
"Yin'er, apa kamu baik-baik saja?" tanya Jian Heng sambil terus menatap ke arah Fang Yin.
Pertanyaan dari Jian Heng membuatnya terlihat gelagapan. Lamunannya membuatnya terlihat sangat bodoh, dia seperti seorang anak kecil yang kehilangan konsentrasi saat mendapatkan pertanyaan yang berbeda dalam satu waktu.
"Aku baik-baik saja. Apakah kita akan pergi ke suatu tempat?" Fang Yin masih belum mengerti ke mana Jian Heng akan membawanya.
Suara napas Jian Heng terdengar seperti mendengus. Mungkin kesabarannya sedang diuji saat ini di mana dia harus benar-benar menjelaskan sesuatu yang biasanya sudah mereka lakukan.
'Apa yang sebenarnya terjadi pada Yin'er? Apakah dia belum tersadar sepenuhnya dari tidurnya? Tapi bukankah dia sudah selesai mandi? Rasanya sungguh aneh,' gumam Jian Heng dalam hati sebelum menjawab pertanyaan Fang Yin.
"Kita akan pergi ke ruang perjamuan, Yin'er. Ayah Feng telah kembali dari perbatasan barat. Kita akan menyambutnya di sana bersamanya keluarga yang lain," jelas Jian Heng dengan nada yang sabar.
Mata Fang Yin membulat. Dia merasa malu karena melupakan hal sebesar ini. Namun, dia segera menguasai dirinya dan menatap Jian Heng.
"Astaga, aku benar-benar tidak ingat tentang kedatangan prajurit yang melapor sebelum aku pergi ke pemandian." Fang Yin menggelengkan kepalanya merasa tidak habis pikir.
Jian Heng tersenyum saat melihat tingkahnya. Keduanya lalu kembali berjalan. Ada sebuah pertanyaan yang kini berputar-putar di dalam kepalanya.
"Yin'er!" panggil Jian Heng.
Fang Yin mendongak dan menatap ke arah Jian Heng untuk beberapa detik.
"Iya, Kak Heng," jawabnya.
Ada sebuah hal yang membuat Jian Heng dilanda penasaran. Sebuah cahaya warna-warni yang memancar dari pemandian menuju ke langit beberapa saat lalu sepertinya berasal dari tubuh Fang Yin. Dia ingin tahu hal apa yang dilakukan olehnya sehingga cahaya itu muncul.
"Aku melihat pancaran cahaya yang berasal dari pemandian beberapa saat lalu. Apakah kamu sedang berlatih?" tanya Jian Heng tidak kalah dirundung rasa penasaran.
Pertanyaan itu kembali mengingatkan Fang Yin akan cerita para pelayan yang membuatnya melamun. Dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi padanya dan membuat orang-orang juga merasa penasaran. Mereka akan terus memberinya pertanyaan atas hal yang tidak diketahuinya.
"Aku tidak sedang berlatih atau melakukan sesuatu hal yang menggunakan kekuatanku. Mungkin itu simbol Dewi Naga yang mampu menembus dinding. Entahlah!" Fang Yin mengangkat kedua bahunya sebagai tanda tidak mengerti.
Kening Jian Heng berkerut tetapi dia juga tidak memiliki pendapat apapun tentang masalah ini. Sudah saatnya mereka pergi ke ruang perjamuan. Rasanya tidak sopan jika membiarkan Tian Feng dan yang lainnya menunggu terlalu lama.
"Kita sama-sama tidak tahu tentang cahaya itu. Sebaiknya kita pergi ke ruang perjamuan terlebih dahulu dan melupakannya sejenak. Mungkin di lain waktu kita akan menemukan jawaban dari misteri ini." Jian Heng meraih tangan Fang Yin dan menggenggamnya.
Mereka berdua berjalan menuju ke ruang perjamuan. Beberapa pelayan yang membawa makanan dan minuman ke sana berpapasan dengan mereka. Hal ini berarti sudah banyak orang yang menunggu keduanya di sana.
Selir Shi dan Selir Ning terlihat sedang sibuk menata makanan di atas meja. Mereka ingin memastikan jika tidak ada yang terlupa untuk disajikan. Sebelum ini mereka juga sudah sangat sibuk sejak sore hari di dapur istana.
