Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 288. Pertarungan Serius


__ADS_3

Tubuh Guan Xing perlahan mengalami perubahan. Tekanan energinya yang besar mendorong anggota Klan Shi dan suku gletser yang berperang untuk menjauh. Mereka memilih untuk mencari titik aman dan sebagian di antaranya menghentikan serangan


Meskipun terlibat ketegangan mereka tetaplah saudara yang saling mengenal. Rasa tidak tega tentu ada dan tidak semuanya menginginkan pertarungan. Ambisi dari Guan Xing lah yang memaksa mereka untuk memusuhi saudara mereka sendiri. Namun, ada pula yang memiliki sifat seperti Guan Xing yang begitu ingin mendapatan Mutiara Salju dan menguasai Gunung Perak.


Fang Yin tidak merubah tubuhnya menjadi Dewi Naga. Selama dia masih bisa menghadapi Guan Xing dengan kekuatannya yang sekarang dia tidak akan merubah wujudnya. Kekuatan Dewi Naga memiliki daya rusak yang tinggi dan dipastikan keadaan disekelilingnya akan menjadi kacau.


"Oh, Kakek lesung pipi yang tampan memiliki kekuatan yang luar biasa rupanya. Kakek sudah mencapai ranah dewa dengan segala keagungannya," puji Fang Yin.


"Menyerahlah, Bocah! Semuanya akan kembali damai setelah Mutiara Salju itu berada di tanganku." Guan Xing merasakan dadanya membesar dan merasa hebat.


Fang Yin tersenyum meskipun tidak ada seorangpun yang bisa melihat senyumnya. Si keras kepala Guan Xing tidak akan sadar akan kesalahannya jika tidak diberi pelajaran. Meskipun memiliki darah yang sama dengan nenek moyangnya, sifat orang tetaplah berbeda-beda. Kali ini pertarungan tetaplah harus terjadi.


"Tanpa kamu memintanya, kamu telah menjadi pemiliknya. Tanpa menguasai, kamu sudah menjadi penghuni Gunung Perak. Ini adalah tempat leluhur yang menjadi milik bersama. Mengapa kamu tidak kembali ke sini dan membaur bersama suku es seperti sebelum kalian pergi meninggalkan tempat ini?" Fang Yin mencoba menghindari pertarungan.


"Jangan mempengaruhiku, Bocah! Aku tahu apa yang kulakukan. Selama ini aku hanya di anggap sebagai tamu di rumahku sendiri. Jangan menyalahkanku untuk kembali mengambil rumahku!"


Ucapan Guan Xing membuat Fang Yin semakin kesal. Dia merasa jika pria di hadapannya itu benar-benar bodoh. Jika dia ingin tinggal tentu saja suku es akan memberikan tempat tinggal. Atau mungkin ada oknum dari suku es yang membuat semuanya menjadi keruh.


"Aku sangat ingin memijat kepalamu dan melakukan refleksi padamu, Kakek Tampan. Sepertinya saraf di otakmu terlalu tegang." Fang Yin mengungkapkan kekesalannya dengan sedikit candaan.


"Jangan banyak bicara! Jika kamu takut melawanku mundurlah! Aku akan membiarkanmu hidup." Guan Xing memperlihatkan keseriusannya.


Baju Guan Xing diselimuti oleh cahaya putih. Hawa di sekelilingnya menjadi sangat dingin. Kristal es bermunculan di bawah kakinya dan bergerak meninggi hingga hampir mencapai tempatnya berdiri.


Warna rambut Guan Xing berubah menjadi putih sedikit keperakkan. Wajahnya tidak terlihat tua. Dia masih terlihat seperti seorang pria yang berusia tiga puluh tahun. Hal ini menandakan jika dia memiliki kekuatan yang mampu melawan hukum alam.


Tangan kanan Guan Xing bergerak ke depan dengan posisi telapak tangan membuka ke atas. Jari-jarinya terbuka lalu sedikit memutar pergelangan tangannya. Sebuah energi yang terlihat seperti sekumpulan bintik-bintik salju muncul di sana. Energi itu menyala-nyala dan membuatnya terlihat seperti cahaya lentera yang meliuk-liuk tertiup angin.


Tangan kiri Guan Xing mendorong ke arah Fang Yin dan menyebabkannya merasakan hawa yang sangat dingin.


