Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 280. Berakhir


__ADS_3

Si kembar Shi Han Wu dan Shi Jun Hui menoleh pada Fang Yin. Mereka tertarik dengan ucapannya. Sebenarnya mereka tahu solusi untuk mengalahkan Yu Ruo tanpa melukai. Namun, butuh tiga orang kultivator untuk melakukannya.


"Katakan, Yin'er." Shi Jun Hui ingin segera tahu apa rencana Fang Yin.


Begitu juga Shi Han Wu yang terlihat penasaran.


"Bagaimana jika kita membentuk formasi ruang untuk mengurung dan menekan energi nenek? Dengan begitu kita bisa mengontrol pergerakannya dan membuatnya melemah."


"Rencana yang bagus. Aku juga sudah memikirkan hal ini, kupikir hanya aku dan Han Wu saja yang mengerti teknik ini," jawab Shi Jun Hui.


"Kamu terlalu meremehkan Yin'er." Shi Han Wu tersenyum sinis pada Shi Jun Hui.


Mereka bertiga tidak ingin buang-buang waktu lagi. Yu Ruo telah kehilangan akal sehatnya dan terus menyerang Fang Yin. Keadaan yang tidak seimbang dengan serangan tanpa balasan menimbulkan kerusakan yang besar di sekitarnya. Energi-energi yang tidak mengenai sasaran menciptakan lubang dalam dan juga kebakaran.


Gerakan Yu Ruo yang tidak bisa diprediksi membuat Fang Yin sulit untuk menggunakan Jurus Napas Naga. Dalam wujud phoenix api Yu Ruo sulit untuk diatasi. Kemampuan gerak ilusi tingkat tinggi membuat lawannya harus selalu waspada.


Shi Jun Hui memberi tanda di udara untuk mengatur formasi ruang. Tiga buah segel mantra di udara sebagai dasar formasi telah terbentuk. Namun, mereka harus menjebak Yu Ruo untuk masuk ke tengah formasi dan mengurungnya.


Selir Shi melihat pertarungan dari bawah. Meskipun memiliki kemampuan untuk bertarung, dia tidak bisa membantu mereka. Dia memiliki peran yang tidak kalah penting yaitu mengobati anggota suku es yang terluka.


Tidak ada kesempatan bagi Fang Yin untuk mendorong Yu Ruo masuk ke dalam perangkap formasi ruang. Phoenix api itu begitu bersemangat untuk menyerangnya hingga dia harus bergerak lincah menghindari serangannya.


Shi Jun Hui berusaha memancing Yu Ruo dari arah depan, tetapi tidak mendapatkan respon. Di sisi lain Shi Han Wu tampak tenang. Namun, sikapnya itu bukan karena dia tidak ingin berusaha, Shi Han Wu sedang menunggu waktu yang tepat untuk mencari kesempatan.


Setelah beberapa saat mengamati, Shi Han Wu akhirnya menemukan celah baginya untuk mengeluarkan jurus pengikat roh. Sangat sulit baginya untuk menemukan bayangan Yu Ruo yang memiliki gerakan ilusi yang sulit ditebak. Bayangan Yu Ruo berkelebat melintas di bawah kakinya, dengan gerakan cepat kaki kanan Han Wu terangkat lalu menginjak bayangan itu.


Tubuh Yu Ruo berhenti mendadak. Alat geraknya seakan terkunci. Dia terlihat ingin memberontak tetapi tidak bisa melawan energi pengikat roh milik Shi Han Wu.


Jari-jari Han Wu membuka ke atas. Telunjuknya ditarik ke dalam dengan ujung menghadap padanya. Tubuh Yu Ruo bergerak seiring dengan gerakan jarinya. Setelah Yu Ruo tertarik mendekat, Han Wu membawanya ke tengah formasi.


Yu Ruo telah berada tepat di tengah formasi ruang yang berbentuk segitiga itu dan dengan cepat Shi Jun Hui dan Fang Yin segera menyusulnya untuk mengambil tempat. Ketiganya kini telah berdiri di atas segel mantra yang telah dibuat oleh Shi Jun Hui.


Tanpa sebuah aba-aba mereka bisa menyatukan gerakan untuk melakukan penguncian ruang. Teknik ini butuh energi yang cukup besar sehingga mereka harus menghindari serangan dari luar agar fokus mereka tidak terpecah.


