
Patriak Shi dan para tetua menyambut Kaisar Jing sebagai seorang tamu kehormatan. Mereka mempersiapkan tempat tinggal khusus dan mengadakan perayaan penyambutan di sebuah villa khusus.
Terpaksa Kaisar Jing mengikutinya sebagai penghormatan atas sambutan Patriak Shi dan penduduk Gunung Perak. Sebenarnya dia ingin tinggal di rumah Shi Jun Hui agar bisa terus berdekatan dengan Fang Yin. Namun, semua harapannya itu harus pupus.
Jian Heng menghembuskan nafas lega saat melihat kepergian Kaisar Jing. Sebelumnya dia berpikir jika Kaisar Jing akan selamanya tinggal bersamanya di dalam keluarga Fang Yin. Jika sampai hal ini terjadi maka bisa dipastikan akan ada persaingan sengit di antara mereka.
Fang Yin dan Jian Heng tidak ikut serta mengantar Kaisar Jing ke tempat tinggal sementaranya. Mereka memilih tetap tinggal di rumah dan memberi kesempatan kepada para penduduk Gunung Perak untuk bertatap muka dengan Kaisar Jing yang didapuk sebagai tamu istimewa.
"Yin'er. Kelihatannya Kaisar Jing sangat menyukaimu. Terlebih lagi saat mengetahui jika dirimu adalah Putri Gu." Jian Heng berbicara dengan suaranya yang berat. Tersirat beban yang menghimpit perasaan dalam setiap ucapannya.
"Itu urusannya buat apa kamu memikirkannya. Aku tidak tertarik untuk membalas perasaannya." Fang Yin menatap Jian Heng dalam.
"Aku bukan pria yang pandai merayu wanita tetapi aku tidak ingin kehilangan wanitaku. Aku tidak tahu bagaimana cara untuk membuatnya tetap bertahan di sisiku tanpa terpengaruh oleh ungkapan cinta pria lain." Jian Heng membalas tatapan Fang Yin dengan tatapan yang lebih mendalam.
"Jangan banyak berpikir untuk sesuatu yang sudah pasti. Semua yang telah kita lalui sudah cukup meyakinkanku jika kamu satu-satunya pria di hidupku. Untuk hari kemarin, hari ini dan hari-hari yang akan datang." Fang Yin meyakinkan Jian Heng dari kebimbangannya.
Tangan Jian Heng meraih tangan Fang Yin dan menggenggamnya erat. Jantungnya berdesir hebat setiap kali mereka berada dalam jarak yang begitu dekat.
"Terimakasih, Yin'er." Jian Heng mencium punggung tangan Fang Yin lembut.
Jian Heng segera melepaskan tangan Fang Yin dan bergeser sedikit menjauh ketika melihat kedatangan Shi Han Wu. Kakek buta itu datang dengan aura yang berbeda. Setelah berlatih dia kembali dengan hasil yang menggembirakan.
Shi Han Wu bercerita kepada Fang Yin dan Jian Heng tentang peningkatan yang dia rasakan setelah menyerap esensi energi yang keluar dari Giok Hitam. Perasaan luar biasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya ini membuatnya begitu bersemangat.
Dalam percakapan antara tiga orang itu, Shi Han Wu lah yang paling banyak berbicara. Kedua cucunya lebih banyak mendengar tanpa memberikan pendapatnya.
Shi Han Wu menoleh ke segala tempat untuk mencari anggota keluarga yang lain. Namun, tidak ada seorangpun yang terlihat selain Jian Heng dan Fang Yin.
"Mereka pergi ke kediaman Patriak Shi untuk mengadakan perayaan penyambutan Kaisar Jing," ucap Fang Yin seakan mengerti maksud dari sikap kakeknya.
"Kaisar Jing? Bagaimana bisa dia datang ke tempat ini? Apa yang dia inginkan?" tanya Shi Han Wu penasaran.
Pertanyaannya cukup beralasan karena tidak mungkin seorang pemimpin besar datang ke tempat terpencil tanpa sebuah tujuan. Terlebih lagi dia datang seorang diri tanpa pengawalan. Menurutnya ini sesuatu hal yang aneh.
"Hanya dia yang tahu alasannya, Kek. Aku juga belum sempat berbincang dengannya," jujur Fang Yin.