'Sial! Pria lesung pipi ini menarik energiku. Terpaksa aku harus mengeluarkan Qi Awan Salju untuk melawan energi yang sama.' Fang Yin mengangkat kaki kanannya hingga sebatas mata kaki kirinya lalu menghentakkannya perlahan.


Sebuah gelombang datar yang menyebar secara horizontal membuat alam di sekitarnya kembali membeku. Gelombang itu merambat naik mulai dari ujung kaki dan terus bergerak ke atas dengan cepat. Seiring dengan itu tubuh Fang Yin pun berubah.


Saat gelombang itu mencapai kepalanya, rambutnya pun berubah menjadi putih. Di penghujung perubahan, muncul sebuah mahkota es di sana dengan cahaya yang kemilau. Cahaya dari mahkota Fang Yin jauh lebih terang dari mahkota milik Guan Xing.

__ADS_1


Fang Yin menggerakkan tangan kanannya dengan pola tertentu hingga muncullah kristal-kristal es di bawah kakinya. Kristal-kristal itu di selimuti energi yang mirip seperti kilatan petir.


Semua orang yang ada di sekeliling mereka menjadi hening. Mereka tidak tertarik lagi untuk bertarung dan lebih memilih untuk melihat pertarungan antara Fang Yin dan Guan Xing.


"Apakah itu cucu kita?" tanya Jun Hui pada Yu Ruo dan Han Wu yang berada didekatnya.


Mereka bersamaan menjawab 'ya'.


Pasukan suku es dan pasukan suku gletser memisahkan diri. Mereka berkumpul membentuk dua kelompok yang berdiri di belakang Fang Yin dan Guan Xing. Mereka sama-sama menghindari korban jiwa karena sebelumnya sudah banyak yang mati saat pertarungan.


'Aku telah salah. Rupanya gadis yang aku rendahkan itu benar-benar hebat. Pantas saja Pangeran Ketiga begitu menyukainya.' An Hui mengepalkan kedua tangannya dan menahan rasa iri yang semakin menjadi-jadi. Dadanya terasa panas terbakar kecemburuan yang membuat napasnya begitu sesak. Paru-parunya memompa udara dengan cepat hingga orang-orang disekelilingnya bisa melihat dengan jelas napasnya yang memburu.


"Apakah kamu sakit, An Hui?" tanya Patriak Shi. Kedua tangannya memegang pundak putrinya dan membantunya berdiri dengan benar.


Untuk menutupi hal yang sebenarnya, An Hui berbohong. Dia menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Patriak Shi membawanya berjalan ke belakang lalu duduk di antara para pasukan yang sama-sama terluka.


Jian Heng berdiri di samping pasukan sebelah kiri. Dia tetap waspada meskipun tidak ada serangan lagi. Di dalam sebuah peperangan apapun bisa terjadi. Terkadang musuh mengambil kesempatan di saat lawannya sedang lengah.


Kembali ke pertarungan antara Fang Yin dan Guan Xing,


Tangan kiri Fang Yin masih menyangga ke atas. Gumpalan energi di atasnya masih terus bertambah besar. Kilatan-kilatan api menyelimuti salju terlihat begitu mengerikan. Dua elemen yang berbeda itu menyusun sebuah kumparan energi besar yang bisa menjadi ancaman.


Serangan yang dilakukan oleh Guan Xing dibalas dengan serangan yang sama oleh Fang Yin. Pertarungan itu terlihat seimbang dan keduanya masih bisa mengatasi serangan lawannya. Aksi saling melemparkan kristal es dan tenaga dalam tidak membuat salah satu di antara mereka terluka ataupun menyerah.


Guan Xing tidak ingin malu di hadapan suku gletser dan suku es. Sebagai seorang pemimpin yang lebih senior dari Fang Yin dia harus menunjukkan kehebatannya. Dia akhirnya mengeluarkan jurus yang cukup ditakuti, Jurus Seribu Pedang Es.


Kedua tangannya melakukan sebuah gerakan memutar di depan tubuhnya. Sebuah segel mantra muncul di belakang tubuhnya. Segel berbentuk lingkaran itu bergerak memutar dan berubah menjadi susunan pedang es.


