
Jian Heng menyusul Fang Yin turun dan berdiri tepat di belakangnya. Saat Fang Yin akan melangkah, Jian Heng memberanikan diri untuk memegang tangannya. Fang Yin tidak tersentak lalu memutar tubuhnya ke belakang hingga hampir menabrak Jian Heng.
"Maaf jika aku mengagetkanmu, Xiao Yin. Kamu ternyata tidak sabaran, ya?!" ucap Jian Heng tanpa melepaskan genggaman tangannya.
"Lepaskan!" seru Fang Yin kembali membuang muka ke arah lain menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Maaf!" Jian Heng lupa kalau dia masih memegang tangan Fang Yin.
Untuk sejenak suasana menjadi hening.
"Malam sudah mulai turun. Cepat katakan sesuatu!" Fang Yin tidak ingin berlama-lama berduaan dengan Jian Heng yang membuatnya hampir pingsan karena jantungnya tidak terkontrol dengan baik.
"Iya, benar. Tidak terasa hari sudah mulai gelap. Aku akan memikirkan bagaimana cara untuk membantu misimu. Sekarang sebaiknya kita pulang ke penginapan terlebih dahulu. Besok kita bahas lagi," ucap Jian Heng memberi lampu hijau untuk Fang Yin.
__ADS_1
Di dalam hatinya Fang Yin bersorak senang. Untuk kali ini dia harus berusaha bersikap baik pada Jian Heng demi mencapai tujuannya. Dia tidak boleh membuat Jian Heng marah dan merubah keputusannya.
Dari kejauhan terlihat sesosok bayangan manusia datang menghampiri mereka berdua. Semakin dekat bayangan itu semakin jelas terlihat. Ternyata dia adalah Xiao Chen.
"Tetua Yu! Singgahlah ke rumahku! Ibu dan ayahku sudah menunggumu. Tadi aku meminta mereka memasakkan makanan lezat untukmu. Aku mohon, setidaknya jangan mengecewakan orang tuaku." Xiao Chen menangkupkan kedua telapak tangannya tanda memohon.
Jian Heng menoleh pada Fang Yin seolah dia ingin memberitahunya dengan kalimat 'Mari ikut pergi bersamaku!'.
"Tapi aku datang bersamanya. Aku tidak bisa datang kalau tidak bersamanya," ucap Jian Heng sambil terus melirik ke arah Fang Yin yang sepertinya tidak keberatan dengan perkataannya.
"Katakan pada orang tuamu bahwa aku mengucapkan banyak terimakasih. Tapi aku harus menemani seorang teman dan tidak bisa datang." Jian Heng mulai melangkahkan kaki diikuti oleh Fang Yin yang berjalan disisinya.
"Tunggu Tetua! Mari ikut bersamaku. Tidak masalah jika kamu membawa temanmu." Xiao Chen terpaksa mengundang Fang Yin juga meskipun sejak awal dia tidak menyukainya.
__ADS_1
"Baiklah! Xiao Yin, kamu tidak keberatan, bukan?" Jian Heng meminta pendapat Fang Yin sebelum membawanya berjalan menuju rumah Xiao Chen.
Fang Yin mengangguk. Sebenarnya tubuhnya terasa sangat gerah dan ingin segera mandi untuk membersihkannya. Namun saat ini dia dalam misi untuk mendapatkan isi Kitab Sembilan Naga. Dua harus bersabar dan menuruti kemauan Jian Heng.
"Terimakasih, Tetua!" Xiao Chen tersenyum senang dan memimpin keduanya berjalan menuju rumahnya.
Seperti yang dia katakan sebelumnya, rumah Xiao Chen berada tepat di belakang penginapan yang disewa oleh Fang Yin dan Jian Heng. Mereka bisa kembali ke penginapan hanya dengan berjalan beberapa langkah saja dari rumah Xiao Chen.
Kedua orang tua Xiao Chen telah menyambut kedatangan mereka bertiga di depan pintu. Fang Yin tampak tidak asing dengan wajah ayah Xiao Chen. Dia sangat mirip sekali dengan wajah Tuan Xi, ayah angkatnya.
Fang Yin terlihat salah tingkah. Rasanya sudah tidak mungkin lagi dia untuk mundur dan pergi dari sana. Meskipun belum tahu pasti siapa dia, Fang Yin merasa jika ini bukan pertanda baik untuknya.
****
__ADS_1
Bersambung ....