Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 270. Sebuah Kisah


__ADS_3

Wanita itu beringsut mundur sambil memeluk erat bayinya. Dia tidak sanggup lagi berlari karena kakinya terluka. Delapan orang pria mengepungnya sehingga dia tidak bisa ke mana-mana lagi.


'Sebaiknya aku tolong tidak, ya? Aku jadi tidak tega melihat bayi tanpa dosa itu menjadi korban kekejaman mereka. Aku tidak akan sanggup untuk melihatnya mati di hadapanku.' Fang Yin akhirnya memutuskan untuk muncul dan menengahi masalah itu.


Tepat saat seorang pria tengah mengayunkan pedangnya untuk membunuh wanita itu, Fang Yin datang untuk mencegahnya, Pedangnya terjatuh ketika pergelangan tangannya dipegang erat. Pria itu menoleh melihat siapakah orang yang menghalanginya.


"Siapa kamu? Berani-beraninya mencampuri urusan kami!" teriak pria itu dengan marah.


Wanita itu berdiri dan berlindung di belakang Fang Yin. Dia sedikit bisa bernapas lega, setidaknya ada yang mau membantunya meskipun dia tidak tahu kelanjutannya. Jumlah mereka tidak sebanding dengan para pria yang mengepung mereka, pikir wanita itu.


"Aku orang yang kebetulan lewat saja. Apakah kalian tidak mempunyai rasa malu? Bisa-bisanya mengeroyok seorang wanita yang tidak berdaya," ucap Fang Yin bernada datar tetapi syarat dengan sindiran.


Pria yang dicegah oleh Fang Yin maju mendekat. Mereka kini berdiri saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat. Pria itu melihat penampilan Fang Yin dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Sepertinya kamu bukan orang sini. Sebaiknya kamu minggir dan berhenti mencampuri urusan kami, maka kami akan membiarkan kamu pergi dengan selamat." Pria itu berbicara dengan nada ancaman.


"Ohho, aku takut," canda Fang Yin.


"Sayangnya aku tidak akan pergi jika kalian tidak melepaskan wanita ini," imbuh Fang Yin.


Pria dan seluruh teman-temannya merasa geram dan mengangkat pedangnya ke arah Fang Yin. Namun, salah satu di antara mereka berteriak dan meminta mereka menghentikan aksi mereka.


Orang itu melihat sekilas tatapan Fang Yin yang sangat menakutkan. Meskipun tidak terlihat, dia bisa merasakan besarnya energi dari aura yang terpancar dalam sorot matanya.


"Nona, wanita ini membawa bayi yang sangat berbahaya. Suaminya adalah anggota Sekte Seruling Maut. Jika dibiarkan hidup, bayi ini akan menjadi ancaman bagi aliran putih," jelas pria itu.


Fang Yin melihat ke arah bayi yang terlihat tak berdosa itu. Ekspresi wajah ibunya berubah ketika melihat Fang Yin menatap bayinya cukup lama. Hatinya harap-harap cemas khawatir jika Fang Yin berubah pikiran dan tidak jadi memihaknya.


Fang Yin terdiam beberapa saat untuk berpikir. Para pria itu terlihat tidak sabar menunggu jawaban darinya.


"Apakah ada yang aneh dengan bayi ini? Sepertinya dia terlihat seperti bayi biasa pada umumnya. Rasanya alasan kalian tidak masuk akal, hanya karena ayahnya seorang anggota sekte aliran hitam kalian mengecapnya sebagai seorang penjahat." Fang Yin mencoba berpikir secara logis untuk mematahkan anggapan mereka. Sebenarnya dia sendiri juga tidak tahu tentang seluk beluk keturunan penganut Sekte Seruling Maut.


"Sepertinya kamu belum tahu banyak tentang sekte itu, Nona. Demi melindungi anak keturunannya, anggota Sekte Seruling Maut akan mencari ganti dengan mengorbankan orang lain. Jadi jika ayah bayi ini tahu dia memiliki seorang bayi maka dia akan mengambil bayi lain untuk mengukuhkan bayinya ini sebagai anggota sekte yang sama dengannya. Sebanyak apa kelahiran bayi di sana, maka semakin banyak pula bayi atau anak-anak lain yang dibawa dan dipersembahkan untuk dewa mereka."


