
Fang Yin membuktikan ucapannya untuk tidak bermain-main bersama para utusan Kaisar Ning. Dengan gerakan yang sangat cepat dia mengambil anggota suku gletser dan memindahkannya ke tempat yang aman.
Hawa membunuh yang sangat kuat keluar dari tubuh Fang Yin bersamaan dengan aura energi yang menekan ke segala arah. Yang Hui merasa terpanggil dan mendukungnya dari belakang.
Tiga orang utusan yang memiliki roh pendamping mulai bereaksi ketika merasakan kemunculan Yang Hui. Begitu juga dengan Jian Heng yang semula sedang bersembunyi.
Para utusan yang tidak memiliki binatang roh pelindung menepi dengan wajah yang terlihat tegang. Tubuh mereka gemetar dan membuat kedua kakinya sulit untuk digerakkan.
Jian Heng mendekati mereka dan menebasnya satu persatu tanpa ampun. Setelah mereka semua tergeletak tak bernyawa, dia merangsek maju untuk membereskan sisanya.
Ketiga utusan yang memiliki binatang roh pelindung berada dalam ranah surgawi sehingga tidak mudah ditaklukkan seperti tujuh orang lainnya. Namun, duet maut antara Fang Yin dan Jian Heng memaksa mereka untuk pasrah pada keadaan.
Fang Yin dan Jian Heng berhasil menghabisi mereka lalu menghilangkan jejak mereka dengan membakar habis tubuh para utusan itu.
Sesaat sebelum kematiannya, pemimpin utusan itu melepaskan sebuah mantra cahaya yang melesat terbang ke arah tenggara. Arah di mana istana Kekaisaran Benua Timur berada.
"Kita harus lebih waspada setelah ini, Yin'er. Kelihatannya utusan itu mengirimkan sinyal bahaya pada Kaisar Ning dengan energinya. Sebisa mungkin kita harus menghapuskan jejak energi di tempat ini hingga benar-benar bersih." Jian Heng memperingatkan Fang Yin.
"Tentu saja," jawab Fang Yin.
Seluruh kuda-kuda milik para utusan itu juga dilenyapkan oleh Fang Yin.
"Kita harus segera kembali ke Gunung Perak sebelum bala bantuan datang untuk mencari keberadaan pasukan khusus yang telah kita habisi," jelas Jian Heng.
Setelah mengatakan itu dia melompat ke atas dan menurunkan anggota klan gletser yang diletakkan di atas pohon oleh Fang Yin.
"Terimakasih, Tuan," ucap pria itu lalu segera memberi hormat kepada Fang Yin dan Jian Heng.
Fang Yin tidak bisa sembarangan menunjukkan kemampuannya untuk berteleportasi kepada sembarangan orang. Untuk membawa pria itu pergi ke Gunung Perak, dia memilih untuk menaiki artefak daun.
Pria itu merasa takjub karena baru pertama kali melihat artefak yang begitu hebat. Dengan perasaan takut dia mengikuti Fang Yin dan Jian Heng menaikinya. Tangannya berpegangan begitu kuat pada lengan Jian Heng agar tidak terjatuh.
Jarak antara tempat itu dan Gunung Perak masih lumayan jauh. Melihat wajah pria itu begitu ketakutan, Fang Yin melajukan artefak daun dengan kecepatan sedang. Beberapa kali dia menggerakkan tubuhnya untuk melakukan perenggangan karena tubuhnya tidak beristirahat semalaman.
Mereka tiba di perbatasan Gunung Perak ketika matahari mulai muncul di ufuk timur.
"Tuan, Nona. Aku merasa takut untuk memasuki wilayah Gunung Perak. Apakah suki es akan menerimaku dengan baik?" Pria itu terlihat murung.
Jian Heng menepuk bahunya lembut lalu berkata, "Suku es dan suku gletser telah berdamai. Mereka sepakat menggunakan satu identitas yang sama lagi yaitu suku es saja."
Pria itu mengangguk. Hatinya merasa sedikit lega setelah mendengar hal itu. Ketiganya kembali melanjutkan perjalanannya melewati kabut mantra pelindung.
"Aku merasa sangat mengantuk. Semoga penduduk Gunung Perak membiarkan aku beristirahat dengan tenang." Fang Yin menutup mulutnya yang menguap.
