Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 224


__ADS_3

Fang Yin kembali mengambil arah yang berlawanan dengan para pedagang itu untuk mencari tempat untuk singgah. Dia tidak lagi menggunakan teleportasi dan memilih untuk menggunakan artefak daunnya.


"Aku harus mencari tempat yang aman untuk mempelajari kitab ini. Sepertinya aku akan kesulitan jika mempelajarinya di sebuah desa." Fang Yin memutar arah dan pergi menuju ke sebuah bukit berbatu yang dia lihat dari ketinggian.


Matahari telah bergulir di ufuk barat. Sebelum malam turun dia harus menemukan tempat yang nyaman untuk beristirahat.


Demi sebuah tujuan, Fang Yin rela menjalani hidup dan berteman dengan kesepian. Lama dia tidak mendengar berita tentang Kekaisaran Benua Timur yang dipimpin oleh Kaisar Ning.


"Aku tidak tahu sampai kapan aku harus menggelandang seperti ini. Rasanya aku masih sangat jauh dari tujuanku."


Fang Yin duduk di tepi sebuah tebing batu dengan kaki yang tergantung dan menjuntai di atas jurang. Senja berwarna jingga yang begitu indah menjadi kanvas untuk lamunannya.


Bayangan masa lalu Agata dan Fang Yin terlukis di sana membuat hati manusianya bergetar. Baik sebagai Agata maupun sebagai Fang Yin, kehidupan yang dia jalani selalu penuh dengan perjuangan yang syarat dengan tantangan.


Keadaan tidak pernah mengijinkannya untuk sekedar mengeluh, apalagi berputus asa.


Hingga matahari turun dan berganti kegelapan, Fang Yin masih merenung di tempatnya semula. Pasang surut semangatnya membuatnya harus berperang melawan dirinya sendiri.


Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan saat ini adalah mempertegas tujuannya dan memupuk semangatnya dengan sebuah ambisi. Dunia tempat tinggalnya saat ini hanya memandang seseorang berdasarkan kekuatan. Jika kehilangan semangat dan menjadi lemah maka bersiaplah untuk menjadi pecundang yang selalu menerima kekalahan.


"Aku tidak merasa lapar hari ini. Mungkin satu pil ini cukup untuk mengisi tenagaku."


Fang Yin menelan sebuah pil penunda lapar. Malam ini dia ingin memeriksa ketersediaan bahan obat yang dia punya untuk membuat pil baru yang dia butuhkan. Sumber daya berupa pil menjadi salah satu pendukung yang sangat penting dalam peningkatan kultivasi.


Dengan bantuan berbagai sumber daya, seseorang akan mampu mencapai tingkat kultivasi lebih cepat daripada yang hanya mengandalkan kekuatan fisiknya saja.

__ADS_1


Fang Yin memilih bahan-bahan terbaik yang akan dia gunakan untuk meramu pil yang ingin dia pil.


Sekali dua kali pembuatan, roh naga hitam masih bisa menahan diri. Namun semakin lama aroma yang keluar dari proses pembuatan pil itu mengusiknya untuk bertanya.


"Apa yang kamu lakukan, Gadis Bodoh? Malam sudah larut. Harusnya kamu melanjutkan mempelajari kitab itu bukan malah bermain-main dengan api."


"Aku sedang membuat pil, bukan sedang bermain. Harusnya kamu senang jika aku tidak segera menguasai seluruh Kitab Sembilan Naga. Aku tidak akan menjadi lebih kuat darimu dan mengendalikanmu nantinya." Fang Yin menjawab pertanyaan roh naga hitam tanpa menghentikan apa yang dilakukannya.


Ini pertama kalinya mereka mengobrol tanpa melibatkan emosi. Mungkin saat ini keduanya sama-sama ingin membagi rasa sepi yang mengusiknya.


"Sebenarnya apa tujuanmu memiliki Kitab Sembilan Naga?" tanya roh naga hitam.


"Menjadi kuat," jawab Fang Yin.


"Hanya itu?" tanyanya lagi.


"Lalu?" Roh naga hitam masih mengejar Fang Yin dengan pertanyaannya.


"Aku ingin membalaskan dendam atas kematian ayahku dan mengembalikan martabat ibuku yang telah dipermalukan." Fang Yin mengeratkan kedua rahangnya teringat akan peristiwa buruk yang menimpa pemilik tubuhnya beberapa waktu yang lalu.


Roh naga hitam tersenyum senang saat mendengar kata balas dendam. Sifat dasarnya adalah pendendam dan penuh kebencian. Namun tidak menutup kemungkinan dia akan mengikuti pemahaman orang yang mengendalikannya.


"Aku akan membantumu untuk membalaskan dendam," ucap roh naga tanpa di duga oleh Fang Yin.


Saking terkejutnya Fang Yin yang telah menyelesaikan pembuatan pilnya tidak segera menghentikan api energi yang dia keluarkan. Tungku yang dia gunakan meledak dan tidak bisa dipakai lagi untuk membuat pil. Untung saja pil yang berhasil dia buat telah dia keluarkan dan tidak terpengaruh.

__ADS_1


"Dasar, Gadis Ceroboh!" seru roh naga sambil tertawa.


"Kamu yang selalu menggangguku dan mengusikku dengan ocehanmu itu." Fang Yin menggerutu kesal, tetapi setelah mengingat kalimat terakhir roh naga hitam, raut mukanya kembali berubah.


"Eh, tapi ngomong-ngomong, apakah tawaranmu untuk membantuku itu beneran?" Meskipun belum pasti tetapi Fang Yin merasa jika naga sombong itu mulai membuka diri.


"Aku tidak suka mengulang kata-kataku."


Roh naga tidak memberikan jawaban secara pasti atas pertanyaannya. Namun Fang Yin sangat yakin jika apa yang dia katakan bukanlah isapan jempol belaka.


"Baiklah! Mulai hari ini kita berteman. Tapi aku harap kamu bisa mengurangi ocehanmu yang tidak penting. Kamu lihat akibatnya jika aku kehilangan konsentrasi." Fang Yin menunjuk ke arah tungkunya yang telah hancur.


Mungkin memang roh naga hitam menjadi penyebab kejadian itu. Namun sepertinya itu bukan kesalahannya sepenuhnya, Fang Yin juga tidak berhati-hati dan kehilangan konsentrasi saat mendengar sesuatu yang mengejutkannya.


"Haihh! Kamu selalu saja menyalahkan orang lain. Aku malas berdebat denganmu." Setelah mengatakan itu aura roh naga hitam menghilang.


"Eh, tunggu-tunggu! Yah, kabur dia."


Fang Yin kembali sendirian malam itu. Ke depannya dia harus memperbanyak komunikasi dengan roh naga hitam. Dengan begitu tidak akan ada kendala ketika keduanya benar-benar harus berbagi tubuh menjadi dua perwujudan yang bisa saling bertukar.


"Malam ini aku ingin beristirahat saja."


Tangan Fang Yin membuat mantra pelindung sebelum dia merebahkan tubuhnya di atas bebatuan.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2