
Fang Yin yang berada tidak jauh dari tempat Tetua Ming berada mendengar semua yang dikatakan oleh Yuwei. Sebagai seorang dokter, jiwa Agata terpanggil untuk menolong anak itu. Namun, di tempat yang baru seperti ini, siapa yang akan percaya jika dia memiliki kemampuan untuk mengobati.
Tetua Ming yang terlihat panik segera meminta muridnya yang lain untuk memanggil tabib yang ada di sekitar Gunung Telaga Emas.
Beberapa orang murid langsung berangkat agar segera menemukan tabib untuk Lin Shi.
Yuwei kembali ke kamarnya di ikuti oleh Tetua Ming, Fang Yin dan berberapa murid yang lain. Mereka berjalan tergesa-gesa karena tidak tega meninggalkan Lin Shi sendirian terlalu lama. Dalam rombongan ini, Fang Ying berjalan di barisan paling belakang.
'Demam tinggi adalah reaksi tubuh untuk mempertahankan diri dari kuman yang masuk. Bisa juga anak ini terserang typus jika dia memiliki pola makan yang tidak bagus lalu terinfeksi kuman.' Fang Yin memikirkan kemungkinan penyakit yang di derita oleh Lin Shi.
Yuwei mempersilakan Tetua Ming dan yang lainnya untuk masuk ke dalam kamar Lin Shi. Mereka berjalan menghampiri Lin Shi yang sedang tidur lelap dengan wajah pucatnya. Bibirnya terlihat kering akibat suhu tubuhnya yang sangat tinggi.
"Aku benar-benar tidak mengerti tentang ilmu pengobatan," ucap Tetua Ming sambil menyentuh kening Lin Shi.
Dia tersentak ketika mendapati tubuh Lin Shi sangat panas sekali.
"Tubuhnya sangat panas. Tolong ambilkan kompres untuknya!" seru Tetua Ming.
Seorang murid berlari keluar untuk mengambilkan apa yang di minta oleh Tetua Ming.
__ADS_1
Fang Yin berjalan mendekati tempat tidur Lin Shi lalu berdiri di samping Tetua Ming.
"Aku sedikit mengerti tentang ilmu pengobatan, jika Tetua Ming mengijinkan, aku akan memeriksanya sebentar," ucap Fang Yin yang merasa iba pada murid itu.
Meskipun hanya demam biasa, jika dibiarkan terlalu lama juga bisa membahayakan nyawa. Seseorang yang menderita demam dan mengalami dehidrasi akan kehilangan sebagian besar cairan tubuhnya. Begitu juga dengan trombositnya yang menurun akan membuatnya lemas dan kehilangan banyak sel darah merah dari tubuhnya.
Antara percaya dan tidak percaya, Tetua Ming pun memberi jalan pada Fang Yin dengan menggeser tubuhnya agar Fang Yin bisa menjangkau Lin Shi.
Murid-murid yang ada di sana pun menatap Fang Yin dengan tatapan meremehkan. Mereka melihat latihan Fang Yin hari ini yang begitu payah. Lalu bagaimana mungkin Fang Yin merasa begitu hebat dan mengatakan jika dia mengerti tentang ilmu pengobatan.
Fang Yin tidak mempedulikan tatapan mereka yang merasa jika dirinya saat ini sedang membuat lelucon.
Fang Yin membuka kelopak mata Lin Shi dan melihat bola matanya yang masih terpejam.
Diagnosa untuk Lin Shi saat ini adalah typus. Masalahnya, Fang Yin tidak mungkin menyebutkan nama penyakit 'typus' pada mereka semua. Bahasa itu terlalu modern dan akan terdengar aneh bagi manusia di jaman ini.
Untuk menjelaskannya, Fang Yin akan memakai bahasa yang mudah mereka mengerti.
"Dia menderita sakit perut dan terdapat luka yang membuat makhluk-makhluk kecil ikut menambah rasa sakitnya. Mereka menggerogoti bagian dalam perut Lin Shi," jelas Fang Yin.
__ADS_1
Semua teman-teman Fang Yin yang berada di sana menertawakannya. Mereka sudah menduga jika Fang Yin hanya ingin bermain-main saja.
"Aku serius. Untuk mengobatinya, kita bisa menggunakan pil yang berbahan dasar cacing tanah." Lagi-lagi mereka merasa jika Fang Yin hanya ingin menghibur mereka dengan membuat tawa.
Berbeda dengan yang lainnya, Tetua Ming terlihat serius menanggapi ucapan Fang Yin. Dia merasa jika Fang Yin tidak sedang bercanda.
"Apakah semua yang kamu katakan itu sudah kamu buktikan?" tanya Tetua Ming.
Fang Yin mengangguk lalu kembali berdiri di belakang Tetua Ming dan bergabung bersama teman-temannya yang lain.
Murid yang diminta untuk membawa kompres pun datang menghampiri mereka.
"Jangan dikompres menggunakan air yang dingin karena itu akan membuat tubuhnya menggigil," ucap Fang Yin lagi.
Murid yang membawa kain kompres dan bejana itu meletakkan apa yang di bawanya itu di atas meja. Dia merasa kesal pada Fang Yin dan merasa sedang di perintah oleh seorang murid baru. Dalam hati dia tidak terima tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena ada Tetua Ming di sana.
Tidak ingin sesuatu yang fatal terjadi pada Lin Shi, Fang Yin berjalan mendekati bejana itu dan menyentuhnya untuk menyalurkan gelombang panas dari tubuhnya ke dalam air itu.
****
__ADS_1
Bersambung ....