
Selir Ning menggeleng. Kemunculannya saja sudah membuatnya bingung, bagaimana dengan memikirkan alasannya. Sungguh Selir Ning benar-benar tidak tahu menahu tentang hal ini.
Matanya tidak berhenti memandangi wajah Kaisar Gu. Sebelumnya dia hanya memiliki cinta untuk Jenderal Wang Jiang, hatinya tertutup oleh dendam atas penolakan. Baru setelah Kaisar Gu pergi dirinya baru bisa merasakan cinta yang sebenarnya dan merasa sangat kehilangan.
"Baiklah, aku tidak memiliki banyak waktu untuk bermain teka teki denganmu. Aku memberi cincin ini mantra pemurni hati, kekuatan jiwaku akan muncul jika kamu sudah memiliki hati yang bersih. Kamu sudah bisa berdamai dengan masa lalumu dan mengakui kesalahanmu. Bahkan, kamu berani untuk mengambil resiko terberat dan mungkin akan merenggut nyawamu." Kaisar Gu menatap dalam Selir Ning.
"Terimakasih sudah mempercayaiku. Selir Ketiga juga telah merawatku dengan baik. Yang Mulia juga harus tahu, satu-satunya keturunanmu yang tersisa tumbuh menjadi wanita yang begitu luar biasa. Dia akan membalaskan dendammu dan menghancurkan Kaisar Ning," jelas Selir Ning dengan bangga. Tidak ada dendam di matanya meskipun Fang Yin telah menyiksanya hingga hampir mati. Dia sadar jika semua itu terjadi akibat kesalahannya.
"Tetaplah berada di jalan kebaikan. Di balik sifat keras putriku, di dalam hatinya ada kebaikan. Dia tidak akan menelantarkanmu di masa tua."
Selir Ning mengangguk, sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Kaisar Gu. Tiba-tiba perasaan yang aneh terjadi padanya. Kakinya seperti tidak berpijak di tanah dan bayangannya memudar.
Keadaan semakin memburuk saat dia tidak merasakan apapun lagi dan sulit untuk bergerak.
"Yang Mulia, apa yang terjadi padaku? Mengapa tubuhku seperti akan menghilang? Aku tidak mengerti ... aku ... aku ...," ucapan Selir Ning seperti tercekat ketika lidahnya terasa kaku.
"Kamu berada di ambang kematian, Xia He."
Selir Ning membelalakkan matanya ketika mendengar penjelasan Kaisar Gu.
'Jadi aku akan mati dan menghilang selamanya. Aku tidak bisa lagi melihat dunia dan bersama dengan Selir Ketiga dan Yin'er.' Selir Ning merasa semuanya akan berakhir hari ini.
"Namun, kamu tidak perlu khawatir. Kekuatan jiwa ini akan menguatkan kekuatan jiwamu yang telah memudar. Bersiaplah, waktuku tidak banyak!" Kaisar Gu mengulurkan tangannya dan memegang kepala Selir Ning dan membuatnya terhisap dengan sangat cepat ke dalam tubuhnya.
"Apakah itu artinya kamu akan pergi, Yang Mulia? Yang Mulia! Yang Mulia!" teriak Selir Ning tetapi semuanya sia-sia karena tubuh Kaisar Gu telah menghilang dan menyempurnakan kekuatan jiwanya.
Selir Ning terus berteriak memanggil Kaisar Gu dan kembali merasakan putus asa. Tidak ada siapa-siapa lagi di sana.
Sebuah cahaya terang begitu menyilaukan mata membuat Selir Ning menutup wajahnya dengan tangannya. Sesaat kemudian tubuhnya seperti terangkat ke udara dan melesat menembus batas. Dia kembali merasakan ketakutan.
"Yang Mulia! Tolong selamatkan aku! Yang Mulia! Yang Mulia!" Selir Ning terus berteriak hingga dia merasakan hawa hangat menyusup dipunggungnya.
Matanya terbuka dan samar-samar melihat bayangan manusia. Hatinya merasa sedikit tenang meskipun matanya belum bisa melihat orang itu dengan jelas.
"Yang Mulia! Kau kah itu?" tanya Selir Ning dengan suara yang lemah.
Tubuhnya merasakan hangat dan diselimuti oleh cahaya energi yang menyala redup. Itu adalah energi pengobatan yang diberikan oleh Fang Yin yang sedang duduk di belakangnya.
