Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 402. Goresan Luka


__ADS_3

Kecurigaan Fang Yin mulai muncul ketika dia melihat sekelebat bayangan yang melintas ketika dirinya berbelok arah dan bias cahaya tersorot dari arah belakang. Lagi-lagi dia menemukan orang yang berbeda yang tentunya bukan Ling Shasha. Kekuatannya yang belum pulih membuatnya harus bisa menahan diri untuk tidak terpancing.


Kediaman Shi Han Wu masih berjarak cukup jauh sehingga tidak ada yang bisa diandalkan jika dia berhadapan dengan lawan yang kuat.


'Sial! Dalam keadaan seperti ini aku tidak bisa melawan. Coba saja kamu datang saat aku telah siap menghadapi musuh. Aku pasti kan jika kamu tidak akan bisa melihat dunia besok hari.' Fang Yin merasa dirinya benar-benar tidak berguna.


Dengan wajah yang kesal dia melanjutkan perjalanan tanpa menghiraukan orang yang mengikutinya. Semakin dekat dengan tempat pelatihan semakin ketat juga penjagaan dari para pengawal. Fang Yin tidak merasakan lagi keberadaan seseorang yang mengikutinya.


Pengawal yang berjaga langsung memberinya jalan ketika dia telah tiba di depan pintu gerbang. Sebelum langkah masuk, Fang Yin menoleh ke arah tempat-tempat tersembunyi yang berada di luar tempat pelatihan. Tidak ada lagi gerak-gerik yang mencurigakan di sekitarnya membuatnya kembali berjalan dengan tenang untuk menemui Shi Han Wu.


Suara orang berlatih menggema di segala penjuru. Walaupun jarang ke sana, Fang Yin bisa menemukan dengan cepat di mana keberadaan kedua kakeknya. Hanya ada satu lokasi yang dijadikan tempat berlatih yaitu pada sebuah halaman luas di belakang mess prajurit.


Kedatangan Fang Yin membuat Shi Han Wu dan Shi Jun Hui terkejut. Jika dia ingin menemuinya seharusnya bisa mengubah seseorang untuk memanggil mereka. Kedua pria itu berjalan tergesa-gesa menghampirinya dengan wajah yang terlihat cemas.


"Hei, Bocah! Apa yang kamu lakukan di sini? Aku dengar kondisimu sedang tidak baik. Semua orang di istana ini selalu mendengarkanmu, mengapa kamu tidak meminta salah satu diantara mereka untuk memanggil kami." Shi Han Wu tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengomel kepada Fang Yin.


Fang Yin meringis lalu berjalan menuju ke sisi halaman dan duduk di sebuah bangku. Dia terlihat begitu santai dengan duduk sambil mengangkat salah satu kakinya. Tidak terlihat sikapnya sebagai seorang bangsawan.


Shi Han Wu dan Shi Jun Hui saling berpandangan lalu bersama menggelengkan kepala melihat tingkah polah cucunya. Menjadi seorang permaisuri tidak membuatnya berubah. Fang Yin masih suka berbuat seenaknya dan menciptakan sebuah kekonyolan yang membuat orang-orang di sekitarnya merasa gemas.


"Yin'er! Jaga sikapmu!" seru Shi Jun Hui.


Tatapan tajam dari kakeknya dan suaranya yang tegas akhirnya membuatnya menciut. Fang Yin segera menurunkan kakinya dan duduk dengan benar. Demi memuluskan keinginannya dia tidak boleh membuat kakeknya marah.


"Hanya di depan kalian aku bisa sedikit bersantai. Semua ini tidak akan aku lakukan di hadapan orang lain." Masih saja Fang Yin beralasan untuk membela diri.


"Di ada apa siapapun kamu harus tetap menjaga kesopanan. Seharusnya kamu sadar jika sekarang kamu menjadi panutan semua orang. Apa yang kamu lakukan akan selalu mengundang perhatian." Shi Jun Hui tidak ingin Fang Yin bertingkah lagi.


"Baiklah! Baiklah! Tujuanku datang kemari bukan untuk berdebat atau membuat kalian marah. Bisakah kita berbicara di tempat yang sedikit tertutup?" Fang Yin celingukan dan merasa jika mereka saat ini cukup ramai.


Shi Han Wu dan Shi Jun Hui kembali saling berpandangan. Mereka menduga-duga akan maksud dan tujuan Fang Yin datang. Jika tidak ada sesuatu yang begitu penting, tidak mungkin dia meminta mereka untuk pergi ke tempat yang lebih pribadi.


"Tunggu di sini sebentar!" perintah Shi Jun Hui.


Mereka tidak bisa meninggalkan latihan begitu saja tanpa memberi kabar kepada prajurit yang sedang berlatih. Shi Jun Hui akan meninggalkan beberapa tugas untuk mereka selama kepergiannya bersama Shi Han Wu.


Setelah kepergian Shi Jun Hui, Fang Yin berjalan mendekati Shi Han Wu. Kesempatan ini tidak disia-siakannya karena sebenarnya dia ingin berbicara empat mata dengannya.


"Sebenarnya aku ingin berbicara secara pribadi denganmu, Kek. Saat ini kekuatan jiwaku sedang melemah. Aku butuh bantuanmu. Tolong kakek katakan masalah ini pada ayah Feng juga. Aku tunggu kalian malam ini di kediaman ibu mertua."


