
Hari keberangkatan Fang Yin dan Jian Heng pun telah tiba. Sebuah kereta dengan segala perlengkapannya telah disiapkan oleh keluarganya. Ada sekitar lima belas prajurit pilihan yang mengawal mereka selama berburu ke Hutan Bintang Selatan.
Rombongan berangkat saat hari masih gelap. Fang Yin dan Jian Heng menggunakan mantel dan pakaian tertutup karena pagi itu udara sangat dingin. Seluruh keluarga besar mengiring keberangkatan mereka dan menunggu hingga benar-benar tidak terlihat.
Kereta yang dikendarai oleh Fang Yin dan Jian Heng melaju dengan kecepatan sedang. Jalanan perkotaan masih sepi ketika rombongan melintas. Lima belas orang pasukan berkuda mengiring dan terbagi mengelilingi kereta.
Penduduk yang telah beraktifitas menatap heran dan segera mengambil posisi untuk memberi hormat saat tahu jika kaisar mereka melintas. Prajurit yang berada di barisan paling depan bertugas untuk membuka jalan ketika mereka melintasi keramaian.
Mereka mulai berhati-hati dan memperlambat laju kereta ketika memasuki wilayah di luar ibukota. Jalanan sempit pedesaaan dengan medan yang sulit membuat perjalanan sedikit melambat. Diperkirakan perjalanan akan memakan waktu sekitar sehari semalam.
Seseorang sedang mengawasi kereta yang membawa Fang Yin dan Jian Heng dari jarak yang cukup jauh. Sepertinya dia menunggu waktu yang tepat untuk menghadang mereka. Menilik dari gerak-geriknya, orang itu cukup mengerti wilayah itu dan menguasai medan yang ada disekitarnya.
Ketika matahari hampir tenggelam, penguntit berbalik arah dan mencari jalan lain agar sampai di lokasi yang ditandai lebih awal. Entah apa yang direncanakannya dan berapa orang yang terlibat di dalamnya. Dia terlihat bersemangat dan tidak ingin gagal dalam misinya kali ini.
'Aku yakin, saat matahari terbenam mereka pasti akan berhenti di titik yang sudah aku tandai. Jika tidak maka aku yang akan memaksa mereka berhenti. Kesempatan ini tidak bisa ditunda lagi sebelum kekuatan mereka kembali pulih.'
Penguntit itu sangat yakin jika dia akan berhasil untuk melumpuhkan Fang Yin dan Jian Heng. Sebelumnya dia telah mengumpulkan informasi tentang kondisi mereka. Dia tidak tahu jika kekuatan keduanya telah pulih dengan bantuan pil dari Tian Feng dan Shi Jun Hui.
Derap langkah kuda penguntit tersamarkan oleh derap langkah kuda pasukan dalam rombongan Fang Yin. Mereka tidak tahu jika seseorang telah membuat rencana penyergapan. Rombongan terus bergerak menuju ke Hutan Bintang Selatan tanpa kecurigaan. Saat ini mereka telah mencapai lebih dari separuh perjalanan dan sedang melintas di wilayah perbukitan.
Sinar matahari mulai meredup dan malam sebentar lagi akan turun. Lima orang bandit melompat dari sisi kanan dan kiri pepohonan untuk menghadang. Prajurit segera bersikap waspada dan menghalau mereka dengan senjata. Pertarungan pun tidak bisa terhindarkan lagi.
Kemampuan prajurit tidak sebanding dengan kekuatan lawan. Meskipun mereka berusaha keras tetapi tidak mampu mengalahkan kelima bandit yang menghadang. Hampir separuh dari mereka mengalami luka-luka hingga memaksa Fang Yin dan Jian Heng keluar.
Para prajurit merasa tenang. Mereka bergerak mundur ke tempat yang aman dan memberi ruang untuk pemimpin mereka. Namun, prajurit-prajurit itu merasa aneh dengan penampilan pemimpin mereka yang tertutup.
