Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 209


__ADS_3

Setelah menyerap esensi dari besi meteor berusia ribuan tahun, kekuatan jurus pengikat roh milik Jian Heng meningkat berlipat-lipat ganda. Sangat sulit bagi para bandit itu untuk melepaskan diri mereka.


Pemimpin bandit berpikir keras untuk mengalahkan Fang Yin, dia terlihat sedang melakukan gerakan pemulihan. Kedua tangannya berada di depan dada dengan posisi telapak tangan menghadap ke atas dan ujung jari tengah saling bersentuhan.


Di belakang pemimpin bandit itu terlihat sebuah segel mantra yang membentuk simbol serigala bercahaya kemerahan.


Setelah segel terbentuk dengan sempurna, pemimpin bandit itu menggerakkan kedua tangannya ke samping hingga terlentang. Telapak tangannya menghadap ke atas dan beberapa saat kemudian segel yang dia bentuk dikelilingi oleh banyak sekali api energi.


'Rupanya bandit kejam ini juga memiliki energi cadangan yang tersimpan dalam sebuah segel mantra. Hemh! Strategi yang matang. Tapi kurasa dia belum menyadari jika aku telah menyerap energinya yang lain.


Fang Yin bersikap waspada dan terus mengamati pergerakan yang dilakukan oleh pemimpin bandit itu.


'Tirukan segel itu dan buatlah api abadi mengelilinginya!' Roh naga berbicara dengan telepatinya.


'Tumben sekali kamu peduli padaku. Biasanya kamu bisanya hanya menyiksaku dan selalu membuatku kesulitan.' Fang Yin berbicara setengah menyindir roh naga.


'Tutup mulutmu! Lakukan saja apa yang aku katakan!' Roh naga itu kembali kepada sikap memaksanya.

__ADS_1


Daripada urusannya bertambah ribet, Fang Yin pun melakukan apa yang dikatakan oleh roh naga. Ide yang dia berikan ini tidaklah buruk seperti sikapnya yang arogan.


Kedua tangan Fang Yin mendorong ke atas untuk membentuk segel mantra. Setelah segel mantra berwarna ungu kehitaman itu terbentuk dia segera menggerakkan mantra itu ke depannya.


Sesaat kemudian, keluarlah api berwarna hitam mengelilingi segel itu. Di tengah segel mantra, terdapat simbol naga yang bersinar.


Pemimpin bandit itu menggerakkan segelnya dan membuatnya melepaskan api yang mengelilingi segel itu dengan kendali jarak jauh. Api-api itu meluncur dengan cepat ke arah Fang Yin.


Hal yang sama pun segera dilakukan olehnya. Tidak ingin terlalu banyak berpikir, Fang Yin segera memutar segelnya dan membuat tempo lemparan yang lebih cepat dari milik pemimpin bandit.


Pertarungan keduanya semakin tidak seimbang hingga seluruh serangan pemimpin bandit itu berhasil dilumpuhkan oleh Fang Yin. Tersinggung senyum kemenangan di balik cadar Fang Yin.


Untuk mengakhiri pertarungan itu Fang Yin mendorong segel mantra miliknya dan menghantam segel mantra milik pemimpin bandit. Api hitam yang masih tersisa membakar tubuh pemimpin bandit dan membuatnya segera turun lalu menjatuhkan dirinya ke tanah.


Pemimpin bandit itu berguling-guling sambil berteriak memilukan mengingat api di tubuhnya tidak kunjung padam. Semakin lama api itu semakin membesar dan membuat tubuh pemimpin bandit itu terbakar hidup-hidup.


Anak buahnya yang menyaksikan itu merasa sangat ketakutan dan berharap jika mereka tidak akan mengalami nasib yang sama dengan pemimpin mereka. Harapan kosong yang tentunya tidak akan mungkin mereka dapatkan.

__ADS_1


"Tetua Yu, bolehkah aku melenyapkan mereka sekarang juga?" Fang Yin meminta ijin pada Jian Heng untuk menghabisi para bandit yang tersisa.


"Jangan terlalu kejam, Xiao Yin! Sebaiknya kamu langsung membunuh mereka tanpa harus menyiksanya terlebih dahulu," jawab Jian Heng lembut.


Tidak ingin ada lagi yang menghalangi jalannya, Fang Yin segera melemparkan jarum beracun pada para bandit itu. Mereka terlihat langsung kejang-kejang dengan mulutnya yang berbusa.


Pemimpin bandit telah menjadi abu dan seluruh anak buahnya yang mati terkena racun Fang Yin tubuhnya perlahan membusuk.


Setelah dipastikan jika seluruh lawannya mati, Fang Yin mengibaskan tangannya untuk membersihkan kekacauan yang telah dia buat. Jian Heng pun menarik kembali jurusnya.


"Kita harus segera mencari tempat untuk bermalam. Tetapi kita tetap harus waspada Xiao Yin, karena kelompok bandit di gunung ini bukan hanya mereka saja." Jian Heng melirik ke arah Fang Yin.


Fang Yin mendengarkan ucapan Jian Heng dan berpikir sejenak. Waktu Fang Yin sudah banyak tertunda membuatnya terhalang untuk menemukan Kitab Sembilan Naga. Di Gunung Serigala Merah juga bukan tempat yang aman untuk beristirahat. Oleh karena itu, Fang Yin memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya dan meninggalkan gunung itu malam itu juga.


****


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2