"Selir Ning, apa yang terjadi padamu?" tanya Selir Shi.
Bayangan manusia yang berdiri di depannya itu ternyata adalah Selir Shi bukan Kaisar Gu.
Selir Ning masih terlihat bingung dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Sesaat yang lalu dia merasa berada di tempat yang berbeda dan sekarang dia tengah duduk di rumah Selir Shi.
"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sesaat lalu aku seperti sedang berada di tempat asing dan bertemu dengan Yang Mulia Kaisar Gu. Tetapi dia menyebut dirinya sebagai kekuatan jiwa yang tinggal di ... cin-cin ...." Selir Ning mencari-cari di mana keberadaan cincin yang selalu tersemat di jari manisnya.
Fang Yin yang telah selesai mengobati Selir Ning pun beranjak dari duduknya lalu menunjukkan cuilan-cuilan kecil dari cincin giok milik Selir Ning yang telah hancur.
"Maafkan aku, aku tidak tahu jika energi yang kusalurkan untuk menyelamatkanmu membuat cincin ini hancur. Aku tidak bisa menyelamatkannya." Fang Yin menyatukan tangannya untuk meminta maaf.
"Kamu tidak bersalah. Mungkin cincin itu hancur bukan karena energi yang kamu lepaskan tetapi memang karena kekuatan jiwanya itu telah berpindah ke tubuhku. Kaisar Gu ... Kaisar Gu ... dia ...." Selir Ning begitu sulit untuk menjelaskan pengalamannya karena dia tidak pernah mengerti tentang kultivasi dan hal-hal yang berhubungan dengannya.
"Tidak perlu dijelaskan. Aku sudah tahu apa terjadi selanjutnya. Alam asing yang kamu maksudkan adalah alam bawah sadar manusia. Saat aku datang kemari denyut nadimu sangat lemah, aku segera mengambil tindakan penyelamatan bersama ibu. Jika sedikit saja terlambat maka kamu akan mati. Luka-lukamu mengalami infeksi sehingga aku harus merelakan pil mahal untuk menyelamatkanmu. Namun, aku mengatakan ini bukan untuk membuatmu merasa berhutang padaku, aku ingin kamu tahu jika aku peduli padamu." Fang Yin berbalik untuk pergi.
"Putri Gu, terimakasih," ucap Selir Ning tulus.
Fang Yin mengangguk tanpa menoleh. Selir Ning masih tertegun menatapnya meskipun tubuhnya telah menghilang dibalik pintu.
Selir Shi mengambilkan secangkir minuman untuk Selir Ning. Selir Ning menerimanya lalu meneguknya perlahan. Masih tersisa rasa pahit di mulutnya karena sebelumnya mungkin dia telah diberi obat.
Malam itu, Selir Shi tidak tega untuk meninggalkan Selir Ning tidur seorang diri setelah kejadian yang dialaminya.
"Aku akan menemanimu di sini. Tidurlah!" Selir Shi membantu Selir Ning untuk tidur lalu berbaring di sisi yang lain.
Tempat tidur Selir Ning cukup untuk menampung dua orang.
"Terimakasih. Aku sangat ketakutan mengingat apa yang baru saja aku lalui. Semuanya terlihat seperti nyata meskipun aku tidak tahu apakah itu hanya mimpi atau pun ilusi." Selir Ning berbicara sambil memiringkan kepalanya ke arah Selir Shi tanpa menggerakkan tubuhnya.
"Semua kejadian yang terjadi di alam bawah sadar itu nyata tetapi semua yang kita lakukan tidak melibatkan fisik. Hanya jiwa kita yang berada di sana meskipun semua yang terjadi di sana akan berpengaruh pada fisik dan kemampuan kita," jelas Selir Shi.
Wajahnya terlihat sangat lelah dan mengantuk sehingga membuat Selir Ning merasa iba dan mengurungkan niatnya untuk berbicara lagi. Dia juga merasa tubuhnya lebih baik dan tidak terlalu sakit seperti sebelumnya. Kekagumannya pada Fang Yin pun bertambah setelah merasakan pengobatan darinya.
***
Pagi hari di Gunung Perak,
'Ajaib! Tubuhku sudah tidak merasakan sakit apapun lagi. Luka-luka di tubuhku pun telah mengering.' Selir Ning bangun dan mengamati lengan dan tubuhnya.