Dua anggota bandit yang menghadang merupakan dua orang penyusup yang tertangkap basah oleh Selir Tang. Mereka menyerang dengan sengit ke arah Fang Yin dan Jian Heng. Berbeda dengan ketika menghadapi para prajurit, bandit mengeluarkan seluruh kemampuannya saat menghadapi mereka.
Fang Yin mengeluarkan sebuah tombak dan membelahnya menjadi tiga bagian. Dua orang sisanya diserahkan pada Jian Heng.
Dua bandit yang terluka oleh tombak yang sama dengan yang dikeluarkan oleh Fang Yin terperanjat saat melihatnya. Awalnya mereka terkesiap saat tahu jika orang yang menyerangnya beberapa malam yang lalu adalah orang yang mereka incar. Kekalahan sebelumnya membuat mereka bersemangat dan tidak ingin merasa gagal lagi dalam penyerangan kali ini.
"Siapa kalian sebenarnya? Aura energi yang kalian keluarkan bukanlah milik Dewi Naga dan Kaisar Heng!" seru seorang pria yang baru muncul dari belakang lima bandit.
Pria itu adalah orang yang sebelumnya telah mengikuti mereka dari awal keberangkatan. Sama halnya seperti yang lain, dia juga mengenakan penutup wajah sehingga tidak mudah untuk dikenali.
"Syukurlah kamu sudah tahu jadi aku tidak perlu berpura-pura lagi," ucap Selir Tang sambil membuka penutup wajahnya.
Pria itu terperanjat saat melihat orang yang berdiri di hadapannya. Dia tidak menyangka jika Selir Tang telah memalsukan kepergian Fang Yin untuk menjebak nya. Terpaksa dia harus memercikkan permusuhan dengan Kekaisaran Benua Tengah jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Selir Tang.
Orang yang bersama dengan Selir Tang juga membuka identitasnya. Dia adalah Xi Changyi yang baru datang semalam. Wajah dan postur tubuhnya yang sangat mirip dengan Jian Heng membuatnya tidak begitu kentara saat menyamar.
"Apa tujuanmu menghadang perjalanan kami? Bukankah kalian adalah anggota dewan pemerintahan Kekaisaran Benua Timur?" Selir Tang tidak ingin berbasa-basi karena telah berhasil mengantongi identitas dua orang bandit yang ada di hadapannya.
Air muka para bandit berubah seketika. Mereka tidak menyangka jika sepak terjangnya telah diketahui oleh Selir Tang yang tentunya juga anggota keluarga Fang Yin. Selain menyinggung Kekaisaran Benua Tengah kini mereka tidak akan memiliki tempat lagi di Benua Timur.
"Sejak kapan kamu tahu tentang identitas kami? Bagaimana mungkin kalian bisa tahu? Sial!" seru pemimpin bandit yang baru datang diakhir.
"Itu bukan urusanmu! Sekarang kamu adalah musuh kami dan tidak akan kami biarkan masuk kembali ke dalam istana." Selir Tang kembali bersiap dengan serangannya.
Xi Changyi pun tidak tinggal diam, dia mulai berkonsentrasi dan bekerja sama dengan ibu sambungnya untuk menghabisi lawan-lawannya. Pertarungan mereka tidak bisa terelakkan lagi. Rupanya anggota dewan yang merupakan saudara seperguruan Huan Ran merupakan kawanan penghianat.
Beberapa waktu lalu mereka telah bergabung dengan Sekte Iblis Bulan Bawah. Belum diketahui secara jelas apa tujuan mereka menyerang Fang Yin tetapi Selir Tang sangat yakin jika mereka mengincar calon bayi Fang Yin. Di dalam kalender iblis, mereka bisa meramalkan akan keturunan Dewi Naga dan mengubahnya menjadi jahat. Dengan berpihaknya keturunan Dewi Naga di kubu mereka maka akan mudah bagi Sekte untuk menguasai dunia.