Setelah mengatakan itu Fang Yin menjauh karena Shi Jun Hui sudah kembali berjalan ke arah mereka. Shi Han Wu mengerti jika apa yang dikatakan oleh Fang Yin mengandung sebuah pesan rahasia. Sifat keras Shi Jun Hui akan membuatnya tidak leluasa untuk bicara.


Shi Jun Hui membawa Fang Yin dan Shi Han Wu ke sebuah ruangan yang terletak di samping tempat berlatih. Fang Yin sama sekali tidak membahas mengenai kekuatannya yang melemah. Dia malah membicarakan tentang penguntit yang mengikutinya saat berjalan menuju ke sana.


Secara tidak langsung Fang Yin sama saja meminta mereka untuk waspada. Keberadaan penyusup di istana harus segera diketahui lebih awal meskipun sebenarnya dia tahu siapa target mereka. Dengan penjagaan yang semakin ketat, penguntit itu tidak akan berani untuk bertindak sebelum Fang Yin memulihkan kekuatan.


Shi Han Wu kini mulai mengerti mengapa Fang Yin secara khusus meminta dirinya dan Tian Feng untuk memberikan pil yang mampu mengembalikan kekuatannya. Ini hanya perkiraan secara garis besarnya saja. Hal yang lebih spesifik hanya dia sendiri yang mengetahuinya.


"Jun Hui! Aku akan memastikan Yin'er kembali dengan aman ke istananya. Apakah kamu keberatan untuk memimpin latihan seorang diri?" tanya Shi Han Wu meminta ijin untuk mengantar Fang Yin.


"Pergilah! Keselamatan Yin'er lebih penting saat ini. Musuh dari dalam lebih berbahaya ketimbang musuh yang terlihat nyata melawan."


Fang Yin merasa tenang saat kakeknya tidak curiga dan bertanya macam-macam tentang apa yang terjadi sebenarnya. Jika sampai ini terjadi maka akan sulit baginya untuk menyembunyikan kehamilannya pada keluarganya. Hal yang lebih buruk akan datang dan membuat masalah semakin kompleks.


"Aku berharap masih menemukan jejak energi penguntit di tempat yang pernah disinggahinya." Fang Yin mendekati tempat-tempat dari mana bayangan penguntit itu muncul.


Apa yang diinginkannya berhasil dia dapatkan. Jejak energi yang sama dia rasakan di beberapa titik. Pemilik energi ini tidak sama dengan pemilik energi yang ditemukannya di depan ruangannya. Ini membuktikan jika bukan hanya satu orang yang mengincar nyawanya.


Shi Han Wu tahu apa yang dirasakan oleh Fang Yin tetapi dia tidak segera menanyakannya di dalam perjalanan.


'Tembok pun bisa menjadi pendengar dan menjadi musuh yang mematikan. Aku harus berhati-hati dan tetap menjaga rahasia apapun yang aku ketahui. Mungkin Yin'er sengaja menutupi kelemahannya, jika tidak maka dia pasti juga akan menceritakannya di depan Jun Hui.' Shi Han Wu berusaha untuk menahan dirinya.


Diam-diam Shi Han Wu juga merekam jejak energi yang tertinggal. Mungkin saja itu akan berguna suatu saat nanti. Dia pun memanggil Tian Feng dengan telepatinya tanpa sepengetahuan Fang Yin. Semua masalah harus segera diatasi karena semakin ditunda maka akan semakin berkembang dan sulit dikendalikan.


Fang Yin tidak membawa Shi Han Wu ke istananya melainkan pergi ke tempat lain. Meskipun ini terlihat aneh tetapi dia tidak berkomentar atau bertanya apa pun padanya. Pertanyaannya akan mengacaukan semua rencana yang mungkin telah disusun secara rapi olehnya.


Ada sebuah ruangan yang jarang sekali dikunjungi oleh penghuni istana di dekat perpustakaan. Fang Yin membawa Shi Han Wu ke sana. Tidak lama kemudian, Tian Feng datang menyusul mereka dan membuatnya merasa heran.


"Bagaimana ayah tahu jika aku sedang berada di sini?" tanya Fang Yin dengan kening yang berkerut.


Tian Feng tersenyum sembari menatap ke arah Shi Han Wu. Tatapan mereka sudah memberi jawaban yang ingin diketahui oleh Fang Yin. Keduanya telah berkomunikasi saat mereka dalam perjalanan.


"Baiklah! Saat ini aku memang sedang berhadapan dengan orang-orang yang hebat." Fang Yin melanjutkan langkahnya menuju ke sebuah sudut ruangan di tempat yang lebih dalam.


Shi Han Wu dan Tian Feng berjalan mengikutinya di belakang. Mereka tidak banyak bertanya kepada Fang Yin karena tahu jika saat ini wajahnya terlihat sangat serius. Meskipun sudah tidak sekejam dulu tetapi aura mengerikan dari sorot matanya membuat siapapun merasa segan.


Ketiganya duduk saling berhadapan pada sebuah meja. Banyak sekali perabot kuno yang ada di dalam ruangan itu. Kemungkinan besar sengaja disimpan di sana karena merupakan peninggalan berharga dari kaisar-kaisar sebelumnya.


