Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 266. Formasi Sembilan Matahari


__ADS_3

Dari mencuri dengar percakapan para prajurit Kekaisaran Benua Timur, Fang Yin mendapatkan banyak sekali informasi penting. Sedikit banyak dia tahu tentang sepak terjang Kaisar Ning.


'Semoga tidak ada yang tahu jika aku masih hidup. Rupanya Kaisar Ning pergi ke peramal dan menyatakan bahwa kekuasaannya dalam bahaya. Pantas saja dia bersikap waspada dan menarik prajurit sebanyak-banyaknya.' Fang Yin tersenyum miring.


Setelah tidak ada lagi yang ingin didengarnya, dia pergi meninggalkan tempat itu dan pergi ke penginapan yang berada di seberang jalan. Hari hampir sore, dia ingin pergi beristirahat walau sebentar.


Di dalam tidurnya, Fang Yin masuk ke dalam alam bawah sadarnya dan merasakan dirinya seperti sedang berada di dalam istana Kekaisaran Benua Timur. Dia melihat aktifitas yang dilakukan oleh prajurit dan para punggawa kerajaan. Mereka berlatih dengan sangat keras.


Sepintas semua itu terlihat seperti mimpi, tetapi semuanya adalah gambaran nyata. Fang Yin tidak tahu jika leluhurnya telah menanam formasi sembilan matahari di istana Kekaisaran Benua Timur. Formasi ini telah dibuat sebelum Kitab Sembilan Naga terpecah menjadi sembilan. Namun, hanya orang yang menguasai setidaknya tujuh kitab yang mampu mengendalikan formasi ini.


Di masa lalu, para kultivator berebut untuk menduduki posisi terkuat dan mengendalikan formasi ini. Para kultivator dan penguasa saling membunuh untuk memperebutkan Kitab Sembilan Naga, hingga kakek moyang Fang Yin membagi kitab itu menjadi sembilan dan membaginya ke seluruh benua.


Semua kejadian itu tergambar jelas dihadapan Fang Yin, dia seperti melihat semua kejadian di masa lalu itu secara langsung sesaat setelah melihat latihan para prajurit Kaisar Ning.


Fang Yin bisa melihat dengan jelas kehebatan formasi sembilan matahari dan cara meredamnya. Semangatnya untuk mendapatkan Kitab Sembilan Naga bintang delapan dan bintang sembilan kian membara. Dia akan menjadi Dewi Naga setelah beratus-ratus tahun mengalami kekosongan.


Gambaran tentang formasi sembilan matahari kembali tertutup, kini dia kembali melihat pelatihan para prajurit yang sangat keras. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara ledakan-ledakan kecil dari dalam sebuah ruangan. Pintunya tertutup rapat tetapi dia bisa melangkah masuk menembus dinding.


Di dalam ruangan itu terlihat Kaisar Ning sedang berlatih sebuah jurus. Dia telah melindungi sekelilingnya dengan mantra yang sangat kuat. Namun, kekuatan jurus api pembelah langit tingkat atas masih menimbulkan getaran dan suara ledakan di luar ruangan.


Kaisar Ning juga memiliki sebuah jurus hebat lainnya yang tidak kalah hebat dari jurus api pembelah langit, yaitu jurus pedang petir. Kedua jurus hebat itu menjadi andalannya dan menjadikannya seorang yang sangat ditakuti. Tutur katanya yang lembut dan manis membuat semua lawan bicaranya terbujuk dan mempercayainya, begitu juga ayahnya yang menjadikannya sebagai penasehat dan orang kepercayaannya.


Fang Yin memberanikan diri untuk berjalan masuk dan melihat-lihat isi dari kamar pribadi Kaisar Ning. Kesenangannya membaca menuntunnya menghampiri sebuah rak buku. Dia membaca sebuah judul 'Formasi Sembilan Matahari'.


Tangan Fang Yin mengulur ke depan tetapi tidak bisa menyentuh buku itu. Dia mencoba untuk menghembuskan napasnya meniup sebuah tirai, tirai itupun berkibar.


'Aneh aku bisa menggerakkan tirai ini dengan tiupanku tetapi mengapa aku tidak bisa memegang atau menyentuh sesuatu. Ataukah semua pengetahuan tentang ini berada di dalam Kitab Sembilan Naga bintang delapan?' Fang Yin mencoba memikirkannya.


