
"Hari sudah pagi. Bagaimana kalau kita pergi minum teh?"
Kaisar Jing mengalihkan pembicaraan, berharap masalah pelayan yang terbunuh tidak berlarut-larut.
"Kelihatannya itu tidak buruk."
Fang Yin mengangguk dengan elegan.
"Pengawal! Bereskan mayat-mayat ini!" seru Kaisar Jing pada penjaga yang berada di belakangnya.
Kaisar Jing membawa Fang Yin pergi ke sebuah tempat yang berada di luar. Tempat berupa pondok kecil tanpa dinding yang didesain sangat indah. Di dalamnya terdapat sebuah meja dan kursi-kursi yang mengelilinginya.
"Silakan duduk, Nona!" Kaisar Jing meminta Fang Yin duduk sebelum dirinya.
Fang Yin kembali mengangguk tanpa mengeluarkan kata-kata.
Tanpa mengeluarkan perintah, dayang-dayang di istana itu sudah tahu akan tugas mereka. Dua orang berdiri di belakang Kaisar Jing dan tiga yang lainnya pergi untuk mengambilkan teh dan makanan ringan.
Fang Yin mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Suasana yang asri dan tempat yang nyaman memaksanya untuk mengagumi istana ini.
"Istana yang bagus," puji Fang Yin.
Suaranya yang lirih masih terdengar jelas oleh Kaisar Jing mengingat jarak keduanya yang berdekatan.
__ADS_1
Wajah Kaisar Jing bersemu merah muda. Dia tersipu mendengar pujian Fang Yin karena tempat mereka berada saat ini, dia sendiri yang merancangnya.
"Apakah kamu menyukainya? Tempat ini aku sendiri yang merancangnya."
Fang Yin menatap Kaisar Jing dengan perasaan tidak enak. 'Dia pasti sedang besar kepala sekarang.'
Obrolan mereka kembali terhenti. Setelah mendengar pernyataan Kaisar Jing, Fang Yin memilih untuk tidak banyak bicara. Dia bukan tipe orang yang suka beramah-tamah dengan orang yang baru dikenalnya.
"Kamu bisa tinggal selama yang kamu inginkan di sini. Jika kamu merasa bosan, aku akan mengajakmu berjalan-jalan mengelilingi istana."
Ketertarikan Kaisar Jing pada Fang Yin semakin kuat. Dia berharap jika Fang Yin bersedia untuk diperistri olehnya.
"Terimakasih."
Fang Yin merasakan gelagat aneh Kaisar Jing. Seberapa keras dia berusaha, hati Fang Yin tidak akan pernah bergeming.
Kaisar Jing menuangkan teh ke dalam cangkirnya dan cangkir milik Fang Yin lalu meletakkan teko teh ke atas pot yang berisi bara api.
"Awas masih panas."
Secangkir teh panas telah berpindah ke tangan Fang Yin. Setelah memberikan teh itu, Kaisar Jing mengambil tehnya sendiri lalu menyeruputnya sedikit.
Pandangannya tidak beralih dari wajah Fang Yin. Dia sangat yakin jika di balik cadar itu tersimpan wajah cantik yang terlindungi dari mata jahat para pria.
__ADS_1
"Nona Xiao Yin, aku ingin bertanya satu hal padamu."
Wajah Kaisar Jing terlihat sangat serius. Dia tampak gugup tidak seperti sebelumnya yang sedikit lebih tenang.
"Selama pertanyaan itu masuk akal, maka tidak ada alasan bagiku untuk tidak memberikan jawaban."
Sikap Fang Yin masih tetap sama, terlihat tenang dan sulit ditebak. Sorot matanya tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Kaisar Jing merasa segan untuk mengungkapkan isi hatinya. Dia mengurungkan niatnya itu dan menundanya hingga dia menemukan momen yang tepat.
Terpaksa Kaisar Jing mencari topik lain untuk mengendalikan keadaan. Dia terlanjur berbicara pada Fang Yin untuk mengajukan pertanyaan.
Sejak beberapa saat yang lalu Fang Yin terus menatapnya dengan serius.
"Ah, begini, sebelumnya aku meminta maaf padamu. Kalau boleh tahu apa tujuanmu datang ke negeri ini. Dari penampilan dan logat bicaramu aku sangat yakin jika kamu tidak berasal dari negeri ini."
'Ini kesempatan bagus. Aku dengar Kitab Sembilan Naga bintang tujuh di simpan di istana kekaisaran Benua Utara. Tidak mungkin Kaisar Jing tidak tahu akan hal ini. Aku harus memanfaatkan keadaan ini.' Fang Yin tersenyum licik.
"Tentu saja aku memiliki tujuan. Sejujurnya aku sedikit mengalami kesulitan. Namun aku tidak yakin Anda bersedia untuk membantuku."
Fang Yin tidak langsung mengatakan apa tujuannya. Dia sengaja memancing Kaisar Jing dengan bermain kata-kata.
"Katakanlah! Selama aku bisa, aku pasti dengan senang hati membantumu."
__ADS_1
****
Bersambung ....