"Dia datang untuk berkunjung ke Gunung Perak sebagai tamu kehormatan sekaligus ingin menemui Yin'er sebagai teman lama," jelas Jian Heng.
Shi Han Wu menatap Fang Yin tidak percaya. Tanpa identitasnya sebagai seorang putri, rupanya cucunya itu telah berhasil memikat banyak pria. Tidak heran para wanita merasa iri padanya dan selalu menggunjingkannya di belakang.
Melihat wajah Jian Heng yang kurang bersemangat saat menyebut nama Kaisar Jing, Shi Han Wu berpikir untuk mengambil topik lain dalam obrolan mereka. Sebagai sesama pria dia sangat mengerti bagaimana perasaannya saat kekasihnya diperebutkan oleh banyak pria. Tentu dia tidak akan senang mendengar nama rivalnya dibicarakan di depannya.
"Aku berencana memanggil Tian Feng datang kemari hari ini," ucap Shi Han Wu.
Jian Heng menatap Fang Yin tidak mengerti ketika kekasihnya itu terlihat sangat senang saat Shi Han Wu menyebut nama itu.
'Pria mana lagi yang ingin bersaing untuk mendapatkan perhatian Yin'er,' gumam Jian Heng dalam hati. Wajahnya kembali terlihat murung. Shi Han Wu tidak menambahkan nama Klan Gu di depan nama Tian Feng sehingga dia salah paham dan berpikir yang tidak-tidak.
"Panggil sekarang saja, Kek. Aku sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan paman Feng. Pasti dia juga sangat merindukan keponakannya yang cantik ini," ucap Fang Yin dengan setengah bercanda.
Jian Heng merasa lega karena ternyata pria itu adalah pamannya. Ekspresi wajahnya seketika berubah dan cerah kembali.
"Sejak kapan kamu suka memuji dirimu sendiri, Yin'er." Jian Heng tertawa kecil sambil melirik geli melihat tingkah konyol Fang Yin.
"Karena aku sudah berhasil membuat Pangeran Ketiga Kaisar Xi merasa cemburu setiap kali mendengar nama seorang pria disebut di depannya," ledek Fang Yin seolah mengerti setiap perubahan sikap Jian Heng.
Jian Heng ingin membantahnya tetapi takut Fang Yin marah padanya. Bibirnya terlihat bergerak-gerak dengan suara yang tertahan dan tidak jadi diucapkan olehnya.
"Dasar gadis nakal. Bisa-bisanya menggoda seorang yang sedang cemburu," imbuh Shi Han Wu.
Ucapan itu terdengar seperti pembelaan untuk Jian Heng tetapi juga sedikit mengandung ejekan juga.
Mereka bertiga terlihat sangat gembira. Jian Heng tidak mempermasalahkan Shi Han Wu menggodanya karena semua yang dikatakannya tidak sepenuhnya salah. Hingga saat ini dia masih sulit menerima jika ada seorang pria yang mendekati Fang Yin.
Shi Han Wu mengambil sikap duduk dengan posisi sempurna lalu mulai berkonsentrasi. Dengan kekuatan jiwanya dia memanggil Gu Tian Feng untuk datang. Mereka sering berkomunikasi dengan kekuatan jiwa karena selalu tinggal berjauhan di tempat yang berbeda.
Di dalam komunikasinya, Shi Han Wu memberikan mantra rahasia untuk bisa melewati mantra kabut pelindung suku es.
Jian Heng dan Fang Yin duduk di hadapan Shi Han Wu dengan tenang tanpa melakukan apapun. Keduanya menunggu Shi Han Wu selesai memanggil Gu Tian Feng untuk datang.
Tidak lama kemudian Shi Han Wu membuka matanya dan melihat ke arah keduanya yang masih duduk di hadapannya.
"Kupikir kalian sudah pergi. Feng'er akan segera tiba. Mungkin tidak lama lagi dia akan datang."
Baru saja Shi Han Wu selesai berbicara tetapi suara kecapi telah terdengar di kejauhan. Mereka bertiga segera beranjak dan melihat ke udara. Bayangan Gu Tian Feng terlihat samar di kejauhan.
Ini pertama kali Jian Heng bertemu dengan keturunan Klan Gu yang tersisa selain Fang Yin. Dia merasa semakin yakin jika kemenangan akan berpihak pada Fang Yin dengan banyak dukungan.