Pemandangan ini tidak asing bagi Fang Yin yang telah beberapa kali melihatnya tetapi merupakan pemandangan baru bagi Shi Han Wu dan Tian Feng. Mereka melihat setiap inci ruangan sebelum Fang Yin memulai percakapan di antara mereka. Beberapa benda begitu menarik perhatian karena memiliki energi unik yang terpancar.


"Setelah kita selesai berbincang. Bisakah aku berkultivasi di tempat ini?" tanya Shi Han Wu meminta izin pada Fang Yin.


"Terserah padamu, Kek. Ruangan ini jarang sekali dikunjungi oleh penghuni istana. Mungkin saja mereka merasa seram karena di sini disimpan benda-benda yang sudah usang."


Fang Yin tidak keberatan kakeknya meminjam ruangan ini untuk berkultivasi.


"Terimakasih." Shi Han Wu menyatukan kedua tangannya di hadapan wajahnya.


Saat ini kedudukan Fang Yin adalah penguasa Benua Timur, baik Shi Han Wu maupun Tian Feng harus tetap menghormatinya meskipun usianya jauh lebih muda.


"Ini bukan sesuatu yang besar."


Tidak ingin ketinggalan, Tian Feng pun juga ingin berkultivasi di sana.


"Aku juga ingin berkutivasi di sini. Apakah kamu tidak keberatan?" tanya Tian Feng.


"Tentu saja. Kalian bebas menggunakan ruangan ini. Tapi sebelum itu aku ingin meminta bantuan yang besar dari kalian berdua."


Fang Yin menceritakan secara singkat tentang keadaan tubuhnya. Dia juga bercerita tentang adanya penyusup meskipun tidak dijelaskan secara mendetail. Tidak lupa dia juga merasakan tentang kehamilannya seperti yang sudah disepakati dengan Selir Tang.


Shi Han Wu dan Tian Feng tahu jika sebenarnya Fang Yin bisa pulih cepat dengan bantuan giok hitam. Namun, mereka juga tahu efek yang sangat dahsyat akan menyertainya. Mungkin Fang Yin mempertimbangkan akan hal ini dan menghindari sesuatu yang buruk terjadi di dalam istana.


"Apa yang bisa kami lakukan untukmu, Yin'er?" tanya Shi Han Wu setelah mendengar penjelasan singkat dari Fang Yin.


"Benar. Bukankah ini bukan masalah yang besar untukmu?" imbuh Tian Feng.


'Seandainya kalian tahu jika saat ini aku sedang mengandung dan kehilangan energi setiap hari untuk menyempurnakan calon anakku, mungkin kalian tidak akan banyak bertanya lagi.' Fang Yin bermonolog dalam hati sambil memandang Shi Han Wu dan Tian Feng bergantian.


"Aku ingin kalian membuatkanku pil pemulih energi tingkat tinggi sebanyak mungkin. Semoga ayah dan kakek tidak keberatan melakukan hal besar ini untuk ku." Fang Yin menyatukan kedua tangannya tanda sebuah permohonan.


"Tidak perlu memohon. Ini sudah menjadi kewajiban bagi kami. Nanti malam kami akan mengerjakannya semoga saja pembuatan pil berjalan lancar sehingga besok pagi kamu sudah bisa memilikinya." Shi Han Wu segera menyanggupi permintaan Fang Yin begitu juga dengan Tian Feng yang langsung mengangguk setuju.


Fang Yin tampak begitu gembira setelah mendengar semuanya. Akhirnya dia akan segera memiliki pil yang diinginkannya. Namun, di sisi lain dia harus bersedih karena sebentar lagi dia akan berpisah dengan keluarganya. Baik Shi Han Wu dan Tian Feng tidak mengerti akan hal ini.


Seorang pria terkadang tidak memiliki hati yang peka. Mereka tidak menyadari perubahan suasana hati lawan bicaranya yang berubah dengan begitu cepat. Menurut keduanya, sikap Fang Yin masih baik-baik saja.


Berada di tengah keluarganya akan membuat hati Fang Yin semakin lemah karena diliputi rasa enggan untuk berpisah.

__ADS_1


"Ayah, Kakek, kalian bisa mulai berkultivasi di sini. Aku sudah meninggalkan ibu mertua begitu lama. Dia akan merasa kesepian."


"Kamu boleh pergi sekarang. Kami akan tinggal beberapa saat di sini. Untuk selanjutnya, kamu bisa mendapatkan pil yang kami buat. Kita akan bertemu di tempat ini lagi besok." Shi Han Wu tahu jika Fang Yin tidak ingin mereka menemuinya di istananya.


"Baiklah! Sampai nanti!"


Ketiganya pun berpisah. Fang Yin berjalan menuju ke kediaman Selir Tang. Sesampainya di sana dia mendapati ibu mertuanya sedang beristirahat.


'Sepertinya ibu mertua sangat lelah. Aku akan membiarkannya beristirahat sekarang.'


Saat akan pergi meninggalkan ruangan Selir Tang, sang pemilik ruangan terbangun. Dia lalu memanggil Fang Yin dan memintanya untuk kembali.


"Yin'er, maafkan aku. Aku tertidur cukup lama sesaat setelah kepergianmu," jelas Selir Tang sambil merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan karena bangun tidur.