Selir Tang dan Xi Changyi tidak gentar untuk menghadapi lawan mereka. Sebelum berangkat pasukan tambahan yang berada di bawah kepemimpinan Shi Han Wu juga akan datang menyusul. Mereka yakin akan datang sebentar lagi.
Kekuatan anggota Sekte Iblis Bulan Bawah tidak bisa dianggap enteng. Mereka mampu mengimbangi serangan dari Selir Tang dan Xi Changyi. Keduanya terlihat kelelahan menghadapi dari ke-enam lawan mereka.
"Ibu! Kau terluka!" pekik Xi Changyi saat sebuah serangan melesat dan mengenai lengan kiri Selir Tang.
Kepanikan Xi Changyi membuatnya menjadi lengah. Hampir saja dia terkena serangan jika tidak diselamatkan oleh Selir Tang. Keduanya kini melompat ke tempat yang lebih tinggi.
"Kamu halau serangan mereka! Aku butuh waktu dua menit untuk mempersiapkan seranganku." Selir Tang meminta Xi Changyi untuk melindunginya selama bersiap.
Kali ini, Selir Tang akan mengendalikan awan dan hujan untuk membentuk badai. Serangan jarak dekan membuatnya kian terdesak. Dia harus mengandalkan kekuatannya sendiri meskipun bala bantuan sedang menuju ke sana.
****
Di tempat lain,
Fang Yin dan Jian Heng bisa menikmati perjalanannya tanpa ketahuan. Keduanya keluar dari istana dengan pakaian prajurit sehingga tidak ada yang mengenalinya. Selain keluarganya tidak ada yang tahu jika keduanya telah keluar dari istana sesaat setelah keberangkatan Selir Tang dan rombongan.
Perjalanan menuju ke Pegunungan Merah telah mencapai separuh perjalanan. Mereka memutuskan untuk beristirahat di sebuah desa kecil dan terpencil ketika malam tiba. Hanya mereka berdua yang tahu tempat tujuan mereka akan kemana.
"Yin'er! Sebaiknya kita beristirahat di sini. Semoga saja salah seorang penduduk bersedia memberi kita tumpangan untuk semalam."
Jian Heng membawa Fang Yin turun dari atas pohon. Sebelumnya mereka melakukan perjalanan udara. Kuda dan baju prajurit yang mereka kenakan ditinggalkan di dekat perbatasan ibukota. Kemungkinan besar kuda-kuda itu kembali ke istana tanpa seorang joki.
"Semoga saja. Apakah pakaianku sudah terlihat seperti orang biasa." Fang Yin dan Jian Heng berpenampilan sederhana dalam penyamarannya.
Jian Heng mengangguk.
Mereka tidak bisa menunjukkan identitas yang sebenarnya. Sebisa mungkin jangan sampai ada yang tahu tentang siapa mereka sebenarnya. Mungkin sebentar lagi, keberadaan mereka akan dicari oleh para pemburu kekuatan.
Desa kecil itu masih cukup ramai meskipun berada di wilayah terpencil. Beberapa orang masih berkeliaran di luar rumah meskipun hari sudah malam. Namun, Fang Yin dan Jian Heng tidak lantas terburu-buru mendekat.
Setiap desa pasti memiliki aturan dan kebiasaan. Sebelum tahu bagaimana tanggapan mereka pada orang baru, Jian Heng meminta Fang Yin untuk tidak tergesa-gesa mendekat. Dia ingin mendekat terlebih dulu dan baru memanggilnya ketika sudah memastikan semuanya menjadi aman.
"Tunggu di sini saja! Aku akan segera kembali." Jian Heng mengusap punggung Fang Yin dengan lembut sebelum pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Jangan lama-lama!"
Fang Yin terlihat seperti seorang anak kecil yang membutuhkan perlindungan.