Tian Feng memberi hormat kepada gurunya. Mereka berempat berbincang-bincang membahas rencana penyerangan yang akan dilakukan sebentar lagi.
Di kediaman Patriak Shi,
Kaisar Jing telah selesai memberikan sambutan dan duduk bersama dengan para tetua beserta seluruh penduduk Gunung Perak. Mereka sangat antusias menyambut kedatangannya. Hubungan baik antara suku es dengan Klan Jing sudah terjalin sejak beberapa generasi.
Kaisar Jing membagikan hadiah untuk para tetua dan penduduk desa Gunung Perak. Sebagai seorang kaisar, cincin penyimpanannya berisi harta yang tidak terhitung jumlahnya. Hal yang kecil baginya memberi hadiah untuk semua orang yang berada di sana.
Walaupun sebenarnya Kaisar Jing sudah membawa perbekalan, dia tetap menikmati makanan yang disediakan oleh penduduk suku es. Banyak gadis cantik yang mengelilinginya dan melayani kebutuhannya. Namun, dia tidak tertarik sedikitpun pada mereka.
Pikirannya melayang ke tempat tinggal sederhana Fang Yin. Kaisar Jing merasa sedikit kecewa setiap kali melihat ke arah penduduk yang datang dan tidak mendapati Fang Yin di antara mereka.
Meskipun di sini dia dilayani dengan layak, andai diberikan pilihan untuknya, dia akan tetap memilih tinggal di kediaman sederhana milik keluarga Fang Yin.
Perayaan penyambutan Kaisar Jing melibatkan banyak pihak dan berlangsung sepanjang hari. Merasa tidak enak dengan penduduk yang lain akhirnya Jian Heng pun berinisiatif untuk mengajak Fang Yin pergi ke tempat Patriak Shi.
Sudah sangat terlambat bagi mereka untuk datang. Namun, Fang Yin yakin jika tidak ada yang akan berani menegurnya termasuk Kaisar Jing.
"Yin'er. Ingat yang aku katakan," bisik Jian Heng.
"Kamu tidak perlu khawatir." Fang Yin meraih tangan Jian Heng dan menggenggamnya.
__ADS_1
Apa yang dilakukannya membuat Jian Heng terkejut tetapi dirinya merasa senang. Tidak ada lagi kekhawatiran di wajahnya. Perlakuan seperti ini saja sudah membuat hatinya merasa tenang.
Pesona Jian Heng di mata para wanita penduduk Gunung Perak sedikit meredup tersaingi oleh pesona Kaisar Jing. Ini menjadi sesuatu yang menggembirakan untuk Fang Yin karena tidak ada yang mengganggu Jian Heng di depan matanya.
"Apakah tempat itu masih jauh, Yin'er?" tanya Shi Han Wu.
"Tidak, Kek sebentar lagi kita sampai." Setelah mengatakan ini Fang Yin beralih menatap Tian Feng.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Paman? Sejak tadi kamu terdiam. Apakah aku telah membuat kesalahan?" tanya Fang Yin.
Sifat Tian Feng yang sedikit tertutup dan pembawaannya yang tenang membuat dirinya terlihat aneh bagi orang yang baru mengenalnya. Sikapnya yang misterius menjadikannya terkesan menakutkan. Tidak heran jika dia dan kakeknya dikenal sebagai iblis buta.
Penduduk Gunung Perak memberi mereka jalan untuk maju ke hadapan para tetua. Perjamuan secara besar-besaran akan diadakan sebentar lagi. Kedatangan Fang Yin, Jian Heng, Shi Han Wu dan Tian Feng dinilai sangat tepat.
Kaisar Jing tersenyum senang saat melihat kedatangan Fang Yin dan rombongannya. Dia berbisik pada salah seorang tetua untuk memberikan tempat duduk bagi mereka.
Fang Yin berjalan di paling depan diikuti oleh Jian Heng, Shi Han Wu dan Tian Feng. Mereka berempat berjalan begitu anggun melewati kerumunan penduduk.
Guan Xing datang memberi hormat lalu kembali duduk bersama jajaran para tetua. Mereka bergantian memberi hormat dan mempersilakan Fang Yin dan yang lainnya untuk duduk.
