketika melihat Ning Yao Xi telah berada di dalam ruangannya dan hendak menutup pintu.
Ning Yao Xi berhenti. Dia menunggu Ning Mu Shen yang berjalan cepat ke arahnya.
"Angin apa yang membawamu ke sini Shen'er?" Ning Yao Xi merasa heran dengan kunjungan adik kandungnya itu.
"Jahat sekali pertanyaanmu, Kakak. Bukankah kita saudara kandung." Ning Mu Shen menerobos masuk ke ruangan Ning Yao Xi.
Ning Yao Xi menutup pintu lalu menyusul Ning Mu Shen. Keduanya berhenti di depan sebuah meja lalu duduk dengan saling berhadapan.
Ning Yao Xi menuang minuman untuk dirinya sendiri. Ada beberapa gelas kosong di sana tetapi dia membiarkan Ning Mu Shen mengambilnya sendiri jika ingin minum.
"Bagaimana dengan lukamu? Apakah kamu masih merasakan keluhan?" tanya Ning Yao Xi pada adiknya itu.
Ning Mu Shen menggulung lengannya ke atas dan menunjukkan tangan kirinya yang sebelumnya mengalami patah tulang.
__ADS_1
"Kakak bisa memeriksanya sendiri. Aku juga tidak tahu, apakah lenganku ini sudah layak untuk bertarung atau belum," jelas Ning Mu Shen, mencoba meraih perhatian Ning Yao Xi.
Melihat sikap baik adiknya, Ning Yao Xi pun segera meletakkan cangkirnya lalu berjalan mendekati Ning Mu Shen. Seberapa buruk hubungan mereka sebelumnya, keduanya tetaplah kakak beradik yang memiliki hubungan darah yang sangat dekat.
Ning Yao Xi mengamati luka di lengan Ning Mu Shen dengan teliti. Hatinya merasa iba ketika melihat bekas luka yang belum sepenuhnya pulih itu.
"Jangan terlalu dipaksakan untuk berlatih!" Ning Yao Xi mengeluarkan sesuatu dari dalam cincin penyimpanannya lalu memberikannya pada Ning Mu Shen.
"Ini adalah ramuan perekat tulang dari Daratan Selatan. Ahli pengobatan di sana sangat terkenal, ini bisa memulihkan lenganmu dengan cepat," jelas Ning Yao Xi.
"Terimakasih, Kakak!" Ning Mu Shen berlutut memberi hormat pada kakaknya.
Dalam hatinya bersorak senang. Ramuan ini sangat mahal harganya. Saat kakaknya rela memberikan ramuan itu untuknya, dia merasa telah bisa mengambil hatinya. Ning Mu Shen akan lebih mudah untuk mendekati kakaknya kedepannya.
Kabar tentang keakraban keduanya pun terdengar hingga ke telinga Permaisuri Ning. Awalnya dia tidak percaya ketika pelayannya menceritakan hal itu kepadanya. Namun, saat dia melihat kedua anaknya itu sedang berlatih bersama di samping istana pangeran, dia baru mempercayainya.
'Semoga dengan bersatunya mereka akan membuat musuh yang datang bisa dikalahkan dengan mudah.' Permaisuri Ning sangat membanggakan kemampuan putra-putranya dan menganggap keduanya sangat hebat.
Untuk merayakan kebersamaan mereka, Permaisuri Ning mempersiapkan pesta kecil malam ini. Dia ingin seluruh keluarganya berkumpul dan duduk bersama untuk menikmati makan malam yang berkesan.
Wanita paruh baya itu terlihat sibuk mengarahkan para pelayan dan juru masaknya untuk menyajikan makanan yang di sukai oleh kedua putranya. Sudah lama keluarga kecil mereka tidak berkumpul dan menikmati kebersamaan. Malam ini adalah malam yang tepat untuk itu.
Kaisar Ning datang dan memasuki ruangan Permaisuri Ning. Dia terlihat heran melihat istrinya itu begitu sibuk untuk memilih ornamen dekorasi ruangan.
"Ying'er! Apakah kamu sedang berulang tahun?" tanya Kaisar Ning saat melihat ornamen pesta yang dipersiapkan untuk pesta kecilnya.
__ADS_1
Permaisuri Ning meletakkan barang yang dipegangnya lalu memberi hormat pada Kaisar Ning.
"Ini bukan untuk pesta ulang tahun, Yang Mulia. Aku hanya ingin mengungkapkan rasa bahagiaku dengan mengadakan sebuah pesta kecil. Aku sangat senang melihat kedua putra kita bergandengan tangan untuk menjadi kuat. Aku begitu terharu." Pemaisuri Ning memeluk Kaisar Ning.
Kaisar Ning membalas pelukan Permaisuri Ning kemudian membawanya duduk di depan sebuah meja.
"Aku juga sangat senang mendengarnya, Ying'er. Semua ini memang pantas untuk dirayakan. Tidak ada yang perlu untuk ditakutkan, kita pasti bisa menghadapi ramalan buruk itu dan merubahnya menjadi hal yang menggembirakan." Kaisar Ning mengecup kepala Permaisuri Ning.
Sebelum menjadi seorang kaisar, Kaisar Ning adalah seorang penasehat istana. Dia hanya memiliki seorang istri dan dua orang putra saja. Meskipun dia sangat jahat dan bengis, tetapi dia setia pada satu wanita.
Permaisuri Ning dahulunya adalah seorang putri dari sebuah negara bagian yang sekarang juga berada di bawah naungan kekuasaan Kaisar Ning. Kerajaan tempatnya berasal kini dipimpin oleh kakaknya yang juga merupakan sekutu dari suaminya.
Setelah pemberontakan terjadi sepuluh tahun lalu, Selir Ning yang merupakan keponakan dari Kaisar Ning pergi untuk mengasingkan diri. Hidupnya menjadi terlunta-lunta karena dia tidak memiliki keturunan. Kehidupan di istana tidak membuatnya nyaman, tidak seperti ketika dia hidup bersama dengan Kaisar Gu.
Menyesal pun tiada guna. Karena rasa iri dan emosi sesaat, kini dirinya harus menjalani kehidupan yang tidak bahagia. Sebelumnya dia memiliki kehidupan yang didambakan oleh seorang wanita meskipun hanya menjadi seorang selir. Kaisar Gu tidak pernah membeda-bedakan status istri-istrinya dan selalu berlaku adil.
Setelah kehancuran Klan Gu, dia baru merasakan kehidupannya yang juga ikut hancur. Dia terbebani dengan rasa bersalahnya. Di sepanjang waktunya dia selalu dihantui oleh rasa penyesalan yang tak berujung.
Selir Ning belum mendengar kabar tentang ramalan kebangkitan Klan Gu. Tempat tinggalnya saat ini sangat terpencil dan jauh dari keramaian. Dia tinggal di Pegunungan Shujin yang hanya dihuni oleh beberapa kepala keluarga saja. Di tempat ini dia berlatih seni pedang bersama murid Perguruan Elang Emas.
Kaisar Ning mengetahui tentang keberadaannya di sini, tetapi sekalipun dia tidak pernah mengunjunginya. Selir Ning terlihat seperti seorang yang tidak memiliki keluarga.
****
Bersambung ....
__ADS_1