
Setelah suhu air di dalam bejana itu terasa hangat, Fang Yin segera mengangkat tangannya dan mengambil kain kompresnya.
Fang Yin menyelupkan kain itu ke dalam air panas itu lalu menempelkannya ke kening Lin Shi.
Di luar terdengar suara orang yang sedang bercakap-cakap. Mereka adalah murid dan tabib yang di minta datang ke sana oleh Tetua Ming.
Tetua Ming segera meminta tabib itu, memeriksa Lin Shi. Hasil pemeriksaan yang diberikan oleh tabib itu berbeda dengan yang diungkapkan oleh Fang Yin hingga membuat orang-orang yang berada di sana menatapnya aneh.
Fang Yin tidak ingin berdebat dengan tabib itu dan memilih untuk undur diri dari sana.
Semua murid yang ada di sana menatap Fang Yin dengan tatapan meremehkan, mengiringi kepergiannya dari kamar itu.
Layaknya seperti seorang yang kalah perang, Fang Yin merasa dipermalukan di hadapan Tetua Ming dan teman-temannya.
'Kalian lihat saja nanti! Diagnosis siapa yang lebih tepat!' Fang Yin berusaha mengendalikan dirinya agar tidak terbakar emosi.
Saat ini dia tidak ingin berlatih atau pun melakukan apapun karena perasaannya sedang tidak baik-baik saja.
Fang Yin berjalan menuju ke tempat yang disukai oleh Jian Heng yaitu sebuah batu di tepi.
Dia duduk seorang diri di tempat itu untuk membuat suasana hatinya yang buruk kembali bersemangat.
Semakin berusaha untuk melupakan tatapan-tatapan meremehkan itu, maka bayangan wajah mereka malah semakin jelas dalam ingatan Fang Yin.
__ADS_1
'Aku bingung mau mengerjakan apa. Mau berlatih aku tidak ada semangat, mau berkultivasi aku sedang tidak bisa berkonsentrasi. Hmmh!' Fang Yin mendengus kesal.
Ada sebuah ranting pohon yang jatuh di sampingnya, tepat di sebelah kakinya. Fang Yin mengambilnya lalu memainkannya.
Merasa bosan duduk di atas batu, Fang Yin melompat turun ke tepi kolam. Pemandangan yang dia lihat sedikit berbeda dengan sebelumnya. Aroma wangi bunga bisa tercium dengan jelas oleh indera penciumannya.
Fang Yin memeluk lututnya dengan tangan kirinya dan melukis tanah dengan ranting yang ada di tangan kanannya.
Seekor cacing muncul di tanah basah yang dia korek-korek dengan ranting pohon itu. Fang Yin mengambil dan menyimpannya karena tidak tahu dia bisa mendapatkannya lagi atau tidak setelah ini.
'Walaupun mereka tidak pernah menganggap ucapanku, tapi aku tidak akan membiarkan murid itu mati sia-sia. Kasihan sekali dia masih muda. Nama baik sekte ini pasti akan hancur jika dia sampai mati. Anggap saja aku sedang membalas budi Tetua Yu,' gumam Fang Yin dalam hati.
Cacing-cacing yang dia dapatkan, dia cuci bersih dengan air kolam sebelum dia menyimpannya.
"Kamu di sini, Xiao Yin!" sapa Jian Heng yang membuat Fang Yin tersentak.
Di tangan Tetua Yu ada dua buah kotak makan. Fang Yin baru menyadari jika saat ini sudah tiba waktunya untuk makan siang.
"Aku pikir kamu sedang berlatih. Aku berkeliling untuk mencarimu tapi tidak menemukanmu. Di sini kamu rupanya," jelas Jian Heng.
Fang Yin tidak ingin menceritakan apa yang dialaminya hari ini pada Jian Heng. Sampai mereka selesai makan siang pun, Fang Yin tidak menyinggung hal itu sedikit pun.
"Aku sedang tidak ingin berlatih hari ini. Aku tidak ingin menunjukkan kemampuanku yang sebenarnya di depan orang-orang ini dan hal itu membuat diriku terlihat lucu dan konyol seperti badut." Fang Yin mengungkapkan kekesalannya pada Jian Heng.
__ADS_1
"Sekarang apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Jian Heng pada Fang Yin mencoba memahami gadis pujaanya itu.
Fang Yin tidak langsung menjawab pertanyaan Jian Heng dan nampak berpikir.
"Apakah di sekte ini ada ruangan khusus untuk membuat pil?" Fang Yin menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
"Tidak ada. Tapi aku punya ruangan khusus untuk berkultivasi dan melakukan hal yang berhubungan dengan olah tenaga dalam. Ruangan itu aku lindungi dengan mantra sehingga tidak ada orang yang tahu apa yang sedang aku lakukan di dalam ruangan itu," jelas Jian Heng menceritakan tentang ruang rahasia miliknya itu.
Sebuah senyuman aneh memaksa sudut bibir Jian Heng terangkat membentuk lengkungan indah ketika dia mengingat hal memalukan yang dia alami semalam.
"Bolehkah aku meminjamnya sebentar?" tanya Fang Yin meminta ijin.
"Kamu boleh memakainya sesukamu," jawab Jian Heng tulus.
Fang Yin merasa sangat gembira mendengarnya lalu meminta Jian Heng untuk segera mengantarnya ke sana. Suasana hatinya sedikit membaik dan mulai melupakan semua hal yang membuatnya merasa kesal hari ini.
Mereka berdua berjalan menuju ke villa milik Jian Heng dan pergi ke ruang rahasia yang dimaksud olehnya.
Jian Heng membukakan pintu untuk Fang Yin dan membiarkannya masuk ke sana seorang diri.
Selain tidak ingin mengganggu Fang Yin, Jian Heng juga masih ada tugas mengajar hari ini.
"Nanti malam aku akan mulai mengajarkanmu Kitab Sembilan Naga di sini," ucap Jian Heng.
__ADS_1
****
Bersambung ....