
Keadaan tidak bisa mengalah pada perasaan, sebaliknya perasaan harus mengalah pada keadaan. Tujuan sudah di depan mata, ibaratnya tinggal beberapa langkah lagi dia akan mencapainya.
Tidak ada hal yang salah dengan naluriahnya, setiap hati pasti memiliki cinta. Namun, sebelum mencapai tujuannya, Fang Yin tidak ingin menjalin relasi dengan siapapun meskipun harus berperang dengan perasaannya sendiri.
Artefak daun membawa Fang Yin membumbung di ketinggian, menembus awan melintasi waktu dalam kecepatan. Sebelum hari gelap dia telah mencapai perbatasan Benua Tengah. Gunung tempat hidup Phoenix Api dan Es sudah terlihat dalam pandangan.
'Aku akan pergi ke gunung itu esok pagi. Di malam hari sulit bagiku untuk menentukan arah, tubuhku juga terasa sangat lelah.' Fang Yin turun di atas bukit yang berjarak puluhan kilometer saja dari tempat Phoenix Api dan Es berada.
Malam itu dia manfaatkan untuk mempersiapkan diri sebelum menghadapi binatang legendaris itu. Fang Yin mengingat kembali isi buku yang dia pinjam dari perpustakaan pribadi Kaisar Xi. Semua ciri-ciri dan kemampuan Phoenix Api dan Es serta cara menghadapinya.
Phoenix Api dan Es memiliki banyak keistimewaan dan hampir tidak memiliki kelemahan. Di Benua Timur sendiri, hewan ini dijadikan sebagai lambang kemakmuran.
'Sesulit apapun ujian ini aku harus mendapatkan bulunya. Semoga aku bisa membujuk burung itu tanpa ada perlawanan. Jika dipikir-pikir Yang Hui ada benarnya juga, aku harus belajar untuk bersikap manis.'
Sebelum beristirahat, Fang Yin mengumpulkan energi alam dengan berkultivasi. Ada atau tidaknya pertarungan, dia harus menyiapkan pundi-pundi energi yang tak terbatas jumlahnya.
Keberadaannya di bukit itu memancing binatang roh yang tinggal di sana untuk mendekat. Mereka merasakan aura kuat dari Yang Hui dan tidak berani mengusiknya. Roh naga merupakan roh pemimpin bagi para binatang roh.
Saat mendekati tengah malam, penyerapan energi yang dilakukan oleh Fang Yin telah mencapai batas maksimal. Tubuhnya menjadi lebih ringan meskipun dia belum bisa menembus ke tingkat di atasnya. Setelah mendapatkan Kitab Sembilan Naga bintang tujuh, secara otomatis dia bisa melakukan penerobosan ke tingkat yang lebih tinggi.
"Hei, apa yang kalian lakukan di sini? Apakah kalian ingin kumakan?" seru Yang Hui meminjam tubuh Fang Yin untuk menggertak binatang roh yang mengelilinginya.
Suara Fang Yin yang memang diubah menyerupai seorang pria hingga membuat para binatang roh itu ketakutan. Mereka mundur secara perlahan lalu lari tunggang langgang meninggalkan tempat itu. Ucapan Yang Hui terlihat serius sehingga mereka tidak berani mendekatinya lagi.
"Dasar hewan bodoh," ucap Yang Hui sambil tersenyum menyeringai setelah melihat kepergian mereka.
Sesaat kemudian, binatang-binatang itu sudah tak terlihat di telan gelapnya malam.
"Kamu sangat kejam, Yang Hui. Entah sudah berapa kali kamu membuat lambungku terbakar saat menelan inti energi." Fang Yin merasa kesal pada Yang Hui.
"Hahaha! Kamu terlalu lama bertindak. Mungkin butuh waktu seminggu untuk menyerap energi dalam inti roh jika kamu yang melakukannya." Yang Hui merasa apa yang dilakukannya sudah benar.
