Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 303. Bermata Biru


__ADS_3

Jian Heng menangkap tubuh Fang Yin dan membantunya berdiri dengan benar. Energi dari Kitab Sembilan Naga bintang sembilan yang bergabung dengan Giok Hitam sangat besar. Takut keributan yang dia buat mengganggu yang lainnya, Fang Yin segera memasang mantra pelindung tingkat tinggi di sekitarnya.


"Sepertinya kamu melupakan sesuatu, Yin'er," ucap Jian Heng sambil menatap Fang Yin.


"Aku rasa juga begitu, tetapi apa, ya." Fang Yin memperlihatkan wajahnya yang begitu konyol.


Saat berhadapan dengan Jian Heng pikirannya menjadi kacau. Dia tidak bisa berpikir dengan normal. Mendadak dia menjadi bodoh.


Jian Heng tersenyum melihat tingkah Fang Yin. Namun, dia berusaha untuk tidak menertawakannya secara terang-terangan. Wanita yang begitu hebat bisa kehilangan jati dirinya di hadapan orang yang disayanginya.


"Kamu melupakan pil penguat jiwa yang kamu buat di Gunung Perak sebelum datang kemari, Yin'er." Jian Heng tidak tahan berlama-lama membuat Fang Yin bertanya-tanya.


Fang Yin menepuk jidatnya lalu berkata, "Aku memang tidak bisa bersabar. Bagaimana bisa aku melupakan hal yang begitu besar."


Fang Yin segera mengeluarkan dan menelan pil itu. Seketika tubuhnya mengeluarkan energi yang sangat kuat hingga Jian Heng mundur beberapa langkah darinya.


Tangan kanan Fang Yin mengulur ke depan dan menarik Kitab Sembilan Naga bintang sembilan ke hadapannya. Kitab itu melewati celah pada dinding yang rusak akibat ulahnya.


Dalam posisi berdiri, Fang Yin merentangkan kedua tangannya dan menyerap isi kitab ke dalam inti pikirannya. Cahaya terang dari dalam kitab menerobos masuk ke dalam tubuhnya.


Proses penyerapan isi Kitab Sembilan Naga bintang sembilan berlangsung di kamar Jian Heng. Untuk menahan aura kuat yang menekan tubuhnya, Jian Heng duduk dengan tenang untuk berkultivasi. Dengan begitu dia bisa memanfaatkan energi berlebihan dari efek Giok Hitam dan menyerapnya ke dalam tubuhnya.


Hanya energi luar dari Kitab Sembilan Naga bintang sembilan dan Giok Hitam saja mampu membuat Jian Heng menerobos ke ranah dewa. Jirah energi berwarna emas menyelimuti tubuhnya. Semua itu terjadi di luar kendalinya, jirah itu melindunginya dari tekanan energi yang bisa saja membuatnya terhempas.


Seandainya tidak ada mantra pelindung di sana, mungkin ruangan itu akan hancur ketika proses penyerapan ini berlangsung. Gelombang energi yang terserap memberikan efek merusak yang dasyat. Bisa dikatakan jika kali ini Fang Yin salah perhitungan, harusnya dia memilih tempat terbuka yang lapang dan jauh dari tempat tinggal penduduk.


Cahaya Kitab Sembilan Naga bintang sembilan mulai meredup dan perlahan menghilang. Seluruh isinya telah tersalin di dalam inti pikiran Fang Yin. Kitab itu tertutup dengan sendirinya lalu Giok Hitam di atasnya terlepas.

__ADS_1


Fang Yin menyimpan kedua benda itu secara terpisah setelah semuanya selesai. Dia kemudian memutar tubuhnya mencari-cari sosok Jian Heng.


"Kak Heng! Kau tidak apa-apa? Maaf aku melupakanmu." Wajah Fang Yin terlihat sangat khawatir. Dia berjalan cepat menghampirinya.


Jian Heng membuka matanya. Pupil matanya terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. Sebelumnya pupilnya berwarna hitam legam kini terlihat kebiruan.


"Apa yang terjadi padamu sepertinya bukan hal yang buruk." Fang Yin mengamati perubahan yang terjadi pada Jian Heng.