Guan Xing yang melihat ini tidak bisa tinggal diam. Dia berusaha untuk menggagalkan formasi ini dengan mengacaukan semuanya.


Jian Heng berusaha menghadangnya dan memancingnya untuk menjauh, tetapi sangat tidak mudah. Semua serangan Guan Xing berusaha untuk dihalaunya.


Sifat licik Guan Xing membuatnya ingin berbuat curang. Dia mencari kesempatan untuk melakukan serangan diam-diam pada Jun Hui. Menurutnya dia yang paling lemah karena sebelumnya telah menggunakan banyak tenaganya untuk bertarung bersama Patriak Shi dan An Hui.

__ADS_1


Fang Yin terbelalak ketika melihat sebuah serangan melesat ke arah kakeknya. Hampir saja dia goyah dalam mengatur kestabilan energinya, beruntung segera terlintas pikirannya untuk meminta bantuan dari Yang Hui.


"Yang Hui!" pekik Fang Yin.


Kontak pikiran mereka yang terhubung saat penyatuan energi membuat Yang Hui langsung memahami apa yang diinginkan oleh Fang Yin. Yang Hui segera bergerak cepat untuk menghalau serangan Guan Xing.


Setelah kejadian ini, Yang Hui terlihat waspada dan menjaga formasi ruang ini agar tetap stabil. Butuh sedikit waktu lagi untuk menekan energi phoenix api. Keadaannya kini mulai terkendali. Mereka tinggal menunggu Yu Ruo kembali berubah menjadi wujud manusia.


Yu Ruo tidak akan terluka setelah penekanan energi dilakukan, tetapi dia butuh jeda untuk membangkitkan kekuatannya kembali.


Pertarungan antara Jian Heng dan Guan Xing masih berlangsung. Mereka sama-sama kuat dan bisa dikatakan seri. Tidak ada yang dinyatakan unggul atau mengungguli satu sama lain. Keadaan ini terus berlangsung sampai keduanya benar-benar merasa lelah.


Tubuh Yu Ruo telah kembali dalam wujud manusia. Namun, dia terlihat lemah dan tak sadarkan diri. Selama ini dia dikenal sebagai ahli pengobatan, tetapi malam ini dia harus menjadi pasien.


Jun Hui memberikan aba-aba untuk menutup formasi lalu dengan segera menangkap tubuh Yu Ruo dan membawanya ke darat. Fang Yin dan Han Wu menyusulnya dan berdiri di hadapannya.


Naga Yang Hui yang sangat menyukai pertarungan bergerak bebas di udara dan memberi serangan pada Guan Xing. Dia bisa berkomunikasi dengan roh naga milik Jian Heng dan bekerja sama.


Fang Yin melihat ke atas dan tersenyum. Kini dia bisa melakukan hal lain untuk menolong neneknya.


Jun Hui membawa Yu Ruo duduk di atas hamparan salju dan mengalirkan energinya untuk membuatnya sadar. Meskipun tidak mengerti ilmu pengobatan setidaknya itu bisa membantu meringankan penderitaannya.


Jun Hui membantu memegangi tubuhnya agar Yu Ruo bisa duduk dengan tegak. Setelah posisinya nyaman, Fang Yin mulai mengatur dirinya untuk duduk di belakang punggung Yu Ruo.


Kedua telapak tangannya mendorong ke depan hingga menyentuh punggung Yu Ruo. Energi pengobatan mengalir dari sana, tetapi sesuatu hal yang aneh terjadi. Tubuh Yu Ruo menolak energi yang diberikan oleh Fang Yin seperti ada sesuatu yang menghalanginya.


Fang Yin mencobanya beberapa kali tetapi keadaannya masih sama. Tubuh Yu Ruo menolak untuk menerima energi itu.


"Ada sebuah penghalang yang membuat energiku tidak mampu menerobos masuk," ucap Fang Yin dengan wajah yang terlihat berpikir.


Jun Hui memeriksa lengan kanan Yu Ruo dan melihat benda aneh yang menancap di sana. Benda itu masih berada di sana. Sebelumnya dia dan Han Wu berusaha untuk melepaskannya tetapi tidak berhasil.