Jian Heng mengangguk lalu berjalan memunggunginya menuju ke arah seseorang yang sedang berbincang di hadapannya. Mereka berbicara dengan aksen yang sedikit berbeda dengan logat orang-orang yang tinggal di perkotaan. Tidak akan mudah baginya untuk menirukan logat itu dan terlihat seperti masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
"Selamat malam!" sapa Jian Heng setelah sampai di hadapan mereka.
Orang-orang itu menoleh secara bersamaan ke arah Jian Heng karena tidak melihat kehadirannya. Penerangan di desa sangat buruk. Kedua orang itu masing-masing membawa lentera kecil yang selalu dipegang untuk menerangi jalan yang mereka lalui.
"Selamat malam. Siapakah Anda, Tuan? Mengapa malam-malam datang ke desa ini?" tanya salah satu dari mereka.
"Maaf, kami sedang dalam perjalanan dan ingin menumpang untuk beristirahat sebentar di desa ini. Apakah kalian bisa membantuku mencarikan tempat untuk menginap malam ini?" tanya Jian Heng dengan sopan.
Orang-orang itu mengangguk dengan cepat.
"Mari ikut kami!" seru salah satu di antara mereka.
Jian Heng sedikit heran karena mereka membiarkan orang baru masuk ke desanya tanpa banyak ditanya. Namun, semua keraguannya segera ditepisnya. Mungkin mereka memang orang-orang yang sangat baik.
"Terimakasih. Tunggu sebentar, aku akan memanggil adikku!" Jian Heng tidak ingin semua orang tahu jika mereka adalah pasangan suami istri.
Dari jaraknya yang sekarang, Fang Yin bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan olehnya. Dalam hati dia tersenyum geli dengan spontanitas Jian Heng.
'Kak Heng terlihat sangat menggemaskan. Aku tidak menyangka jika dia memiliki ide seperti ini.' Senyum Fang Yin tersungging di bibirnya.
Tanpa menunggu dipanggil oleh suaminya, Fang Yin berjalan mendekat menyusul Jian Heng dan dua orang asing.
"Apakah kalian hanya berdua saja?" tanya sala seorang penduduk desa.
"Benar. Bolehkah kami menginap di desa ini?" ulang Jian Heng.
"Hmm." Dua penduduk desa kembali mengangguk.
Mereka berjalan untuk memimpin dan membawa Fang Yin dan Jian Heng ke suatu tempat. Tidak begitu jelas seperti apa keadaan di sekeliling mereka karena malam begitu pekat. Lentera yang mereka bawa hanya mampu menerangi pada jarak pandang yang terbatas.
'Kedua orang ini menerima kehadiran tamu asing tanpa banyak bertanya. Aku tidak tahu apakah ini wujud kebaikan mereka atau sebuah kamuflase.' Jian Heng tetap waspada meskipun penduduk desa yang membawanya tidak terlihat membahayakan.
Sama halnya dengan Jian Heng, Fang Yin pun berpikir jika penduduk desa ini sangat mencurigakan. Mereka tidak bertanya asal-usul dan tujuan mereka sebelum membawanya untuk bertamu. Namun, dia berusaha untuk berpikir positif dan bersiap menghadapi segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.
Dua penduduk desa membawa mereka ke sebuah tempat yang mirip sebuah rumah sederhana. Bentuknya sangat khas dengan dinding dan atap yang terbuat dari bahan-bahan sederhana yang diolah dari perdu hutan. Rumah berbentuk kerucut itu cukup luas tetapi di dalamnya tidak banyak perabot.
Di tengah ruangan terdapat perapian besar yang mampu menerangi ke seluruh penjuru ruangan. Lantai di rumah itu terbuat dari batu alam yang disusun sedemikian rupa. Tidak ada tempat tidur atau sekedar bale-bale untuk berbaring.
"Silakan beristirahat! Kami akan kembali untuk membawakan makanan," ucap salah seorang penduduk desa mewakili yang lainnya.