Fang Yin berjalan menghampiri Selir Tang lalu keduanya duduk di depan sebuah meja.


"Maafkan aku ibu, aku sudah mengetuk pintu beberapa kali tetapi ibu tidak mendengarnya. Kupikir ibu kenapa-kenapa." Fang Yin merasa tidak enak karena mengganggu istirahat Selir Tang.


Selir Tang tersenyum lalu mengelus lembut rambut Fang Yin. Dia merasa terkadang orang yang kuat sepertinya bisa lembut seperti butung camar yang cantik. Wanita yang begitu kejam dan pemberani di medan perang pun memiliki sisi lain yang berbeda.


"Tidak perlu banyak berpikir. Kamu adalah putriku. Apapun boleh kamu lakukan di sini."


Sebentar lagi akan tumbuh sifat keibuan dari Fang Yin. Selir Tang semakin tidak sabar untuk melihat itu terjadi. Cucu yang memiliki kekuatan anak dan menantunya akan segera hadir dalam kehidupannya.


"Aku sangat lapar, Ibu. Terkadang aku tidak berselera sama sekali. Awalnya aku berpikir jika tubuhku sedang bermasalah akibat racun yang telah masuk tapi kurasa tidak."


"Itu merupakan hal yang wajar. Beberapa wanita hamil juga mengalaminya, sebagian di antara mereka bahkan tidak bisa makan dan menjadi lemah. Kamu masih sedikit beruntung, Yin'er." Selir Tang merasa begitu gemas melihat wajah cantik Fang Yin.


"Tunggu di sini sebentar! Aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan beberapa makanan. Kamu akan lebih aman jika memakan makanan yang aku pesan." Selir Tang lalu beranjak dari duduknya.


Tentu penyusup tidak akan memberi racun kepada Selir Tang. Namun, semua ini belum pasti. Fang Yin tetap harus memeriksanya terlebih dahulu sebelum memakannya.


"Kita akan makan siang sebentar lagi, Yin'er. Aku yakin penyusup itu hanya berkeliaran di istanamu saja."


Fang Yin menggeleng saat mendengar ucapan Selir Tang karena dia juga bertemu dengan penyusup saat berjalan menuju ke tempat pelatihan Shi Han Wu.


Reaksi Fang Yin membuat Selir Tang merasa heran. Setahunya Ling Shasha tinggal untuk mengerjakan tugasnya di istana kaisar. Jika bukan dia tentu ada orang lain yang terlibat dalam konspirasi atau mungkin bergerak sendiri-sendiri.


"Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan, Yin'er. Bukankah kita tahu jika penyusup itu adalah Ling Shasha? Apakah kamu menemukan fakta lain?" tanya Selir Tang tidak ingin menyimpan rasa penasaran terlalu lama.


"Aku merasa ada yang mengikuti ketika pergi menemui kakek. Orang yang mengikuti ku meninggalkan jejak energi yang berbeda dengan milik Ling Shasha. Aku tidak mungkin melawannya sehingga aku membiarkannya pergi begitu saja."


Selir Tang mengepalkan tangannya ketika mendengar penuturan Fang Yin. Saat ini anak dan menantunya sedang diincar oleh pihak yang belum diketahui dari mana asalnya dan seberapa besar kekuatannya. Secepatnya mereka harus mendapatkan pil pemulih energi karena tidak selamanya orang-orang terdekatnya berada di samping mereka dan melindunginya.


"Keadaan di istana ini semakin gawat, Yin'er. Aku curiga jika seseorang telah mengetahui kehadiran calon anakmu. Sebaiknya kita segera mengambil langkah yang cepat."


Fang Yin mengangguk. Dia sependapat dengan Selir Tang mengingat semakin lama bayinya akan semakin mendekati kemunculannya. Setelah dia memiliki pil dari Tian Feng dan Shi Han Wu maka dia harus segera berangkat menuju ke tempat pengasingan.


***


Ling Shasha berdiri di depan ruangan Fang Yin ketika dia tiba bersama Jian Heng dari tempat Selir Tang. Dia terlihat sangat rapi karena mungkin tidak melakukan pekerjaan lain setelah selesai membersihkan halaman.


Fang Yin masih menjaga rahasia tentang Ling Shasha kepada Jian Heng agar dia tidak mengkhawatirkan keadaannya saat mereka berjauhan. Sejak keadaan malam itu, justru dialah orang yang perlu untuk dikhawatirkan. Mereka tidak lagi makan di kediaman pribadinya dan memilih menyantap makanan bersama keluarga besar.


"Kamu boleh beristirahat, Ling Shasha," ucap Fang Yin sambil melewatinya tanpa berhenti.


"Baik, Yang Mulia." Ling Shasha sedikit curiga dengan perubahan sikap Fang Yin kepadanya.


Sebelum ini dia sangat ramah padanya tidak seperti hari ini yang cenderung acuh tak acuh. Akan tetapi, Ling Shasha tidak serta merta menganggap sikapnya adalah hal yang buruk. Dia berpikir mungkin Fang Yin sedang lelah atau suasana hatinya sedang tidak baik.