"Aku juga. Tapi kelihatannya itu tidak mungkin. Kakek Shi Han Wu dan Shi Jun Hui pasti menyambut kedatangan kita dengan banyak sekali pertanyaan." Jian Heng mendengus kasar. Wajahnya terlihat sangat malas.
"Tetapi ibu dan nenekku lebih sulit untuk diatasi. Mereka tidak akan berhenti hingga seluruh rasa ingin tahunya terjawab tuntas."
__ADS_1
Pria itu memandang Fang Yin dan Jian Heng dengan tatapan tak percaya. Setelah mendengarkan cerita mereka berdua dia baru menyadari jika wanita bercadar di hadapannya adalah orang yang dicari oleh para utusan itu. Tangannya menjadi dingin karena merasa ketakutan.
Keberadaan Fang Yin di tengah-tengah mereka akan menimbulkan kondisi yang tidak aman. Saat ini seluruh utusan Kaisar Ning sedang menyebar untuk memburunya.
Keadaan pemukiman penduduk Gunung Perak masih sangat sepi ketika mereka bertiga sampai di sana. Matahari masih terlihat malu-malu untuk menampakkan sinarnya.
Fang Yin membawa pria itu ke rumah keluarganya dan menunggu Guan Xing beserta rombongannya tiba di sana. Sebenarnya ada suku gletser yang sudah tiba di sana lebih dulu, tetapi kedatangannya yang sendirian akan memancing beragam pertanyaan penduduk Gunung Perak.
"Kakek, Nenek, Ibu!" panggil Fang Yin ketika mereka bertiga telah berdiri di depan rumah.
Shi Han Wu dan Shi Jun Hui yang sedang duduk di ruang depan segera beranjak dan membukakan pintu untuk Fang Yin dan Jian Heng. Keduanya menatap ke sekeliling mereka bertiga dan mencari-cari di mana sosok Guan Xing dan penduduk suku gletser yang dipindahkan dari Daratan Utara.
"Apakah kalian tidak akan membiarkan kami masuk?" Fang Yin merasa kesal dengan kedua kakeknya yang terus saja terbengong.
"Ah, kakek sampai lupa. Masuklah!" seru Shi Jun Hui.
Seperti dugaan Fang Yin dan Jian Heng, kedua kakeknya, ibu, serta neneknya tidak membiarkan mereka beristirahat. Mereka tidak tahu jika mereka bertiga tidak tidur semalaman.
Fang Yin merasa sudah tidak kuat lagi untuk menahan dirinya tetap terjaga. Kelopak matanya berkedip pelan lalu perlahan menutup dan tidak terbuka lagi. Tubuhnya mulai condong dan jatuh tersungkur di atas meja.
Jian Heng dan pria dari suku gletser masih bisa sedikit menahan rasa kantuknya. Sekuat tenaga mereka menahan matanya yang memerah untuk tetap terbuka. Namun, ucapan mereka mulai tidak terkontrol ketika menjawab pertanyaan.
Shi Han Wu, Shi Jun Hui, Yu Ruo dan Selir Shi tidak bertanya lagi setelah menyadari ketiga orang itu sedang lelah dan mengantuk. Mereka membiarkan ketiganya beristirahat dengan tenang.
Yu Ruo dan Selir Shi memasak menu spesial untuk mereka. Cukup lama Fang Yin berada di bukit Giok Hitam dalam misinya. Selir Shi bersyukur kini putrinya telah kembali dengan membawa kabar baik.
Fang Yin dan Jian Heng belum menceritakan kabar tentang orang-orang Kaisar Ning yang sedang memburunya. Setelah dia terbangun baru akan dia ceritakan semuanya secara lengkap.
***
Sinyal cahaya penanda bahaya yang dikirim oleh pasukan mata-mata terlatih sampai pada Kaisar Ning sesaat setelah kematiannya. Kaisar Ning tidak bisa tidur dan terus memikirkan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi setelah ini.
Kebangkitan Putri Gu Fang Yin tidak bisa terhindarkan lagi. Kaisar Ning merasa percuma mengirim pasukan untuk memburu dan menangkapnya.
"Sepertinya aku harus merubah strategi. Para utusan dan pasukan khusus yang aku kirim bisa saja mengalami hal buruk dalam misinya. Aku tidak ingin kehilangan lebih banyak lagi pasukan." Tangan Kaisar Ning mengepal.