Wajahnya terlihat sangat gembira. Dia segera bangkit dan mencari di mana Selir Shi dan yang lainnya berada.
Sayup-sayup dia mendengar suara para wanita sedang mengobrol di sebuah ruangan yang tidak terlalu jauh dari kamarnya. Selir Shi, Yu Ruo dan Fang Yin sedang ribut di dapur. Entah apa yang mereka ributkan sepertinya mereka sedang memarahi Fang Yin.
"Apakah aku melewatkan sesuatu?" tanya Selir Ning sambil menatap dapur yang berantakan. Ada beberapa bahan makanan yang tumpah di lantai.
__ADS_1
"Ini semua ulah Yin'er. Dia sangat senang mengacau. Dia pikir memasak adalah sebuah permainan pedang." Yu Ruo berbicara dengan wajah kesalnya.
"Sudah-sudah. Lebih baik kamu keluar saja, Yin'er. Bisa-bisa semua orang tidak bisa makan kalau kamu terus berada di sini," omel Selir Shi.
"Iya ... iya ... aku pergi sekarang." Fang Yin pun pergi keluar dengan muka cemberutnya. Entah dapat dorongan dari mana hari ini dia begitu ingin untuk memasak.
Selir Ning berniat untuk membantu mereka memasak dan beberes tetapi Yu Ruo dan Selir Shi melarangnya. Mereka meminta Selir Ning untuk beristirahat meskipun dia sudah mengatakan jika dia telah baik-baik saja.
Tidak ingin lagi berdebat dengan Selir Shi dan Yu Ruo, Selir Ning pun akhirnya pergi keluar.
Di ruang para pria sedang duduk dan mengobrol, tidak ada Fang Yin di sana. Selir Ning memberi hormat lalu berjalan keluar meninggalkan tempat itu. Pandangan matanya mengedar ke sekeliling dan melihat pemandangan alam di sekitarnya.
Semalam dia tidak bisa melihat keindahan itu karena tertutup oleh kegelapan.
"Mengagumkan," gumam Selir Ning lirih.
Udara pagi yang sejuk di pegunungan membuatnya harus memeluk lengannya agar tubuhnya sedikit hangat. Selir Ning hanya berjalan di sekeliling rumah saja karena takut tersesat. Dia juga merasa jika tenaganya juga belum sepenuhnya pulih.
Di kejauhan terlihat seseorang duduk di atas batu sambil melemparkan kerikil-kerikil ke dalam sebuah kolam. Selir Ning berjalan mendekatinya karena dia tahu jika orang itu adalah Fang Yin.
Sebenarnya Fang Yin tahu jika ada orang yang berjalan mendekatinya. Dari hawa yang dirasakannya dia bisa menebak jika itu adalah Selir Ning. Namun, dia memilih diam dan mengabaikannya.
"Putri Gu!" panggil Selir Ning.
Fang Yin memutar kepalanya melihat Selir Ning dengan malas lalu kembali melemparkan kerikil-kerikil yang ada di tangannya. Tak ada satu patah kata pun yang terucap dari mulutnya. Dia bukanlah Selir Shi yang begitu cepat bisa memaafkan.
"Bolehkah aku duduk di sini?" tanya Selir Ning.
Sebenarnya dia tahu jika Fang Yin masih belum bisa memaafkannya, dia selalu ingat akan kata-kata Kaisar Gu di mana putrinya itu memang bersifat keras tetapi berhati lembut.
Fang Yin mengangguk tanpa menoleh pada Selir Ning.
"Aku akan terus berada di pihakmu sampai kamu benar-benar bisa kembali merebut Kekaisaran Benua Timur dan membalaskan dendam atas kematian ayah dan seluruh Klan Gu. Aku tahu aku tidak sekuat dirimu tetapi aku rela memberikan nyawaku untuk menebus semua kesalahan yang kulakukan di masa lalu." Selir Ning mengatakan isi hatinya.
"Lakukan saja," jawab Fang Yin singkat.
"Terimakasih telah memberiku kesempatan untuk bertaubat. Aku akan mulai berlatih lagi hari ini agar aku tidak merepotkan orang lain di medan tempur." Selir Ning terlihat begitu bersemangat.