Fang Yin mencoba untuk meniup benda-benda ringan yang berada di sekitarnya, tetapi tidak berhasil. Ternyata dia hanya bisa melakukannya sekali saja.


Brukk!


Sebuah buku jatuh karena getaran jurus yang dilakukannya dalam latihan. Buku itu adalah buku yang diincar oleh Fang Yin sejak tadi, lembar demi lembar terbuka akibat dari getaran latihan Kaisar Ning.


Demi bisa membacanya Fang Yin duduk berjongkok. Kurang terang membaca, dia berbaring tengkurap.


Sayangnya, lembaran dari buku itu tidak terbuka secara utuh. Fang Yin hanya membaca beberapa bagian saja yang sering terbuka.


'Huh! Kenapa hanya terbuka sedikit saja? Aku malah semakin penasaran.' Fang Yin memukulkan tangannya di lantai dengan kesal.


Kaisar Ning telah menyelesaikan latihannya dan bersiap untuk meninggalkan ruangan itu. Namun, ketika melihat ada sebuah buku terjatuh, dia berbalik dan mengambilnya.


Fang Yin yang begitu kesal padanya mengangkat lututnya tepat di wajah Kaisar Ning yang sedang menunduk mengambil buku. Tidak berhenti di situ saja, dia juga memukul tengkuk Kaisar Ning dengan dua kepalan tangannya yang disatukan.


"Siapa?!" teriak Kaisar Ning sambil mengelus tengkuknya.


Fang Yin merasa ketakutan ketika Kaisar Ning berada dalam jarak yang sangat dekat dan seolah sedang menatapnya. Tangan pria tua itu mengayun ke depan seperti akan memukulnya dengan buku.


"Haahh!" teriak Fang Yin sambil meliukkan tubuhnya ke belakang.


Tubuh Fang Yin kehilangan keseimbangan dan limbung ke belakang. Dia terjatuh.


Namun, ketika terbangun dia berada di tempat yang berbeda yaitu di atas ranjang penginapan. Napas Fang Yin memacu dengan sangat cepat seperti seseorang yang tengah berlari. Hingga beberapa saat dia masih bernapas dengan terengah-engah.


"Aku merasa semua yang terjadi adalah mimpi tetapi jika itu mimpi, mengapa aku melihatnya dengan jelas seperti nyata. Aku juga merasakan tekanan fisik yang besar pada tubuh mereka. Hawa kehadiran mereka juga terasa." Fang Yin menyeka keringatnya yang menetes di keningnya.


Kembali terlintas di dalam ingatan Fang Yin tentang isi dari kitab formasi sembilan matahari. Seseorang yang menguasai Kitab Sembilan Naga setidaknya bintang tuju, akan memiliki kemampuan untuk melakukan perjalanan jiwa.


'Apakah mungkin jika yang terjadi padaku adalah perjalanan jiwa? Sepertinya memang iya.' Fang Yin sangat yakin jika itulah yang dialaminya.


Tubuhnya tidak merasa lelah, tetapi luka-luka luar yang tergores di permukaan kulitnya masih basah. Fang Yin merasa perlu untuk mengobatinya. Setelah meminum pil pemulih tenaga, dia mengoleskan salep pemberian ibunya pada luka-lukanya.


Dia mengganti bajunya yang compang camping dan penuh noda darah dengan baju warna senada dan cadar yang sama pula. Malam ini dia tidak ingin melakukan aktifitas dan memilih untuk memulihkan tubuhnya dengan berkultivasi.


Di luar kamarnya terdengar langkah seseorang yang berhenti di depan pintu. Fang Yin belum berpakaian dengan benar karena menunggu lukanya mengering.


"Selamat sore, Tuan, Nona. Apakah Anda membutuhkan air untuk mandi?" tanya pelayan kamar yang berdiri di luar kamar Fang Yin.


"Tidak, terimakasih. Aku akan mandi besok pagi saja," jawab Fang Yin tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya.


"Baiklah Nona, saya permisi."

__ADS_1


Ruangan itu kembali sepi.


Fang Yin melanjutkan apa yang direncanakan. Setelah salep luka yang dia pakai mengering, dia merapikan dirinya dan memasang mantra pelindung disekelilingnya. Dengan begitu, tidak akan ada yang mengganggunya selama kultivasi berlangsung.




