
Kaisar Ning pulang dengan wajah yang cerah. Dia merasa sangat yakin jika pasukannya dari dunia bawah akan terus bertambah mengingat iming-iming yang diberikan olehnya.
Sebelum ini dia pernah berhasil menaklukkan banyak lawan berkat bantuan mereka. Kaisar Ning berpikir jika kesuksesan itu bisa terulang kembali.
Tidak ingin berlama-lama, dia pun merubah wujudnya menjadi naga api dan melesat di ketinggian.
Dari daratan dia terlihat seperti sebuah kilatan cahaya merah yang melintas dengan cepat. Cahaya itu bergerak seperti cahaya panjang yang tidak terputus dan memiliki ujung yang menghilang setelah terlewat jauh.
Mereka mengikuti arah cahaya merah itu menuju ke istana Kekaisaran Benua Timur dan berpendapat jika itu merupakan cahaya keberuntungan dari dewa. Mereka tidak tahu jika Kaisar Ning lah pemiliki wujud yang terlihat seperti cahaya itu.
Di dalam kegelapan malam, Kaisar Ning tidak lagi pergi mengendap-endap keluar dari istana lagi. Keinginannya untuk mengambil jiwa manusia telah terpenuhi, kini dia hanya tinggal mempersiapkan dirinya untuk menyambut kedatangan Fang Yin.
Sifat arogansinya semakin menjadi-jadi. Kaisar Ning banyak mengalami perubahan di mana dia sangat mudah marah dan tersinggung.
Bukan hanya sekali dua kali dia menghukum pengawal pribadinya hanya karena sebuah kesalahan kecil.
Ning Yao Xi terus mengawasi ayahnya secara diam-diam dan mengamati perubahan itu. Sejak mengetahui sifat kejam ayahnya, dirinya berusaha melindungi ibu dan keluarganya.
Bukan hal yang mustahil bagi seorang yang telah dirasuki sifat jahat akan menyiksa keluarganya sendiri. Nyatanya Ning Yao Xi pernah merasakan tangan ayah kandungnya itu mencekiknya begitu kuat.
Ning Mu Shen yang tidak tahu tentang perubahan sikap ayahnya terlihat acuh dan mencoba bersikap biasa-biasa saja. Sejak awal dirinya tidak begitu dekat dan merasakan kasih sayang dan perhatian yang lebih sedikit dibanding kakaknya.
Jauh sebelum rencana peperangan berlangsung, Ning Mu Shen ingin sekali menjadi pewaris kepemimpinan setelah ayahnya turun tahta.
__ADS_1
Para sekutu Kaisar Ning kini tidak berani lagi untuk berbuat macam-macam. Tidak ada lagi perbedaan pendapat seperti yang sudah-sudah. Kini mereka hanya bisa patuh dan menuruti segala perintahnya.
Aura kejam di mata Kaisar Ning membuat mereka merasa segan padanya. Para kultivator kuat pun juga tidak berkutik seperti terkena sihir.
Ibu kota Kekaisaran Benua Timur telah dipenuhi oleh pasukan yang disiapkan untuk menghadapi Fang Yin. Penduduk yang tinggal di sekitar istana bergeser ke tepi meninggalkan rumah-rumah mereka yang diduduki oleh pasukan yang berasa dari beberapa negara bagian
Mereka tidak punya pilihan lain selain tinggal di pinggiran kota dan wilayah perbukitan. Menentang perintah kaisar akan membuat mereka lebih menderita dari sekedar terusir.
"Kita tidak tahu kapan pasukan Putri Gu akan menyerang tetapi Kaisar Ning sudah menyiapkan pasukan yang begitu banyak untuk melindungi istana?" tanya salah seorang penduduk kota yang kini hidup di alam bebas secara berkelompok.
"Aku juga tidak tahu. Kurasa tidak akan lama lagi. Beberapa utusan Kaisar Ning melaporkan jika Putri Gu memiliki dukungan yang tidak sedikit."
"Sepertinya aku berharap Putri Gu yang akan menang. Jika dia memiliki sifat yang lembut dan bijaksana seperti ayahnya maka negeri ini akan makmur."
"Hush! Diamlah! Jika anggota pasukan Kaisar Ning mendengar maka kita semua akan mati."
Para penduduk yang berdiskusi mengangguk lalu terdiam beberapa saat. Mereka kembali mengobrol dengan topik yang berbeda dan tidak membahas lagi tentang peperangan.
Salah satu dari mereka memiliki usulan untuk bergerak lebih menjauh lagi daei wilayah itu. Mereka ingin membawa keluarga mereka yang bisa saja menjadi korban ganasnya peperangan.
Beberapa orang setuju dan beberapa lagi menolak. Mereka akhirnya terbagi menjadi dua kubu yang saling bertentangan.
Penduduk yang setuju untuk pergi menjauh dari istana lebih banyak daripada penduduk yang tinggal. Mereka membawa seluruh anggota keluarganya beserta barang berharga yang mereka miliki.
__ADS_1
Menang ataupun kalah, peperangan tetap akan membawa penderitaan dan korban. Jika bisa dihindari, sebisa mungkin pasti akan tetap dihindari. Namun, untuk peperangan ini rasanya tidak mungkin.
Kaisar Ning tidak mungkin menyerah dan mengembalikan kekuasaannya dengan mudah pada Fang Yin. Begitu juga dengan Fang Yin yang tentunya ingin membalas dendam dan mengembalikan nama baiknya yang telah dihinakan.
Meskipun banyak yang pro dan kontra tentang keabsahan statusnya sebagai putri kandung Kaisar Gu atau bukan, dia tetap akan berjuang untuk membersihkan semua itu.
Ini bukan lagi menyangkut namanya saja, tetapi juga nama baik ibunya.
Kembali ke Gunung Perak,
Patriak Shi memimpin pasukan pilihan dari suku es untuk diberangkatkan menuju ke tempat yang telah disepakati untuk berkumpul bersama seluruh pasukan.
"Sebelum kita berangkat, aku persilakan bagi siapapun yang ingin mundur. Dalam sebuah peperangan kita tidak bisa memperkirakan tentang sebuah kemenangan. Kita juga tidak bisa menggantungkan nasib pada kemujuran. Jika kalian merasa tidak yakin, sebaiknya kalian berhenti dan tetap tinggal."
Patriak Shi berbicara pada pasukannya meminta mereka untuk mempertimbangkan pilihan mereka.
****
Bersambung ....
Kak numpang promo novel karya temanku ya. Semoga berkenan mampir, terimakasih.
__ADS_1