Mengingat saat ini kekuatannya benar-benar dalam masa krisis, Fang Yin memilih untuk memasang segel mantra pelindung di sekeliling kamarnya. Setidaknya hingga besok dirinya harus bersabar dan menahan diri untuk tidak bersinggungan dengan lawan yang perlu dikenalnya. Banyak sekali bahaya yang mengancam mereka saat ini.


"Kita membutuhkannya. Sebelum ayah memberikan pil pemulih energi untuk kita, kita tidak bisa melawan siapa pun. Ketahuilah bahwa saat ini kita benar-benar lemah dan tidak berguna."


Fang Yin menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan wajah yang tidak bersemangat. Dia seperti seekor macan yang kehilangan taringnya. Keadaannya terlihat sangat menyedihkan.


"Jangan berpikir seperti itu! Percayalah ini tidak akan lama dan kita akan kembali menjadi orang terkuat di benua ini."


Jian Heng mencoba menenangkan Fang Yin agar tidak terlalu bersedih ketika menghadapi ujian ini. Tidak masalah mereka harus bersembunyi untuk beberapa waktu. Keadaan ini tidak akan selamanya, setelah itu mereka akan kembali menjadi orang yang disegani.


"Apakah kamu memiliki pandangan ke mana kita akan mengasingkan diri untuk sementara waktu?" tanya Fang Yin. Kali ini Dia benar-benar tidak memiliki ide.


"Ada sebuah pegunungan di wilayah bagian tenggara. Di sana terisolir dari peradaban manusia. Aku dengar tidak ada penduduk yang hidup di sana. Tempat itu hanya dihuni oleh binatang dan dikelilingi hutan yang belum pernah terjamah tangan manusia."


"Kita pergi ke tempat itu dua hari lagi. Namun, jangan katakan ini pada siapapun. Semua orang harus tetap berpikir jika kita sedang berburu ke Hutan Bintang Selatan." Fang Yin menyukai rekomendasi tempat dari Jian Heng.


Jian Heng mengangguk. Dua hari lagi mereka sepakat akan berangkat menuju ke Pegunungan Merah.


Di luar ruangan Fang Yin,


Seseorang mencoba menguping pembicaraan antara Fang Yin dan Jian Heng tetapi dia tidak bisa mendengar apapun karena mantra pelindung yang ditanam oleh Fang Yin begitu kuat.


'Sial! Aku tidak bisa lagi mendengar sesuatu dari dalam ruangan. Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan informasi tentang apa yang akan mereka lakukan setelah ini?' Penguping tampak berpikir sambil terus mengawasi keadaan sekitar.


Tidak lama kemudian datang juga seorang dengan pakaian serba hitam sama juga sepertinya. Kehadirannya yang begitu cepat membuatnya tidak bisa menghindar lagi. Orang itu berjalan mendekat dan mendorongnya ke tempat yang sepi.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya orang yang baru datang.


Suaranya terdengar sangat berat dan serak yang menandakan ciri-ciri sebagai seorang pria. Penguping berusaha untuk melepaskan diri dari cengkramannya tetapi rasanya sangat sulit. Pria dengan perawakan tinggi itu mengurungnya dengan kedua tangannya yang mengandung Qi.


"Bukan urusanmu! Kamu sendiri apa yang kamu lakukan? Sebaiknya kita tidak usah saling mencampuri urusan satu sama lain."


Penyusup pria terkejut ketika orang yang berbicara di hadapannya adalah seorang wanita. Keduanya sama-sama menggunakan penutup wajah sehingga tidak saling mengenali satu sama lain meskipun mungkin sebelumnya mereka pernah bertemu.


"Oh, jadi begitu. Aku cuma ingin tahu apakah kita memiliki tujuan yang sama. Mungkin kita berada dalam satu jalan untuk mencapai sebuah tujuan dengan begitu kita bisa menjadi rekan yang baik."


"Aku tidak percaya pada siapapun. Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan dan jangan pernah mencampuri urusanku." Penyusup wanita mendorong tubuh penyusup pria dengan kekuatan penuh.


Akhirnya dia bisa melepaskan diri dan segera pergi dari tempat itu. Tubuhnya menghilang dalam kegelapan malam. Tidak jelas ke arah mana dia pergi.


Penyusup pria tersenyum jahat di balik penutup wajahnya. Dia lalu kembali melompat ke atas atap sambil mengawasi ke sekeliling istana kaisar. Selain penyusup wanita tidak ada lagi hal yang mencurigakan di sana.


'Aku akan kembali tengah malam nanti saat penjagaan mulai melemah. Mantra pelindung yang ditanam oleh Fang Yin begitu kuat. Sepertinya tidak akan mudah untuk menembusnya.' Penyusup pria bergerak cepat meninggalkan istana kaisar tanpa ketahuan oleh penjaga.


Seperti biasa, Selir Tang merubah penampilannya di malam hari untuk melindungi Fang Yin dan Jian Heng secara diam-diam. Dia mulai beraksi ketika semua orang telah larut dalam mimpinya. Tidak ada yang tahu dengan apa yang dilakukannya.


Mendekati tengah malam Selir Tang sudah sampai di tempat pengintaian. Meskipun tidak ada rencana untuk menyerang penyusup secara terang-terangan tapi dia ingin memastikan bahwa keadaan anak dan menantunya aman. Apapun bisa terjadi kepada mereka yang sedang dalam keadaan lemah.