Selir Ning melihat kedatangan Fang Yin dan Jian Heng untuk yang pertama kali. Dia lalu memberitahu pada Selir Shi tentang kedatangan anak dan menantunya. Keduanya lalu berjalan bersama-sama menghampiri orang spesial yang mereka tunggu.
Seluruh orang yang hadir di dalam ruang perjamuan berdiri untuk memberi hormat ketika menyadari kehadiran kaisar dan permaisurinya.
"Tidak perlu terlalu sungkan. Silakan kembali duduk." Kaisar Jian Heng meminta seluruh orang yang hadir di sana untuk kembali duduk di meja masing-masing sedangkan dirinya dan Fang Yin duduk di meja yang sudah disiapkan oleh Selir Shi dan Selir Ning.
Sebelum acara makan malam di mulai, Jian Heng memberikan sambutannya dan mengucapkan selamat pada Tian Feng dan pasukannya yang telah berhasil mengatasi pemberontakan di perbatasan barat.
Riuh tepuk tangan mengiringi ucapan Jian Heng. Mereka bertepuk tangan dan mengungkapkan kebahagiaannya. Sebelumnya mereka berpikir jika Tian Feng akan memakan waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan untuk mengatasinya. Tidak di sangka pemberontakan itu bisa diatasinya dengan cepat.
Banyak hal yang ingin disampaikan oleh Tian Feng menanggapi masalah ini tetapi dia mengatakan akan meminta waktu setengah selesai makan malam untuk mengutarakannya. Semua orang terlihat tidak sabar dan berharap bisa segera mendengarkan cerita darinya. Mereka juga sadar jika sebagian dari peserta perjamuan sedang berjuang menahan lapar.
"Ibu, apakah semua makanan sudah disajikan?" tanya Fang Yin setelah tidak melihat lagi ada pelayan yang datang untuk mengantar makanan.
"Sudah, Yin'er. Kita bisa memulai untuk makan malam sekarang." Selir Shi mengatakan pada Fang Yin perihal kesiapan makanan.
Fang Yin mengangguk lalu beralih menatap Jian Heng. Meskipun tidak mengatakan apapun, dia sudah mengerti apa yang harus dilakukan.
"Kita akan melanjutkan pembicaraan setelah kita selesai makan malam. Silakan dinikmati hidangan yang disajikan. Untuk menghemat waktu, mari kita mulai sekarang," ucap Jian Heng sembari mempersilakan semua orang yang berada di ruangan luas itu.
"Terimakasih, Yang Mulia."
Semua orang menjawab dengan serentak.
Keluarga Kaisar dan para pejabat penting pemerintahan mendapatkan meja khusus di bagian depan sedangkan di belakang mereka, pasukan Tian Feng yang baru saja pulang dari perbatasan barat mendapatkan meja untuk beberapa orang. Mereka terlihat menikmati makanan yang disiapkan oleh istana.
Fang Yin menikmati makanan yang berada satu meja dengan Jian Heng. Banyak sekali makanan yang disajikan di sana dan hampir semuanya merupakan makanan kesukaannya. Selir Shi dan Selir Ning sangat tahu apa saja yang disukainya.
"Yin'er, kenapa kamu diam saja? Aku akan membantumu mengambil makanan," ucap Jian Heng sambil meraih mangkuk untuk Fang Yin.
Tangan Fang Yin segera mengambil mangkuk di tangan Jian Heng. Kali ini dia tidak ingin memakan makanan yang biasa dia makan.
__ADS_1
"Aku memiliki selera yang berbeda malam ini. Biar aku mengambilnya sendiri." Fang Yin tersenyum pada Jian Heng.
Beberapa sayur rebus dan makanan yang minim bumbu menjadi pilihannya. Nasi yang diambil olehnya pun terlihat sangat sedikit sekali. Selera makannya benar-benar berubah, tidak seperti biasanya.
Jian Heng yang duduk di sebelahnya bisa melihat dengan jelas apa yang dimakan oleh Fang Yin. Di hadapan semua orang dia terlihat lahap tetapi ekspresi wajahnya tidak menunjukkan seperti itu.