Wanita di belakang Fang Yin terlihat ketakutan. Semuanya memang kesalahannya. Tidak seharusnya dia menolong dan jatuh cinta pada seorang anggota Sekte Seruling Maut.


Pertemuan yang tidak sengaja dengan suaminya membuatnya harus terjebak dalam penderitaan tanpa akhir. Sebagai wanita yang baik, dia menyelamatkan seorang pemuda yang sedang terluka. Awalnya dia tidak tahu jika pria itu adalah anggota Sekte Seruling Maut.


Wanita itu membawa pria itu tinggal di rumahnya. Di hari yang sama kedua orang tuanya meninggal secara mendadak tanpa diketahui penyebabnya. Saat itu tidak ada yang tahu jika pria yang ditolongnya itulah yang menyerap inti roh kedua orang tuanya untuk menggantikan inti rohnya yang rusak.


Hari demi hari yang mereka lewati menimbulkan benih-benih cinta di antara keduanya, hingga mereka memutuskan untuk menjadi pasangan. Warga di sekitarnya tidak ada yang curiga jika dia adalah anggota Sekte Seruling Maut karena sikapnya yang baik.


Keadaan itu berlangsung cukup lama hingga sekelompok anggota Sekte Seruling Maut datang ke tempat itu untuk menjemputnya ke sana. Wanita itu juga tidak tahu tentang latar belakang suaminya dan begitu terpukul atas kepergiannya meskipun dia tahu dia bukan orang yang baik.


Suami dari wanita itu sepertinya menutup-nutupi hubungan mereka. Anggota Sekte Seruling Maut tidak tahu jika dia telah memiliki seorang istri. Jika mereka tahu, maka wanita itu akan dibawa dan harus mengikuti aturan sekte.


Setelah kepergian suaminya, wanita itu baru menyadari jika dirinya tengah hamil. Mengingat dia menikah dengan anggota sekte yang menjadi musuh klan mereka, dia berusaha menutupi kehamilannya. Namun, sepandai-pandainya dia menyembunyikan kehamilan itu, tetap saja orang mengetahuinya dengan keadaan perutnya yang semakin membesar.


Demi menghindari kecurigaan, dia lari ke hutan dan melahirkan di sana. Untuk beberapa waktu dia aman, sampai para pria ini menemukannya di sini. Mereka tidak ingin melepaskan wanita itu bersama bayinya.


Fang Yin menarik napas dalam sembari berpikir untuk mencari solusi dalam masalah ini. Kedua pihak sama-sama tidak bisa disalahkan. Mereka memiliki alasan yang kuat untuk membela dirinya.


Para pria itu juga terlihat berpikir setelah mendengar cerita yang sebenarnya dari wanita itu. Kisah cinta yang rumit antara dua aliran yang saling berlawanan. Mereka ingin melindungi wanita itu tetapi takut jika suatu saat suaminya akan datang menjemputnya dan membuat masalah.


Dalam urusan cinta, Fang Yin masih nol besar. Sebagai seorang Agata Moen pun dia juga seorang jomblo akut yang terjebak cinta lokasi kepada seorang dokter beristri. Cinta dalam diam itu menyakitkan, dia tidak ingin hal ini terjadi pada wanita ini.


Mungkin, dia harus mengambil keputusan besar untuk memilih antara klannya dan cintanya. Perbedaan idealisme tidak mungkin membuat keduanya bersatu. Wanita itu harus memilih salah satu di antara keduanya.


"Namaku Xiao Yin. Aku belum pernah terlibat masalah percintaan dan tidak sedang mencari pasangan. Sebagai manusia yang memiliki hati, aku merasa tidak tega dengan nasib wanita ini. Apakah kalian pikir dia menginginkan semua ini terjadi? Aku rasa tidak, tetapi takdir telah memilihnya dan mengikat hatinya pada pria yang menjadi suaminya tanpa melihat dari mana dia berasal. Sekarang begini saja, anggap saja kita sebagai orang luar yang tidak tahu apa-apa, bagaimana jika kita memberinya kesempatan untuk memilih?" Fang Yin mengutarakan pendapatnya.


Para pria itu bergerak menjauh untuk berdiskusi. Mereka ingin bermusyawarah terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Masalah ini bisa dikatakan sebagai masalah yang cukup rumit. Masalah yang menyangkut hubungan antara dua klan yang saling berseberangan.