Wajah anggota suku es menjadi pucat. Mereka mencemaskan Fang Yin yang hanya bertarung dengan satu tangannya. Tidak ada yang tahu apa yang dia rencanakan dengan energi yang dia kumpulkan di atas langit.


'Apah? Kakek lesung pipi memiliki jurus ini? Ini sangat berbahaya. Dia tidak hanya akan melukaiku saja tetapi juga orang-orang yang ada di sekitar. Aku heran apakah selama di Daratan Utara dia bersekutu dengan iblis?' Mata Fang Yin menatap nanar ke arah pedang-pedang es yang siap untuk diluncurkan.


Guan Xing tidak main-main dengan jurus yang dimilikinya. Dengan gerakan jarinya dia melepaskan sepuluh pedang es ke arah Fang Yin secara bersamaan. Sebelum pedang-pedang itu sampai pada lawannya, pedang-pedang berikutnya telah meluncur lagi.


Mata Fang Yin terbelalak melihatnya. Dia tidak bisa berpikir lagi untuk dirinya, yang terlintas di kepalanya saat ini adalah nasib orang-orang yang ada disekitarnya. Tangan kanan Fang Yin mengeluarkan Jurus Perisai Es dan segera dilemparkan ke bawah untuk melindungi anggota Klan Shi.

__ADS_1


Fang Yin melompat ke atas untuk menghindari pedang-pedang itu. Beberapa bagian pakaiannya terkoyak terkena pedang itu.


"Kalian menjauhlah dari sini!" teriak Fang Yin di sela-sela melakukan gerakan pertahanan.


Tangan dan kakinya menghalau pedang-pedang es Guan Xing. Pedang yang berhasil dihalau meluncur turun ke arah pasukan suku gletser. Fang Yin melemparkan Jurus Perisai Es untuk melindungi mereka juga.


Suku gletser terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Fang Yin. Hati mereka melembut saat merasakan kebaikan lawannya.


"Semua menjauhlah!" Sekali lagi Fang Yin berteriak memberi peringatan.


Kini tidak hanya suku es saja yang mendengar seruannya. Suku gletser pun ikut mundur dan menjauh. Pemimpin mereka sendiri tidak mempedulikan keselamatan mereka dan justru lawan mereka yang memiliki jiwa kemanusiaan.


Sebuah pedang mengenai lengan Fang Yin dan menggoresnya hingga berdarah. Dia terlalu memikirkan orang lain dan mengabaikan keselamatannya.


Jian Heng yang sedari tadi hanya melihat saja kini tidak bisa tinggal diam melihat Fang Yin terluka. Dia melompat ke udara dan menghalau pedang-pedang yang menyerang mereka.


"Yin'er, kau tidak apa-apa?" tanyanya.


"Hanya luka kecil saja." Fang Yin tidak mempedulikan darah yang terus menetes dari luka itu. Jika diamati dengan jelas, luka itu terbilang cukup dalam.


Melihat ada sosok yang membantu Fang Yin, Guan Xing mempercepat laju pedangnya. Serangan pedang itu seperti tidak ada habisnya dan terus meluncur ke arah Fang Yin dan Jian Heng. Meskipun mereka bisa menghalaunya, tak ayal pedang-pedang itu membuat mereka kewalahan.


"Sudah saatnya aku menggunakan energiku yang telah terkumpul." gumam Fang Yin.


Tangan kiri Fang Yin melepaskan gumpalan energi yang berkumpul di atas langit. Kristal es berselimut api meluncur menyongsong pedang es Guan Xing. Keduanya meledak dan menghambur menjadi tumpukan kristal-kristal yang menggunung lalu meleleh dilahap api Fang Yin.


"Aku akan menambahkan energiku pada energi yang kau kumpulkan, Yin'er. Dengan begitu kita akan memperoleh kemenangan." Jian Heng mulai berkonsentrasi.


Fang Yin mengangguk sambil terus membalas serangan Guan Xing. Tatapannya lurus ke depan memperhatikan serangan demi serangan yang saling bertabrakan. Serangan yang meleset menimbulkan kehancuran di sekelilingnya.


Sebuah cahaya berwarna biru menyelimuti tubuh Jian Heng. Untuk memperkuat serangan Fang Yin dia akan menambahkan elemen petir ke dalamnya.


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2