Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 237


__ADS_3

Fang Yin telah sampai di kamarnya. Kamar yang luas dengan berbagai fasilitas yang cukup memadai, terlihat dengan jelas saat hari sudah terang. Tangannya menyentuh benda-benda di sekelilingnya. Benda bernilai seni dengan motif yang unik.


'Semuanya terlihat sangat indah. Namun, aku tidak boleh terlena dengan kemewahan.' Fang Yin berbalik lalu berjalan menuju ke meja dengan dupa yang masih menyala.


Baru saja dia terduduk, beberapa dayang datang ke kamarnya membawakan sarapan untuknya. Mereka juga membawakan hanfu mewah berbahan kain sutra berkualitas tinggi.


Setelah meletakkan semua di atas meja, para dayang itu berjalan mundur dengan badan yang sedikit membungkuk.


“Tunggu!” panggil Fang Yin.


“Siapa yang mengirimkan semua ini?” lanjutnya.


Para dayang itu berhenti. Salah satu dari mereka berjalan maju lalu memberi hormat pada Fang Yin.


“Yang Mulia Permaisuri meminta kami mengirimkan hadiah-hadiah ini untuk Anda, Nona.” Dayang itu berbicara sambil melihat ke lantai.


Fang Yin merasa aneh. Sikap permaisuri sebelumnya terlihat tidak menyukainya. Mengapa tiba-tiba dia mengirimkan banyak hadiah untuknya. Dia merasa curiga dengan perubahan ini.


“Hmm.” Fang Yin mengangguk lalu mengayunkan tangannya sebagai tanda mereka boleh pergi.


Tangan kanannya menjulur ke depan dengan posisi telapak tangan menghadap ke bawah. Cahaya Qi turun menyapu ke atas seluruh makanan di atas meja. Setelah dipastikan tidak ada racun di sana, Fang Yin mengambil sebuah kue pie berbentuk bunga yang terlihat lezat.


‘Aku butuh asupan nutrisi sebelum berlatih. Tidak ada pelayan yang berjaga di depan kamarku. Bagaimana aku akan mandi setelah ini?’ Fang Yin menggeleng.


Setelah meneguk secangkir minuman, Fang Yin kembali melihat-lihat. Berjalan ke samping kamarnya dan melihat sebuah kolam pemandian. Aroma mawar dan bunga-bunga dalam keranjang menghadirkan sensasi menyegarkan. Tempat itu terbuka, tetapi terlindung dan cukup aman untuk menjaga privasi. Namun, Fang Yin tidak ingin gegabah, dia memasang tabir pelindung sebelum dia turun untuk mandi.


Aroma wangi segar dari bunga-bunga yang dia taburkan di kolam, menempel di tubuhnya. Parfum alami yang dia campurkan dengan air turut memberi warna. Meskipun pakaian yang dihadiahkan oleh permaisuri sangat indah, dia tidak ingin mengenakannya.


Saat Fang Yin kembali, Kaisar Jing telah berdiri di depan kamarnya.


“Sepertinya ada hal penting yang membawa, Yang Mulia datang kemari.”


Fang Yin mempersilakan Kaisar Jing untuk masuk dengan isyarat tangan. Mereka lalu duduk di depan meja yang masih penuh makanan dengan posisi saling berhadapan.

__ADS_1


Pria berwibawa itu menatap Fang Yin sejurus. Kerutan halus di wajahnya sedikitpun tidak mengurangi ketampanannya. Usianya mungkin sudah tidak muda lagi, tetapi tingkat kultivasinya yang tinggi membuatnya mampu melawan hukum alam dan terlihat awet muda.


"Pembicaraan kita sebelumnya belum selesai."


Kaisar Jing meletakkan tangannya di atas paha dengan posisi duduk bersila. Punggungnya tegak menjulang.


Kedua pasang mata mereka saling bertemu. Momen menegangkan menghangatkan suasana pagi.


"Sudahlah. Saya tidak ingin merepotkanmu. Sebaiknya Yang Mulia memikirkan urusan pemerintahan saja."


Air muka di wajah Fang Yin menunjukkan perasaan harap-harap cemas. Permainan kata yang membuat Kaisar Jing semaki terpana.


"Bukan hal yang mudah untuk mendapatkannya bukan berarti tidak mungkin. Aku tidak bermaksud untuk tarik ulur, tetapi aku ingin memberikan penawaran." Kaisar Jing terlihat lebih santai.


