
Qing Yu tidak ingin membuat Tian Feng menunggunya terlalu lama. Selesai dengan urusannya, dia bergegas menuju ke tempat Tian Feng duduk seorang diri di sebuah bangku.
Saat Qing Yu datang, Tian Feng sedang menikmati makanan dan minuman hangat. Udara di wilayah perbatasan barat cukup dingin mengingat wilayah ini adalah pegunungan. Meskipun hari telah siang tetapi masih terasa dingin.
"Qing Yu memberi hormat, Tuan." Kedua tangan Qing Yu menyatu memberi hormat pada Tian Feng.
"Duduklah!" seru Tian Feng.
Qing Yu segera melakukan perintah Tian Feng. Dia mengambil tempat duduk tepat di hadapannya.
Ada beberapa gelas kosong di atas nampan. Tian Feng mengambil sebuah lalu menuangkan minuman ke dalamnya. Setelah penuh, dia memberikannya pada Qing Yu. Dia tidak memandang status Qing Yu yang lebih rendah darinya.
"Minumlah! Aku menambahkan sedikit esensi tanaman spiritual di dalam tehnya." Tian Feng mempersilakan Qing Yu untuk meminum tehnya sambil mengangkat gelasnya.
"Terimakasih, Tuan. Aroma minuman ini memiliki wangi yang khas." Qing Yu mendekatkan cangkirnya ke depan hidung sebelum menyeruputnya.
Seteguk air yang diminum Qing Yu mengalir hangat di tenggorokannya. Selain rasa hangat ada juga sensasi dingin ketika minuman itu menyentuh lambung. Sepertinya minuman ini memang bukan sekedar minuman hangat biasa.
Tian Feng menatap Qing Yu seolah menunggu pendapatnya tentang seperti apa rasa minuman yang diberikannya.
Paham akan hal itu, Qing Yu segera mengatakan apa yang dirasakannya. Menurutnya minuman ini sangat baik untuk kesehatan, terlebih lagi dalam masa pemulihan setelah mengalami sakit atau cedera. Apa yang dikatakan oleh Qing Yu dibenarkan oleh Tian Feng karena memang itu tujuan dibuatnya minuman ini.
Tidak cukup satu gelas saja, Qing Yu habis 3 gelas saat minum bersama Tian Feng. Tubuhnya menjadi hangat dan penuh vitalitas setelah mengkonsumsi teh itu. Hampir saja Tian Feng melupakan tujuan utamanya memanggil Qing Yu ke sana.
"Sebenarnya aku mengundangmu ke sini bukan hanya sekedar untuk meminum teh tetapi aku memiliki tujuan lain. Ada hal penting yang ingin aku beritahukan padamu. Semoga saja apa yang akan aku lakukan nanti bisa berguna untuk penduduk di perbatasan barat." Tian Feng memasang wajahnya yang serius.
Qing Yu juga terlihat serius menanggapi ucapan Tian Feng. Syarat matanya tajam lurus menetap ke depan, bersiap mendengarkan kelanjutan ucapan Tian Feng.
"Saya siap mendengarkan titah, Tuan Feng." Ucapan Qing Yu penuh kemantapan.
Tian Feng mengangguk pelan.
"Banyak hal yang akan aku lakukan setelah ini karena ternyata wilayah ini memiliki banyak sekali potensi yang bisa digali lebih dalam lagi. Aku sangat yakin negara bagian perbatasan barat akan menjadi sangat maju kelak di kemudian hari. Untuk kelanjutannya aku akan membicarakan masalah ini dengan Yin'er." Tian Feng mengatakan rencananya pada Qing Yu.
"Kami menantikan waktu itu tiba. Penduduk perbatasan barat memang sangat minim pengetahuan. Posisi wilayah yang berada di pegunungan dan sedikit terisolir membuat mereka sulit untuk membaur dengan masyarakat luas di Benua Timur. Penduduk kami juga memiliki sifat tertutup dan sulit untuk berkomunikasi dengan orang yang baru mereka kenal. Mungkin dengan adanya perbedaan dari istana jalan pemikiran mereka akan terbuka lebar dan bisa berkembang." Qing Yu terlihat sangat gembira menyambut rencana dari Tian Feng.
