
Fang Yin mengamati sesosok bayangan yang masih membawa tubuhnya sedikit menjauh dari Han Wu.
"Uhukk! Uhukk! Paman!" pekik Fang Yin ketika dia sudah bisa melihat wajah orang yang menyelamatkannya dengan jelas.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Anak Nakal?" Tian Feng menjitak kening Fang Yin.
"Auuw! Sakit, Paman."
Setelah Fang Yin bisa berdiri sendiri dengan benar, Tian Feng segera melepaskannya lalu memberi hormat pada Pendekar Iblis Buta.
"Murid memberi hormat, Guru!"
Fang Yin tidak percaya dengan apa yang dia lihat di depan matanya.
'Jadi ... jadi Pendekar Iblis Buta yang sangat kejam ini adalah guru buta yang paman Tian Feng ceritakan padaku waktu itu.' Fang Yin masih larut dalam keterkejutannya.
"Bangunlah, Feng'er! Apa hubunganmu dengan wanita ini?" Pendekar Iblis Buta tidak jauh beda dengan Fang Yin yang terkejut dengan kejadian ini.
Tian Feng merasakan ada orang lain di tempat itu sehingga tidak segera menjawab pertanyaan gurunya.
"Bisakah kita mengobrol di tempat guru tinggal?"
Han Wu mengerti kekhawatiran Tian Feng. Dia sangat hafal dengan sifat muridnya itu yang sangat hati-hati dan pandai menyimpan rahasia.
"Ikut aku!"
__ADS_1
Han Wu melompat ke udara dengan jurus terbangnya diikuti oleh Tian Feng.
Bukannya segera menyusul mereka Fang Yin malah terbengong melihat kedua pria buta itu meninggalkannya.
"Nona! Bisakah kami ikut denganmu?" seru Zhan Li sambil berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Fang Yin.
"Kita memiliki misi yang berbeda. Pergilah!"
Di kejauhan terlihat Tian Feng terbang menghampirinya lagi. Melihat hal itu Fang Yin segera menyusulnya terbang meninggalkan keempat kultivator itu berdiri terpaku dalam rasa penasaran mereka.
"Siapa dia sebenarnya dan apa hubungannya dengan keluarga kaisar?" Zhan Li bergumam lirih.
Merasa sama-sama tidak tahu dengan jawabannya, ketiga rekannya pun terdiam meskipun mendengarkan pertanyaan Zhan Li.
Mereka tidak ingin menduga-duga dan memilih untuk melanjutkan perjalanan mereka ke Kekaisaran Benua Selatan.
Di tempat lain, Fang Yin dan Tian Feng sampai ke tempat tinggal Han Wu. Sebuah pondok sederhana yang berada di tepi sebuah air terjun.
Malam yang gelap membuat Fang Yin tidak bisa menikmati pemandangan di tempat itu dengan begitu jelas.
Han Wu telah menunggu mereka di dalam pondok itu. Untuk ukuran tempat tinggal satu orang, menurut Fang Yin pondok itu terlalu luas.
Di dalam pondok terdapat beberapa ruangan. Mungkin sebelumnya Han Wu tidak tinggal sendiri di sana.
Tian Feng sudah lebih dulu duduk di hadapan Han Wu, sedangkan Fang Yin masih berdiri mematung di depan pintu.
__ADS_1
Meskipun wajah Han Wu tidak seseram sebelumnya tetapi luka di tubuhnya seakan mengingatkan betapa kejamnya pria buta itu.
"Yin'er! Kemarilah!" panggil Tian Feng melihat keponakannya itu tidak kunjung mendekat.
"I-iya, Paman." Dengan langkah ragu-ragu, Fang Yin berjalan mendekat lalu duduk di samping Tian Feng.
Suasana sejenak menjadi hening.
"Ambil ini! Makanlah sebelum racun energi itu semakin menjalar di tubuhmu!" Han Wu memberikan sebuah pil untuk Fang Yin.
Merasa awal pertemuan mereka yang di warnai dengan permusuhan, Fang Yin terlihat ragu-ragu untuk menerima pil pemberian Han Wu.
Meskipun tidak bisa melihat, Tian Feng merasakan keragu-raguan dalam diri Fang Yin dan tahu jika saat ini Fang Yin sedang memandangnya.
Tian Feng menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan Fang Yin agar menerima dan memakan pil itu.
"Terimakasih," ucap Fang Yin setelah pil itu berpindah ke tangannya.
Sebenarnya Fang Yin merasa ragu, tetapi tidak ada pilihan lain selain memakan pil itu. Jika tidak memakannya maka Han Wu akan tersinggung, belum lagi jika apa yang dia katakan itu benar.
"Aaarrggh!" teriak Fang Yin ketika merasakan tubuhnya seperti terbakar setelah memakan pil pemberian Han Wu.
Saking tidak tahannya, Fang Yin sampai memegang kepalanya dan meremas rambutnya kuat-kuat.
****
__ADS_1
Bersambung ....