
Fang Yin kecil terlihat bingung dan menggosok-gosok matanya hingga beberapa kali.
"Ayah, aku tidak tahu apa artinya. Hiks ... hiks!" Fang Yin kecil menangis sesenggukan.
Kaisar Gu berjalan menghampiri Fang Yin lalu membawanya duduk di sebuah meja.
"Yin'er! Bukankah kamu sering sekali membaca buku-buku milik ayah di perpustakaan pribadi milik ayah?" Kaisar Gu tidak percaya jika putrinya itu tidak memahami bahasa kiasan seperti itu.
Fang Yin terdiam lalu mendongak ke atas melihat ke arah ayahnya sambil berpikir.
"Coba kamu ingat-ingat kembali semua buku yang sudah kamu baca. Ayah yakin kamu pasti bisa menelaah artinya."
Fang Yin kecil mengikuti apa yang dikatakan oleh ayahnya. Dia mengulang kalimat itu hingga beberapa kali untuk mengingatnya.
"Apakah arti dari 'Sepoi angin berhembus dari kedalaman jiwa' itu adalah sesuatu yang berhubungan dengan pernapasan, Ayah?" tanya Fang Yin kecil.
Kaisar Gu tersenyum hingga menampakkan gigi-giginya yang berbaris rapi.
"Hahaha, cerdik! Putriku memang tidak ada duanya. Akan tetapi kamu harus melanjutkan untuk memahami lanjutannya agar artinya benar-benar sempurna."
"Aku akan mencoba lagi ayah," ucap Fang Yin melompat turun dari bangku tempat duduknya.
Kaisar Gu mengangguk-angguk sambil melihat ke arah Fang Yin yang sedang berpikir serius. Senyumnya tidak lepas dari bibirnya dan merasa yakin jika putri kesayangannya itu akan segera menjawab pertanyaannya itu dengan benar.
Bagi sebagian orang pertanyaan seperti ini akan terasa sulit apalagi jika mereka tidak membaca banyak buku sastra yang mengulas tentang beberapa macam peribahasa.
Fang Yin kecil berjalan mondar-mandir sambil memikirkan jawaban untuk kelanjutan syair itu.
"Menghapus jejak melegakan dahaga. Apakah itu berhubungan dengan air, ayah?" tanya Fang Yin kemudian.
Kaisar Gu bangkit dari duduknya lalu tertawa.
"Tepat sekali! Sekarang kamu rangkai artinya, Yin'er." Kaisar Gu menyemangati Fang Yin.
__ADS_1
Fang Yin menggeleng lalu menunduk dan merasa gagal.
Kaisar Gu merasa cukup dengan jawaban Fang Yin. Menurutnya kemampuan Fang Yin saat ini sudah lebih baik. Bagi anak seusianya, soal semacam ini tidak mungkin terjawab.
Kaisar Gu kemudian menyelesaikan sisanya untuk kata kiasan itu. Dia berjalan selangkah maju ke hadapan Fang Yin dengan posisi kedua telapak tangannya saling bertumpuk di belakang punggungnya.
"Syair itu memang terdiri dari dua buah kalimat, Yin'er. Tetapi sesungguhnya hanya memiliki satu arti saja. Jari Kamu harus bisa memaknainya sebagai, "seseorang yang mampu mengolah napasnya dengan baik akan mampu menghapuskan jejaknya dan memunculkannya kembali di dalam air".
Mata Fang Yin berbinar mendengar penjelasan ayahnya sekarang.
"Ayah begitu hebat. Ayah sangat hebat!" pekik Fang Yin kecil sambil berlari menyongsong ayahnya.
Kaisar Gu mengangkat tubuh Fang Yin kecil tinggi-tinggi lalu membawanya berputar. Mereka tertawa bahagia
Perlahan bayangan itu memudar lalu menghilang. Fang Yin yang semula sedang tertidur kini mulai terbangun dan memikirkan arti mimpinya tadi.
'Apakah ini cara pemilik tubuh ini memberitahu aku tentang bagaimana cara membuka misteri dari kitab itu? Tapi kenapa aku masih belum mengerti juga, ya. Ah, apa tadi.' Fang Yin beranjak lalu menganalisa kalimat yang diucapkan oleh ayahnya.
"Napas, jejak, air. Napas ... jejak ... air ...."