Semuanya berjalan seperti yang diharapkan. Tian Feng merasa senang dengan jawaban dari Qing Yu. Setelah ini, dia akan membicarakan mengenai masalah ini kepada Fang Yin dan mencari cara untuk mengoptimalkan potensi di wilayah perbatasan barat.
"Bersiaplah! Sebelum kedatangan tim dari istana aku harap kamu sudah memberitahukan masalah ini kepada masyarakat wilayah perbatasan darat."
Qing Yu menyatukan kedua tangannya sambil mengangguk pasti.
"Perintah dari Tuan akan segera saya laksanakan." Qing Yu masih dalam posisinya hingga Tian Feng melambaikan tangannya untuk memberi isyarat sebagai jawaban atas penghormatannya.
Siang ini juga Tian Feng dan seluruh pasukannya akan kembali ke istana. Tugas mereka sudah selesai dan tidak ada lagi yang perlu dilakukan di wilayah perbatasan barat. Setelah ini mereka juga masih memiliki agenda lain yang harus mereka kerjakan.
Jika kedatangan pasukan Tian Feng membawa begitu banyak barang, kini kepergian mereka terasa sangat ringan karena hanya membawa diri mereka sendiri. Kereta barang kembali ke istana dalam keadaan kosong. Namun, waktu tempuh tentu tetap saja akan sama dengan waktu keberangkatan mereka.
Tian Feng berjalan menuju ke tempat peristirahatan para pasukan yang berada di belakang istana. Pasukan yang mengalami luka-luka telah mulai pulih. Tidak ada yang menderita luka parah dari pasukan Tian Feng.
Mereka tidak tahu akan kedatangan pemimpin mereka yang tiba-tiba. Ketika Tian Feng tiba mereka sedang bersantai. Ada yang berbaring, ada pula yang duduk sambil mengobrol bersama teman-temannya.
Para pasukan itu segera bersikap siaga. Mereka tidak ingin terlihat santai di depan pemimpin mereka meskipun hal itu tidak dipermasalahkan karena mereka tidak sedang bertugas. Pertempuran terakhir, sudah sewajarnya mereka beristirahat untuk pemulihan tenaga.
"Tenanglah! Kalian bisa kembali beristirahat sebelum waktu keberangkatan tiba. Kita akan kembali ke istana setelah matahari mulai bergulir ke ufuk barat." Setelah mengatakan itu Tian Feng berbalik lalu pergi meninggalkan tempat peristirahatan para pasukan.
Keberadaannya di sana hanya akan membuat mereka merasa sungkan untuk itu dia lebih memilih pergi dari sana segera mungkin.
Para pasukan merasa lekat karena mereka pikir ada masalah penting yang akan dibicarakan dengan mereka. Namun, ternyata bukan mereka salah dan mereka pun akhirnya kembali bersantai untuk sementara waktu. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan istirahat yang diberikan, mereka pun segera mengambil posisi untuk berbaring sebelum melakukan perjalanan yang lumayan jauh.
Mendekati tengah hari pasukan sudah harus mulai bersiap dan berkemas. Barang-barang pribadi dan kelengkapan atribut ke prajuritan tidak boleh ada yang tertinggal di sana.
***
Di istana Kekaisaran Benua Timur,
Jian Heng bekerja hampir menghabiskan sepanjang waktunya untuk membenahi banyak hal sedangkan Fang Yin terlihat lebih santai. Sesekali dia membantu Jian Heng di ruang kerja tetapi seringkali dia bertindak langsung berkeliling istana untuk mencari sesuatu yang perlu untuk dibenahi.
Banyak sekali bagian-bagian istana yang diubah oleh Fang Yin. Dia mengembalikan semuanya seperti keadaan di dalam ingatannya di masa lalu meskipun ada sebagian yang dirubahnya agar terlihat lebih modern. Hanya posisinya saja yang dipertahankan seperti sedia kala sedangkan untuk bangunannya diperbarui dengan gaya klasik modern.
Mungkin bagi masyarakat pada zaman ini gambaran yang diberikannya terlihat sangat aneh tetapi mereka juga merasa jika ini adalah hal yang luar biasa. Belum ada kerajaan lain yang memiliki desain bangunan seperti yang digambarkan oleh Fang Yin.