Penduduk desa membalas penghormatan Jian Heng lalu pergi berlalu dari tempat itu. Mereka menutup pintu kecil yang menjadi satu-satunya akses keluar masuk ruangan.
Fang Yin berjalan mengelilingi ruangan untuk melihat-lihat. Telapak tangan kirinya menyentuh dinding ruangan dan hal yang tidak terduga pun terjadi. Tubuhnya terdorong dan terhempas ke samping. Beruntung Jian Heng begitu sigap dan langsung menangkapnya.
"Kak Heng, saat ini kita telah dikurung di dalam ruangan ini. Pada dinding pondok terdapat lapisan energi yang sangat kuat. Kita harus segera keluar dengan perpindahan lintas dimensi!"
Fang Yin terlihat panik saat tahu jika sedang dikurung oleh penduduk desa yang membawa mereka.
"Tenanglah! Desa ini masih dalam wilayah Benua Timur. Kita adalah penguasa. Apa yang kita takutkan?"
Fang Yin menepuk keningnya saat mendengar ucapan Jian Heng. Terkadang suaminya itu bisa terlihat pintar dan sesekali sangat bodoh seperti saat ini.
"Bagaimana mereka tahu kita adalah penguasa, apakah Kak Heng ingin penyamaran kita terbongkar?" ucap Fang Yin merasa gemas pada Jian Heng.
Jian Heng baru sadar jika saat ini mereka tengah menyamar. Di tengah keadaan yang genting, dia telah bersikap bodoh. Wajahnya terlihat begitu konyol saat menyadarinya.
"Kita ikuti saja permainan mereka. Aku ingin tahu apa rencana mereka."
"Baiklah! Sebaiknya kita pura-pura tidak tahu apa-apa dan bersikap biasa. Minum pil penawar racun tingkat tinggi pemberian ayah. Kita tidak tahu makanan apa yang akan mereka suguhkan untuk kita." Fang Yin memberikan sebutir pil untuk Jian Heng.
"Hmm," angguk Jian Heng.
Keduanya tidak lagi khawatir jika memakan makanan beracun setelah ini. Namun, ada kekhawatiran lain ketika memikirkan seberapa besar kekuatan lawannya. Energi yang melapisi dinding di pondok itu pun terasa sangat kuat.
Fang Yin dan Jian Heng berusaha untuk tetap tenang. Apapun yang terjadi setelah ini harus mereka hadapi dengan ksatria. Sudah cukup lama mereka tidak pergi berpetualang dan merasa tertantang dengan apa yang mereka alami di dalam perjalanan.
Fang Yin memainkan jarinya sambil duduk bersandar di bahu Jian Heng. Mereka larut dalam pikiran masing-masing dan tidak banyak bercakap. Hingga terdengar suara langkah kaki mendekat, Fang Yin baru menegakkan kepalannya.
"Ada yang datang! Jumlah mereka sekitar delapan orang," ucap Fang Yin menebak dengan instingnya.
"Tahan dirimu, Yin'er. Jangan sampai energimu bocor atau semua akan menjadi berantakan!"
Kini Jian Heng yang mengingatkan Fang Yin akan rencananya. Sebelum orang-orang itu masuk, dia segera menelan pil pemberian Fang Yin dengan cepat.
Hal yang sama pun dilakukan oleh Fang Yin. Dia juga menelan pil yang ada di tangannya. Tidak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Beberapa orang wanita muncul dengan membawa nampan berisi makanan pada sebuah wadah yang terbuat dari tembikar.
"Maaf menunggu lama. Silakan dinikmati!" ucap salah seorang wanita mewakili yang lainnya.
Ada beberapa hidangan istimewa yang disuguhkan di hadapan Fang Yin dan Jian Heng. Semuanya terlihat sangat lezat dengan aroma yang menggugah selera. Meski di tempatkan di tempat yang sederhana, kenikmatan makanan tidak berkurang.