Selama tiga hari Fang Yin tinggal di penginapan, dia hanya berdiam diri di dalam kamarnya. Sesekali keluar hanya untuk mencari makan. Tubuhnya pulih dengan cepat dan tidak mengalami kendala apapun.



Hari ini dia akan memulai perjalanannya untuk menemukan Kitab Sembilan Naga bintang delapan. Belum ada informasi tentang keberadaan kitab itu. Mantra pelacak yang dia miliki pun belum menemukan tanda-tanda di mana kitab itu berada.



Pagi-pagi sekali Fang Yin bersiap meninggalkan penginapan. Dia tidak mengambil kembali koin emas yang telah dibayarkan untuk satu minggu. Dia hanya berkata pada penjaga penginapan bahwa kamar yang selesai dia sewa bisa disewakan lagi setelah ini.



Fang Yin melenggang meninggalkan kota yang tidak terlalu ramai itu. Dia berjalan mengikuti langkah kakinya menuju ke arah selatan. Kitab Sembilan Naga yang dia temukan bukan berasal dari sana, kemungkinan besar salah satu dari kitab itu ada di sana.



Saat ini adalah musim gugur. Udara di sekeliling Fang Yin terasa sangat panas dengan dedaunan kering yang memenuhi jalanan. Angin yang berhembus terasa dingin, sedikit memberi nyaman di dalam perjalanan panjangnya.



Kali ini Fang Yin ingin melakukan perjalanan darat dan melihat keindahan negeri yang seharusnya menjadi miliknya. Konsep pemerintahan daerah yang dia lewati terlihat carut marut. Penataan kota dan tata tertib yang diterapkan di daerah otonomi itu masih jauh dari kata baik.



Jika dibandingkan dengan benua-benua lain yang dia kunjungi, Benua Timur menjadi yang paling terbelakang. Tidak ada yang bisa dilakukannya saat ini selain menjadi pengamat saja. Wewenang tertinggi yang mengatur pemerintahan masih berada di tangan Kaisar Ning.



Fang Yin berjalan melewati jalanan sepi yang berada di pinggiran kota. Dia berhenti ketika melihat hamparan hutan yang luas di depan matanya. Aura yang pekat begitu terasa dari tempatnya berdiri sekarang.




Tidak ingin bersinggungan dengan rumput liar dan semak-semak, dia melompat ke atas dahan-dahan pepohonan dan mengikuti nalurinya. Pohon-pohon yang tinggi tumbuh dengan dedaunan yang tidak begitu rindang karena musim gugur.



Fang Yin menggunakan mata batinnya untuk mencari titik aura yang besar tersebut. Dia melompat dari satu dahan ke dahan yang lain dengan cepat. Binatang-binatang yang tinggal di hutan itu berlarian mencari tempat untuk bersembunyi ketika melihat kedatangannya.



Meskipun berada tidak terlalu jauh dari pemukiman penduduk tetapi kelihatannya hutan ini sangat jarang dikunjungi oleh manusia. Selain masih terlihat alami, Fang Yin tidak merasakan jejak energi dan hawa manusia di sana. Tidak ada binatang roh juga di sana.



Pusat aura kuat itu semakin dekat dari tempat Fang Yin berada. Pepohonan yang tumbuh di sekelilingnya terlihat semakin jarang dengan jarak yang cukup jauh.



Fang Yin melompat turun dan berjalan di tanah luas yang tidak ditumbuhi apapun. Tempat itu benar-benar kosong, bahkan rumput pun tidak ada di sana, hanya dedaunan kering yang menutupi tempat itu.



"Apa ini? Aku tidak melihat sesuatu selain tempat kosong yang cukup luas. Tapi tempat ini tidak ditumbuhi rumput sama sekali." Fang Yin menggeser telapak kakinya menyibak dedaunan kering yang menutupi tanah di bawahnya.



Semula dia berpikir jika dia berpijak pada tanah, tetapi kenyataannya yang dipijak adalah pelataran batu. Fang Yin mengalirkan Qi ke alat gerak bagian bawah dan memusatkannya pada kaki kanannya. Dia menghentakkan kaki kanannya dan muncullah sebuah gelombang besar yang membuat dedaunan kering di sekelilingnya terbang menjauh.