Membunuh wanita dan bayinya mampu mengatasi masalah ini untuk sementara saja. Jika suaminya tahu jika anak dan istrinya dibunuh, hal ini bisa menjadi pemicu dendam di antara mereka. Masalah yang lebih besar akan datang dan balas dendam akan terus berlanjut.


Mereka akhirnya memutuskan untuk meminta wanita itu memilih jalannya. Segala keputusan yang dia ambil memang memiliki resiko, tetapi mereka percaya apapun itu adalah yang terbaik.


Fang Yin menjadi penengah dalam masalah ini. Dia memikirkan bayi yang tidak tahu apa-apa itu. Tidak peduli bagaimana latar belakangnya, dia tetaplah seorang manusia yang memiliki jalan hidupnya sendiri.


Wanita itu berpikir sejenak dan memutuskan untuk menyusul suaminya pergi ke Sekte Seruling Maut. Tidak peduli apa yang akan terjadi ke depannya, dia ingin suaminya melihat putranya.


Para pria dari klannya, akhirnya melepaskannya dan membiarkannya memilih kehidupannya sendiri. Mereka pulang tanpa membawa wanita yang bernama Huamei itu dan berjanji untuk menjaga rahasia ini.


Mereka sepakat untuk tidak menceritakan kejadian ini pada klannya dan membuat pengakuan palsu.

__ADS_1


Fang Yin yang memiliki tujuan yang sama dengan Huamei membersamainya pergi ke Sekte Seruling Maut. Namun, dia tidak mengatakan apa tujuannya itu pada Huamei. Dia hanya bilang akan pergi ke tempat yang berdekatan dengan Lembah Maut.


Perjalanan mereka akan memakan waktu yang sedikit lama. Tidak mungkin bagi Fang Yin untuk menunjukkan kekuatannya di hadapan Huamei. Dia memilih untuk berjalan santai bersamanya dengan langkah biasa.


Beberapa kali mereka berhenti untuk beristirahat. Bayi Huamei cukup tenang dan tidak menangis selama dalam perjalanannya. Seorang wanita biasa tidak akan kuat untuk berjalan begitu lama sambil menggendong bayinya. Meskipun menutupinya, tetapi Fang Yin tahu jika Huamei juga seorang kultivator.


Seharusnya Huamei bisa melawan para pria itu, tetapi sepertinya kekuatannya tersegel saat ini. Dia tidak bisa menggunakan kekuatannya secara maksimal.


Hampir seharian mereka berjalan hingga hari hampi gelap, tetapi mereka belum juga sampai di pemukiman penduduk. Mereka berdua akhirnya berhenti di hutan itu untuk beristirahat.


Fang Yin membersihkan tempat untuk beristirahat dan mengumpulkan ranting kering untuk membuat perapian. Bayi Huamei terus menyusu sehingga dia tidak bisa membantunya.


"Huamei, kamu tunggu di sini. Aku akan mencari sesuatu untuk dimakan," ucap Fang Yin setelah berhasil menyalakan api.


"Maaf merepotkanmu," jawab Huamei merasa tidak enak.


"Jangan merasa sungkan, aku mencari makan untuk diriku juga."


Huamei mengangguk. Bayinya sedikit terganggu dengan obrolan mereka.


Sesaat setelah Fang Yin pergi, Huamei menjaga api agar tetap menyala sambil memeluk bayinya yang sedang tidur pulas. Seekor babi hutan datang menghampirinya. Binatang liar itu tetap maju mendekati api meskipun dia beberapa kali mengusirnya dengan ranting yang dia ayunkan ke arahnya.


Fang Yin belum terlihat akan kembali, karena babi itu semakin mendekat, Huamei pun segera mengambil tindakan. Dia mengalirkan Qi pada ranting ditangannya lalu melemparkannya tepat di leher babi hutan.


Babi hutan itu menjerit keras. Suaranya yang melengking menggema di keheningan malam. Suaranya semakin melemah seiring dengan kematiannya.


Tubuh babi hutan itu masih bergerak-gerak ketika Fang Yin datang ke sana. Saat mendengar suara lengkingan binatang dia segera kembali, dia mengkhawatirkan keadaan Huamei dan bayinya.


"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Fang Yin dengan napas yang terengah-engah.


"Aku tidak apa-apa. Babi hutan itu datang menghampiriku, jadi aku membunuhnya dengan menusukkan ranting itu," tunjuk Huamei.