"Kami sudah merepotkan kalian," ujar Jian Heng.
Wanita itu hanya tersenyum. Tiga orang wanita yang berada dibelakangnya pun tampak sangat antusias ketika menatap Jian Heng. Sangat jelas sekali kalau mereka memiliki ketertarikan secara khusus padanya.
__ADS_1
Gelagat ini pun terendus oleh Fang Yin. Wanita-wanita yang ada di hadapannya tidak segera pergi dari hadapannya dan terus memandangi suaminya seperti seseorang yang haus akan kasih sayang. Pakaian mereka yang mencolok dan sedikit terbuka tidak akan membuat Jian Heng tertarik padanya.
"Kami tidak bisa makan jika kalian terus menatap kami seperti itu," ketus Fang Yin.
Para wanita itu sontak memutar pandangan dan beralih ke arahnya. Mereka terlihat tidak suka padanya dan tidak menanggapi ucapannya.
Suitt!
Terdengar seorang pria yang berdiri di luar pintu memberi kode. Tiba-tiba wanita-wanita itu segera beranjak dari duduknya dan bergegas pergi. Langkah mereka begitu tergesa-gesa dan tidak sempat mengucapkan kata perpisahan pada Jian Heng dan Fang Yin.
Sebelum orang-orang itu menutup pintu, Fang Yin sempat melihat tatapan yang misterius dari mereka. Tidak ada keramahan yang terpancar dari wajah para pria yang berada di luar ruangan.
"Kak Heng, ada yang aneh dengan makanan-makanan ini. Aku mencium aroma sihir yang sangat kuat. Kita tidak bisa memakannya meskipun terlihat begitu nikmat," bisik Fang Yin.
Jian Heng mengangguk dengan sedikit bingung. Dia tidak tahu bagaimana makanan-makanan itu menghilang tanpa jejak tanpa mereka sentuh. Menyimpannya dalam ruang penyimpanan tetap saja akan meninggalkan jejak jika memang ada sihir di dalamnya.
"Kak Heng tenang saja, aku akan menyingkirkan makanan ini dengan aman," imbuh Fang Yin seperti mengerti akan apa yang dipikirkan oleh Jian Heng.
Lagi-lagi Jian Heng hanya bisa mengangguk karena belum mengerti apa yang akan dilakukan oleh Fang Yin. Dia hanya bisa melihatnya tanpa berani untuk ikut campur. Tidak mungkin Fang Yin menjelaskan segalanya di saat genting seperti ini.
Telapak tangan Fang Yin mengeluarkan api hitam yang menyala kelam. Dalam waktu singkat api itu melahap seluruh makanan yang terhidang tanpa meninggalkan jejak. Sayangnya tidak tersisa juga jejak fisik yang mungkin bisa membuat lawannya merasa curiga tetapi Fang Yin tidak peduli lagi akan hal itu.
"Yin'er, mereka pasti akan bertanya-tanya tentang bagaimana makanan ini bisa habis tanpa sisa. Sebaiknya kita berhati-hati setelah ini."
Fang Yin tersenyum melihat kepanikan di wajah Jian Heng. Semuanya sudah dia pikirkan. Mungkin setelah ini mereka akan menghadapi bahaya tetapi setidaknya mereka tidak dalam pengaruh sihir.
"Kita akan berteleportasi antar ruang setelah ini. Aku yakin jika sihir yang ada di dalam makanan bertujuan untuk memperkuat pertahanan mantra pelindung antar ruang. Jika kita benar-benar tidak mampu menghadapi mereka, aku masih memiliki pil pemanggil roh yang bisa mendatangkan ayah Tian Feng ke tempat ini," jelas Fang Yin.
Setelah mengatakan itu Fang Yin kembali bersiap untuk melakukan sesuatu. Energi untuk berteleportasi telah melapisi tubuhnya, lalu membaginya untuk Jian Heng juga. Dengan cepat kekuatan mereka terhubung dan membuat tubuh mereka berpindah menembus celah pada lantai yang tidak terlindungi.
