
Tidak ingin merasa pusing memikirkan hal yang belum terjadi dan tidak tahu apa yang akan terjadi, Jian Heng memilih untuk menyimpan giok mata dewa miliknya dan bermeditasi di ruangan itu.
Setelah mengambil posisi duduk sempurna dengan sikap lotus, Jian Heng mengeluarkan sebuah pil pemulih energi pemberian Fang Yin.
Jian Heng ingin mencoba merasakan sensasi pil mahal yang dia dapatkan cuma-cuma dari kekasih hatinya itu.
Mata Jian Heng memejamkan matanya untuk berkonsentrasi, tubuhnya mulai diselimuti oleh aura energi berwarna biru terang.
Qi alam dari sekitarnya terus berdatangan dan berkumpul menyelimuti tubuhnya.
Semakin lama energi itu semakin banyak dan membentuk gugusan cahaya yang berpendar menyelimuti tubuh Jian Heng.
Perlahan-lahan energi itu menerobos masuk ke dalam tubuh Jian Heng dengan cepat.
Cahaya yang menyelimuti tubuh Jian Heng semakin terang seiring dengan energi yang terus masuk ke dalam dantiannya.
Keadaan ini terus berlangsung hingga kolam energi di dalam tubuh Jian Heng menampung energi yang lebih besar dari biasanya.
Efek dari pil yang dia makan membuat kolam Qi tersebut meluas dan terus menyerap energi yang sangat banyak dari alam sekitarnya.
Kultivasi yang dilakukan oleh Jian Heng berlangsung lebih lama dari biasanya karena tubuhnya menjadi lebih kuat menampung energi yang lebih besar berkali-kali lipat dari sebelumnya.
__ADS_1
Ketika dantiannya telah mencapai batas maksimal untuk menampung energi, kultivasi yang dilakukan oleh Jian Heng pun berhenti.
'Luar biasa! Pantas saja iblis cantik itu begitu hebat. Dia memiliki sumber daya yang mendukung untuknya.'
Jian Heng melihat ke seluruh tubuhnya yang terasa begitu berenergi. Aura energi yang kuat memancar dari seluruh permukaan tubuhnya. Kulitnya terasa begitu halus dan membuatnya kembali seperti baru dilahirkan.
Bekas luka yang ada di permukaan kulitnya menghilang setelah mengkonsumsi pil pemulih itu.
Dengan senyum yang menghias wajah tampannya, Jian Heng berjalan ke kamarnya.
Bayangan wajah Fang Yin terus menari-nari di pelupuk matanya hingga membuat Jian Heng sulit untuk tidur di malam itu.
Tangannya menggerakkan pena di atas kertas lalu terlukislah sebuah wajah. Meskipun hanya dalam ilusi ketika sedang berada di Telaga Bias Pelangi, wajah Fang Yin tanpa cadar masih tergambar jelas dalam ingatan Jian Heng.
Lukisan Fang Yin selesai dalam waktu yang begitu singkat.
Malam itu, akhirnya Jian Heng bisa tertidur setelah puas memandangi lukisan yang dia buat sendiri.
Keesokan harinya.
Jian Heng sudah di tunggu oleh Ketua Lama di aula sekte.
__ADS_1
Di sana juga ada Ketua Sekte yang duduk saling berhadapan dengan Ketua Lama.
"Jian Yu, memberi hormat pada Ketua Lama dan Ketua Sekte!" seru Jian Heng sambil menyatukan kepalan tangan dan telapak tangan sebagai penghormatan.
"Semoga keselamatan selalu menyertaimu! Duduklah!" Ketua Lama memberikan isyarat dengan tangannya pada Jian Heng untuk duduk di hadapannya.
Mereka bertiga langsung berbicara pada intinya. Ketua Sekte memberikan wewenang pada Jian Heng untuk memimpin Sekte Sembilan Bintang selama dia tidak berada di sana.
Setelah pembicaraan itu, mereka bertiga pergi ke halaman utama untuk mengumumkan jika Jian Heng adalah pemimpin sekte saat ini.
Semua hal yang berkaitan dengan administrasi dan kebijakan-kebijakan di dalam sekte sepenuhnya berada di tangannya.
Keputusan Ketua Lama dan Ketua Sekte sudah dibuat dan semua anggota sekte baik tetua, pekerja sekte, maupun murid sekte tidak boleh menolaknya.
Xiao Chen tampak tersenyum bangga melihat guru kesayangannya kini naik jabatan menjadi ketua sekte meskipun pada dasarnya Jian Heng sendiri kurang begitu senang dan merasa hilang kebebasan.
Rasa iri terlihat dari para tetua lain yang lebih dulu bergabung dengan sekte. Mereka merasa jika seharusnya salah satu dari merekalah yang dipilih untuk menjadi pemimpin menggantikan Ketua Sekte Feng.
****
Bersambung ....
__ADS_1