Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 321. Menghadang


__ADS_3

Rombongan utusan Kaisar Ning dan seorang anggota suku gletser sudah berada di kejauhan. Kuda mereka memacu dengan cepatnya menembus kegelapan malam. Jian Heng dan Fang Yin tidak melihatnya dari tempatnya yang sekarang.


"Yin'er, apakah kamu punya solusi agar kita bisa sampai di titik penyergapan sebelum mereka sampai di sana?" tanya Jian Heng.


Fang Yin terlihat berpikir. Rambut panjangnya yang tergerai melambai-lambai tertiup angin malam. Mereka terbang dengan kecepatan yang cukup tinggi.


"Sepertinya kita perlu berteleportasi antar ruang untuk mencapai tempat tujuan kita dengan cepat," jelas Fang Yin.


"Mari kita lakukan!"


Mereka berdua menghentikan langkah dan berhenti melayang di udara. Sesaat kemudian Fang Yin membagi energinya dengan Jian Heng. Dengan begitu, keduanya bisa berteleportasi dalam ruang dan waktu yang sama tanpa saling bersentuhan.


Fang Yin mulai memusatkan pikirannya untuk melintasi dimensi ruang dan waktu dan berpindah dengan sangat cepat. Mereka tidak bisa ditemukan oleh mata biasa. Energi mereka pun tidak mudah dirasakan oleh orang-orang yang mungkin ada di sekeliling mereka berdua.


Setelah menguasai ke-sembilan Kitab Sembilan Naga, kemampuan Fang Yin pun meningkat drastis. Penggunaan teknik teleportasi hampir tidak ada cela. Dia melakukannya dengan sangat sempurna.


Jarak antara titik penyergapan dan para utusan itu kira-kira tinggal dua ribu kaki. Seandainya Fang Yin tidak menggunakan teknik teleportasi, maka para utusan itu akan sampai di sana lebih dahulu sebelum dirinya.


Derap kaki kuda berlari terdengar sangat jelas di telinga Fang Yin dan Jian Heng ketika keduanya melintas di dalam ruang yang berdekatan dengan pasukan itu. Namun, itu hanya sekilas saja karena keduanya bergerak melintasi jarak dengan perpindahan yang sangat cepat.


Fang Yin melompat ke daratan kemudian diikuti oleh Jian Heng. Mereka telah berada di titik yang ditentukan oleh Guan Xing.


Keadaan tempat itu sangat sepi. Jalan yang cukup lebar dengan kedua sisinya dikelilingi oleh pepohonan yang tinggi. Di sisi bagian kanan merupakan jurang yang curam, dimana seseorang yang terjatuh ke dalamnya tidak akan bisa selamat karena dasar jurang itu adalah bebatuan yang runcing.


"Sebentar lagi mereka akan tiba di sini. Apa yang harus kita lakukan Yin'er?" tanya Jian Heng.

__ADS_1


Keduanya berjalan dengan santai menuju ke tepi karena para utusan masih cukup jauh dari sana.


"Kita harus menyambutnya dengan serangan mematikan. Aku sedang tidak bisa bermain-main. Oh, iya, sebaiknya kak Heng juga harus menggunakan penutup wajah sepertiku. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Mungkin saja ada salah satu dari mereka yang berhasil melarikan diri dan mengingat wajah Kak Heng."


Jian Heng terlihat menimbang-nimbang. Tanpa ingin menundanya, Jian Heng pun segera mengeluarkan sebuah kain berwarna hitam lalu mengikatnya di kepala untuk menutupi sebagian wajahnya.


"Aku akan melakukan penyerangan dari udara sementara Kak Heng menyerang mereka dari darat."


Sebenarnya Jian Heng sudah memikirkan rencananya sendiri. Dia ingin bersembunyi terlebih dahulu dan membiarkan Fang Yin menyerang mereka terlebih dahulu. Dengan begitu mereka tidak akan ada yang lolos dari pengawasannya.


Jika tidak salah memperkirakan, Jian Heng merasakan ada dua orang yang memiliki roh pelindung di antara kesepuluh utusan tersebut. Sepertinya Kaisar Ning tahu jika wilayah Gunung Perak tidak akan mudah untuk ditembus sehingga mereka mengutus pasukan pilihan yang berjumlah lebih dari lima orang. Tentunya mereka juga memiliki strategi dan persiapan dalam menghadapi kemungkinan terburuk.