Saat ini Fang Yin tengah berada di ruang pembuatan mebel.
"Yang Mulia, semua barang yang telah dikirim dari negara bagian Selatan telah kami periksa. Apakah kami sudah bisa memulai pekerjaan untuk mengukirnya sesuai dengan pola gambar yang Anda berikan?" tanya salah seorang pegawai istana yang dipekerjakan oleh Fang Yin.
Fang Yin yang sebelumnya sedang memeriksa kelengkapan bahan-bahan yang dibutuhkan berbalik menoleh ke arah pria itu.
__ADS_1
"Tentu saja. Berhati-hatilah dalam mengerjakannya karena kita sulit mendapatkan bahan-bahan ini," ucap Fang Yin dengan nada yang cukup santai.
"Baik, Yang Mulia." Pria itu membungkuk penuh hormat.
Merasa jika semuanya sudah berjalan seperti keinginannya, Fang Yin tidak ingin berlama-lama di sana dan memilih untuk pergi meninggalkan ruangan itu.
Orang-orang yang bekerja di sana menunduk ketika dia melewatinya. Mereka adalah orang-orang baru yang diambil dari masyarakat di sekitar istana. Beberapa diantaranya bekerja di istana bersama keluarganya. Tidak heran jika banyak anak-anak kecil yang berkeliaran di sekitar taman. Mereka bermain sesuka hati tanpa peduli keadaan di sekelilingnya.
Fang Yin tidak melarang mereka bermain dan justru malah senang dengan kegaduhan yang mereka ciptakan. Dia merasa jika istana itu terkesan lebih hidup karena pada dasarnya dia sangat menyukai anak-anak. Seperti saat ini saat dia berjalan menuju ke istananya dia pun melewati anak-anak yang sedang bermain.
Anak-anak itu menyapa Fang Yin dengan sopan. Tidak ada ketakutan di wajah mereka karena selama ini Fang Yin memperlakukan mereka dengan baik.
"Apakah kalian ingin gula-gula?" tanya Fang Yin ketika mereka sudah di dekat anak-anak.
"Mau, Yang Mulia!"
"Mau!"
"Mau!"
Anak-anak berteriak sahut menyahut menanggapi ucapan Fang Yin.
Fang Yin tersenyum melihat wajah-wajah ceria mereka. Sedikit kebaikan yang dia berikan telah mampu membuat hati mereka menjadi gembira.
"Baiklah! Mari ikut denganku!" Fang Yin mengajak mereka pergi ke istananya.
Di sepanjang perjalanannya mereka bertemu dengan pelayan yang sedang melintas. Pemandangan ini tidak membuat mereka heran karena bukan pertama kalinya bagi Fang Yin mengajak anak-anak untuk bermain. Terkadang dia membawa anak-anak ke taman dan menceritakan dongeng yang berisi pesan moral kebaikan.
Beberapa anak berlari mendahului Fang Yin. Mereka terlihat tidak sabar untuk menikmati gula-gula yang dijanjikan olehnya. Langkah mereka terhenti ketika telah sampai di depan istana dan melihat para penjaga yang tidak juga membukakan jalan untuk mereka.
"Biarkan mereka masuk," ucap Fang Yin ketika dia telah sampai di depan istananya.
"Baik, Yang Mulia." Penjaga istana sekarang membukakan jalan untuk mereka.
Kali ini anak-anak tidak berani berjalan mendahului Fang Yin. Mereka merasa segan pada penjaga yang terlihat seram dengan wajahnya yang tegang. Anak-anak itu berbaris tapi mengikuti langkah Fang Yin hingga mereka sampai di taman istana kekaisaran.
"Kalian tunggu di sini! Aku akan segera kembali. Kalian bisa bermain sesuka hati tidak ada yang perlu ditakutkan." Fang Yin tersenyum lalu pergi berbalik menuju ke istananya.
Pelayan pribadinya menyambut kedatangannya. Mereka membungkuk menunggu perintah darinya.
