
Kakek Zhu mempercepat jalannya sebelum terjadi kekacauan yang membuat Fang Yin gagal mendapatkan tanaman langka Lentera Perak milik Tian Feng.
"Mereka adalah tamuku Tian Feng!" seru kakek Zhu ketika sudah tiba di hadapan mereka semua.
Semua orang melihat ke arah kakek Zhu.
Fang Yin merasakan kedekatan emosional yang begitu kuat di antara keduanya.
"Aku tidak mengganggu mereka, Kakak!" seru Tian Feng.
Ketua Sekte dan Fang Yin saling berpandangan ketika mendengar pria buta itu memanggil kakek Zhu dengan sebutan kakak.
Keduanya memiliki penampilan fisik yang sangat jauh berbeda di mana kakek Zhu terlihat sangat tua sedangkan pria buta itu terlihat seperti baru berusia sekitar 30 tahun.
'Perasaanku tidak salah. Pria buta itu memang sudah tua, bukan? Jangan-jangan Ketua Yu juga sudah berumur! Terserahlah! Aku tidak peduli, yang jelas dia tetap setampan Zidane.' Fang Yin mengulum senyum di balik cadarnya.
"Mereka adalah orang yang telah menyelamatkanku dari Ketua Tentara Iblis Darah. Aku ingin membalas jasa pada mereka dengan membantu mereka menemukan tanaman obat langka," jelas Kakek Zhu pada Tian Feng.
"Tanaman obat langka? Apakah aku memiliki tanaman obat yang mereka cari?" tanya Tian Feng.
Keakraban di antara keduanya sangat jelas terlihat, Fang Yin semakin yakin jika keduanya memang memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat terlepas dari hubungan darah yang mereka miliki.
"Benar, anak ini membutuhkan rumput Lentera Perak," ujar kakek Zhu.
__ADS_1
Tian Feng terlihat berpikir setelah mendengar kakek Zhu menyebutkan nama tanaman obat yang diinginkan oleh tamu-tamunya kali ini.
Tanaman itu sudah hampir punah dan hanya tersisa segelintir saja di daratan Benua Tengah dan Benua Selatan. Tanaman itu diburu dan diambil secara besar-besaran oleh para kultivator dan alkemis. Mereka membuat pil rahasia yang mampu meningkatkan kemampuan dengan cepat.
Tidak jarang seorang alkemis yang tamak membuat banyak pil lalu menjualnya dengan harga yang sangat mahal pada seorang kultivator dan para bangsawan.
Mengingat akan hal ini, Tian Feng merasa harus berhati-hati untuk memberikan tanaman ini pada orang yang baru di kenalnya.
"Aku bersedia memberikan tanaman obat itu dengan satu syarat," ucap Tian Feng.
"Hmm. Kamu benar-benar tidak berubah, Anak Naka! Jangan memberikan syarat yang tidak masuk akal pada mereka atau aku akan membuat perhitungan denganmu!" ancam kakek Zhu.
"Aku tidak akan berani melakukannya di hadapanmu, Kakak!" Tian Feng meringis sambil menggaruk tengkuknya.
Kali ini Fang Yin tidak menghindar.
"Jangan takut! Aku tidak bermaksud untuk melakukan hal yang tidak sopan ataupun membahayakan nyawamu. Ijinkan aku untuk memegang bahumu dan membaca hawa tubuhmu, setelah itu aku akan memberikan tanaman yang kamu cari."
"Aku tidak yakin kamu memiliki tanaman itu. Tunjukkan padaku baru aku akan menuruti keinginanmu!" seru Fang Yin.
"Gadis yang cerdas!" puji Tian Feng.
Setelah mengatakan itu Tian Feng membuka tangannya lalu keluarlah tanaman yang diinginkan oleh Fang Yin.
__ADS_1
Mata Fang Yin berbinar ketika melihat tanaman itu ada di depan matanya.
"Aku percaya padamu," ucap Fang Yin dengan penuh keyakinan.
"Sekarang bersiaplah! Aku ingin membaca hawa tubuhmu." Tian Feng meletakkan telapak tangan kanannya di atas pundak sebelah kiri Fang Yin.
Sesaat Fang Yin merasakan adanya aliran energi yang sangat lembut menerobos menembus aliran darahnya.
Dia merasakan getaran yang aneh seakan mengguncang tubuhnya.
Fang Yin masih sadar tetapi di saat yang sama alam bawah sadarnya pun terbuka. Di sana dia melihat bayangan Kaisar Gu, kedua kakaknya, beserta seluruh klan Gu berdiri di belakang Tian Feng.
Tanpa sadar air mata Fang Yin menetes. Meskipun roh di dalam tubuhnya adalah milik Agata. Namun di kedalaman jiwanya, emosi Fang Yin tetap terhubung dengannya.
Hal yang sama juga terjadi pada Tian Feng, hatinya bergetar ketika mendapati jika di hadapannya sedang berdiri anggota klannya yang masih tersisa.
Tian Feng tidak kuat lagi menahan perasaannya. Tangannya dia lepaskan dari bahu Fang Yin lalu berjalan mundur menjauh dari tempat Fang Yin berdiri.
'Aku tidak menyangka jika klan Gu masih menyisakan seorang gadis jenius setelah pembantaian itu. Aku juga merasakan aura Dewi Naga di dalam tubuhnya. Apa yang harus aku lakukan? Pantaskah seorang pria buta yang terbuang sepertiku mengaku sebagai pamannya?' Tian Feng terus berjalan mundur dengan hatinya yang gamang.
****
Bersambung ....
__ADS_1