Seperti yang sudah-sudah, tidak ada hal yang mencurigakan sebelum waktu tengah malam. Selir Tang tetap bertahan di tempat pengintaian sambil terus waspada. Dinginnya malam dan rasa kantuk yang mendera tidak membuatnya menyerah. Dia tetap berada di sana meskipun tidak terjadi apa-apa.


Setelah menunggu 2 jam, Selir Tang akhirnya merasakan bahwa kehadiran manusia yang mendekat ke tempat itu. Awalnya dia berpikir jika hawa itu milik penjaga yang mungkin sedang berpatroli di sekitaran istana. Namun, perkiraannya meleset ketika dia melihat bayangan hitam mendekati ruangan Fang Yin.


Dari tempatnya saat ini, Selir Tang ingin mengamati apa yang dilakukan oleh orang itu. Terlihat dia sedang berjalan mengendap-endap dan mendekat ke depan pintu. Merasa keadaan aman dan tidak ada yang melihatnya, oran itu segera duduk bersila dan memulai aksinya.


Selir Tang belum tahu jelas apa yang akan dilakukan oleh orang misterius. Dia tidak boleh gegabah agar tahu tujuan orang asing itu berada di sana. Jika dia mendekatinya sekarang justru keadaan akan semakin sulit.


Tubuh penyusup mulai memperlihatkan aura berwarna hijau terang. Aura ini sepertinya tidak asing bagi Selir Tang. Meskipun tidak sering tetapi dia pernah beberapa kali melihatnya.

__ADS_1


'Aku pernah melihat aura energi ini. Sepertinya dia adalah salah satu orang terdekat Yin'er. Apa yang dilakukannnya di sini? Apakah dia juga berniat untuk melindunginya secara diam-diam?' Selir Tang bertanya-tanya dalam hati.


Bayangan hitam melakukan gerakan dengan pola tertentu sehingga energi berwarna hijau bergerak menyelimuti seluruh ruangan yang sedang ditempati oleh Fang Yin.


Apa yang dilakukannya tidak luput dari pengamatan Selir Tang. Dia tidak ingin melewatkan segala sesuatu yang terjadi malam itu. Menurutnya apa yang dilakukan oleh orang itu masih berada dalam batas kewajaran hingga seorang lagi datang menyusulnya.


Keduanya terlihat bekerja sama dan membuat kumparan energi yang lebih kuat. Mereka terus mencoba untuk menerobos perlindungan yang dibuat oleh Fang Yin tetapi selalu gagal. Di sini Selir Tang mulai mengerti tujuan mereka setelah membaca situasi.


'Oh, ternyata itu yang sedang mereka lakukan. Kupikir mereka memiliki tujuan yang baik, nyatanya malah sebaliknya. Aku akan membuat perhitungan dengan mereka meskipun aku tahu perlindungan Fang Yin sulit ditembus.'


Selir Tang melompat ke udara. Dari ketinggian terlihat para penjaga telah berhasil dilumpuhkan oleh para penyusup. Hawa kehidupan masih terpancar dari tubuh mereka, sepertinya penyusup hanya membuat mereka menjadi tidak sadarkan diri saja.


Dua orang penyusup yang tengah fokus belum menyadari kehadirannya. Tangan kanannya melakukan sebuah gerakan kecil dan mengeluarkan sebuah energi berbentuk seperti biji persik berwana biru. Energi itu melesat ke arah kumparan energi yang dipancarkan oleh penyusup. Biji energi berukuran kecil itu berhasil melenyapkan kumparan energi dari penyusup dalam satu serangan dan membuat mereka terkejut.


Kedua penyusup beranjak dari posisi duduknya lalu bergerak memutar untuk mencari orang yang telah menghalangi rencana mereka. Mereka melihat ke atas dan menemukan Selir Tang melayang di ketinggian. Tidak ingin kehilangan jejaknya, keduanya segera menyusul Selir Tang untuk membuat perhitungan.


Selir Tang tidak ingin membuat keributan di istana kaisar. Dia memancing dua penyusup ke belakang istana agar tidak mengganggu istirahat seluruh penghuni istana. Tingkatan kultivasi dari kedua penyusup memang cukup tinggi tetapi dia tidak akan gentar melawannya.


Sepertinya kedua penyusup mengerti bahwa mereka akan dibawa ke tempat yang lebih sepi. Mereka mengikuti ke mana Selir Tang membawanya dan berhenti pada sebuah tempat yang cukup gelap dan sunyi. Walaupun jaraknya dekat dengan istana tetapi kondisinya tidak terawat dan menyeramkan.


"Rupanya kamu sengaja memancing kemarahanku!" seru salah seorang penyusup.


Dia berpikir jika Selir Tang adalah penyusup wanita yang dijumpainya sore tadi.


"Hmmh!" Selir Tang mendengus. "Kalian pikir aku siapa? Aku memang sengaja mengundang kalian datang kemari. Mengerti?"


Penyusup terkesiap ketika mendengar nada bicara meninggi dari Selir Tang. Sadar akan kesalahannya, dia tidak lagi membahas mengenai penjebakan yang dilakukannya. Tidak ingin bertindak gegabah lagi, kini dia mulai mengatur strategi.