"Syukurlah. Aku akan menjadikan babi itu untuk makan malam kita. Kebetulan aku belum mendapatkan apapun."


Malam itu, mereka berpesta dengan memakan daging babi yang tidak terlalu besar. Dia masih anak-anak sehingga dagingnya sangat lembut dan sedikit lemak. Sesekali Fang Yin mengusir ular dan binatang melata lain yang berdatangan karena melihat api.


Mereka beristirahat bergantian untuk berjaga-jaga jika ada binatang yang datang mendekat. Keduanya sama-sama menjaga identitas mereka dan tidak ingin menunjukkan kekuatan mereka.


Huamei adalah kultivator ranah suci bintang menengah, tetapi kekuatannya tersegel setelah dia menikah dengan Xiao Peng. Klan Luo memiliki aturan untuk membatasi kekuatan seorang wanita yang telah menikah. Dalam keadaan khusus seperti sebuah peperangan, segel itu baru akan dibuka.


Sebenarnya Fang Yin bisa merasakan besarnya energi dalam tubuh Huamei, tetapi dia berpura-pura tidak mengetahuinya. Secara fisik, energi itu memang tidak terlihat. Dia mengetahuinya dari tarikan nafas serta jejak energi yang ditinggalkannya pada ranting yang tertancap di tubuh babi hutan.


'Andai dia mau, aku sebenarnya bisa membuka segel pengunci energinya. Tetapi aku tidak akan membicarakan masalah ini jika dia tidak membahasnya terlebih dahulu denganku.' Fang Yin menambahkan ranting kering pada api yang hampir meredup.


Pagi hari, Fang Yin terbangun seperti biasanya. Dia mendapati Huamei sudah tidak ada ditempatnya.


Fang Yin berjalan berkeliling untuk mencarinya dan menemukannya di pinggir sungai. Dia begitu sembrono meletakkan putranya di pinggir sungai sementara dia sedang mandi.


"Astaga, Huamei! Mengapa kamu tidak membangunkanku dan memintaku untuk menjaga bayimu. Ini sangat berbahaya, Huamei," omel Fang Yin sambil mengambil bayi Huamei dalam dekapannya.


Matanya begitu cantik. Di usianya yang belum genap sebulan sudah memancarkan aura ketampanan yang memikat.


"Tampan sekali kamu, Nak. Kamu terlihat begitu menggemaskan. Kelak jika kamu besar nanti, kamu harus melindungi ibumu. Lihatlah, aku saja sampai ingin menangis saat melihat perjuangannya untuk mempertahankanmu."


Bayi kecil itu tersenyum mendengar ucapan Fang Yin seolah dia mengerti apa yang dikatakan olehnya. Dia terlihat senang mendengar ucapan lembut Fang Yin dan beberapa kali tersenyum padanya.


Betapa menyesalnya dirinya jika tidak bisa menyelamatkan bayi semanis ini. Fang Yin tidak peduli sejahat apa orang tuanya, baginya bayi ini tetaplah suci tak berdosa.


Bayi Huamei dibawa menjauh ke tempat peristirahatan mereka. Bayi mungil itu tidak menangis. Sepertinya dia telah siap menjalani pahitnya kehidupan bersama ibunya.


Tidak lama kemudian Huamei datang dengan bajunya yang sedikit basah. Kelihatannya dia tidak memiliki baju lain selain yang dia pakai saat ini.


Fang Yin merasa iba. Dia menang tidak terlihat membawa barang, tetapi di dalam cincin penyimpanannya dia memiliki banyak pakaian dan segala keperluannya. Sesaat dia berpikir untuk menunjukkan kemampuannya pada Huamei atau tidak.


Setelah menimbang-nimbang, Fang Yin mengeluarkan sebuah hanfu untuk Huamei. Rasa ibanya mengalahkan rasa ingin melindungi dirinya.


Huamei sedikit terkejut, tetapi dia menerima hanfu itu tanpa banyak bertanya. Setelah mengucapkan terimakasih dia kembali pergi untuk mengganti pakaiannya.


"Aku banyak berhutang padamu, Xiao Yin. Mungkin aku dan bayiku tidak akan selamat jika kamu tidak datang tepat waktu." Huamei menyatukan kedua tangannya memberi hormat pada Fang Yin.


