Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 295. Sebuah Rencana Penting


__ADS_3

Fang Yin kembali terlelap di dalam buaian ibunya. Keduanya tertidur dalam posisi saling berpelukan. Sudah lama mereka terpisah dan entah sampai kapan momen kebersamaan ini akan mereka nikmati.


Mimpi Fang Yin tidak kembali. Kehangatan ibunya seakan mengusir segala kegelisahan dan semua keburukan yang berusaha mendekatinya. Bahkan dia tidak sadar ketika ibunya pergi meninggalkannya di dalam kamar untuk membuat sarapan.


Aroma wangi masakan membuatnya terbangun dan meraba-raba tempat kosong di sampingnya. Fang Yin terbangun setelah tidak menemukan ibunya di sana.


Suasana pagi itu masih gelap sehingga membuat Fang Yin masih enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya. Terlintas kembali mimpinya semalam di mana dia merasakan energi yang besar dari Daratan Utara. Meskipun itu hanyalah sebuah mimpi, tetapi dia merasakan semuanya seperti nyata..


"Apakah Kakek Lesung pipi benar-benar tahu tentang manusia hijau? Atau semuanya hanya halusinasiku saja." Fang Yin turun dari tempat tidurnya lalu berjalan mondar-mandir di kamarnya.


Tidak ada jawaban yang berhasil dia temukan. Mungkin setelah ini dia harus mendatangi Guan Xing untuk menanyakannya. Fang Yin terlihat tidak sabar.


Di ruang depan masih terlihat sepi. Ibu dan neneknya mungkin sedang berada di dapur dan para pria mungkin belum keluar dari dalam kamar mereka.


Fang Yin tidak terbiasa memasak. Kehadirannya di dapur hanya akan membuat kekacauan. Untuk itu dia lebih memilih untuk pergi keluar untuk menghirup udara segar.


Semburat sinar berwarna jingga muncul di ufuk timur. Gunung Perak terlihat seperti desa mati. Belum ada tanda-tanda kehidupan karena belum ada seseorang yang beraktifitas di luar rumah. Dapur berasap mereka saja yang menandakan jika ada penghuni yang tinggal di dalamnya.


Suara pintu terbuka membuat Fang Yin menoleh ke belakang. Jian Heng, Shi Han Wu dan Shi Jun Hui keluar dari dalam rumah.


"Yin'er! Sejak kapan kamu bangun?" tanya Shi Jun Hui pada cucu kesayangannya itu.


"Baru saja, Kek. Aku baru saja ingin berkeliling ke seluruh desa."


"Aku ikut," sahut Jian Heng dengan cepat.


"Pergilah! Tapi pagi-pagi buta seperti ini keadaan desa masih sepi." Shi Jun Hui berjalan menuju ke sebuah meja yang terletak di bawah sebuah pohon diikuti oleh Shi Han Wu.


Fang Yin pun pergi bersama Jian Heng setelah memberikan penghormatan kepada kedua kakeknya. Mereka kemudian berjalan meninggalkan tempat itu menuju ke arah pemukiman baru yang belum selesai di bangun.


Rumah-rumah itu sudah ditinggali meskipun baru tujuh puluh persen jadi. Ada beberapa yang berpenghuni, ada pula yang dibiarkan kosong. Para pemiliknya memilih untuk tinggal beramai-ramai di rumah salah satu kerabat mereka.

__ADS_1


Suasana perlahan menjadi terang sehingga keberadaan Fang Yin dan Jian Heng bisa terlihat dengan jelas. Mereka menyapa keduanya dengan penghormatan. Keadaan ini mirip seperti yang terjadi di dalam mimpinya bedanya saat ini ada Jian Heng bersamanya.


Keduanya berjalan berkeliling di pemukiman baru bagi suku gletser yang kembali menjadi bagian dari suku es. Fang Yin mencari-cari sosok Guan Xing yang belum terlihat. Dia membandingkan keadaan pagi ini dengan suasana yang terjadi di dalam mimpinya.


"Kamu terlihat gelisah, Yin'er. Apakah kamu sedang ada masalah?" tanya Jian Heng melihat ekspresi wajah Fang Yin yang gelisah.


Fang Yin gelagapan mendengar pertanyaan Jian Heng. Tidak mungkin dia mengatakan cerita tak berdasar yang dia alami dalam mimpinya.


"Selamat pagi, Pangeran Ketiga. Selamat pagi, Nona Yin." Guan Xing tiba-tiba muncul dan menyapa keduanya.


Bola mata Fang Yin membulat sempurna. Tubuhnya merasa gemetar dan bergerak perlahan menoleh ke arah pemilik suara. Lagi-lagi keadaan ini sangat mirip dengan yang terjadi dalam mimpinya.


Fang Yin membalas penghormatan yang sama untuk Guan Xing dengan gerakan saja. Mulutnya seakan terkunci karena masih dikuasai oleh perasaan tak biasa.