Ada yang berbeda dari sikap Kaisar Jing tetapi bukan sikap bahagia seperti sebelumnya. Matanya tidak berkedip melihat ke arah Gu Tian Feng. Terlintas sebuah ingatan di kepalanya tentang sosok yang mirip dengan pria di hadapannya ini.
Perubahan sikap Kaisar Jing ini menarik perhatian semua orang dan membuat mereka mengikuti arah matanya memandang. Perhatian kini beralih pada Gu Tian Feng.
Kaisar Jing berjalan maju ke depan menghampiri Tian Feng. Kehadirannya membuat Tian Feng yang semula telah duduk berdiri untuk menyambutnya.
"Aku teringat akan teman masa kecilku saat melihat wajahmu," ucap Kaisar Jing.
Tian Feng terkejut mendengarnya. Dia tidak segera menjawab dan memilih untuk menemukan jawabannya dengan caranya sendiri. Tangan kanannya mengulur ke depan menyentuh bahu Kaisar Jing.
Awalnya Kaisar Jing terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Tian Feng. Namun, dia tidak menolaknya dan membiarkan Tian Feng melakukan apa yang dia inginkan.
Semua orang terdiam melihat ke arah Kaisar Jing dan Tian Feng. Mereka tidak tahu apa yang dilakukan oleh keduanya. Tian Feng juga orang asing bagi mereka dan tidak memiliki ciri-ciri sebagai seorang keturunan suku es.
Sentuhan tangan Tian Feng membuat Kaisar Jing merasa keluar dari dunianya sekarang. Dia seperti sedang berada di kehidupan jauh sebelum dirinya menjadi seorang kaisar.
Tempat di mana dirinya berada saat ini adalah sebuah jalanan sepi di mana dia sedang tersesat. Kaisar Jing terpisah dari keluarganya saat sedang melakukan perburuan.
Mereka berkemah di sebuah hutan yang berada di wilayah perbatasan antara Benua Utara dan Benua Timur. Ayahnya ingin melatihnya untuk berburu sejak usia yang masih kanak-kanak. Kira-kira saat itu Kaisar Jing baru berumur enam tahun.
"Ayah ... ayah!" panggilnya sambil menangis.
Kaki kecilnya berjalan tak tentu arah menyusuri jalan setapak yang jarang dilewati. Tidak ada siapa-siapa di sana karena pengawal pribadinya pergi meninggalkannya di dalam tenda saat dia tertidur.
Kaisar Jing kecil tidak tahu ke mana kakinya melangkah hingga dia melewati perbatasan dan masuk ke wilayah Benua Timur.
Hutan yang lebat tidak mampu diterobos oleh cahaya matahari. Meskipun saat itu hari masih siang tetapi terlihat seperti sore hari. Kaisar Jing mengeraskan suara tangisnya ketika merasa takut berharap ayah atau pengawalnya mendengarnya.
Perut Kaisar Jing merasa sangat lapar setelah berjalan begitu lama. Dia pun tidak sanggup lagi menangis karena tidak ada lagi tenaga. Matanya berbinar senang saat melihat sebuah sumber air di bawah akar pohon yang sangat besar.
Kaisar Jing berjalan cepat untuk menghampirinya. Tenggorokannya terasa kering setelah menangis begitu lama.
Setelah merasa dahaganya telah menghilang, Kaisar Jing kecil pun menyudahi minumnya dan bersiap untuk berjalan mencari ayahnya. Namun, betapa terkejutnya saat dia melihat banyak sekali binatang buas yang berdiri mengelilinginya.
Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Kaisar Jing saat itu selain menangis dan mencoba berlari. Kemampuan beladirinya masih sangat minim. Merasa tidak ada yang diandalkan selain dirinya sendiri, Kaisar Jing mencoba bersikap berani.
Dia melompat ke dahan pohon untuk menghindari singa dan sekawanan harimau lapar yang mengintainya. Binatang-binatang itu tidak berhenti mengejarnya hingga dia sampai ke jalanan yang dilalui oleh manusia.
Kaisar Jing kecil berlari di jalanan dan terjatuh. Tubuhnya berguling menuruni jurang yang tidak terlalu dalam. Bukannya menyerah, binatang-binatang itu malah semakin bersemangat untuk mengejarnya. Tubuh Kaisar Jing kecil terpelanting menghantam bebatuan dan berdarah.
