Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 356. Masuk ke Istana


__ADS_3

Setelah terdiam sejenak Selir Shi akhirnya mulai berpikir untuk bertanya pada Xiao Chang.


"Aku merasa tidak asing dengan wajahmu, apakah kamu tinggal di sekitar sini?" Selir Shi membuka percakapan. Dia mencoba menghadirkan suasana yang akrab di antara mereka.


"Ti-tidak, Nyonya. Saya berasal dari Kota Qiong sebuah ibukota negara bagian dari kekaisaran ini," jelas Xiao Chang.


Selir Shi mengangguk. Kota itu tidak asing di telinga meskipun dia belum pernah mengunjunginya.


"Aku rasa kota itu cukup jauh dari sini. Tentu kamu datang membawa tujuan. Apakah kamu sedang mencari keluargamu?" tanya Selir Shi.


Deg!


Jantung Xiao Chang berdetak sangat kencang saat mendengar pertanyaan Selir Shi. Pertanyaan itu seperti sebuah tebakan seorang peramal yang mengetahui isi hati seseorang. Kedatangannya ke ibukota memang untuk tujuan seperti yang disebutkannya tetapi Xiao Chang tidak ingin mengatakannya sekarang.


"Aku dengar Putri Gu memperoleh kemenangan. Aku sangat senang dan ingin mengabdikan diri. Sudah sejak lama aku menantikan hari ini." Xiao Chang mengatakan tujuannya yang lain.


'Kebetulan macam apa ini? Apakah anak muda ini memang memiliki hubungan yang dekat dengan Klan Gu? Aku tidak memiliki pengetahuan untuk ini tetapi aku melihat kejujuran di matanya.' Selir Shi menatap Xiao Chang dengan tatapan menyelidik.


"Aku tidak memiliki wewenang untuk mempekerjakanmu tetapi kurasa Yin'er akan menyukaimu. Ikutlah denganku!" seru Selir Shi.


Wajah Xiao Chang berbinar senang. Ucapan Selir Shi terasa seperti seteguk air di tengah dahaga hatinya. Kesempatan ini tidak ingin disia-siakan olehnya.


"Terimakasih, Nyonya." Xiao Chang memberi hormat pada Selir Shi.


Sejak tadi dia terus memanggil Selir Shi dengan panggilan Nyonya karena dia terlalu lugu dan tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa.


Mereka bertiga berjalan memasuki istana. Xiao Chang berjalan di belakang Selir Shi dan Yu Ruo. Meskipun sudah larut malam, istana masih cukup ramai. Para penghuninya masih terjaga dengan berbagai aktifitas.


Banyak hal yang harus dibenahi setelah peperangan terjadi. Peralihan kekuasaan juga menggeser selera pemilik barunya.


"Putriku pasti sudah tidur malam ini. Aku akan memanggilmu besok dan memintanya memberimu pekerjaan yang pantas," ucap Selir Shi ketika mereka sudah sampai di dalam istana.


Selir Shi kemudian memanggil seorang pelayan untuk memberikan tempat peristirahatan dan juga makan malam untuk Xiao Chang. Pelayan itu memanggil Selir Shi dengan panggilan yang mulia. Di saat inilah dia baru mengetahui bahwa sejak tadi dia sedang berhadapan dengan Selir Shi, ibu dari Putri Gu.


Xiao Chang menjatuhkan dirinya dan berlutut. Apa yang telah dilakukannya tidak sopan. Sebelum terlambat dia harus secepatnya meminta maaf.


"Ampun, Yang Mulia. Xiao Chang tidak bermaksud untuk bersikap tidak sopan. Saya benar-benar tidak tahu jika Anda adalah Yang Mulia Selir Shi."

__ADS_1


"Bangunlah! Jangan seperti ini. Aku sekarang hanya seorang biasa. Jangan merendahkan dirimu, bangunlah!"


Xiao Chang bangun dari berlutut dengan tangan yang masih memberi hormat.


"Anda memang seorang yang rendah hati. Semoga panjang umur, Yang Mulia."


"Hmm." Selir Shi mengangguk lalu berbalik meninggalkan tempat itu dengan hati yang berkecamuk.


Yu Ruo mengikutinya dan berjalan tanpa menoleh lagi pada Xiao Chang yang memandangi kepergian mereka hingga tak terlihat lagi.


"Jie'er, aku merasa jika pemuda itu memiliki hubungan yang dekat dengan Klan Gu. Secara fisik dia memiliki kemiripan dengan penampilan Klan Gu. Dari segi sopan santun dan sikap aku rasa tidak jauh beda dengan etika yang dimiliki oleh Klan Gu."


"Aku rasa juga begitu, Ibu, tapi entahlah. Kita tidak memiliki bukti untuk ini."