Untuk saat ini Fang Yin belum membutuhkan bantuan mereka karena dia hanya kita untuk mengerti gula-gula dan manisan yang dia simpan di ruangannya. Ibunya sering mengirim makanan manis untuknya sehingga menumpuk begitu banyak. Jian Heng sendiri tidak menyukai makanan manis.
Pelayannya masih berdiri di depan pintu ruangannya. Mereka tetap menunggu perintah darinya. Namun, Fang Yin kembali pergi meninggalkan mereka tanpa memberi perintah apapun.
Anak-anak yang semula sedang asik bermain, berhenti dan segera berkumpul ketika melihat kedatangan Fang Yin. Mereka berdiri berdesak-desakan di sebuah tempat yang biasa digunakan oleh Fang Yin untuk duduk dan bermain bersama anak-anak itu.
"Kalian terlihat begitu manis. Jangan berebut, aku akan membaginya dengan adil." Fang Yin meletakkan beberapa kotak di atas sebuah batu lalu membuka kotak yang berada di tangannya.
Aroma wangi manisan dan gula-gula membuat anak-anak itu berteriak kegirangan. Mereka tidak lagi berdesak-desakan dan terlihat lebih tenang menunggu giliran mereka mendapat bagian.
"Bagi yang sudah menerima bagian, jangan terburu-buru untuk dimakan. Kita tunggu yang lain mendapatkannya juga baru setelah itu kita makan bersama-sama," ucap Fang Yin.
Dia berkata demikian karena sebelumnya memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan, di mana anak yang mendapatkan bagian lebih awal telah menghabiskan gula-gula miliknya. Saat melihat teman-temannya masih memakan gula-gula, dia menangis karena sudah tidak memilikinya lagi.
"Baik, Yang Mulia!" jawab mereka serempak.
Anak-anak berdiri mengelilingi Fang Yin dengan dua telapak tangan membuka ke atas dan disatukan. Fang Yin bisa membaginya dengan adil karena bisa melihat jumlah manisan dan gula-gula yang ada di tangan mereka.
Fang Yin tersenyum saat melihat beberapa anak yang kedapatan menelan ludahnya sambil terus menatap gula-gula di tangannya.
"Sekarang kalian boleh memakainya. Eits! Tapi sambil duduk. Kita harus bersikap sopan saat makan. Tidak boleh berdiri atau bahkan malah berjalan dan berlarian." Fang Yin memberikan nasehat sambil menggerakkan jari telunjuk tangan kanannya ke kanan dan ke kiri.
"Baik, Yang Mulia."
Anak-anak itu segera melakukan perintah Fang Yin. Mereka sangat patuh. Terkadang Fang Yin masih menunjukkan sisi tegas meskipun lebih banyak ramah terhadap anak-anak.
Siang itu, Jian Heng datang ke istana untuk mengambil beberapa barang miliknya yang dia butuhkan untuk menunjang pekerjaannya. Dari kejauhan dia melihat Fang Yin dan anak-anak sedang duduk di taman. Diam-diam dia pun memperlihatkan mereka dari tempat yang tersembunyi.
Jian Heng tidak menyangka jika gadis galak yang dia temui beberapa tahun lalu kini bisa bisa bersikap lembut dan menyayangi anak-anak.
'Aku akan merasa sangat menyesal jika tidak bisa mendapatkanmu, Yin'er.' Tanpa sadar Jian Heng tersenyum sambil melamun menatap ke arah Fang Yin.
Jika bukan karena mendengar suara tawa anak-anak yang begitu keras mungkin hingga saat ini dia masih larut dalam lamunannya. Setelah tersadar Jian Heng segera berjalan menghampiri Fang Yin dan anak-anak. Kedatangannya sedikit mengejutkan tetapi ada seorang anak yang melihatnya dan berteriak untuk memberitahu yang lainnya.
"Yang Mulia Kaisar datang!" teriak salah seorang anak membuat yang lainnya menoleh ke arah yang ditunjuknya.
Mereka merasa segan pada Jian Heng dan segera beranjak dari duduknya. Anak-anak bersembunyi di belakang panggung Fang Yin.
__ADS_1
"Tidak perlu takut. Yang Mulia Kaisar sama baiknya dengan ku, bahkan beliau memiliki sifat yang lebih lembut." Fang Yin merasa lucu saat melihat tingkah anak-anak itu.