Bau darah yang keluar dari tubuhnya membuat binatang-binatang lain di sekitarnya ikut mengerumuninya dan berebut untuk memangsanya. Kaisar Jing pasrah untuk menerima kematiannya karena dia tidak sanggup lagi untuk menyelamatkan diri.
Matanya terpejam ketika melihat seekor harimau besar melompat ke arahnya.
Suara gaduh terus terdengar di sekelilingnya tetapi Kaisar Jing tidak berani menatapnya. Dia berpikir jika binatang-binatang yang mengejarnya bertarung untuk memperebutkan dirinya.
Suara berisik suara binatang dan kegaduhan berhenti. Keadaan di sekelilingnya menjadi hening. Merasa ada yang aneh, Kaisar Jing memicingkan matanya untuk melihat apa yang terjadi di sekelilingnya.
Semua binatang yang mengejarnya bergelimpangan tak bernyawa. Kaisar Jing kecil segera membuka matanya lebar-lebar dan mencari penyebab kematian para binatang itu.
"Ayah! Kau kah itu? Ayah!" panggil Kaisar Jing berusaha untuk berdiri dengan tubuh yang terasa remuk.
"Kurasa aku masih terlalu muda untuk kamu panggil ayah, Adik kecil."
Suara seorang remaja membuat Kaisar Jing kecil terperanjat. Dia tidak mengenal orang itu tetapi dia begitu baik menyelamatkannya. Di tengah hutan yang sepi dan terpencil ternyata masih ada seseorang yang tinggal di sana.
"Kakak kenapa dengan matamu? Apakah kamu terluka karena menolongmu?" sikap polos seorang anak kecil menuntutnya untuk bertanya.
Sejak pertama melihatnya, mata pria muda yang menolongnya itu terus terpejam.
"Aku buta sejak lahir," jawab pria itu.
Kaisar Jing kecil menjatuhkan dirinya untuk berlutut. Dia merasa jika sikapnya barusan tidak sopan.
"Maafkan aku, Kakak. Aku tidak bermaksud untuk menghinamu. Aku sangat berterimakasih kamu telah menyelamatkanku, seharusnya aku tidak lancang bertanya hal yang tidak pantas padamu." Kaisar Jing kecil berlutut di hadapan pria itu.
"Tidak perlu merasa bersalah seperti itu, Adik kecil. Bangunlah! Namaku Tian Feng. Siapa namamu?" tanya Tian Feng.
"Namaku Jing Zhou Wei. Aku pergi berburu bersama ayahku tetapi aku tidak tahu di mana dia berada sekarang. Sepertinya aku tersesat." Kaisar Jing menceritakan apa yang dialaminya.
"Bagaimana bisa ayahmu begitu tega meninggalkanmu sendirian di tengah hutan belantara seperti ini Jing. Seharusnya ada yang menemanimu saat dia pergi." Tian Feng merasa iba melihat Kaisar Jing yang terlihat sedih.
"Sebenarnya ada pengawal yang menemaniku sebelumnya tetapi aku tidak tahu kemana dia pergi saat aku tertidur. Aku takut sendirian dan pergi mencari ayah tapi aku tidak menemukannya lagi. Huaa ...." Kaisar Jing kecil kembali menangis.
"Sudah ... Sudah jangan menangis aku akan membantumu mencari di mana ayahmu." Tian Feng menenangkan Kaisar Jing.
Kaisar Jing kecil tersenyum senang.
"Terimakasih, Kakak!"
__ADS_1
Tian Feng memiliki pendengaran yang tajam meskipun saat itu dia belum memiliki penglihatan dengan mata batinnya. Dia memperhatikan irama langkah Kaisar Jing dan merasakan kejanggalan.
"Apakah kamu terluka?" tanyanya kemudian.
"Sedikit saja, Kak. Tapi tidak apa-apa, aku masih kuat berjalan," elak Kaisar Jing berusaha menutupi rasa sakit yang dia rasakan.
Tian Feng menghentikan langkahnya. Dia tidak tega membiarkan seorang anak kecil berjalan dengan luka di tubuhnya. Gurunya telah mengajarkan beberapa ilmu pengobatan padanya. Sudah saatnya dia mengamalkan ilmu yang telah dipelajarinya.