"Maaf, apakah sebelumnya kita pernah bersinggungan? Aku rasa tidak. Mengapa kamu tiba-tiba muncul dan mengacaukan rencanaku?" Penyusup pria berbicara dengan kesal tetapi tampak jelas jika dirinya sedang menahan diri untuk tidak membuat kesalahan.


'Kelihatannya orang ini cukup lihai dalam melakukan tarik ulur. Baiklah, aku akan mengikuti permainannya. Siapa tahu aku bisa mendapatkan banyak informasi darinya.' Selir Tang tersenyum licik dibalik penyamarannya.


Selir Tang berjalan mendekat ke arah dua penyusup. Dia tidak memperlihatkan tingkatan energinya sedikitpun. Hal ini membuatnya terlihat sangat lemah.


Saat Fang Yin pertama kali bertemu dengannya, dia hampir tidak percaya saat mengetahui kemampuan yang sebenarnya. Setelah menikah dengan Kaisar Xi, Selir Tang memang sengaja menyembunyikan kekuatannya. Orang-orang terdekatnya sekalipun tidak banyak yang tahu jika dia adalah sosok wanita berkelas yang begitu luar biasa.


Pria penyusup bersikap tenang tanpa meningkatkan kewaspadaannya. Menurutnya, Selir Tang hanyalah orang lemah. Dia berpikir untuk memperalatnya dan menjadikannya seorang kambing hitam.


"Tenanglah! Aku hanya ingin bermain-main saja. Sudah lama hidupku tidak berwarna tanpa sebuah pertarungan. Aku hanya ingin tahu apakah kekuatanku masih berguna atau tidak." Selir Tang tidak jujur tentang tujuannya mengganggu penyusup.


"Baiklah! Sebenarnya aku juga merasa tidak akan berhasil untuk meruntuhkan segel itu. Aku hanya mencoba-coba."


Selir Tang tidak lantas percaya dengan ucapan penyusup. Tidak mungkin mencoba-coba terlihat serius itu.


"Kelihatannya kamu pandai membual. Kurasa kamu akan mati terlebih dahulu sebelum Kaisar dan Permaisuri terbangun. Tidakkah kamu merasa takut dengan keluarga Yang Mulia yang selalu mengawasi kalian secara diam-diam."


Ucapan Selir Tang membuat wajah keduanya memucat. Mereka merasa jika Selir Tang memiliki tujuan yang sama tetapi mengatakan sesuatu yang merendahkan keduanya. Kalimat yang dilontarkannya membuat amarah penyusup tersulut.


"Kamu pikir kamu siapa? Bukankah kamu juga diam-diam mengintai Yang Mulia. Bukan tidak mungkin kamu yang tertangkap lebih dulu. Dasar lemah!" balas penyusup.


"Aku tidak gegabah seperti kalian yang melakukan pekerjaan sembarangan. Gerak-gerik kalian sangat mudah dideteksi terlebih lagi kalian mengeluarkan energi yang bisa saja terlihat oleh anggota istana yang masih terjaga."


Penyusup tidak terima dengan ucapan Selir Tang. Mereka merasa akan sulit mencari celah untuk mengambil kerjasama dengannya. Tidak ingin ada penghalang lagi, mereka berencana untuk menghabisi Selir Tang.


Tanpa banyak basa-basi lagi, penyusup mengeluarkan energi dan bersiap untuk menyerang Selir Tang. Penyusup yang lain langsung mengikuti apa yang dilakukan olehnya tanpa menunggu aba-aba. Mereka bergerak dengan cepat untuk menyerang Selir Tang dari arah yang berlawanan.


Meskipun terlihat tenang tetapi Selir Tang sudah waspada sejak sebelumnya. Sesaat sebelum serangan penyusup mencapai dirinya, dia telah melesat ke tempat yang lebih tinggi dan meninggalkan sebuah ledakan. Tangan kanannya terbuka dan keluarlah sebuah senjata berupa benda yang mirip seperti tombak tetapi berukuran kecil.


Saat dia melemparkannya me udara, tombak itu berubah menjadi besar lalu terpecah menjadi dua bagian. Masing-masing tombak melesat menuju ke arah penyusup dan mengejar mereka. Mau tidak mau, penyusup harus mengeluarkan senjata untuk menghadapinya.


Selir Tang menggerakkan senjatanya dari jarak jauh. Meskipun begitu, dua penyusup itu terlihat kewalahan. Tombak Selir Tang menyerang mereka dan membuatnya terus terdesak. Kekuatan yang menyertainya juga tidak main-main. Kedua penyusup terluka di beberapa bagian tanpa bisa membalas untuk melukai Selir Tang.


"Sial! Kita seperti sedang bertarung melawan angin. Jika terus seperti ini maka kita akan mati konyol di sini."


Sreett!


"Arggh!" Penyusup lain yang sibuk mendengarkan ucapan penyusup itu tergores di bagian wajahnya.


"Kita mundur saja dari sini. Lengan kiriku terluka cukup dalam dan hari juga sudah hampir pagi," lanjutnya.


Pria yang terluka di bagian wajah mengangguk setuju. Penutup wajahnya yang terkoyak memaksanya untuk bertarung dengan satu tangan. Meskipun malam sangat gelap, dia tetap harus berhati-hati agar tidak mudah untuk dikenali.