'Sepertinya Yin'er sedang kurang enak badan. Dia makan sedikit sekali dan terlihat tidak menikmati makanannya. Aku akan mempersingkat pertemuan ini agar dia bisa segera kembali ke istana untuk beristirahat.' Jian Heng diam-diam merencanakan sesuatu tanpa banyak bicara.
"Apakah kamu sudah selesai dengan makananmu?" tanya Fang Yin melihat Jian Heng telah meletakkan mangkuknya yang sudah kosong.
Buru-buru dia mengangguk sebelum mengatakan sesuatu.
"Kamu sendiri bagaimana? Kulihat kamu sedikit sekali memakan makananmu. Apakah kamu sedang tidak enak badan?" Jian Heng bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya pada Fang Yin.
"Tidak. Aku baik-baik saja hanya saja aku merasa tidak berselera makan. Jangan khawatir tidak ada sesuatu hal yang buruk terjadi padaku." Fang Yin tersenyum.
Jika diamati dengan benar memang tidak ada sesuatu hal yang aneh pada dirinya. Fang Yin terlihat masih sama seperti biasanya, tidak seperti orang yang sedang menahan atau menderita sesuatu. Namun, bagi Jian Heng, semuanya tetaplah aneh.
"Semoga semua yang kamu katakan itu benar." Jian Heng segera melemparkan pandangan ke seluruh ruang perjamuan.
Sebagian kecil telah selesai dengan makan malamnya dan sebagian yang lain masih menikmatinya dengan lahap. Ruang perjamuan masih sedikit gaduh meskipun tidak ada suara keras yang mendominasi. Mereka terlihat begitu menikmati makanan yang disajikan.
Sebagai seorang ibu, Selir Shi merasakan sesuatu yang aneh pada putrinya. Makannya begitu lambat dan tidak bersemangat. Menu yang disajikan di atas mejanya juga terlihat utuh. Tidak heran jika hal ini mengundang rasa ingin tahunya.
"Apa yang kamu pikirkan? Kenapa kamu terus melihat ke arah Yin'er?" tanya Tian Feng yang mengambil tempat duduk di sisi kanan Selir Shi.
Selir Ning yang duduk di sebelah kiri Selir Shi pun ikut menoleh ketika mendengar pertanyaan Tian Feng.
"Ah, tidak, tidak ada. Aku hanya merasa rindu pada Yin'er," bohong Selir Shi, sejujurnya dia tidak ingin menduga-duga dan berencana untuk datang menemui Fang Yin secara pribadi setelah ini.
"Kamu ini ada-ada saja. Seharusnya kalian memiliki waktu yang banyak untuk berjumpa." Tian Feng menggeleng tidak habis pikir dan tidak merasa curiga sedikitpun pada istrinya.
Selir Ning pun tidak ingin menanyakan lebih jauh dan percaya begitu saja dengan ucapan Selir Shi. Mereka memang jarang berkunjung ke istana Fang Yin. Setiap kali mengirimkan hadiah, mereka mengutus seseorang untuk mengantarkannya.
"Seharusnya kita mengantarkan hadiah yang kita kirim agar kita bisa bertemu dengan Yin'er," ucap Selir Ning lirih.
Pernyataannya itu mendapatkan anggukan dari Selir Shi. Kesibukan yang dijalani Fang Yin membuat keduanya tidak tega untuk mengganggu. Mereka memilih untuk menunggu momen yang pas untuk datang menemui putrinya itu.
Mereka kembali fokus pada acara makan malam dan mendengarkan sambutan dari Jian Heng. Selanjutnya, Tian Feng diminta untuk maju ke depan dan menyampaikan beberapa hal tentang pengalamannya selama di wilayah perbatasan barat.
Sorot mata Selir Shi memancarkan kebanggaan pada suaminya tersebut. Dalam tugas pertamanya dia berhasil menyelesaikannya dengan baik tanpa mengalami rintangan yang berarti. Dia berhasil membawa kemenangan meskipun cukup banyak memakan korban jiwa di pihak lawan beberapa penduduk wilayah perbatasan barat yang tergabung di dalamnya.
