
Hadiah itu ternyata adalah sebuah kristal inti roh berwarna putih terang. Kristal itu begitu berkilau dengan aura energi yang begitu kuat. Seharusnya Jian Heng menerima hadiah itu lalu memberikannya untuk Fang Yin.
Tidak ada gunanya untuk menyesal, keamanan identitas Fang Yin lebih berharga dari semua itu. Setelah ini mereka masih bisa mendapatkan kristal roh lagi. Namun sedikit saja salah bicara maka semua orang akan tahu tentang siapa Fang Yin.
"Kamu tidak ingin merubah keputusanmu?" tanya Ketua Sekte pada Jian Heng.
Jian Heng menggeleng, "Maaf Ketua, saya tetap tidak bisa menerimanya."
Jian Heng tahu jika kristal inti roh itu telah ditandai oleh Ketua Sekte untuk menjaga keamanannya dari pencurian.
Setelah Jian Heng benar-benar tidak bisa menerimanya, Ketua Sekte kembali menyimpan kristal itu pada tempatnya.
Jian Heng sudah cukup puas dengan bayaran misi sebesar seratus ribu keping emas untuknya.
Bayaran telah dia dapatkan, kini Jian Heng ingin meminta diri untuk kembali mengajar.
Di halaman depan sudah menunggu anak muridnya yang memiliki perbedaan usia yang tidak terlalu jauh darinya. Sebagai guru termuda di sekte itu, dia menjadi satu-satunya tetua yang paling dekat dengan murid-muridnya. Tentu karena mereka tidak merasa sungkan untuk berbicara padanya.
Tidak ada yang tahu tentang identitas Jian Heng yang sebenarnya yang merupakan seorang pangeran dari Kekaisaran Benua Tengah.
__ADS_1
Sebelum Jian Heng datang ke sekte ini, tidak banyak murid yang belajar di sini. Mereka merasa enggan bergabung dengan sekte ini karena para tetuanya yang terlalu kolot. Mereka tidak efektif dalam memberikan pengajaran meskipun teknik dan jurus yang mereka ajarkan sangat hebat.
Kedatangan Jian Heng di sana awalnya tidak di sengaja. Dia datang menyelamatkan sekte ini ketika beberapa kultivator datang ke sana untuk menjarah pusaka berharga dari sekte ini. Sebuah pusaka yang sangat diinginkan oleh seluruh kultivator.
Pedang Sembilan Bintang.
Pedang inilah yang menjadi asal muasal nama dari Sekte Sembilan Bintang yang melegenda. Di masa lalu, pedang ini dihadiahkan oleh seorang pangeran kerajaan yang hampir gugur dalam pertempuran kepada orang yang telah menyelamatkannya.
Pendiri sekte inilah yang menyelamatkan nyawanya tetapi saat itu dia belum mendirikan sekte ini.
Seiring berjalannya waktu kesehatan pangeran itu membaik dan mulai mengajarkan teknik-teknik dan jurus pada orang yang menyelamatkannya.
Datang juga kultivator lain yang merupakan sahabat pangeran itu untuk menggantikannya karena dia harus kembali ke istana.
Pangeran itu adalah Gu Ming Hao yang ternyata adalah ayah Fang Yin. Akan tetapi tidak ada yang tahu tentang kisah ini selain ketua sekte yang lama. Sekarang dia tinggal di villa yang berada di lokasi paling belakang di sekte itu.
Jarang ada yang mengunjunginya kecuali putranya, yaitu Ketua Sekte karena dia tidak menyukai keramaian.
Meskipun usianya telah mencapai ratusan tahun. Akan tetapi Ketua Sekte yang lama masih segar bugar. Dia memang sengaja menghindari pertarungan untuk menikmati hari tuanya.
__ADS_1
Padahal dia tahu jika ranah dewa yang dicapainya bisa saja membuat hidupnya abadi, tetapi si tua itu tidak lagi memiliki gairah untuk bertarung. Dia sangat merindukan sahabatnya Pangeran Gu dari Timur. Suasana hatinya semakin buruk tatkala mendengar klan Gu telah dibantai habis oleh pemberontak dan dia tidak bisa melakukan apapun untuknya.
Ketua Sekte selalu datang untuk mendengarkan cerita sang ayah. Dia tahu jika sang ayah sangat merindukan sahabatnya yang telah tiada itu. Mereka tidak tahu jika salah satu keturunannya berada di tempat ini, bahkan telah berbulan-bulan lamanya.
Di halaman sekte, Fang Yin belajar pada Tetua Ming. Hanya dia Tetua yang paling sabar menghadapi semua kebodohan yang dia lakukan. Dengan sabar dia membimbing Fang Yin meskipun terkadang dia juga merasa kesal padanya.
Sesekali Jian Heng melihat latihan Fang Yin ketika mereka berada di dalam satu lokasi. Kekonyolan yang dilakukan Fang Yin sering kali membuatnya ingin tertawa tetapi dia selalu menahannya. Menurutnya, sahabat kecilnya itu memang paling bisa kalau soal mengerjai orang.
Selama tiga bulan di sana, Fang Yin hanya mampu menguasai satu jurus. Jurus yang sebenarnya sudah dikuasai oleh Fang Yin ketika dia masih tinggal di istana. Dia telah menguasai jurus itu pada usia lima tahun.
'Dasar gadis nakal! Kamu begitu pandai mengelabuhi semua orang dengan baik. Kamu benar-benar lucu dengan wajah bodohmu itu,' gumam Jian Heng ketika melihat Fang Yin berlatih.
Mereka memang sengaja menjaga jarak di depan semua orang. Baik Fang Yin maupun Jian Heng memilih untuk saling menjauh demi menjaga rahasia mereka. Kekhawatiran Fang Yin memang cukup beralasan mengingat beberapa kali dia menjadi buronan akibat kehebatan yang dia miliki.
Para tetua yang ada di sana saja yang terlalu bodoh. Seharusnya mereka menyadari jika dalam pengobatan yang dilakukan Fang Yin tentu menggunakan teknik pengendalian Qi yang tidak mudah bahkan lebih sulit dari sekedar belajar teknik beladiri.
Hanya orang yang setidaknya telah memiliki tiga jurus yang mampu mengendalikan Qi murni untuk pengobatan.
****
__ADS_1
Bersambung ...