Kedua penyusup berusaha lari memasuki istana. Selir Tang berusaha untuk mengejarnya tetapi dia tidak bisa leluasa. Penjaga akan berpikir jika dirinya adalah seorang penyusup karena juga sedang menggunakan pakaian serba hitam.


'Dasar penyusup licik! Kalian seharusnya malu karena harus kalah dari seorang wanita.'


Selir Tang pun tidak ingin mengejar mereka lagi dan memilih untuk kembali ke kediamannya. Pertarungan menggunakan Qi juga cukup menguras energi. Sebelum pagi menjelang dia harus menyerap esensi energi alam agar energinya segera pulih.


***


Apa yang dialami oleh Selir Tang tidak dia ceritakan pada Fang Yin dan Jian Heng. Saat bersama pada keesokan harinya, mereka membahas hal yang lain.


Tian Feng datang secara terpisah dengan Shi Han Wu saat menemui Fang Yin. Semua itu mereka lakukan karena ingin menjaga rahasia tentang kelemahan Fang Yin dari semua orang. Dia bahkan merahasiakan hal ini dari Selir Shi juga.


Seperti memiliki firasat, Selir Shi datang menemui Fang Yin yang kini berada di kediaman Selir Tang. Namun, untuk saat ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena Fang Yin telah mendapatkan kekuatannya kembali. Dia bisa berada di mana pun secara bebas tanpa khawatir dengan serangan yang mendadak.


"Yin'er! Kamu setiap hari berada di sini, bukankah apa yang kamu lakukan akan mengganggu istirahat ibu mertuamu?"


Selir Shi menatap kesal ke arah putrinya.


"Jangan menyalahkan Yin'er untuk hal ini, Besan. Aku yang memintanya untuk datang."


Ketiga wanita itu mengobrol penuh kehangatan hingga melupakan waktu. Mereka lalu sepakat untuk makan bersama nanti malam. Dalam acara itu, mereka juga mengundang para pembesar istana untuk hadir.


Walaupun dalam cahaya remang-remang, Selir Tang bisa melihat dengan jelas wajah-wajah orang yang hadir di ruang perjamuan. Secara tidak sengaja pandangan matanya menangkap sosok pria yang memiliki luka di wajahnya. Hanya dia yang tahu asal muasal luka itu.


'Aku yakin dia pasti penyusup yang kabur semalam. Tinggal mencari satu orang lagi. Dia terluka cukup dalam di lengan kirinya. Meskipun luka itu tertutupi dan tidak bisa dilihat secara langsung tapi aku yakin bahwa aku akan segera menemukannya.' Selir Tang memperhatikan wajah para pembesar istana yang ikut makan di ruang perjamuan.


Tidak ada yang mencurigainya mengingat di sana dia adalah seorang tamu. Saat tertangkap basah menatap seseorang, pasti orang itu berpikir jika Selir Tang merasa tertarik untuk menilai sesuatu. Sebagai orang baru dirinya bisa dengan mudah menghindari tuduhan.


Setelah selesai makan malam, Fang Yin mengumumkan hal yang penting pada para hadirin. Besok dirinya akan pergi berburu bersama Jian Heng ke Hutan Bintang Selatan. Berita ini terdengar mengejutkan bagi keluarga besarnya mengingat sebelumnya dia tidak menyinggung tentang masalah ini.


Shi Han Wu dan Tian Feng saling berpandangan. Mereka curiga jika Fang Yin mengatur sebuah rencana di balik kepergiannya untuk berburu. Namun, di hadapan semua orang, mereka tidak mungkin membeberkan hal pribadi yang bersifat rahasia.


Semua orang bersorak dan mendukung pernyataan dari Fang Yin. Berkecimpung dalam pemerintahan tentu saja membuat mereka merasa penat. Terlebih lagi sebelum ini keduanya hidup bebas di alam terbuka dengan segala keindahannya.


Kesepakatan pun diambil secara sepihak mengingat tidak ada yang berani untuk melawannya.


Selir Shi tampak sedih. Setelah mendengar pengumuman dari Fang Yin dia merasa jika dirinya akan kehilangan putrinya dalam waktu yang cukup lama. Belum lama mereka berkumpul bersama setelah terpisah bertahun-tahun.


'Aku merasa ada yang janggal dengan sikap Yin'er malam ini. Seperti dia menyembunyikan sesuatu dari ku. Tidak biasanya dia begitu, kurasa dia sedang dalam tekanan seseorang.' Selir Shi berpikir dan berusaha menemukan jawaban.


Selir Tang berhasil mengingat dua wajah yang ditemukan di ruang perjamuan. Luka itu terlihat berbeda dengan luka biasa pada umumnya karena tombak sakti miliknya bergerak dengan pola tertentu. Pada sayatan di wajah dan lengannya, bisa langsung dikenali olehnya.


Satu demi satu peserta makan malam pergi meninggalkan ruangan. Fang Yin menunggu hingga di ruangan itu hanya tersisa keluarganya saja. Dia ingin menenangkan ibunya yang sudah tampak gelisah seusai mendengar ucapannya.


'Ibu dan nenek pasti merasa syok setelah mendengar pengumuman dariku.' gumam Fang Yin dalam hati.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2