Bumi di sekitar tempat itu mulai bergetar oleh hentakkan kaki kuda yang berpacu dengan waktu. Suara derapnya menderu di tengah kesunyian malam membuat hewan-hewan yang tinggal di sekeliling tempat itu pergi ke tempat yang lebih aman.


Fang Yin duduk bertengger di atas pohon dan menyambut para utusan itu dengan jarum beracun yang telah disiapkannya terlebih dahulu. Mengingat ada seorang anggota suku gletser yang berada di antara mereka, dia mengeluarkan mata ketiganya agar bisa melihatnya dengan terang.


Dalam jarak yang bisa dijangkau dengan mudah, Fang Yin segera melemparkan jarum-jarum beracun kepada semuanya. Di luar ekspektasinya, utusan Kaisar Ning menghindarinya dengan mudah dan menangkal serangannya. Hanya ada tiga orang yang mari tanpa perlawanan.


Suara ringkikan kuda ketakutan membuat bulu roma meremang. Pengendaranya menghentikan tunggangan mereka secara mendadak lalu mengedarkan pandangannya untuk mencari siapa penyerang yang bersembunyi. Gelapnya malam membuat para utusan itu harus bekerja lebih keras untuk menemukan Fang Yin.


"Keluar kamu! Dasar pengecut! Beraninya hanya menyerang sambil bersembunyi. Kamu pasti takut jika berhadapan dengan kami." Salah seorang dari utusan itu berteriak geram.


'Gawat! Sepertinya aku tidak bisa terus bersembunyi. Sebaiknya aku keluar dan menghadapi mereka dengan memperlihatkan diriku. Toh mereka tidak mengenali siapa aku sebenarnya.' Fang Yin bergumam dalam hati.


Tanpa banyak berpikir lagi Fang Yin melompat turun dan berdiri di hadapan musuh-musuhnya.

__ADS_1


"Serahkan harta kalian, aku akan membiarkan kalian pergi dengan aman." Terlanjur tertangkap basah, Fang Yin menyamarkan dirinya seolah-olah dia adalah bandit.


Kepalanya memutar ke arah Jian Heng berada berharap kekasihnya itu akan datang menyusulnya. Namun, tidak ada tanda-tanda jika Jian Heng akan muncul.


'Sepertinya Kak Heng sedang mengatur rencananya sendiri. Baiklah! Aku akan melakukan semua rencanaku.' Fang Yin kembali fokus untuk menyerang.


Dengan gerakan cepat dia melompat ke udara dan mengeluarkan aura energinya. Tindakannya mengundang rasa penasaran para utusan, di mana seorang wanita berada dalam ranah puncak.


Di negaranya ini para kultivator kuat tidak terlepas dari pengamatan Kaisar Ning. Dia berani membayar mahal bagi para kultivator kuat untuk memperkuat pertahanannya. Jika utusan itu berhasil merayu Fang Yin untuk bergabung bersama mereka maka hadiah yang besar akan mereka dapatkan.


"Tunggu, Nona! Sepertinya kita perlu bicara," ucap salah seorang dari utusan itu mengendurkan kewaspadaannya.


Pria itu berjalan mendekati Fang Yin dengan penuh percaya diri sebab dia mengira jika Fang Yin benar-benar seorang bandit yang suka merampok di tempat sepi.


"Katakan saja sebelum aku membuatmu tidak bisa bicara lagi!" seru Fang Yin sambil menatap tajam utusan itu.


Mata Fang Yin yang menyiratkan kebencian membuat utusan itu merasa segan. Dia terlihat menelan ludahnya yang tercekat di tenggorokan hingga beberapa kali.


"Kami tidak memiliki harta yang banyak untuk kuberikan padamu. Tetapi aku tahu di mana Anda bisa memperoleh harta yang sangat banyak," bujuk utusan itu.


Fang Yin mendengus sambil tersenyum miring di balik cadarnya. Ucapan dari utusan itu membuatnya berpikir.


"Aku hanya butuh untuk makan sehari-hari saja. Tidak perlu menjual kekuatan untuk mendapatkan harga."


Ucapan Fang Yin membuat utusan itu terkesiap. Kini dia merasa ciut nyali di hadapan seorang wanita muda. Harapannya untuk mendapatkan hadiah yang besar pupus sudah

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2