Mereka terlihat sangat mirip saat menggunakan pakaian yang sama jika dilihat dari arah belakang. Hanya wajah Fang Yin tertutup dan tentunya tidak memiliki kemiripan dengan Huamei meskipun sama-sama cantik.


"Tidak perlu dibesar-besarkan, Huamei. Aku tidak merasa jika berteman itu merepotkan." Fang Yin menimang bayi Huamei yang sedang terlelap.

__ADS_1


"Teman? Kamu tidak keberatan memiliki teman yang lemah sepertiku?" Huamei merasa jika dirinya hanya akan merepotkan Fang Yin saja.


Fang Yin meletakkan bayi Huamei di sisinya dan membiarkannya tidur dengan nyaman. Sebagai seorang dokter dia tahu jika bayi butuh ruang gerak yang luas untuk tumbuh kembangnya.


"Kamu bisa saja menipu semua orang dengan sikap polosmu itu, tetapi jangan harap kamu bisa mengelabuhi ku," ucap Fang Yin.


Huamei terlonjak kaget, dia tidak menyangka jika Fang Yin akan mengatakan itu. Mulutnya yang menganga terus bergerak-gerak tanpa suara. Dia menjadi bingung untuk berkata-kata.


"Tidak perlu terkejut seperti itu. Sekarang aku ingin bertanya, siapa yang menyegel tubuhmu dan membatasi gerakmu?" tanya Fang Yin dengan suara pelan.


Huamei tidak bisa berkutik lagi. Dia terlihat seperti seorang pencuri yang tertangkap basah ketika sedang beraksi. Benar-benar tidak dapat berbuat apapun selain menyerah pada keadaan.


"Berbaliklah!" perintah Fang Yin tanpa menunggu Huamei menjawab pertanyaannya. Dia merasa kasihan saat melihatnya kesulitan bicara dan wajahnya terlihat sangat bodoh.


Seseorang bisa menjadi latah dan sulit untuk bicara jika dia sedang terkejut. Mungkin hal ini juga yang dialami oleh Huamei. Mereka baru bisa bersikap normal jika sudah bisa mengatasi keterkejutannya dan menguasai keadaan.


Huamei menurut saja pada Fang Yin dengan berbalik memunggunginya. Tidak peduli apa yang akan dilakukan oleh sahabat barunya itu, dia tidak membantah. Sejauh ini sikap Fang Yin sangat baik sehingga Huamei tidak berpikir buruk padanya.


Rasa hangat menjalar di tubuhnya ketika Fang Yin mengalirkan energinya di punggung Huamei melalui telapak tangannya. Semakin lama rasa hangat itu berubah menjadi rasa panas yang menerobos masuk melewati jaringan meridiannya.


Saat ketua Klan Luo menyegelnya, Huamei merasakan rasa sakit yang lebih dari ini. Dengan sekuat tenaga dia menahan rasa sakitnya dan menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak mengeluarkan suara. Rahang atas dan rahang bawahnya saling berhimpitan dan membuatnya terlihat seperti menyeringai.


Fang Yin melakukan pekerjaannya dengan cepat hingga Huamei tidak menyadari jika penderitaannya telah usai. Dia terlalu fokus menikmati rasa sakitnya sampai tidak tahu jika energi Fang Yin tidak lagi mengalir di tubuhnya.


"Heh, kamu mau terbengong dan selamanya tinggal di sini? Ayam milik tetanggaku langsung mati saat melihat orang bengong," ejek Fang Yin ketika Huamei tidak kunjung menyadari keadaan.


"Ah, iya. Sudah selesai, ya?" Huamei memutar badannya menghadap Fang Yin dan pura-pura bertanya padanya.


"Mari kita lanjutkan perjalanan kita," ajak Fang Yin sambil menggendong bayi Huamei. Dia benar-benar merasa gemas pada bayi itu yang seperti tidak ingin lepas darinya.


Keadaan menjadi tertukar, Fang Yin terlihat keibuan sedangkan Huamei menjadi seorang lajang.


"Hei, tunggu. Kamu belum menjelaskan dari mana kamu tahu jika kultivasiku sedang tersegel?" tanya Huamei.


Bukannya menjawabnya, Fang Yin malah tertawa. Sudah sangat lama dia tidak memiliki teman. Dia merasa ada tempat untuk meluapkan kejahilannya.