Mereka berjalan menuju ke kamar Fang Yin. Pintunya masih terbuka. Di sana terlihat Selir Tang dan Kaisar Xi sedang mengunjunginya. Tidak ketinggalan Jian Heng selalu menemaninya setiap waktu. Keduanya semakin tidak terpisahkan.


"Selamat malam, Yang Mulia Kaisar. Selamat malam Yang Mulia Selir Tang." sapa Selir Shi dan Yu Ruo menyapa saat mereka tiba di kamar Fang Yin.


"Selamat malam, Yang Mulia. Mari silakan duduk." Selir Tang menggeser tempatnya untuk memberi ruang pada Selir Shi dan ibunya.


Keadaan Selir Tang lebih cepat pulih karena dia memiliki kemampuan yang lebih baik darinya dalam pengendalian jiwa murni. Tubuhnya sudah bisa melakukan aktifitas seperti sediakala. Berbeda dengan Fang Yin yang masih membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa mengembalikan seluruh kemampuannya.


Sebenarnya Selir Shi ingin mengatakan pertemuannya dengan Xiao Chang pada Fang Yin, mengingat Selir Tang dan Kaisar Xi berada di sana, dia memilih untuk menahan dirinya.


Malam telah larut. Selir Tang dan yang lainnya pergi meninggalkan Fang Yin dan ibunya untuk beristirahat.


Selir Shi mengantarkan mereka hingga ke depan pintu lalu segera menutup dan menguncinya dari dalam. Dia ingin segera menceritakan tentang pertemuannya dengan Xiao Chang.


Fang Yin menatap ke arah ibunya dengan tatapan heran. Dia melihat wajah ibunya begitu gelisah sejak tadi. Sikapnya yang buru-buru menutup pintu menambah rasa penasarannya.


"Ibu, sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan. Aku melihat sedari tadi ibu gelisah. Apakah ada yang ibu sembunyikan dariku?" tanya Fang Yin saat Selir Shi telah duduk di sampingnya.


"Ibu tidak merahasiakan sesuatu. Hanya saja ibu menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikannya padamu."


Fang Yin menatap Selir Shi dengan tatapan yang sulit dimengerti. Dia menunggu penjelasan lebih lanjut dari ibunya.


"Saat dalam perjalanan pulang ke istana, ibu bertemu dengan seorang pemuda yang sangat mirip dengan Tian Feng. Aku berpikir jika dia juga merupakan anggota Klan Gu yang terpisah dari keluarganya. Pemuda itu mengaku jika dia berasal dari Kota Qiong."

__ADS_1


Berita yang dibawa oleh Selir Shi membuat Fang Yin ternganga. Mungkin saja pendapat ibunya itu benar. Segera dia menyahut dan berharap semuanya belum terlambat.


"Aku harus meminta pengawal untuk menjemputnya." Fang Yin beranjak dari duduknya.


Selir Shi memegang tangan Fang Yin untuk mencegahnya. "Aku sudah membawanya masuk ke istana. Tenanglah! Besok aku akan membawanya kemari, dia sedang mencari pekerjaan."


Fang Yin mengangguk.


Malam itu Fang Yin tidak bisa tidur dengan nyenyak dan terus memikirkan tentang ucapan ibunya. Hatinya gelisah memikirkan misteri tentang siapa pemuda yang dibawa oleh ibunya.


Pagi hari,


Selir Shi sudah tidak ada di tempat tidurnya ketika Fang Yin terbangun. Beberapa orang dayang datang membantunya untuk mandi dan bersiap. Berbeda dengan hari-hari biasa, Fang Yin ingin cepat-cepat selesai hari ini.


Makanan sudah tertata di meja ketika dia kembali ke kamarnya. Tidak lama kemudian ibunya datang dengan keadaan yang sudah rapi.


Mereka berdua menikmati sarapannya sebelum melakukan aktifitas lainnya.


"Ibu," panggil Fang Yin.


"Hmm."


"Tubuhku rasanya pegal sekali beberapa hari tinggal di kamar tanpa melakukan apapun. Sungguh ini bukan diriku."


"Habiskan makananmu dan jangan banyak bicara, Yin'er. Sebentar lagi akan ada beberapa orang tamu yang datang. Kamu harus menghargai tamu siapapun itu. Mengerti?"


Ucapan bijak Selir Shi membuat Fang Yin mengerti. Keduanya kembali memakan makanannya hingga habis.


Seseorang tengah berdiri di depan pintu kamar Fang Yin menunggu perintah untuk dipersilakan masuk.


****


Bersambung ....


Kak numpang promo novel karya temanku, ya. Semoga berkenan mampir, terimakasih.


__ADS_1


__ADS_2