Dengan diterimanya sinyal penanda bahaya, maka dia telah kehilangan sekelompok utusan inti yang dikirimkannya. Kaisar Ning kembali mengirimkan utusan untuk menarik pasukan yang telah dikirimkan sebelumnya.
Ning Mu Shen dan Ning Yao Xi telah melatih beberapa orang berbakat yang sebelumnya hanya merupakan warga sipil biasa. Mereka mendapatkan pelatihan kemiliteran dan strategi perang. Butuh kerja keras untuk melatih seorang pemula yang belum mengerti ganasnya medan perang.
Demi tahta yang akan mereka duduki setelah ini, Ning Mu Shen dan Ning Yao Xi bekerjasama untuk mengalahkan pasukan Fang Yin. Sebenarnya keduanya memiliki motif yang berbeda untuk mencapai tujuannya. Sepintas mereka terlihat akur, tetapi di dalam hati mereka menyimpan bara.
Penduduk sipil yang bergabung menjadi pasukan anti pemberontak Kaisar Ning dimanjakan dengan upah yang tinggi. Tanpa mereka sadari upah yang mereka terima merupakan hasil dari memeras rakyat. Keluarga mereka juga membayar pajak yang tinggi tanpa pandang bulu untuk menunjang pemerintahan.
Kaisar Ning berjalan menghampiri kedua putranya ke tempat pelatihan setelah tidak menemukan keduanya di istana pangeran. Wajahnya terlihat kusut dengan area mata yang terlihat sayu.
"Ayah! Mengapa ayah tidak meminta pengawal untuk memanggil kami? Seharusnya ayah tidak perlu repot-repot datang ke tempat ini," ucap Ning Yao Xi sambil menyatukan kedua tangannya untuk memberi hormat.
__ADS_1
"Benar, Ayah. Seharusnya kami berdua yang datang menghadap." Ning Mu Shen menambahkan.
Kaisar Ning hanya tersenyum saja sambil terus berjalan meninggalkan tempat itu menuju ke sebuah tempat peristirahatan. Ning Mu Shen dan Ning Yao Xi mengikutinya di belakang.
Mereka bertiga duduk pada bangku yang biasa diduduki oleh Ning Mu Shen dan Ning Yao Xi saat sedang lelah berlatih. Kaisar Ning memberitahukan tentang sinyal bahaya yang dia terima semalam. Berita itu juga cukup mengejutkan bagi kedua putranya tersebut.
Tujuan Kaisar Ning datang ke sana adalah untuk meminta pendapat mereka tentang rencana penarikan pasukan yang telah dia kirim. Sebelum benar-benar mengambil langkah itu, dia ingin meminta pendapat kedua putranya.
Ning Mu Shen dan Ning Yao Xi menyetujui langkah yang diambil oleh sang ayah. Mereka merasa juga percuma mencari keberadaan Fang Yin yang tidak jelas berada di mana. Pencarian itu juga akan membuat fokus mereka terpecah.
Belum lagi jika Fang Yin memiliki kekuatan tak terbatas. Kedatangan para utusan itu hanya untuk mengantarkan nyawa mereka.
Setelah menyampaikan semua langkah yang ingin dia ambil, Kaisar Ning meninggalkan tempat pelatihan itu dan kembali ke ruang rapat istana. Dia mengumpulkan orang-orang penting untuk membahas rencananya.
Sebagian di antara mereka ada yang pro dan ada pula yang kontra. Mereka memiliki alasan tersendiri untuk memperkuat pendapat mereka. Namun, Kaisar Ning tidak kehilangan akal dan menjelaskan kebaikan dari keputusan yang dia ambil.
Dengan memperkuat pasukan dan meningkatkan kesiapan mereka, Kaisar Ning berharap akan bisa menghadapi pasukan Fang Yin dan mengalahkannya. Dia terus menambah pasukan militer dan mengumpulkan para kultivator yang tinggal di wilayahnya. Bagi yang bersedia bergabung bersama pasukan kekaisaran yang berada di bawah kendalinya, dia menyediakan hadiah yang besar untuk mereka.
Orang yang sebelumnya menentangnya kini mulai berpikir dan mendukung langkahnya. Tinggal segelintir orang saja yang tetap kukuh pada pendiriannya dan tidak sependapat dengan Kaisar Ning.
Dewan Kekaisaran membantu Kaisar Ning untuk mengirim pesan rahasia ke seluruh pemimpin yang berada dalam naungan kekaisaran. Dengan begitu proses penarikan pasukan itu akan berlangsung cepat. Cara ini juga bisa menghemat waktu dan tenaga jika dibandingkan dengan langkah yang dilakukan tanpa tembusan.