"Jangan bodoh! Kamu tidak bisa berlatih setidaknya tiga atau empat hari ke depan. Kekuatan jiwamu belum stabil, jika dipaksakan maka kamu akan kehilangan seluruh kultivasimu," jelas Fang Yin masih dengan sikap acuhnya.
Selir Ning mengangguk sambil tersenyum tipis. Dia semakin yakin jika Fang Yin memang berhati lembut. Meskipun dia terlihat tidak peduli tetapi dia masih memikirkan kesehatannya.
***
Sesaat setelah makan siang Jian Heng pergi bersama Fang Yin ke tepi sungai untuk berlatih. Mereka tidak ingin bersantai saja sebelum bergerak untuk melakukan penyerangan.
Melihat suasana hati Fang Yin sudah lebih baik dari beberapa hari yang lalu, Jian Heng berpikir jika inilah saat yang tepat.
Guan Xing dan beberapa orang lain telah diutus untuk pergi menyampaikan surat permohonan dari Fang Yin. Tinggal bala bantuan dari Kekaisaran Benua Tengah saja yang belum dimasukkan ke dalam agenda.
"Kak Heng, apa yang sedang kamu pikirkan? Kulihat sejak tadi kamu tidak fokus dengan latihanmu?" tanya Fang Yin saat mereka sedang beristirahat.
Fang Yin berhenti pada sebuah pohon lalu duduk di bawahnya pada sebuah akar besar yang menyembul keluar dari dalam tanah.
Jian Heng menyusulnya dan duduk pada akar yang berbeda. Ekspresi wajahnya masih terlihat misterius dan membuat Fang Yin tidak bisa berhenti untuk menatapnya.
"Hmm ... kau mengabaikan pertanyaanku," ucap Fang Yin kesal. Rasa penasaran membuatnya harus pandai berakting. Dia memperlihatkan wajahnya yang cemberut untuk memancing reaksi Jian Heng.
"Eh, bukan begitu, Yin'er. Aku tidak bermaksud untuk mengabaikanmu. Aku hanya sedang memikirkan kata-kata yang tepat saja untuk bicara padamu." Jian Heng segera menjawab Fang Yin dengan cepat sebelum kekasihnya itu menjadi salah paham.
"Begitu, ya. Kenapa harus memilih kata-kata yang tepat?" Pipi Fang Yin memerah. Dia salah mengerti maksud dari Jian Heng dan berpikir jika pria tampan itu sedang menyiapkan kata-kata untuk merayunya.
'Sepertinya Fang Yin sedang tersipu. Dia pasti akan sangat marah jika aku langsung mengatakan kepergianku. Mungkin aku perlu untuk mengatakan hal romantis terlebih dulu padanya agar dia tidak tersinggung. Tapi bagaimana, aku tidak terbiasa untuk merayu seorang gadis.' Jian Heng bermonolog dalam hati sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
Fang Yin semakin terlihat malu-malu saat melihat Jian Heng salah tingkah dan tersenyum tidak jelas.
"Aku tahu Kak Heng tidak pandai merayu. Tanpa mengatakan apapun aku sudah mengerti apa yang ada dihatimu."
Ucapan Fang Yin membuatnya merasa lega. Satu-satunya hal yang bisa dilakukannya adalah menyatakan perasaan dengan tindakan. Jian Heng meraih tangan Fang Yin lalu menariknya untuk mendekat.
"Bolehkah aku menciummu?" tanya Jian Heng dengan wajah malu-malu.
Fang Yin menunduk dan mengangguk pelan. Sesaat kemudian dia merasakan sesuatu yang dingin menempel dikeningnya. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena Jian Heng segera menariknya.
"Terimakasih. Setelah semuanya selesai, aku akan meminta lebih dari ini." Jian Heng menarik kepala Fang Yin dan menyandarkannya ke dalam bahunya.
Tidak ada penolakan dari Fang Yin. Dia menurut saja ketika Jian Heng memintanya untuk bersandar.
"Yin'er, semua pasukan pendukung telah dipanggil, hanya tinggal pasukan dari Kekaisaran Benua Tengah saja yang belum. Aku akan pergi untuk menyiapkan pasukan terbaik untuk agenda ini. Aku janji, aku tidak akan lama," ucap Jian Heng mengatakan hal yang sejak tadi ditahannya.
