Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 91. Lembah Tengkorak


__ADS_3

Fang Yin menyembunyikan hawa kehadirannya dan berjalan mengendap-endap untuk mengintai binatang buruannya.


Seekor ayam hutan berukuran besar bersembunyi di balik semak yang berada tidak jauh dari tempatnya berada.


Di balik keremangan perdu yang menyembunyikan tubuh ayam hutan tersebut, Fang Yin mengarahkan anak panahnya ke arahnya.


Meskipun anak panah itu hanya terbuat dari sebilah bambu yang diruncingkan, tetapi senjata itu cukup mematikan untuk seekor binatang buruan jika mengenainya.


Ayam hutan itu masih terbengong dan tidak bergerak dari tempatnya. Kesempatan itu digunakan Fang Yin untuk melepaskan anak panah ke arahnya. Anak panah itu di aliri dengan Qi untuk menambah kecepatannya.


Sreeett! Jleb!


Suara ayam yang sedang sekarat terdengar sangat berisik ketika anak panah Fang Yin berhasil menembusnya.


Fang Yin berjalan mendekati ayam yang sedang mengelepar-mengelepar di tanah itu.


Dengan gerakan cepat Fang Yin menangkapnya lalu mencabut anak panah yang menancap di tubuhnya.


Sebuah pisau muncul di tangan Fang Yin lalu Fang Yin mengalungkan sisi tajam pisau itu di leher ayam dan membuat ayam itu tewas secara mengenaskan.


Karena di sekitar Fang Yin dan Ketua Sekte berada jauh dari sumber air, Fang Yin membersihkan ayam tanpa air.


Seluruh isi dari perut ayam itu dia keluarkan, setelah menghilangkan bulunya dengan cepet dan membelah tubuhnya di bagian dada.


Anak panah yang tadi dia cabut, kembali Fang Yin tancapkan ke tubuh ayam itu lalu membakarnya dengan api energi dari dalam tubuhnya.


Tidak butuh waktu lama membuat ayam itu menjadi setengah matang. Fang Yin menaburkan garam yang dia bawa sebelum membakarnya kembali hingga ayam itu matang.

__ADS_1


"Kamu memang benar-benar terlatih hidup di alam liar, Yin'er!" puji Ketua Sekte yang sejak tadi mengamati apa yang dilakukan oleh Fang Yin.


"Kakak terlalu memujiku. Makanlah!" Fang Yin membagi ayam itu menjadi dua bagian lalu memberikan sebagian ayam itu pada Ketua Sekte.


Matahari masih bersinar di ufuk barat, Fang Yin dan Ketua Sekte melanjutkan perjalanan mereka sebelum matahari terbenam.


Saat matahari terbenam, mereka harus menghentikan perjalanannya dan menunggu bintang penunjuk arah muncul dengan jelas.


Cara kuno ini memang memiliki banyak kendala, terutama jika hari mendung. Namun untuk saat ini tidak ada cara lain yang lebih efektif.


Seorang kultivator terlatih yang sering menjalankan misi, biasanya akan meninggalkan jejak-jejak energi di rute yang dia lalui. Hal itu akan memudahkannya untuk mengingat jalur jika dia kembali melewati rute yang sama.


Fang Yin tidak melakukannya bukan karena dia tidak bisa atau tidak terpikir untuk melakukannya. Namun semua itu dia lakukan demi menjaga rahasia keberadaannya dan juga identitasnya.


Musuh bisa saja melacak keberadaan dari energi yang ditinggalkannya.


Tempat mereka berhenti saat ini adalah sebuah lembah yang selalu di selimuti oleh kabut tebal.


Konon katanya siapapun yang terjebak di lembah ini akan sulit untuk keluar. Medan di lembah ini sulit di tebak karena kabut tebal itu membatasi jarak pandang.


Selain itu, menurut cerita ada seekor binatang roh yang menjadi penguasa tempat itu.


Dia suka mengganggu siapapun yang berani memasuki wilayahnya dan tidak membiarkannya keluar hidup-hidup.


Dengan kata lain orang itu akan menjadi mangsanya.


Bulu kuduk Fang Yin meremang ketika mendengar cerita dari Ketua Sekte dan kenapa lembah ini di namakan dengan nama 'Lembah Tengkorak'.

__ADS_1


Lembah ini berada di wilayah Benua Selatan.


Rasa takut Fang Yin itu tidak berlangsung lama. Dia harus ingat akan prinsip yang dia pegang yang mengatakan bahwa rasa takut adalah kekalahan terbesar yang membawanya pada jalan kematian.


"Makhluk iblis itu sudah mulai permainannya," ucap Ketua Sekte melihat kabut yang semakin gelap dan menutup pandangan mata.


"Apa maksud kakak berkata seperti itu?" Fang Yin tidak mengerti maksud dari ucapan Ketua Sekte.


"Binatang roh itu sudah mencium keberadaan kita di sini. Waspadalah!" Ketua Sekte mengingatkan Fang Yin untuk bersikap waspada.


"Aku mengerti!" Fang Yin mengangguk mantap.


"Pegang ini!" Ketua Sekte memberikan sebuah giok pada Fang Yin.


Fang Yin menerimanya dan mengamati benda itu dengan teliti, tanpa banyak bertanya pada Ketua Sekte.


"Simpan itu baik-baik. Giok itu akan menjadi petunjuk bagi kita seandainya kita terpisah." Ketua Sekte mengeluarkan Benda yang sama.


Ketua Sekte mengalirkan Qi pada giok di tangannya dan muncul cahaya yang memancar. Cahaya itu bergerak dengan cepat menghampiri giok yang ada di tangan Fang Yin.


'Alat komunikasi yang bagus,' gumam Fang Yin dalam hati.


Sejauh mata mereka memandang, yang ada hanyalah kegelapan. Alam di sekitar mereka telah kehilangan cahayanya terbungkus oleh kabut yang tebal. jangankan untuk melihat bintang, melihat ada apa beberapa langkah di depannya saja mereka tidak bisa.


'Aku harus berpikir untuk mencari cara mengatasi masalah ini.' Fang Yin bermonolog dalam hati sambil terus berpikir.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2