Kaisar Jing kecil pun menurut ketika Tian Feng memintanya untuk duduk dan menunjukkan lukanya. Mengingat matanya tidak bisa melihat, Tian Feng juga memintanya untuk menggerakkan tangannya di atas luka agar dia bisa memberikan obat di tempat yang tepat.
Obat yang diberikan oleh Tian Feng meninggalkan rasa perih yang amat menyiksa. Kaisar Jing berusaha untuk menahan diri agar tidak menangis padahal biasanya dia sangat manja.
"Apakah kamu merasakan perih? Tahanlah sebentar, itu tidak akan lama dan lukamu akan segera mengering."
"Tidak sakit, Kak," bohong Kaisar Jing.
Tian Feng tersenyum. Dari suara nafasnya dia bisa mendengar dengan jelas jika Kaisar Jing menahan rasa sakit itu. Namun, dia tidak ingin membahasnya dan menganggap kebohongan Kaisar Jing dilakukan agar dirinya tidak merasa khawatir.
"Kaki kecilmu itu terlalu lambat melangkah, kita tidak bisa menemukan ayahmu dengan cepat jika aku menunggumu berjalan. Naiklah ke punggungku!" Tian Feng duduk berjongkok di depan Kaisar Jing.
"Tapi, Kak ...." Kaisar Jing merasa jika dirinya selalu merepotkan.
"Sudah, cepat naik!" ulang Tian Feng.
Kaisar Jing kecil pun menurut. Dia naik ke punggung Tian Feng dan segera pergi dari sana.
Tubuhnya yang kecil terasa begitu ringan bagi Tian Feng dan merasa tidak membawa beban apapun. Saat itu Tian Feng telah menguasai teknik meringankan tubuh tingkat menengah.
Tian Feng juga memiliki kemampuan lain di mana dia bisa mengendus jejak energi yang ditinggalkan oleh Kaisar Jing. Dengan gerakan yang cepat dia berjalan mengikuti jejak yang dilalui oleh Kaisar Jing.
Perlahan tapi pasti mereka pergi meninggalkan wilayah Benua Timur menuju ke perbatasan.
Ayah Kaisar Jing tidak berani memasuki wilayah Benua Timur dan mencari Kaisar Jing di sekitar perkemahan. Wajahnya terlihat murung dan hampir putus asa saat putranya belum juga diketemukan.
Tian Feng mempertajam pendengarannya mencoba mendengarkan suara langkah kaki seseorang di kejauhan.
"Adik Jing. Sekitar lima puluh kaki dari sini aku merasakan ada beberapa orang manusia. Mungkin mereka adalah orang yang sedang mencarimu. Maaf aku tidak bisa mengantarmu sampai di hadapan mereka. Aku tidak ingin berkenalan dengan siapapun," jelas Tian Feng memberi pengertian pada Kaisar Jing.
"Bagaimana jika mereka orang yang jahat?" Kaisar Jing kecil merasa khawatir.
Tian Feng berpikir sejenak. Dia mencari cara untuk berkomunikasi dari jarak jauh dengan Kaisar Jing.
"Begini saja, aku akan menunggumu di sini. Tepuklah tanganmu sekali jika mereka adalah keluargamu dan tepuk tanganmu tiga kali jika kamu tidak mengenal mereka maka aku akan datang untuk menyelamatkanmu. Ingat, jangan pernah menceritakan pertemuan kita ini pada siapapun. Aku tidak ingin ada yang tahu tentang diriku."
"Baik, Kak. Terimakasih banyak atas pertolonganmu. Semoga di masa mendatang kita bisa bertemu lagi. Jika saat itu tiba maka jangan menolakku untuk membalas budi baikmu," ucap Kaisar Jing yang terdengar bijak.
"Pergilah!" Tian Feng menepuk bahu Kaisar Jing dengan lembut.
Kaisar Jing kecil berbalik dan melangkah perlahan meninggalkan Tian Feng. Beberapa kali dia menoleh ke belakang untuk melihat apakah Tian Feng masih ada di sana atau tidak.
Tian Feng melompat ke atas pohon dan menunggu Kaisar Jing sampai pada orang yang sedang berjalan di kejauhan. Tidak lama kemudian terdengar sebuah tepukan yang menandakan jika Kaisar Jing telah bertemu dengan keluarganya.