Selama ini dalam beberapa kali kebersamaan mereka, Jian Heng tidak pernah muncul. Ini kali pertama mereka bertemu dan melihatnya dari dekat pemimpin tertinggi di negara itu.
Jian Heng menahan tawa mendengar ucapan Fang Yin. Demi menjaga kewibawaannya dia harus rela untuk menahan diri. Meskipun sangat ingin bersendau gurau bersama mereka tetapi dia harus ingat batasannya.
"Apa yang dikatakan permaisuri ku benar. Kalian tidak perlu takut padaku. Aku bukan kaisar kejam yang suka marah-marah pada anak kecil semanis kalian." Jian Heng tersenyum penuh arti.
Fang Yin masih duduk di atas sebuah batu dan Jian Heng menyusulnya ke sana.
Anak-anak kembali ke posisi mereka sebelumnya setelah mendengar penjelasan Jian Heng. Mereka memberi hormat tanpa di komando.
"Kalian boleh bermain di sini selama yang kalian mau. Aku akan pergi untuk menemani Yang Mulia sebentar," pamit Fang Yin pada anak-anak.
Meskipun tidak memintanya, dia tahu jika Jian Heng sangat ingin dia temani untuk pergi ke istananya.
"Baik, Yang Mulia."
Anak-anak itu kembali bermain tanpa mempedulikan keberadaan Fang Yin dan Jian Heng. Dunia mereka sangat berbeda dengan dunia orang dewasa yang penuh intrik dan permasalahan. Saat ini yang mereka tahu hanya bermain dan bersenang-senang bersama teman-temannya.
Jian Heng dan Fang Yin berjalan beriringan menuju ke istana yang berada tidak jauh dari tempat di mana mereka duduk sebelumnya.
Meskipun setiap hari bersama tetapi Jian Heng merasa masih baru bersama Fang Yin. Sesekali dia melirik ke arah istrinya itu dan menatapnya penuh kerinduan. Rasanya begitu sulit untuk berjauhan dengannya.
Fang Yin terlihat lebih acuh dan kurang peka. Sikap polosnya dalam kehidupan percintaan membuatnya kurang memahami kode-kode yang diberikan oleh Jian Heng. Dia baru mengerti saat suaminya berterus-terang. Seperti juga siang ini, dia tidak akan mengerti hanya dengan melihat sikap berbeda dari suaminya.
"Kak Heng, apakah kamu datang untuk sesuatu hal yang penting?" tanya Fang Yin tanpa basa-basi.
Gleg! Jian Heng menelan ludahnya. Dia sudah menduga jika Fang Yin pasti akan bertanya seperti itu. Dalam hati dia merasa gemas tetapi dia tahan. Setidaknya harus bersabar sampai mereka tiba di ruangan pribadi.
"Tentu saja. Buka cuma urusan pemerintahan. Semua tentangmu juga sangat penting, bahkan lebih penting dari semua yang ada di dunia ini," jawab Jian Heng sedikit mengandung rayuan untuk Fang Yin.
"Aku akan membiasakan diri dengan ucapan manismu yang membuat aku lupa jika ini masih siang." Kata-kata Fang Yin meluncur begitu saja, setelah mengucapkannya dia baru menyadari sesuatu jika ucapan itu tentu akan mengundang maksud lain bagi Jian Heng.
Jian Heng yang berjalan lebih awal dari Fang Yin berhenti sejenak untuk menatapnya. Dia tidak mengatakan apa-apa melainkan hanya tersenyum. Kemudian dia kembali berjalan menuju ke ruangan mereka.
Saat mereka bertatapan, Fang Yin pun tidak sanggup mengeluarkan kata-kata. Pipinya terlihat memerah dan sulit untuk menyembunyikan kegugupannya. Meskipun sudah sah menjadi suami istri keduanya masih terlihat canggung antara satu sama lain.
Mereka telah sampai di ruang peristirahatan dan segera memasukinya. Sebenarnya tugas Jian Heng hari ini tidak begitu banyak, tinggal satu pekerjaan saja yang harus diselesaikan. Oleh karena itu, dia bisa sedikit bersantai bersama Fang Yin.