Cerita singkat tentang perjalanannya telah dimulai. Meskipun dia hanya menceritakan hal yang pokok-pokok saja tetapi cukup menarik untuk didengarkan. Seluruh orang yang hadir di sana bisa memahami kata-kata Tian Feng dan mengambil pelajaran dari apa yang dia sampaikan.
"Begitulah cerita singkat tentang perjalanan kami ke wilayah perbatasan barat. Namun, ada sesuatu hal yang lain yang ingin aku sampaikan. Jujur saja ada banyak sekali masalah yang perlu untuk diselesaikan. Aku pikir masalah itu bukan masalah yang berat dan sulit untuk diatasi," jelas Tian Feng.
Kali ini kata-katanya terdengar sangat membingungkan. Terdengar sangat mudah tetapi mengandung teka-teki. Perlu penjelasan yang lebih terperinci agar seseorang bisa memahaminya.
"Ayah, jangan membuat kami pusing dengan kalimat yang kamu ucapkan. Sepertinya semua orang ingin tahu tentang masalah yang terjadi di wilayah perbatasan barat. Mungkin saja salah satu di antara kami memiliki penyelesaian untuk itu." Fang Yin akhirnya angkat bicara.
Ucapannya mewakili apa yang ingin ditanyakan oleh sebagian orang yang ada di sana meskipun itu tidak bisa dikatakan mencakup keseluruhan pertanyaan dari mereka.
"Aku tidak bermaksud untuk membuatmu menjadi bingung atau menerka-nerka. Baiklah aku akan mengatakannya secara jelas. Aku harap akan ada solusi untuk memecahkan masalah ini." Tian Feng kembali mengambil jeda dalam pernyataannya.
Dia lalu meminta seseorang untuk datang ke hadapannya dan membawakan sebuah peta. Sesaat sebelum kepulangannya dia meminta peta wilayah perbatasan barat kepada Qing Yu dan memberikan tanda di beberapa bagian. Di balik penampakan wilayah yang bisa dikatakan tidak rata, Tian Feng melihat kekayaan alam yang bisa digali dengan semaksimal mungkin.
Peta itu dibentangkan pada sebuah penyangga. Hanya orang-orang yang duduk di bagian depan saja yang bisa melihatnya dengan jelas. Namun, Tian Feng berusaha untuk menjelaskannya pada semua orang yang hadir di sana dengan bahasa yang mudah untuk dimengerti.
Setiap titik yang dia tandai memiliki peluang yang berbeda-beda. Untuk itu, Tian Feng menjelaskannya satu persatu agar tidak rancu.
"Sebenarnya wilayah perbatasan barat tidak begitu luas tetapi jalur transportasi dan kondisi yang tidak rata membuat distribusi dalam satu wilayah cukup sulit. Namun, ini bukan berarti tidak bisa di atasi. Ke depannya, kita akan membuka jalan baru yang sebelumnya tidak terpikirkan untuk mengganti jalan yang sulit untuk dilewati. Mengenai potensi yang memungkinkan untuk dikembangkan, aku akan membicarakannya secara pribadi dengan Yang Mulia Kaisar beserta permaisuri." Di hadapan orang banyak, Fang Yin dan Jian Heng adalah pemimpinnya, untuk itu Tian Feng tidak bisa sembarangan saat menyebut keduanya.
Jian Heng dan Fang Yin terlihat puas dengan penjelasan Tian Feng. Tidak selamanya mereka akan membantu wilayah perbatasan barat. Meskipun tidak mudah, mereka harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri meskipun harus bekerja keras.
"Besok kita akan membicarakannya di ruang kerja Kak Heng. Aku rasa pembicaraan malam ini kita cukupkan saja. Wajah-wajah lelah para pasukan membuatku tidak tega melihatnya," ucap Fang Yin berharap acara perjamuan malam ini akan segera berakhir.
"Benar. Kita masih memiliki banyak waktu untuk membahas masalah. Ayah tentu juga merasa lelah karena baru tiba dari medan pertempuran," imbuh Jian Heng.