Fang Yin menarik kepalanya dan duduk dengan tegak. Raut wajahnya berubah. Dia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang merusak suasana hatinya.
"Apakah kamu merasa keberatan jika aku pergi?" tanya Jian Heng setelah menunggu beberapa saat dan tidak ada jawaban dari Fang Yin.
__ADS_1
Fang Yin menoleh ke arah Jian Heng dan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia terlihat menghela napasnya lalu berkata, "Kamu pasti bertemu dengan Jing Jihua."
"Jing Jihua? Jadi itu yang membuatmu sedih. Bukankah kamu tahu jika ayah sudah tidak memaksaku lagi untuk menikah dengannya." Jian Heng tidak habis pikir mengapa Fang Yin masih berpikir jika dirinya masih memiliki hubungan dengan Jing Jihua.
"Aku tidak bersedih. Pergilah!" Fang Yin beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan Jian Heng.
Jian Heng tidak tinggal diam. Dia menyusulnya dan meraih tangannya kemudian menggandengnya dan membawanya berjalan. Mereka melangkah menuju ke arah tempat tinggal mereka.
Suasana hening. Keduanya sama-sama terdiam. Mereka terlihat sedang memikirkan sesuatu untuk mencari jalan tengah dalam hal ini.
"Sebenarnya aku ingin membawamu juga, tetapi perjalanan yang cukup jauh sangat beresiko untuk keselamatanmu. Aku janji, begitu urusanku selesai aku akan segera kembali." Jian Heng mencoba untuk meyakinkan Fang Yin.
"Aku akan pergi bersamamu. Kita bisa menghindari resiko itu dengan sebuah cara." Fang Yin menghentikan langkahnya.
Sebelah alis Jian Heng terangkat dengan kening yang berkerut. Dia belum mengerti maksud dari ucapan Fang Yin.
"Kita akan berpindah dengan teknik lintas dimensi. Ada jejak energi kita yang tertinggal di sana sehingga kita bisa mencapainya dengan mudah."
Jian Heng menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar. Hatinya merasa senang sekaligus sedih. Senang karena Fang Yin ingin selalu bersamanya dan sedih karena Fang Yin akan kehilangan energi yang besar untuk melakukan teknik ini.
"Peperangan akan terjadi sebentar lagi, Yin'er. Apakah tidak sebaiknya kamu menyimpan energi itu untuk mempersiapkan diri menghadapi Kaisar Ning?" Jian Heng terlihat mengkhawatirkan Fang Yin.
Bukan Fang Yin namanya jika dia mudah menyerah. Dia mendebat Jian Heng dan bersikukuh untuk ikut pergi bersamanya ke Kekaisaran Benua Tengah. Sudah saatnya dia mengatakan statusnya yang sebenarnya kepada Kaisar Xi agar tidak ada kesalahpahaman lagi.
Sikap dewasa Jian Heng membuatnya menyerah pada keinginan Fang Yin. Segala kekhawatiran ditepis dengan keyakinan di mana mereka akan melewati semuanya secara bersama-sama. Apapun yang akan terjadi di masa mendatang, mereka akan terus bersama.
Di dalam perjalanan mereka bertemu dengan An Hui dan beberapa orang wanita yang sedang berjalan menuju ke sungai. Mereka membawa guci untuk mengambil air.
Fang Yin terus berjalan dan tidak ingin menatap An Hui. Ini pertemuan pertama kali mereka setelah berdamai dengan suku gletser.
"Nona Yin!" panggil An Hui.
Fang Yin merasa tidak percaya dengan pendengarannya. Dia kembali berhenti lalu memutar tubuhnya menoleh ke arah An Hui.
An Hui berjalan ragu-ragu mendekati Fang Yin. Dia masih tidak berani untuk menatap wajahnya. Sebelumnya dia sering kali mengganggu dan menghinanya.
"Nona Yin, maafkan atas ketidaksopananku selama ini. Anda boleh menghukumku." An Hui memberanikan diri untuk meminta maaf.
Ekspresi wajah Fang Yin masih terlihat datar. Bagi sebagian orang ini terlihat menakutkan karena dia hampir tidak memiliki senyuman. Hanya orang-orang terdekatnya saja yang mengetahui sikap konyolnya dan tingkahnya yang kekanak-kanakan.