"Terserah kau saja. Sekarang tubuhku juga lebih kuat dari sebelumnya. Mungkin setelah ini aku akan memenjarakan banyak binatang roh di dalam ruang dimensi ku yang masih kosong." Setelah binatang roh itu pergi, Fang Yin baru mendapatkan ide.
"Mengapa kamu tadi tidak bilang bo-? Ah, maksudku harusnya kamu bilang padaku agar aku menggiring mereka ke dalam ruang dimensi milikmu." Hampir saja Yang Hui menyebut Fang Yin 'bodoh', jika sudah begitu maka keduanya akan kembali berseteru dan saling melontarkan kata-kata kasar.
__ADS_1
"Sudahlah! Lupakan saja! Aku ingin tidur sekarang." Fang Yin melepaskan mantra pelindung lalu membaringkan tubuhnya di atas rerumputan tipis yang tumbuh di atas bukit itu.
Yang Hui pun kembali bermeditasi di dalam simbol Dewi Naga. Mereka melewatkan malam dan menikmati fase istirahat mereka.
Pagi hari,
Fang Yin tidak menemukan sesuatu untuk di makan pagi itu. Dia menelan sebuah pil energi lalu memakannya dengan meminum seteguk air yang selalu dibawanya.
Sebelum berangkat menuju ke Gunung Phoenix Api dan Es, dia merenggangkan ototnya terlebih dahulu. Selain untuk melatih fisiknya, pemanasan ini juga berguna untuk membuat hati dan pikirannya menjadi lebih siap menghadapi tantangan.
Energinya telah tersembunyi dan tidak mudah terdeteksi oleh kekuatan apapun. Untuk mencapai gunung itu, Fang Yin berpikir untuk berjalan kaki saja tanpa menunjukkan kemampuannya yang lain. Dengan langkah biasa, dia bisa mencapainya kurang dari setengah hari dengan berjalan cepat.
Fang Yin tetap waspada ketika berjalan menuju ke sana. Dia harus melewati rimbunnya pepohonan dengan semak belukar yang tumbuh disekelilingnya. Jika dilihat-lihat, tempat itu sepertinya jarang sekali dikunjungi oleh manusia.
'Heh! Kamu sudah memasuki kaki gunung. Berhati-hatilah!' seru Yang Hui mengingatkan Fang Yin.
'Hmmm, aku akan berhati-hati.'
Langkah kaki Fang Yin diperlambat. Suasana di kaki gunung itu masih terlihat sama dengan keadaan di sekelilingnya. Namun, semakin ke atas, suasananya semakin berubah.
Fang Yin mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan tidak mendapati siapapun di sana. Di sebuah stepa yang luas dia menghentikan langkahnya. Aura energi yang pekat datang mendekatinya. Instingnya mengatakan jika binatang roh yang datang itu adalah Phoenix Api dan Es.
Sreeetttt! Boom!
Sebuah serangan mirip sebuah pedang melesat ke arah Fang Yin dan berhasil dihindarinya. Energi yang terlihat memanjang itu menghunjam tanah lalu meledak.
Kewaspadaan Fang Yin meningkat, dia bergerak memutar seiring dengan pandangan matanya yang mencari-cari sumber serangan. Dengan kepekaannya, dia menemukan titik energi dari makhluk tak terlihat yang bergerak berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya.
"Hai, aku tidak bermaksud untuk mengganggumu. Kedatanganku tidak membawa permusuhan. Percayalah!" seru Fang Yin dengan sikap tenang. Dia berpura-pura tidak tahu di mana keberadaan makhluk itu meskipun dia merasakan.
Tidak ada jawaban.
Seperti yang ditulis dalam buku yang dibacanya, Phoenix Api dan Es sangat berhati-hati dan penuh perhitungan dalam bertindak. Untuk membuatnya percaya bahwa dia tidak datang dengan permusuhan, Fang Yin tidak membalas serangannya dan hanya menghindar saja.