Tian Feng mengangguk dan meminta diri untuk kembali ke tempatnya semula.
Sebelum mengakhiri acara perjamuan, Jian Heng mengucapkan sepatah dua patah kata kepada semua orang sebagai perpisahan. Ucapan penghargaan yang sederhana membuat siapapun yang mendengar akan merasa dihargai. Tutur kata Jian Heng yang lembut serta penuh kebijaksanaan membuatnya mendapat tempat tersendiri di hati rakyat Benua Timur.
__ADS_1
Jian Heng dan Fang Yin meninggalkan dari ruang perjamuan terlebih dahulu. Sebagian mengikutinya dan sebagian lain tetap tinggal di sana untuk mengobrol. Tidak ada larangan yang mewajibkan mereka untuk segera kembali atau tetap di sana.
Ada sebagian kecil orang yang masih ingin menikmati makan malamnya yang belum usai. Sebagian lain adalah para pelayan yang datang ke ruangan untuk membereskan meja yang telah kosong. Mereka tidak membuat keributan meskipun tidak ada para pemimpin mereka.
Yu Ruo dan Shi Jun Hui berjalan menuju ke kediaman mereka. Di dalam perjalanannya mereka bertemu dengan Selir Shi lalu sepakat untuk berbincang terlebih dahulu sebelum kembali ke kamar. Mereka pergi berempat ke sebuah taman di bagian samping tempat tinggal Selir Shi. Taman itu juga tidak terlalu jauh dari kediaman Yu Ruo.
"Jie'er. Aku merasa ada yang aneh dengan Fang Yin. Entah apa itu yang jelas dia tidak seperti biasanya," ucap Yu Ruo memulai percakapan.
Ucapan Yu Ruo membuat Selir Shi terkejut. Dia merasa jika apa yang dipikirkan oleh ibunya sama dengan yang terpikirkan olehnya. Sejak tadi itulah yang mengganggu konsentrasinya saat berada di acara perjamuan.
"Aku juga merasa heran tapi aku berpikir positif tentang hal ini. Semoga saja ini bukanlah pertanda yang buruk," imbuh Selir Shi.
Shi Han Wu datang untuk bergabung bersama mereka. Wajahnya terlihat sangat tegang seperti sedang memikirkan sesuatu. Selir Shi dan yang lainnya pun segera menoleh kepadanya.
"Jun Hui, Tian Feng, kalian juga ada di sini?" tanya Shi Han Wu.
Shi Jun Hui dan Tian Feng mengangguk dengan cepat.
"Apakah kamu sedang dalam masalah? Wajahmu terlihat sangat tegang dan panik," tanya Shi Jun Hui dengan raut wajah yang penasaran.
Shi Han Wu tidak segera menjawabnya. Sikapnya yang diam membuat semua orang yang ada di sana semakin merasa penasaran. Namun, mereka mencoba untuk tenang menunggunya mulai berbicara.
Setelah menunggu beberapa saat, Shi Han Wu berjalan menepi ke sebuah pagar dan menopang tubuhnya dengan kedua tangannya. Kepalanya mendongak ke atas menerawang jauh ke arah langit malam. Udara yang sangat dingin membuat nafasnya terlihat mengepul ke angkasa.
"Aku mendengar sesuatu yang cukup membuatku risau. Ketika Yin'er sedang berada di pemandian pribadinya, seseorang melihat cahaya energi muncul dan membumbung ke langit. Aku memang tidak melihatnya secara langsung tetapi aku merasakan energi yang sangat besar berkumpul di tempat yang berbeda. Energi itu sebagian besar berasal dari tubuh Yin'er," jelas Shi Han Wu.
Semua orang yang ada di sana terperangah mendengar penjelasannya. Mereka mengakui kepekaan dari Shi Han Wu yang bisa mengenali jenis energi dan menemukan jejaknya meskipun di tempat yang jauh. Selain mengejutkan, kabar ini juga membuat mereka berasumsi.
Selir Shi maju beberapa langkah ke hadapan Shi Han Wu. Perasaannya semakin tidak karuan dan berpikir yang tidak-tidak tentang anaknya. Setelah bersatu dengannya, dia tidak ingin kehilangan Fang Yin lagi.