Tangannya mendorong ke depan ke arah pintu tendanya dan mengeluarkan mantra pelindung untuk menyegel tempat itu agar tidak ada yang bisa masuk ke sana atau melihat apa yang dilakukannya.
Setelah dirasa aman, Fang Yin kemudian mengeluarkan Kitab Sembilan Naga bintang lima.
Kitab itu dia biarkan melayang di hadapannya dengan halaman yang terbuka.
'Aku tidak akan pernah tahu bagaimana memecahkan misteri itu jika aku tidak mencobanya. Aku tidak boleh membuang-buang waktu dengan berdiam diri tanpa melakukan apa-apa.'
Fang Yin melakukan olah napas lalu mengusap buku itu dengan air. Hal konyol itu tidak membuahkan hasil. Dalam keadaan basah, lembaran buku itu tidak memunculkan apa-apa.
Fang Yin menerawangnya hingga beberapa kali tetapi tetap tidak terlihat apapun.
Fang Yin kemudian memikirkan lagi tentang tiga unsur dalam syair tersebut.
__ADS_1
'Jika bukan olah napas, menghapus jejak dan air, lalu apa? Apa yang menyatukan ketiga unsur tersebut?'
Masih dengan kegigihannya Fang Yin kembali berpikir hingga sekelebat ide melintas di dalam pikirannya. Nama kitab itu adalah Kitab Sembilan Naga, sudah pasti segala sesuatu yang ada di dalamnya ada hubungannya dengan naga.
Kali ini Fang Yin mencoba mengeluarkan Jurus Napas Naga untuk membuka segel tak terlihat dalam kitab itu. Aura berwarna pelangi keluar dari kitab itu. Fang Yin terlihat sangat senang dan merasa jika jurusnya itu bekerja.
Dengan perasaan bahagia dia datang untuk mendekati kitab itu. Namun lagi-lagi dia harus kecewa karena tidak ada tulisan apapun di sana.
Mata Fang Yin terpejam sesaat untuk meredam emosinya. Tetap saja kemarahan menguasai hatinya.
'Misteri ini membuat dadaku terasa sakit dan merasakan diriku seperti hidup dalam tekanan. Aku benci alam ini, aku ingin kembali ke duniaku sebelumnya. Aku benci kitab sialan ini!' Fang Yin meraih kitab itu lalu mencengkeramnya kuat-kuat tanpa bermaksud untuk merusaknya.
Sampul dari kitab itu terbuat dari kulit binatang yang disamak dengan baik. Bagian sudut sampul kitab yang runcing menusuk tangan Fang Yin dan membuatnya terluka.
Tanpa disadari olehnya, darah Fang Yin menetes dan membasahi tepi halaman kitab itu. Fang Yin merasakan energi yang besar keluar dari kitab yang dia pegang.
'Apakah kamu merasa sangat marah, saat aku memperlakukanmu seperti ini?' Fang Yin melemparkan kitab itu tanpa berniat untuk membuangnya.
Kitab itu terpental dan kembali ke hadapan Fang Yin setelah membentur dinding pelindung yang dia buat.
Fang Yin memalingkan wajah dan tidak ingin melihat ke arah kitab itu sebelum suasana hatinya kembali membaik. Dia tidak tahu jika untaian kata telah tertulis dengan jelas di udara dengan tinta berwarna merah yang berasal dari darah Fang Yin.
Rupanya yang dimaksud air di sini adalah darah dari pewaris kita sembilan naga yang telah menguasai jurus napas naga.
Merasa dirinya telah menyerah untuk hari ini, Fang Yin berniat untuk menyimpan kitab itu dan memecahkan misterinya lain waktu.
Namun saat dia menoleh untuk mengambil kitab itu, dia melihat halaman buku yang terbuka menampilkan tulisan berwarna merah darah di udara.
Fang Yin melirik tangannya yang terluka lalu tersenyum senang. Dia baru mengerti ternyata kitab itu meminta setetes darah dari pemilik jurus napas naga sebagai syarat untuk membuka segel yang mengunci tulisan di dalamnya.
Dengan penuh semangat, Fang Yin kembali duduk dengan tenang dan membaca kitab itu dari awal lalu menyimpannya ke dalam inti pikirannya.
****
__ADS_1
Bersambung ....