Keduanya kemudian duduk di depan sebuah meja. Di atas meja itu tersedia minuman yang selalu penuh dengan beberapa jenis kue tradisional dan buah.
Fang Yin segera mengambil dua buah cangkir. Satu untuknya dan satu lagi untuk Jian Heng. Minuman dingin yang manis menjadi pilihannya untuk menghilangkan dahaga di tengah hari yang terik.
Jian Heng langsung menenggak habis minuman yang diberikan oleh Fang Yin lalu berpindah tempat duduk ke sampingnya.
"Kak Heng!" Fang Yin terkejut ketika Jian Heng tiba-tiba memeluknya.
"Jangan menolakku! Aku sangat merindukanmu." Suara Jian Heng bergetar dan terdengar berat.
Tanpa aba-aba dia kembali melakukan hal yang mengejutkan pada Fang Yin. Jian Heng mengangkat tubuh Fang Yin ke atas tempat tidur.
Seperti terkena sihir, Fang Yin tidak berontak atau menolaknya sama sekali. Kedua mata mereka saling bertemu dan terus memandang satu sama lain. Meskipun suasana sepi, mereka seperti mendengarkan melodi cinta yang terdengar sangat indah.
"Kamu sangat cantik, Yin'er. Aku ingin segera memiliki keturunan darimu. Maafkan aku jika membuatmu lelah. Kita harus berusaha keras untuk itu." Jian Heng memulai ritual pribadinya.
Fang Yin hanya mengangguk pasrah. Sebagai wanita yang telah menikah, dia tentunya juga ingin segera mengandung dan memiliki anak. Jiwa keibuannya telah muncul dan sering kali menuntunnya untuk menyukai anak-anak yang berada di sekitarnya.
Tidak ada yang bisa mengganggu keduanya karena Jian Heng membuat batas pelindung di sekitar ruangan itu. Mereka bisa mendengar dan mengetahui keadaan di luar tetapi sebaliknya, orang-orang yang berada di luar tidak bisa mengetahui apa yang terjadi di dalam batas pelindung.
Perpaduan esensi energi dari Fang Yin dan Jian Heng terkumpul setiap kali mereka melakukan hubungan suami istri. Namun, hingga detik ini mereka tidak tahu jika selamanya Fang Yin tidak akan bisa mengandung. Mereka tidak tahu jika bayi mereka tidak mengalami proses kehamilan seperti manusia kebanyakan.
"Kak Heng, hingga saat ini aku belum merasakan tanda-tanda akan memiliki seorang anak. Maaf jika aku membuatmu kecewa." Wajah Fang Yin terlihat murung saat mengatakan itu.
Tangan Jian Heng meraih tubuhnya ke dalam pelukan. Sebuah kecupan mendarat lembut di kening Fang Yin. Beberapa kali ujung jarinya bergerak menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Fang Yin.
"Aku tidak akan pernah kecewa. Kamu sangat berharga untukku bahkan lebih dari nyawaku. Jangan bersedih, kita harus berusaha lebih giat lagi untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Mengenai hasilnya, biar alam yang menjawabnya." Jian Heng berbicara lembut pada Fang Yin.
Tangan Fang Yin melingkar dileher Jian Heng. Perlahan dia mendekatkan wajahnya dan mengambil inisiatif untuk memanjakan suaminya.
"Aku juga ingin berusaha lebih keras lagi," bisik Fang Yin.
Jantung Jian Heng berdesir mendengar ucapan Fang Yin. Dia tidak menyangka jika dirinya akan menerima perlakuan ini. Fang Yin memegang kendali atas segalanya.
Di tengah aktifitas mereka, terdengar suara gaduh di luar istana. Penjaga istana sedang bercakap dengan seseorang di halaman depan dengan suara yang cukup keras. Awalnya Fang Yin dan Jian Heng tidak peduli tetapi lama-lama mereka tidak bisa berkonsentrasi.
"Huhh! Mereka sungguh membuatku merasa sangat kesal." Fang Yin beranjak lalu pergi berbenah. Dia ingin segera melihat apa yang sedang terjadi di luar.
__ADS_1
****
Bersambung ....