Shi Han Wu bisa membaca ekspresi wajah Selir Shi. Dia merasakan kesetiaan yang mendalam dari putri saudara kembarnya tersebut.
'Sepertinya kata-kataku telah mempengaruhi pikirannya. Sebenarnya semuanya belum pasti antara pertanda baik atau buruk dari kejadian ini. Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskan semuanya agar dia mengerti.' Shi Han Wu menatap bimbang ke arah Selir Shi.
Lagi-lagi tatapan itu membuat orang lain menjadi salah paham dan berpikir jika dia sedang mengkhawatirkan keadaan Selir Shi.
"Jangan mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti! Kita tidak tahu apakah itu sebuah kebaikan atau hal yang sebaliknya untuk Yin'er. Aku tidak merasakan adanya energi negatif di sana hingga fenomena itu berakhir." Shi Han Wu mencoba meluruskan agar tidak ada lagi kesalahpahaman saat memahami ucapannya.
Penjelasan darinya membuat semua orang sedikit tenang tetapi belum sepenuhnya merasa lega. Segala sesuatunya masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. Mereka tidak tahu tentang fenomena itu dan apakah masih akan muncul kembali atau tidak.
"Semoga saat itu bukan pertanda yang buruk. Malam ini aku melihat sikap Yin'er tidak seperti biasanya. Kelihatannya dia sedang kurang enak badan atau banyak pikiran," ucap Selir Shi kemudian.
Tian Feng datang mendekatinya. Meskipun Fang Yin bukan putri kandungnya tetapi mereka telah memiliki ikatan batin yang sangat kuat jauh sebelum dia menikahi Selir Shi.
"Kamu bisa memberikan perhatian lebih untuk Yin'er. Dengan selalu berada di dekatnya maka kamu bisa melihat apa yang tidak beres dari dirinya. Segeralah kamu beritahu yang lain jika menurutmu kamu butuh bantuan," jelas Tian Feng.
"Benar Jie'er. Setelah ini kita harus lebih memperhatikan Yin'er lagi. Meskipun dia memiliki kekuatan yang lebih besar dari kita tetapi pengalaman kita lebih banyak darinya," imbuh Yu Ruo.
Semua orang sependapat dengan Tian Feng dan mendukung idenya. Setelah ini mereka sepakat untuk lebih memperhatikan Fang Yin.
"Malam sudah larut, sebaiknya kita pergi untuk beristirahat sekarang." Shi Jun Hui merasa obrolan mereka sudah cukup dan meminta semua orang kembali ke kediaman masing-masing.
Di kamar Fang Yin,
Jian Heng tidak ingin membiarkan Fang Yin tidur dalam keadaan yang lapar. Di ruang perjamuan dia hanya melihat istrinya tersebut memakan sedikit sekali makanan. Rasanya sulit dipercaya jika dia merasa kenyang hanya dengan sedikit makan.
"Sayang, apakah kamu ingin aku mengambilkan makanan untukmu? Manisan misalnya," ucap Jian Heng saat melihat Fang Yin telah selesai dengan kultivasinya.
Fang Yin berjalan mendekati Jian Heng yang sedang duduk sambil menatapnya. Dia mengambil tempat duduk tepat di hadapannya. Ada beberapa buah kering dan kue di atas meja yang baru saja diantarkan oleh pelayan.
"Kak Heng tahu saja jika saat ini aku sedang lapar." Fang Yin langsung mengambil buah-buahan kering yang ada di hadapannya.
Apa yang dilakukannya membuat Jian Heng merasa senang. Selera makan Fang Yin telah berubah, sebisa mungkin dia memberikan apa yang diinginkannya.
"Aku merasa sedikit heran dengan selera makanmu, Yin'er. Kuharap ini adalah pertanda yang baik. Biasanya orang yang sedang mengandung memiliki selera yang berbeda dari kebiasaannya," ucap Jian Heng.
Kalimat itu membuat Fang Yin menghentikan tangannya yang hampir menyuapkan sepotong buah kering ke dalam mulutnya.
****
Bersambung ....
__ADS_1