Fang Yin sudah memperkirakan jawaban ini. Dia berpikir jika Kaisar Jing pasti tidak akan memberikan kitab itu dengan cuma-cuma.


"Aku tidak tertarik dengan penawaran. Namun, aku tidak akan menolak sebuah tantangan."


"Tidak sulit. Kamu bisa memilih beberapa syarat yang kuajukan." Kaisar Jing menghentikan ucapannya untuk melihat reaksi Fang Yin.


Fang Yin mengangguk. Seberat apapun tantangan itu, tetap harus dia ambil. Kitab Sembilan Naga bintang tujuh harus menjadi miliknya.


'Masih ada dua buah kitab lagi yang harus kucari setelah ini. Aku harus mendapatkannya bagaimanapun caranya.' Mata Fang Yin berkilat.


"Kamu tenang saja aku tidak akan memberimu tantangan yang sulit."


"Katakan saja. Aku tidak suka orang yang bertele-tele," tegas Fang Yin.


Sifat tidak sabaran Fang Yin membuat Kaisar Jing tersenyum. Baginya ini sangat menarik.


"Baiklah aku akan mengatakannya sekarang. Pertama, kita beradu seni pedang tanpa menggunakan teknik tenaga dalam yang lain. Jika kamu menang kitab itu akan menjadi milikku. Namun, jika kamu kalah, maka kamu harus menjadi selirku."


Ucapan Kaisar Jing membuatnya melotot.

__ADS_1


"Tantangan kedua, kamu cukup menjadi selirku tanpa melakukan apa-apa dan kitab itu akan kuberikan padamu sebagai hadiah pernikahan."


'Selir lagi selir lagi. Mengapa Kaisar Jing begitu ingin mempersunting diriku? Tidak beres.' Fang Yin menahan dirinya untuk tetap tenang.


"Dan yang ketiga, kamu tidak harus mengambil kedua tantangan itu. Bukankan aku memberimu kesempatan untuk meminta sesuatu padaku?" Kaisar Jing sangat yakin jika Fang Yin tidak akan mengambil tantangan yang ketiga.


Sebagai seorang kultivator, dia tentu akan menjaga harga dirinya. Menerima tantangan yang ketiga sama halnya dengan meminta-minta. Ada harga yang harus dia bayar untuk sebuah kesempatan.


Butuh waktu berpikir untuk mengambil sebuah pilihan. Fang Yin menggigit giginya hingga kedua rahangnya saling bertaut.


"Aku ingin tahu keberadaan kitab itu terlebih dulu." Fang Yin mencoba mengulur waktu.


Telapak tangan kanan Kaisar Jing terbuka ke atas. Sebuah buku kuno yang sangat familiar muncul di sana. Kitab Sembilan Naga memiliki model dan sampul yang sama.


Fang Yin tidak serta merta percaya. Dia melihat telapak tangan kirinya yang tersembunyi. Titik cahaya tanda keberadaan Kitab Sembilan Naga menyala. Kitab itu memang kitab yang dia cari.


"Aku mendambakan sebuah hubungan yang didasari cinta. Bukan sekedar ambisi atau keinginan untuk memiliki. Semakin kamu memaksakan kehendakmu, maka kebencian itu semakin nyata."


Gurat kekecewaan terlihat jelas di wajah Kaisar Jing. Secara tidak langsung dia mendapatkan penolakan.


"Aku akan mengambil tantangan yang pertama. Tetapi bukan berarti aku setuju untuk menjadi selirmu jika aku kalah."


Kilat mata Fang Yin terasa menghunjam hati Kaisar Jing yang sedang patah hati.


"Harapanku setinggi langit. Sentuhan angin lembut mampu menerbangkan dedaunan kering. Perasaanku yang kuat tentu mampu memecahkan karang."


Secara implisit, Kaisar Jing tidak akan menyerah untuk menakhlukkan hati pujaannya. Dengan kata lain, dia akan memenangkan hati Fang Yin dan membuatnya jatuh cinta padanya. Percaya diri sekali dia.


'Kamu tidak tahu jika aku telah menyukai pria lain. Pria yang hampir sama dengan pria yang aku impikan di kehidupanku yang sebelumnya.' Fang Yin menatap ke arah kosong dan mendapati bayangan wajah Zidane dan Jian Heng saling bergantian melintas.


****


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2