Pikiran Kaisar Ning sedikit tenang. Dia kembali ke kamarnya setelah menyelesaikan tugasnya. Namun, dia tidak bisa bersantai meskipun tubuhnya merasa sangat lelah.
Pria itu berjalan tergesa menuju ke sebuah bilik pribadi miliknya. Tidak ada yang bisa memasuki ruangan itu tanpa seijinnya. Di sana tersimpan berbagai macam dokumen penting, kitab beladiri, dan juga beberapa pusaka yang hanya dikeluarkan pada waktu-waktu tertentu saja.
Kaisar Ning berjalan menuju ke tengah ruangan di mana sebuah relief berbentuk simbol lingkaran terukir pada lantainya. Sepintas tempat itu terlihat biasa, tetapi ketika Kaisar Ning duduk di tengah-tengah lingkaran simbol itu semuanya menjadi berubah.
Relief simbol itu menyala dan membuat tubuh Kaisar Ning bergerak memutar mengikuti putaran lantai. Di sekeliling lingkaran itu muncul cahaya energi kuat yang sangat pekat dan membuatnya meringis kesakitan ketika energi itu menerobos masuk ke dalam tubuhnya.
Setelah ratusan tahun berlalu akhirnya Kaisar Ning berani untuk mengambil roh pendamping yang tersegel di dalam relief simbol tersebut. Binatang roh itu merupakan binatang roh ribuan tahun yang berhasil ditaklukkan oleh kaisar terdahulu. Mereka tidak mengambilnya dan menyatukannya dengan tubuh mereka karena binatang roh itu memiliki hawa jahat yang sulit untuk dikendalikan.
Cerita tentang binatang roh Naga Api yang diserap oleh Kaisar Ning sudah berlangsung secara turun temurun. Para pemimpin sebelum dirinya menganggap relief lingkaran itu sebagai simbol yang sakral sehingga menempatkannya dala sebuah ruang rahasia. Hanya para kaisar dan orang terdekatnya saja yang mengetahui tentang cerita ini.
Setelah berkuasa, Kaisar Ning mulai mencari tahu dan membaca-baca tentang binatang roh Naga Api yang terkurung di sana. Setiap kali dia mendekati tempat itu dia merasakan energi yang kuat yang menariknya untuk mendekat. Keadaan ini berlangsung hingga beberapa kali dan membuatnya semakin yakin jika binatang roh ini cocok untuknya.
Setelah menyerap kekuatan binatang roh Naga Api, keadaan Kaisar Ning belum baik-baik saja. Tangannya mencengkram kuat dengan rahangnya yang saling beradu. Tubuhnya menahan hawa panas yang sangat luar biasa yang membuatnya bekerja keras untuk melawan rasa sakit.
Roh Naga Api mulai menyatu dengan tubuhnya dan mengalir di dalam nadinya. Keringat membanjiri tubuh Kaisar Ning dengan kilatan api yang meliuk-liuk di permukaan tubuhnya. Pakaian yang melekat di tubuhnya hangus terbakar menjadi abu.
Dalam keadaan sadar Kaisar Ning terus berteriak untuk menguasai Naga Api. Selain kekuatan yang besar, Naga Api juga memiliki hawa jahat yang menyusup ke dalam pikiran cangkangnya. Setelah penyerapan ini bisa jadi Kaisar Ning memiliki peran yang lebih kecil untuk kehidupannya sendiri.
Ruangan itu kedap udara sehingga orang-orang yang berada diluar tidak bisa mendengar teriakkan Kaisar Ning. Wujudnya mulai mengalami perubahan dalam tahap awal menjadi seekor naga. Sisik-sisik menutupi seluruh permukaan kulitnya dan struktur tulangnya berubah secara perlahan.
Hal yang dialami Kaisar Ning begitu menyakitkan tetapi dia merasakan kekuatan yang luar biasa bergejolak di dalam darahnya. Setelah seluruh energi roh Naga Api menyatu, tubuh Kaisar Ning berubah wujud menjadi Naga Api yang sempurna.
"Hahaha! Akhirnya aku memiliki kekuatan yamg besar untuk melawan Dewi Naga." tawa keras Kaisar Ning menggema di dalam ruangan itu.
__ADS_1
****
Bersambung ....