
Xiao Chen berjalan menghampiri kedua orang tuanya lalu berdiri di samping mereka.
Jian Heng mengepalkan tangan kanannya dan menyatukannya dengan telapak tangan kirinya memberi hormat pada keluarga Xiao. Fang Yin yang masih terkejut sedikit terlambat melakukan penghormatan mengikuti Jian Heng.
"Kehormatan bagi kami, Tetua Yu berkenan mampir ke pondok sederhana kami," ucap Tuan Xiao membalas penghormatan Jian Heng dan Fang Yin.
"Saya juga merasa terhomat mendapat sambutan yang begitu hangat dari keluarga ini. Maaf saya datang bersama seorang teman untuk memenuhi undangan Tuan Xiao," ucap Jian Heng bersopan santun sebelum membawa Fang Yin masuk ke dalam bersamanya.
"Kami tidak keberatan Anda membawa teman. Mari silakan masuk, Tuan. Kami sangat senang dengan kehadiran Anda berdua." Tuan Xiao mempersilakan Jian Heng dan Fang Yin untuk masuk ke dalam rumah.
Xiao Chen tersenyum senang karena gurunya bersedia berkunjung ke rumahnya. Ini akan menjadi cerita yang membanggakan ketika dia kembali ke Sekte Sembilan Bintang tempatnya menimba ilmu. Dia yakin teman-temannya pasti akan merasa sangat iri jika mereka tahu Tetua Yu bertandang ke rumahnya.
Tuan Xiao membawa Jian Heng dan Fang Yin masuk ke dalam rumah lalu duduk di sebuah ruangan. Mereka berlima duduk mengelilingi sebuah meja berukuran sedang yang berisi beberapa menu masakan yang tersaji rapi di sana. Aroma makanan yang begitu harum membuat perut mereka merasa lapar dan ingin segera memakannya.
Nyonya Xiao mengambilkan makanan untuk Tuan Xiao dan Jian Heng. Namun dia tidak mengambilkan makanan untuk Fang Yin dan mempersilakannya untuk mengambil sendiri. Sudah terlihat jika Nyonya Xiao tidak menyukai Fang Yin.
Jian Heng membantu Fang Yin mengambil makanan yang tidak terjangkau olehnya. Perhatian Jian Heng itu mengundang rasa penasaran Tuan Xiao dan Nyonya Xiao. Menurut cerita Xiao Chen gurunya itu masih lajang dan tidak terlibat perjodohan dengan seorang wanita.
__ADS_1
Mereka bertanya-tanya tentang sosok Fang Yin yang menurut mereka sangat menakutkan. Penampilannya yang aneh dan berbeda dari gadis kebanyakan membuat kesan misterius kian meningkat. Mereka bertiga bergantian melihat Fang Yin dan Jian Heng yang tampak tenang menikmati hidangan makan malam yang mereka sajikan.
Setelah selesai makan malam, Tuan Xiao meminta kedua tamunya itu pindah ke meja yang lain untuk mengobrol.
"Tuan Xiao, kami mengucapkan banyak terimakasih atas jamuan lezat yang Anda berikan," ucap Jian Heng mengungkapkan terimakasih pada Tuan Xiao.
Fang Yin menunduk menyembunyikan wajahnya karena sejak tadi Tuan Xiao terlihat memperhatikannya.
'Laki-laki ini benar-benar sangat mirip dengan Tuan Xi. Apakah mereka saudara kembar? Lalu mengapa mereka tinggal di tempat yang berbeda dengan jarak yang cukup jauh. Dan satu lagi, jika mereka saling mengenal dan berkomunikasi, seharusnya Xiao Chen belajar di Akademi Tujuh Bintang dan bukan di Sekte Sembilan Bintang.' Berbagai pertanyaan muncul di benak Fang Yin dan membuatnya tidak bisa mengikuti obrolan Jian Heng dan Tuan Xiao.
"Tetua Yu, maaf jika saya lancang bertanya. Apakah Nona ini adalah kerabat Anda?" tanya Tuan Xiao sambil menunjuk Fang Yin.
Merasa dirinya dipertanyakan, Fang Yin menatap Jian Heng dengan tatapan yang sulit dimengerti.
"Benar. Dia adalah kerabat jauh yang kebetulan bertemu di sini karena sama-sama ingin mendapatkan Qi Naga Suci," bohong Jian Heng.
Demi melindungi Fang Yin dia rela membuat cerita palsu yang bisa saja membuat namanya ikut terbawa. Jian Heng tidak peduli, toh tidak ada yang tahu juga identitasnya yang sebenarnya. Bisa di bilang, Fang Yin dan Jian Heng sama-sama melakukan penyamaran untuk menyembunyikan jati diri mereka.
__ADS_1
"Oh, jadi begitu. Aku tidak bisa melihat kemiripan kalian karena wajah Nona ini tertutup oleh cadarnya." Tuan Xiao mengangguk-angguk mempercayai ucapan Jian Heng.
Xiao Chen dan ibunya datang bergabung setelah membereskan sisa-sisa makan malam mereka.
"Ayah! Aku dengar paman Xi sedang dalam misi di dekat-dekat sini. Mungkin besok dia akan berkunjung ke sini!" seru Xiao Chen pada ayahnya.
Deg!
Jantung Fang Yin berdebar-debar ketika mendengar nama Xi di sebut oleh Xiao Chen.
'Apakah yang dimaksud oleh Xiao Chen adalah ayah angkatku, Tuan Xi Liang.'
"Oh, iya! Dari mana kamu mendapatkan berita ini?" tanya Tuan Xiao.
****
Bersambung ....
__ADS_1