"Kamu tidak perlu dihukum meminta maaf saja sudah cukup." Fang Yin berbalik lalu kembali berjalan meninggalkan An Hui dan teman-temannya.
"Terimakasih, Nona Yin!" An Hui tersenyum senang.
Fang Yin mengangkat sebelah tangannya tanpa menoleh lalu berteriak, "Kamu boleh menebus kesalahanmu dengan mengantarkan makanan lezat untukku."
"Baik, Nona."
Jian Heng menggeleng tidak habis pikir dengan sikap Fang Yin. Namun, dia tidak mencegahnya karena ini bukanlah sebuah hukuman yang berat
Sesampainya di rumah, Fang Yin menyampaikan keinginannya untuk pergi ke Kekaisaran Benua Tengah bersama Jian Heng kepada keluarganya. Mereka terlihat sangat sedih. Baru beberapa hari mereka menikmati kebersamaan, kini mereka harus berpisah lagi.
Saat ini Fang Yin sudah dewasa, keluarganya pun tidak bisa terus-terusan membatasinya. Lagi pula selama ini Fang Yin telah terbiasa hidup mandiri dan tidak bergantung pada siapapun. Keluarganya hanya mengatakan agar dia berhati-hati dan segera kembali jika urusannya telah selesai.
Fang Yin tidak melihat Selir Ning di antara keluarganya. Dirinya masih merasa gengsi untuk bertanya pada ibunya tentang keberadaan Selir Ning. Meskipun sudah berbaikan tetapi hubungan mereka tidak begitu dekat.
Sikap Fang Yin masih sangat dingin pada Selir Ning meskipun ibu sambungnya itu berusaha untuk bersikap baik padanya. Hatinya telah menerima permintaan maaf Selir Ning tetapi dia belum ingin menunjukkannya di dalam sikapnya.
Diam-diam Fang Yin mengaktifkan mata batinnya untuk mencari keberadaan Selir Ning. Tidak butuh waktu lama untuk menemukannya. Selir Ning sedang berlatih di sebuah bukit yang berada lima ratus kaki dari tempat tinggal mereka.
Fang Yin semakin mempertajam penglihatannya dan mengamati apa yang dilakukan oleh Selir Ning. Dia melihatnya memainkan teknik pedang yang begitu hebat.
'Tunggu ... tunggu ... aku seperti merasa tidak asing dengan gerakan ini. Teknik ini adalah teknik pedang dalam Kitab Sembilan Naga bintang satu tetapi ada beberapa modifikasi di dalamnya. Ini sungguh menakjubkan, tetapi bagaimana bisa Selir Ning mendapatkan teknik ini. Saat bersama ayah dia tidak pernah tertarik untuk belajar bela diri,' gumam Fang Yin dalam hati sambil terus berpikir.
Selir Shi berpikir jika Fang Yin sedang tertidur sambil duduk karena matanya terpejam dan tidak bergerak sama sekali. Semua orang juga berpikir begitu kecuali Jian Heng. Sebagai seorang kultivator ranah dewa dia bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Fang Yin terus menggali apa yang ingin dia ketahui dan terus mengawasi Selir Ning. Terlihat Selir Ning sedang mengambil jeda untuk melakukan teknikal yang berbeda. Belum begitu jelas jurus apa yang ingin dia mainkan.
Setelah menunggu untuk beberapa saat akhirnya Selir Ning memulai gerakannya. Dia terlihat merentangkan kedua tangannya dan membuat tubuhnya melayang di udara. Aura berwarna merah muncul di tubuhnya seperti sebuah nyala api yang berkobar.
Selir Ning meliukkan tubuhnya dan bergerak dengan lincah. Fang Yin sangat mengenal jurus ini karena dia pun menguasainya. Jurus Phoenix Api Menari.
Mata Fang Yin terbelalak lalu segera bangkit dari duduknya dan berjalan cepat keluar dari rumahnya.
"Ayah!" pekiknya.
Aira mata kerinduan terburai berjatuhan mengiringi langkahnya.
Keluarganya tidak tinggal diam. Mereka segera bergegas untuk mengikutinya karena berpikir jika Fang Yin sedang mimpi berjalan. Langkah Fang Yin yang begitu cepat membuat mereka mengejarnya dengan setengah berlari.
****
Bersambung ....
__ADS_1
Kak numpang promo novel karya temanku, ya. Terimakasih.