Dedaunan itu membumbung tinggi ke udara terhempas gelombang energi melingkar yang melemparnya menjauh dari pelataran tempat Fang Yin berdiri. Pelataran itu kini menjadi bersih tanpa sehelai daun pun yang ada di sana.

__ADS_1



Fang Yin berjalan ke tengah pelataran dan melihat sebuah relief yang melingkar di tengah pelataran. Ukiran abstrak yang sangat unik berada di tengah-tengah pelataran yang juga berbentuk lingkaran.



'Aku seperti pernah melihat lambang seperti ini, tapi di mana, ya?' Fang Yin membuka ingatan tentang simbol itu di dalam inti pikirannya.



Beberapa saat dia memejamkan matanya dan melihat apa yang tersimpan di dalam ingatannya. Ternyata simbol itu sama dengan simbol yang berada di halaman terakhir Kitab Sembilan Naga bintang tujuh yang baru selesai dia pelajari.



Benang takdir telah membawa Fang Yin pada simbol itu. Ternyata tempat ini merupakan tempat untuk membuka formasi sembilan matahari yang terhubung dengan formasi asli yang berada di istana Kekaisaran Benua Timur.



Dengan adanya simbol ini, Fang Yin bisa berpindah tempat dengan jiwanya menuju ke formasi sembilan matahari. Mulai hari ini, dia bisa keluar masuk istana Kekaisaran Benua Timur tanpa terlihat oleh siapapun.



Fang Yin berdiri di pusat relief lalu duduk dengan sikap budha. Dia berkonsentrasi untuk menyerap energi yang ada di dalam pembuka formasi ini. Esensi energi yang sangat besar dan kuat menyelimuti tubuhnya dan terserap mengisi pundi-pundi energinya.



Ketajaman matanya meningkat dan tubuhnya menjadi sangat ringan. Bersamaan dengan penyerapan ini, Fang Yin menerobos ke tingkat lanjutan. Saat ini dia mulai mendekati ranah surgawi bintang tertinggi.



Penyerapan dan penerobosan itu berhasil dan membuat ketajaman instingnya meningkat tajam. Meskipun saat ini dia telah menjadi sangat hebat. Dia masih perlu menuntaskan seluruh Kitab Sembilan Naga dan menyembunyikan identitasnya.



Perjalanan panjang masih menantinya Fang Yin tidak ingin berlama-lama berada di tempat itu dan mencari di mana Kitab Sembilan Naga selanjutnya. Dalam jarak yang jauh dia tidak bisa melihat kitab itu berada di tangan siapa. Namun, setelah menyerap pembuka formasi tujuh matahari Fang Yin bisa merasakan keberadaan kitab itu dan menentukan arah menuju kepadanya.



'Rasanya tubuhku menjadi sangat ringan. Tanpa mengeluarkan Qi sekalipun aku bisa bergerak dengan cepat.' Fang Yin melompat ke atas pohon lalu kembali turun ke bawah.



Sebelum dia pergi, dia ingin menutupi pelataran itu dengan dedaunan kering seperti keadaan sebelum dia datang. Fang Yin menarik udara di sekelilingnya lalu memutarnya seperti sebuah gelombang. Saat dedaunan kering berputar di sekelilingnya, dia melompat ke udara dan menghentikan energi yang dia lepaskan.



Daun-daun itu jatuh dengan lemah ke tanah dan menutupi pelataran itu seperti semula.



Fang Yin meninggalkan tempat itu dengan keadaan senang. Tujuannya semakin dekat, hari di mana kehormatannya dan ibunya akan kembali. Dia akan mengambil kembali tahta yang dirampas oleh Kaisar Ning dan memberikannya pada yang berhak memimpin dengan adil.



'Aku akan menghancurkanmu seperti kamu menghancurkan keluargaku Kaisar Ning. Aku benar-benar akan menghabisi seluruh klan Ning dan membunuh kalian tanpa ampun.' Fang Yin begitu bersemangat dan bergerak dengan cepat meninggalkan hutan itu.



\*\*\*\*



Bersambung ...



![](contribute/fiction/4369346/markdown/20009540/1664175201430.jpg)



Kak numpang promo novel karya temanku, ya, terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2