Kening Jian Heng berkerut dengan salah satu alisnya terangkat ke atas. Sikap Fang Yin yang aneh membuatnya berpikir tentang apa penyebabnya. Dia merasa semua ini ada hubungannya dengan Guan Xing, meskipun tidak tahu apa masalahnya.


"Hari masih sangat pagi, tapi kalian begitu rajin mengunjungi kami," canda Guan Xing.


Bola mata Fang Yin bergerak-gerak ketika dia berusaha mengingat apa yang dia alami di dalam mimpinya.


"Wajahmu terlihat pucat, Nona Yin. Apakah Anda sakit?" Guan Xing bertanya dengan topik yang berbeda dari mimpinya.


"Ah, tidak, Kakek Lesung pipi. Aku merasa terkejut saja. Semalam aku bermimpi aneh dan mimpi itu ada hubungannya denganmu."


Terjawab sudah pertanyaan Jian Heng. Kini tidak ada lagi yang perlu dia khawatirkan. Mimpi bukanlah hal yang nyata, tetapi sikap aneh Fang Yin masih menyisakan rasa penasaran juga.


"Mimpi?" Guan Xing mengernyitkan dahinya hingga kedua alisnya bertaut.


Fang Yin kemudian menceritakan apa yang dia ingat tentang badai yang datang tiba-tiba dan ketakutan yang diakibatkan olehnya. Di dalam mimpinya semua yang terjadi karena kebangkitan kekuatan sosok misterius yang mendiami Daratan Utara. Fang Yin juga mengatakan jika makhluk ini ada hubungannya dengan manusia hijau yang tabu untuk dibicarakan.


Sayangnya Fang Yin tidak tahu kelanjutan mimpinya karena menjelang keberangkatannya ke Daratan Utara dia terbangun.

__ADS_1


Guan Xing terlihat berpikir setelah mendengar cerita Fang Yin. Ada sebagian yang benar dari mimpi itu tetapi sebagian lain masih misteri. Manusia hijau dan segala misterinya memang tabu untuk dibicarakan dan itu bukan lagi sebuah rahasia di Daratan Utara. Namun, mengenai kebangkitan kekuatan yang menyebabkan badai belum dia ketahui penyebabnya.


"Aku tidak banyak tahu tentang manusia hijau. Selama kami tinggal di sana, memang sering terjadi kejadian aneh seperti yang kamu sebutkan. Namun, kami tidak tahu pasti apa yang terjadi karena tidak ada bukti nyata yang bisa kami temukan."


Fang Yin dan Jian Heng menatap Guan Xing dengan wajah serius. Sepertinya mimpi Fang Yin memiliki sisi nyata yang mungkin saja terjadi.


"Aku membutuhkan artefak yang dimiliki oleh manusia hijau. Setelah ini aku akan pergi ke Daratan Utara untuk mencarinya." Fang Yin mengatakan tujuannya.


"Sayangnya tidak ada yang tahu di mana manusia hijau tinggal." Guan Xing menghela nafas panjang.


Fang Yin memutar tubuhnya dan berjalan memunggungi Guan Xing dan Jian Heng. Kedua tangannya bersembunyi di belakang punggungnya.


"Mudah saja. Aku akan melanggar larangan untuk memakai atribut berwarna hijau."


Jawaban Fang Yin membuat kedua pria itu tercengang. Mereka saling berpandangan. Meskipun itu bukan hal yang benar tetapi ide itu tidaklah buruk. Apapun bisa terjadi di tempat yang tidak pernah diketahui oleh siapapun. Hingga saat ini, belum ada yang tahu kemana orang yang hilang secara misterius.


Obrolan mereka terhenti ketika penduduk desa sudah mulai beraktifitas di sekitarnya. Pembicaraan tidak biasa mereka bisa mengundang rasa ingin tahu orang-orang di sekitarnya.


"Jika ada waktu luang, berkunjunglah ke rumah kami." Secara tidak langsung Fang Yin mengundang Guan Xing untuk datang ke kediaman Shi Jun Hui.


Mereka saling memberi penghormatan sebelum berpisah. Guan Xing tertegun menatap kepergian keduanya. Jika mimpi Fang Yin adalah sebuah pertanda, maka kejadian itu tidak lama lagi pasti akan terjadi.


'Haruskah aku pergi ke Daratan Utara dalam waktu dekat?' Guan Xing tampak berpikir.


Rumah-rumah yang dipersiapkan untuk menyambut keluarga suku es yang datang dari Daratan Utara hampir selesai. Tidak jadi soal jika dia pergi bersama Fang Yin ke sana dan membiarkan rombongannya tetap tinggal di sini untuk menyelesaikan pembangunan rumah.


Sebelum membuat keputusan ini bersama klannya, Guan Xing harus memastikan bagaimana rencana yang akan dibuat oleh Fang Yin. Dalam hal ini, dia bertindak sebagai pendukung saja.


Pergi ke Daratan Utara adalah sebuah misi yang besar. Tentu Fang Yin pun tidak akan sembarangan. Setelah berpikir untuk beberapa saat, Guan Xing memutuskan untuk pergi menyusul Fang Yin pergi ke kediamannya.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2