"Kamu benar. Aku menyerap energi yang terlepas dari Kitab Sembilan Naga bintang sembilan dan Giok Hitam. Hasilnya begitu luar biasa, aku bisa menerobos ke ranah dewa. Terimakasih, Yin'er." Jian Heng beranjak dari duduknya lalu menatap Fang Yin dengan sejuta perasaan.


Fang Yin mengangguk dan tersenyum.


Suasana menjadi hening. Keduanya saling berpandangan tanpa bicara. Perasaan hangat merayap di tubuh mereka.


Keadaan ini berlangsung hingga keduanya tersadar dan menyembunyikan wajah malu.


Jian Heng menarik tangannya dengan cepat hingga membuat Fang Yin berhenti dan menoleh ke arahnya lagi.


"Aku ... kamu ... eh, maksudku itu, em ...." Jian Heng berbicara tidak jelas karena tidak tahu dengan apa yang akan dikatakannya.


Fang Yin merasa gemas pada Jian Heng yang terlihat bodoh. Dengan cepat dia mencium pipinya lalu berlari meninggalkannya.


Jian Heng terbengong. Dia tidak menyangka akan mendapatkan sebuah ciuman dari Fang Yin. Hingga Fang Yin tak terlihat lagi, dia masih berdiri mematung tak bergerak.


Dengan gerakan yang sangat cepat, Fang Yin memperbaiki dinding kamarnya. Dia mengambil bahan-bahan yang bisa dia gunakan dari dalam cincin penyimpanannya. Dari celah dinding yang diperbaikinya, dia bisa melihat Jian Heng yang masih terbengong. Fang Yin tersenyum geli, lalu dengan cepat dia menutup dan merapikannya.


Mendengar suara keras pukulan Fang Yin pada dinding, Jian Heng tersadar. Dia memegangi pipinya lalu berjalan mendekati dinding kamarnya yang telah rapi kembali.

__ADS_1


"Yin'er, maafkan aku tidak membantumu untuk memperbaikinya." Jian Heng duduk bersandar pada dinding yang telah tertutup rapat.


"Tidak perlu, Kak Heng. Ini hal yang mudah bagiku. Aku bukanlah wanita yang manja," jawab Fang Yin.


'Sepertinya aku tidak bisa melanjutkan latihanku hari ini, yang terpenting seluruh isi kitab itu telah berada di dalam inti pikiranku. Saat ini pikiranku sedang kacau atas keberanian yang kulakukan pada kak Heng.' Fang Yin memejamkan matanya lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


Segel pelindung yang terpasang pada kamarnya dan kamar Jian Heng belum terlepas. Fang Yin melupakannya karena sudah sangat mengantuk. Jian Heng tidak akan bisa keluar dari dalam kamarnya jika dia tidak melepaskannya.


Di luar pintu,


Guan Xing yang terkejut ketika pertama kali mendengar suara keras akibat dinding yang rusak, berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar keduanya. Dia tidak tahu apa yang terjadi, dia hanya merasakan gelombang yang sangat besar beberapa waktu. Beberapa kali dia juga mengetuk pintu kamar mereka secara bergantian tetapi tidak ada yang menjawabnya.


Merasa tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan, Guan Xing pun kembali ke kamarnya. Satu-satunya hal yang terlintas dipikirannya mengenai Fang Yin dan Jian Heng saat ini mereka telah terlelap.


Setelah kepergian Guan Xing, dua orang wanita yang sedari tari mengawasi kamar ketiga tamu itu saling berpandangan. Mereka terlihat seperti seseorang yang akan beraksi dalam sebuah urusan rahasia.


Xin Nian dan Qin Yu Zhu terlihat begitu kompak untuk mendekati kamar Jian Heng. Mereka begitu antusias. Selama Fang Yin tidak tahu maka mereka merasa akan aman.


Mantra pelindung yang ditanamkan oleh Fang Yin tidak akan bisa ditembus oleh kekuatan apapun. Baik Fang Yin maupun Jian Heng tidak bisa mendengar panggilan mereka.


Kedua gadis itu sepertinya belum menyerah. Mereka tetap berusaha untuk mengambil kesempatan.


'Aku harus bisa mendapatkan hati Tuan muda itu.' Xin Nian menatap sinis pada pintu kamar Jian Heng yang masih tertutup rapat.


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2