Keduanya berhasil keluar dan tetap berhenti di ruang kosong yang berada di udara tanpa meninggalkan jejak energi. Jian Heng tersenyum senang melihat kerja bagus istrinya. Mereka kini hanya tinggal menunggu apa yang akan dilakukan oleh para penduduk desa saat mengetahui tawanannya terlepas.
Di kejauhan terlihat seorang pria dengan pakaian yang aneh berjalan menuju ke pondok tempat Fang Yin dan Jian Heng dikurung sebelumnya. Mereka berjalan tergesa-gesa. Di samping kanan dan kiri orang itu berjalan pria dengan usia yang terlihat sangat renta. Mereka berjalan dengan wajah yang serius seperti akan menghadapi peperangan.
'Sepertinya pria yang di tengah itu adalah pemimpin desa ini dan dua orang tua itu adalah tetua desa,' gumam Fang Yin dalam hati.
Mereka tidak langsung masuk ke dalam pondok tempat Fang Yin dan Jian Heng dikurung sebelumnya. Terlihat beberapa orang sedang membuat perapian dan sebagian lain bersiap dengan segala jenis pisau dan parang. Senjata itu terdiri dari berbagai ukuran dan diletakkan di atas sebuah batu kecil yang berada di sisi lempengan batu berukuran besar dan panjang.
'Apa? Jadi mereka adalah suku kanibal yang terbiasa mengambil salah satu bagian tubuh manusia untuk dipersembahkan pada dewa dalam kepercayaan mereka. Sungguh biadab.' Jian Heng mulai mengerti mengapa mereka dikurung.
Salah seorang tetua memanggil salah seorang penduduk pria yang berdiri berkeliling disekitarnya. Dia berbicara secara khusus padanya dengan disertai isyarat. Tidak lama kemudian, pria itu memanggil beberapa orang temannya dan pergi memasuki pondok tempat Fang Yin dan Jian Heng dikurung.
Pemimpin desa berjalan ke depan dan mulai melakukan gerakan pemujaan. Di belakangnya dua tetua pun ikut melakukan apa yang dia lakukan hingga salah seorang pria yang diutusnya datang sambil meneriakkan sesuatu. Sontak ketiganya menghentikan ritual dan pergi ke pondok tempat tawanan dikurung.
"Bagaimana bisa mereka lari?"
Salah seorang tetua memegang dinding pondok dan merasakan jika mantra pelindung yang dia tanam masih aktif. Mereka tampak heran karena selama ini belum ada yang bisa menembus mantra itu dengan mudah. Petunjuk lain yang bisa mereka dapatkan adalah sihir dalam makanan yang disajikan. Kembali mereka merasa aneh saat melihat piring-piring itu telah kosong.
Salah seorang tetua dengan tubuh yang sangat renta mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat agar mereka tenang. Tetua itu berjalan menuju ke tengah ruangan dengan langkah yang lambat karena tubuhnya yang telah bungkuk. Setelah sampai di tempat terakhir Fang Yin dan Jian Heng duduk dia membacakan mantra untuk mencari petunjuk.
Tidak terlihat jejak energi yang tersisa selain api hitam yang tampak dalam pembacaan mantra. Semua orang berpikir jika itu adalah api hitam asli padahal hanya bayangan yang digambarkan oleh tetua desa.
"Tunggu!" seru tetua desa segera mengakhiri pencarian jejak.
Dia pun terlihat panik saat melihat api hitam. Di segala cerita mitologi yang berkembang di seluruh benua, api hitam sangat sulit dipadamkan, hanya orang yang menguasai Kitab Sembilan Naga yang bisa memadamkannya. Desa ini bisa mengalami bencana jika menyinggung orang yang memiliki api ini.
"Yin'er, sepertinya mereka merasa ketakutan," bisik Jian Heng.