***
Kaisar Jing membuka matanya dan menatap Tian Feng dengan sejuta perasaan. Secuil ingatan masa kecilnya membuat hatinya bergetar. Tanpa kehadiran sosok pria di hadapannya itu mungkin saat ini Kaisar Jing tidak ada lagi di dunia.
Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya meskipun sangat ingin dia berbicara. Bulir-bulir bening keluar dari sudut mata Kaisar Jing lalu dengan cepat dia meraih tubuh Tian Feng dan memeluknya dengan erat.
"Kakak Tian Feng!" ucap Kaisar Jing di tengah isak tangisnya.
Semua orang menatap heran melihat kejadian ini. Mereka tidak tahu kisah dibalik pertemuan mereka sehingga membuat Kaisar Jing begitu terharu saat bertemu dengan Tian Feng.
Tian Feng membalas pelukan Kaisar Jing dan menepuk bahunya dengan lembut. Tepukan yang sama seperti ketika mereka akan berpisah.
"Sudah menjadi kaisar masih saja cengeng. Lihatlah semua orang menertawakanmu!" ucap Tian Feng mengejek Kaisar Jing.
Kaisar Jing tidak mempedulikan ucapan Tian Feng dan melanjutkan keharuannya hingga hatinya benar-benar merasa tenang. Setelah beberapa saat, Kaisar Jing melepaskan pelukannya dan membawa Tian Feng duduk.
Dia mengambil tempat duduk seorang tetua yang semula duduk di sebelah Kaisar Jing.
"Bagaimana bisa kalian berdua saling mengenal?" Fang Yin menatap heran ke arah Kaisar Jing dan pamannya secara bergantian.
"Ceritanya panjang, Yin'er. Pertemuan kami sudah sangat lama sekali, saat kamu belum terlahir di dunia ini." Tian Feng tidak ingin memamerkan kebaikannya di masa lalu kepada siapapun.
"Kakak, setelah ini ikutlah bersamaku pergi ke Benua Utara. Aku ingin kakak tinggal di istanaku selama yang kakak mau. Atau mungkin kakak mempunyai sebuah permintaan?" Kaisar Jing masih fokus dengan kehadiran Tian Feng dan mengabaikan yang lainnya.
Sikap misterius Tian Feng membuat semua orang bertanya-tanya. Mereka merasa penasaran mengapa Kaisar Jing begitu menghormatinya. Penampilannya terlihat sangat sederhana dan tidak menunjukkan sifat kebangsawanannya.
Menilik dari silsilah keturunannya, Tian Feng adalah kerabat dekat Kaisar Gu yang merupakan paman dari Fang Yin.
"Aku datang untuk membantu Yin'er mengambil kembali tahta yang seharusnya menjadi milik Klan Gu. Selain Yin'er tidak ada yang memiliki wewenang untuk memerintahku atau mengajukan permintaan," ucap Tian Feng dengan wajah yang nyaris tidak menujukkan ekspresi apapun.
"Lalu bagaimana aku membalas jasamu, Kakak." Wajah Kaisar Jing terlihat sedih.
"Aku tidak pernah melakukan hal yang besar untukmu. Lupakanlah!"
"Tidak! Aku akan terus mengikutimu sampai kakak bersedia untuk pergi ke negaraku. Aku tidak memaksa harus pergi hari ini tetapi kakak harus berjanji," ucap Kaisar Jing setengah memaksa.
Tian Feng pun akhirnya menyerah. Tidak ingin membuat keributan di sana, dia pun berjanji pada Kaisar Jing untuk datang ke istana Kekaisaran Benua Utara setelah peperangan berakhir. Tujuan utamanya saat ini adalah membantu Fang Yin.
Semua orang yang berada di tempat itu tidak tahu ada hubungan apa antara Pendekar Seribu Mata dan Kaisar Jing. Mereka tidak berani berspekulasi atau menduga-duga. Sampai detik ini tidak ada yang tahu tentang identitas Tian Feng yang sebenarnya.
Seorang wanita dari barisan penduduk suku es maju ke hadapan Kaisar Jing dengan menggendong seorang anak kecil. Wajahnya terlihat sedang diliputi rasa sedih dan ketakutan.
****
Bersambung ....
Kak numpang promo novel karya temanku, ya. Terimakasih.
__ADS_1