"Hei ...." ucapan Huamei terputus ketika Fang Yin memberinya isyarat untuk diam.


"Harusnya aku yang bertanya padamu kenapa kamu membiarkan seseorang menyegel kultivasimu?"


Huamei meringis. Dia merasa terintimidasi tetapi Fang Yin memang benar, seharusnya memang dia yang bertanya banyak hal.


"Ini memang sudah aturan dari Klan kami. Bagi seorang wanita yang sudah menikah, dia wajib menuruti aturan di mana kultivasinya harus disegel dan tidak boleh melebihi tingkat langit," jelas Huamei.


Fang Yin menghentikan langkahnya setelah mendengarkan penjelasan Huamei. Matanya membulat, dia merasa telah membuat kesalahan.


"Kenapa kamu tidak mencegahku saat aku membuka segelmu? Sekarang aku merasa telah menjadikanmu orang yang melanggar aturan. Mana aku tidak bisa mengembalikan segel itu lagi." Fang Yin menatap Huamei penuh penyesalan. Niat ingin berbuat usil tetapi malah perasaan bersalah yang dia dapatkan. Dia merasa sangat ceroboh dan melupakan pesan Kakek Tse untuk selalu berhati-hati.


Sekarang giliran Huamei yang menertawakan Fang Yin. Dia merasa lucu dengan wajah Fang Yin yang memucat karena perasaan bersalah.


"Apanya yang salah? Bukankah aku sekarang orang yang bebas. Orang-orang dari klanku sudah membiarkan aku memilih jalanku. Mereka tidak akan mengusikku lagi atau bahkan mungkin tidak akan peduli dengan apa yang akan menimpaku setelah ini," jelas Huamei. Wajahnya tiba-tiba terlihat sangat sedih.


"Jangan menunjukkan wajah sedihmu itu! Kisah hidupku lebih rumit dari yang kamu alami. Hanya saja aku tidak sedang menjalani ikatan suci dengan seorang lelaki." Terlintas wajah Jian Heng di dalam ingatannya. Dia bergumam dalam hati, "Akankah pernikahanku menjadi serumit ini suatu saat nanti?"


"Baiklah, mari kita pikirkan apa yang akan kita hadapi setelah ini. Jangan biarkan masalah yang kita hadapi membuat kita menjadi hilang arah," ucap Huamei menengahi.


Mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan perasaan lega. Meskipun mereka memiliki masalah, tetapi mereka mencoba untuk tetap bahagia dengan caranya. Setidaknya dengan persahabatan mereka memiliki tempat untuk saling berbagi.


Setelah mengetahui kemampuan kultivasi mereka masing-masing, dalam perjalanannya mereka menggunakan langkah cepat untuk mencapai wilayah perkotaan. Fang Yin menutupi tubuh bayi Huamei dengan mantelnya dan menggendongnya dengan kain panjang yang dililitkan di tubuhnya.


Huamei menatap Fang Yin penuh haru. Orang yang baru saja dikenalnya menjadi lebih peduli ketimbang orang yang hidup bersamanya selama bertahun-tahun.


Dengan langkah cepat, mereka akhirnya sampai di perkotaan saat matahari tepat di atas kepalanya. Fang Yin menyelinap ke pinggir-pinggir jalan di bawah pepohonan untuk melindungi bayi Huamei dari terik matahari siang. Dia terlihat sangat melindungi bayi itu.


Huamei tidak bersantai, dia juga menggunakan tangannya atau melebarkan lengan bajunya untuk menghalangi cahaya matahari yang menerpa wajah Fang Yin dan bayinya. Mereka berhenti di depan sebuah kedai dan memutuskan untuk makan dan beristirahat di sana.


Semua mata memandang ke arah Fang Yin dan Huamei. Mereka berpikir jika yang memiliki bayi adalah Fang Yin dan Huamei yang cantik adalah seorang gadis single.


"Xiao Yin, apakah kamu tidak mati gaya ketika orang-orang menganggapmu seorang ibu muda?" tanya Huamei.


"Peduli apa aku dengan mereka. Toh setelah ini kita tidak akan bertemu lagi dengan mereka, bukan?"


Huamei mengangguk. Perasaannya tidak enak ketika seorang bertubuh gempal datang menghampiri mereka.

__ADS_1


****


Bersambung ...


__ADS_2