"Aku memang sengaja meninggalkan jejak api hitam di dalam ruangan."
"Pantas saja. Lalu, apa rencanamu?" Jian Heng ingin terlibat saat Fang Yin melakukan sesuatu.
"Tidak ada. Kemunculanku hanya akan meninggalkan jejak energi dan membuat orang-orang yang mencariku mampu mengendus keberadaan kita. Aku akan memasang mantra di sekeliling desa sebelum meninggalkan desa ini. Setelah anak kita lahir, kita akan kembali ke tempat ini untuk membuat perhitungan."
Jian Heng mengangguk. Sepertinya malam ini mereka harus gagal untuk beristirahat. Keduanya terpaksa harus melanjutkan perjalanannya.
Melihat wajah lelah Jian Heng, Fang Yin mengeluarkan artefak daun miliknya. Dalam kegelapan malam, keberadaan artefak itu tidak akan memancing rasa ingin tahu orang-orang yang mungkin tinggal di kedalaman hutan. Mereka juga bisa sampai di wilayah Pegunungan Merah dengan cepat setelah ini.
"Sinar bulan begitu indah malam ini, Yin'er. Meskipun tidak penuh tetapi cukup memberikan cahaya redup yang menerangi kegelapan. Kita telah melewati banyak purnama tetapi baru kali ini aku merasa malam begitu indah," ucap Jian Heng di tengah perjalanan mereka.
"Bilang saja kamu bosan tinggal di istana dan merindukan alam bebas. Sejujurnya aku pun sama, semua yang kita lakukan adalah demi rakyat yang kita pimpin. Mereka membutuhkan kita dan kita harus berkorban."
Jian Heng menatap Fang Yin dengan tatapan sayu. Sebelum mengenal Fang Yin, dia berusaha menghindari hal-hal yang berbau istana dan memilih hidup sederhana di luar. Namun, sekuat apapun dia berlari, takdir tetap membawanya pada kehidupan yang tidak jauh dengan harapan ibunya yaitu menjadi seorang kaisar meskipun tidak memimpin negara ayahnya.
"Kamu sangat pengertian, Yin'er. Setelah kelahiran anak kita, aku akan lebih serius untuk menjadi kaisar. Semangatku pasti akan bertambah dengan kehadirannya. Setiap hari aku akan melihatmu menjadi seorang ibu dan aku seorang ayah. Kita memiliki tanggung jawab yang sama meskipun dengan cara yang berbeda." Wajah Jian Heng terlihat berbinar-binar saat menceritakan tentang kehadiran buah hati mereka.
"Saat itu akan datang sebentar lagi." Fang Yin pun tidak kalah bahagia dan menyandarkan kepalanya di bahu Jian Heng.
Setidaknya untuk malam ini, mereka bisa terlepas dari bahaya. Dengan bantuan artefak daun, Fang Yin dan Jian Heng akan sampai lebih cepat ke Pegunungan Merah. Kira-kira sebelum matahari meninggi, keduanya akan tiba di sana.
Fang Yin mempercepat laju artefak daun yang membawanya. Dia ingin segera sampai di tempat tujuannya dengan segera. Rasa lelah membuatnya ingin segera menemukan tempat untuk singgah. Namun, semuanya menjadi sirna saat pucuk-pucuk pepohonan di kejauhan terlihat kemerahan terkena sinar matahari yang hampir menyingsing.
Tangannya menepuk bahu Jian Heng beberapa kali untuk membangunkannya. Rupanya Jian Heng tengah tertidur dalam keadaan berdiri. Binar-binar kebahagiaan terlihat jelas di wajah mereka karena tujuan mereka telah dekat.
"Akhirnya kita sampai." Jian Heng tersenyum senang tetapi tidak lama kemudian senyumnya menghilang mengingat tempat yang akan mereka singgahi syarat akan bahaya yang mengancam.
****
Bersambung ...
__ADS_1