Kaki Fang Yin menyilang lalu duduk bersila di atas tanah. Dia berharap dengan sikapnya kali ini, Phoenix Api dan Es mengerti. Ini adalah teknik yang dia dapatkan dari cermin pemberian Selir Tang.
__ADS_1
Dalam jarak lima belas langkah darinya berdiri binatang roh yang dia tunggu-tunggu. Phoenix Api dan Es yang terlihat anggun dengan dua sayap yang berbeda. Sorot matanya yang tajam menatap ke arah Fang Yin tanpa berkedip.
"Maaf jika kedatanganku membuatmu terkejut. Tapi percayalah. Aku tidak bermaksud jahat," ucap Fang Yin sambil menunggu reaksi burung dengan tubuh yang berukuran dua kali lebih besar dari tubuhnya itu.
Phoenix Api dan Es memiringkan kepalanya saat mengamati Fang Yin dengan gerakan khas burung. Dia tidak mengeluarkan suara tetapi tatapan matanya menjadi sedikit lebih lembut.
"Namaku Xiao Yin. Apakah kamu bisa berbicara?" Fang Yin mulai tidak sabar untuk mendekatinya.
Merasa burung itu tidak menunjukkan reaksi penolakan, Fang Yin beranjak dari duduknya lalu berjalan menghampirinya. Kini mereka berdiri saling berhadapan dalam jarak kurang dari sepuluh langkah.
Jika dilihat dari dekat, burung itu terlihat sangat cantik. Namun, kecantikannya itu membuat bulu roma bergidik mengingat hawa energi yang kuat menyelimuti tubuhnya. Dalam sekali kibas, kedua sayapnya akan mengeluarkan dua jenis energi yang berbeda.
'Kamu cantik, tetapi menakutkan. Bagaimana caranya aku menaklukkanmu. Mulut kasarku ini tidak bisa merayu. Bahkan pada pria tampan saja aku tidak bisa bersikap manis.' Fang Yin mengata-ngatai dirinya sendiri.
Cukup lama mereka terdiam. Berdiri mematung tanpa melakukan apa-apa. Keduanya terlihat canggung dan tidak tahu bagaimana caranya memulai.
"Apa tujuanmu datang kemari? Aku tidak akan membiarkan siapapun mengusik ras kami." Phoenix Api dan Es bicara dengan suara bernada rendah dan berat.
"Rupanya kamu bisa bicara. Aku datang kemari untuk ... untuk meminta bantuanmu. Tidak ada niat sama sekali untuk masuk ke wilayah pribadimu, apalagi mengganggu keluargamu. Aku juga memiliki keluarga meskipun saat ini tinggal ibuku saja. Ayah dan saudara-saudaraku telah dibantai dengan sangat kejam." Fang Yin mencoba mengambil simpati Phoenix Api dan Es.
Matanya terlihat berempati, tetapi dia tampak belum percaya sepenuhnya.
"Aku tidak punya waktu untuk membantumu. Pergilah!" Phoenix Api dan Es berbalik memunggungi Fang Yin bersiap untuk pergi. Mungkin dia berpikir jika dirinya diminta untuk membantunya membalas dendam dan pergi meninggalkan tempat ini.
"Hei, tunggu! Aku memang bukan temanmu. Kita juga tidak saling mengenal. Tetapi apakah kamu tidak ingin berbelas kasihan padaku?"
Ucapan Fang Yin membuat burung itu berhenti lalu kembali berbalik menatapnya.
"Apa yang kamu inginkan?" tanyanya.
Fang Yin terlihat berpikir, 'Bagaimana caranya aku mengatakan keinginanku tanpa membuatnya marah? Bulunya sangat berharga baginya. Aku tidak melakukan apapun untuknya, rasanya tidak mungkin dia akan memberikannya secara cuma-cuma.'
****
Bersambung ....
__ADS_1