Fang Yin memperhatikan apa yang dilakukan oleh kakeknya dan melihat dengan seksama benda yang tertancap di lengan Yu Ruo.


"Apakah benda ini berbahaya?" tanya Jun Hui sambil memberikan lengan Yu Ruo pada Fang Yin.


Fang Yin memegang lengan kanan Yu Ruo dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya bergerak di atasnya dengan telapak tangan menghadap ke bawah. Aliran energi keluar dari sana dengan aura kebiruan.


Setelah mendapatkan aliran energi dari Fang Yin, kulit di sekeliling luka berubah menjadi hitam. Artefak pemilih roh memiliki racun sejenis zat adiktif kuat yang mempengaruhi kerja otak. Selain itu, permukaan artefak juga mengandung zat yang bekerja seperti sebuah lem yang menyatu dengan jaringan kulit korbannya.

__ADS_1


Fang Yin melakukan pembakaran pada artefak itu sehingga membuat jaringan di sekelilingnya mati. Keadaan ini bisa dipulihkan seiring berjalannya waktu meskipun tidak secara langsung bisa kembali pulih. Meskipun luka itu tidak dalam, tetapi bisa membekas dan sulit untuk dihilangkan.


Warna hitam di sekeliling luka Yu Ruo tidak melebar. Luka terbakar itu membuat kulit itu terpisah dari artefak pemilih roh.


"Tolong ambilah benda ini, Kek. Setelah ini nenek akan segera tersadar setelah pengaruh racunnya menghilang," ucap Fang Yin merasa telah cukup membakar kulit Yu Ruo.


Jun Hui pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Fang Yin. Dia mencabut artefak kecil itu dengan hati-hati dan benar saja, artefak itu bisa terlepas dengan mudah.


"Lemparkan, Kek!" seru Fang Yin.


Jun Hui menuruti apa kata cucunya. Dia melemparkan artefak itu ke tempat kosong yang tidak terlalu jauh dari mereka.


Setelah jatuh ke tanah, Fang Yin melemparkan api hitam ke artefak itu dan membakarnya. Suara ledakan-ledakan kecil terdengar ketika artefak itu pecah menjadi bagian-bagian kecil. Api hitam itu terus melahapnya dan menjadikannya abu.


Fang Yin mengeluarkan sebuah pil penawar racun dan memasukkannya ke dalam mulut Yu Ruo. Setelah pil itu bekerja, maka Yu Ruo akan kembali seperti sedia kala.


"Tolong jaga nenek, Kek. Aku akan pergi menyusul kakak Heng." Fang Yin berpamitan pada Jun Hui dan Han Han dengan menatap mereka secara bergantian.


Fang Yin baru bersiap untuk melompat ke atas tetapi Jian Heng sudah turun membawa Guan Xing. Kedua tangan mereka saling bertaut dan jatuh bersamaan di tanah.


Roh naga milik Jian Heng telah menghilang dan kembali masuk ke dalam tubuhnya, begitu juga dengan roh beruang milik Guan Xing. Hanya tinggal roh naga Yang Hui yang masih ada.


"Terimakasih, Yang Hui!" ucap Fang Yin.


Yang Hui bergerak memutar ke belakang punggung Fang Yin dan perlahan masuk ke dalam tubuhnya.


Fang Yin berjalan mendekati Guan Xing dan Jian Heng yang terluka parah. Tangan kanan Guan Xing cidera dan tangan kiri Jian Heng juga mengalami hal yang sama. Keduanya terlihat menyedihkan dengan kondisi tak berdaya terkapar di tanah.


"Kak Heng!" panggil Fang Yin segera membantunya duduk dan memberinya pil pemulih energi.


"Terimakasih."


Jian Heng segera memakannya lalu menegakkan tubuhnya untuk berkultivasi.


Keadaan Guan Xing terlihat lebih parah dari Jian Heng dia menatap sayu ke arah Fang Yin. Entah apa yang dia pikirkan tentang bocah kecil yang duduk di sampingnya itu.


Fang Yin menatap Guan Xing dengan perasaan iba. Dua hal terus berperang di dalam hatinya, antara keinginan untuk membantunya atau membiarkannya. Perang saudara selalu berakhir dengan hal yang tidak menyenangkan tetapi rasa kemanusiaannya terus mendesak.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2