
"Apa yang kamu katakan? Peduli padaku? Hah!" Fang Yin mendesah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Kakinya kembali melangkah meninggalkan Jian Heng yang kembali menyusul langkahnya.
"Iya, aku peduli padamu. Aku tidak ingin tercipta dendam tidak berkesudahan antara klan topeng besi dengan dirimu." Jian Heng mengungkapkan alasan kenapa dia melarng Fang Yin membunuh mereka.
"Aku tahu siapa mereka. Kematian empat orang klan topeng besi tidak sebanding dengan ratusan nyawa tak berdosa yang mereka renggut. Anggap saja aku bagian dari orang yang membalas dendam itu. Dan satu lagi, nyawa mereka telah mereka tukar dengan sejumlah uang yang mereka terima. Jadi, buat apa mereka menjadi pembunuh bayaran kalau ingin menyia-nyiakan waktu yang mereka punya untuk sekedar balas dendam tidak penting." Fang Yin berbicara dengan santai menanggapi kekhawatiran Jian Heng.
Jawaban cerdar Fang Yin membuat Jian Heng terpukau. Merasa ada benarnya semua yang dikatakan Fang Yin, dia hanya mengangguk dan tidak ingin membahas masalah ini lagi. Seharusnya dia tidak menghalangi Fang Yin untuk membunuh orang yang ingin membunuhnya.
"Aku juga tidak perlu khawatir telah membiarkan mereka bertiga hidup dan kembali ke klan topeng besi. Karena aku telah memutuskan saraf yang terhubung dengan mulut mereka sehingga mereka tidak bisa lagi berbicara," ucap Fang Yin sambil melirik ke arah Jian Heng dengan tatapan matanya yang berkilat.
Jian Heng tertegun dengan jawaban Fang Yin.
'Gadis ini ternyata sangat waspada dan penuh perhitungan. Dia bisa memperkirakan kemungkinan terburuk yang akan dia hadapi. Cara berpikirnya begitu cepat. Tidak heran jika dia berani berkeliaran seorang diri di dunia luar yang kejam dan berbahaya.' Jian Heng menatap Fang Yin penuh kekaguman.
__ADS_1
"Aku membutuhkan bantuanmu!" ucap Fang Yin ketika mereka berdua hampir sampai di penginapan.
Fang Yin menghentikan langkahnya lalu melompat ke atas dahan sebuah pohon yang tumbuh di tepi jalan. Dia duduk menghadap ke arah matahari terbenam di sore itu. Jian Heng pun mengikutinya dan duduk di dahan yang lain yang berada tepat di sisi Fang Yin.
Mereka duduk menghadap arah yang sama dengan berbataskan pohon utama.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk seorang gadis yang hebat sepertimu. Sepertinya aku tidak akan memiliki kesempatan untuk membantumu karena kamu bisa menyelesaikan semuanya dengan baik." Jian Heng menatap sendu wajah Fang Yin yang tertutup cadar.
Fang Yin menunduk karena tidak sanggup membalas tatapan Jian Heng yang memiliki pesona Zidane. Hatinya berdegup kencang ketika kedua mata mereka saling bertemu. Perasaan yang sama ketika Agata masih hidup di dunia manusia.
Dia tidak tahu Jian Heng akan menyetujui permintaannya atau tidak. Kitab Sembilan Naga bukanlah kitab yang bisa disentuh oleh sembarang orang. Meskipun hanya meminjamnya sebentar tentu itu juga tidak akan mudah.
"Misi? Misi apa?" tanya Jian Heng menatap Fang Yin peduli.
"Aku tidak yakin kamu akan membantuku karena ini sedikit merepotkan." Fang Yin tidak ingin mengatakan jika dirinya tahu bahwa Jian Heng memiliki Kitab Sembilan Naga yang dia cari.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah bisa membantumu jika kamu tidak mengatakannya. Katakan saja!" Jian Heng terlihat sangat tampan ketika udara di sore itu mengacak-acak rambutnya.
Fang Yin terpesona sejenak lalu kembali tersadar dan segera memalingkan wajahnya.
"Aku sedang mencari Kitab Sembilan Naga. Apakah kamu tahu di mana salah satunya?" tanya Fang Yin sambil menatap lurus ke depan. Dia tidak sanggup menatap mata Jian Heng yang seakan ingin menenggelamkan jiwanya di sana.
Jian Heng menatap Fang Yin dengan tatapan tidak percaya.
'Gadis ini benar-benar pemberani. Baru kali ini aku menjumpai seorang wanita yang mau mengambil misi untuk mengumpulkan Kitab Sembilan Naga. Aku harus mencari tahu tentang asal usulnya. Dia orang yang sangat waspada, tetapi bukan hal yang tidak mungkin untuk mengetahui semua tentangnya. Aku sangat yakin jika dia memiliki latar belakang yang istimewa.' Jian Heng masih terdiam dan larut dalam pikirannya.
"Lupakan apa yang aku katakan! Anggap saja aku tidak mengatakan apa-apa," ucap Fang Yin lalu melompat turun dari atas pohon itu.
****
Bersambung ....
__ADS_1