Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 216


__ADS_3

Fang Yin merasa apa yang diungkapkan oleh Song Palao cukup masuk akal. Di Benua Utara para pria menganggap status mereka lebih tinggi dibandingkan dengan wanita, tidak mengherankan jika Song Palao begitu menjaga martabatnya sebagai orang terpandang di wilayahnya.


"Baiklah! Aku juga mengajukan satu syarat sebagai ganti syarat ini." Fang Yin tidak ingin meluluskan syarat Song Palao.


"Katakan saja!" Song Palau menatap ke arah Fang Yin dan merasa jika wanita di hadapannya itu benar-benar seorang yang sangat perhitungan.


Fang Yin menepuk pundak Song Palao dan berbisik, "Jangan mengambil paksa gadis baik-baik yang tidak berniat untuk bergabung dalam bisnis gelapmu! Atau aku akan kembali lagi ke sini dan menghancurkan semuanya," ancam Fang Yin.


Sebenarnya dia berencana untuk menghancurkan tempat itu hari ini. Namun setelah dipikir-pikir, dia akan kehilangan banyak kesempatan dan belum lagi jika ada kultivator kuat di sana yang mengeroyoknya.


"Baiklah! Kamu bisa memegang ucapanku. Selama tempat itu aku yang memegangnya, aku jamin hal itu tidak akan terjadi lagi."


Setelah mengatakan itu, Song Palao segera mengeluarkan Kitab Sembilan Naga bintang enam di tangannya.


Mata Fang Yin berbinar ketika melihatnya. Sebelumnya dia membayangkan betapa sulitnya mendapatkan kitab ini dan ternyata semuanya lebih mudah dari perkiraannya.


Kitab itu kini telah berpindah ke tangan Fang Yin tanpa ucapan serah terima. Fang Yin segera menyimpannya lalu berbalik untuk pergi.


"Tunggu! Bolehkah aku tahu siapa kamu sebenarnya dan siapa yang mengutusmu untuk mengambil kitab itu?"


Ucapan Song Palao membuat langkah Fang Yin terhenti. Namun Fang Yin tidak mempedulikan akan pertanyaan Song Palao dan memilih untuk segera pergi.

__ADS_1


"Sial! Wanita itu mengabaikanku!" Song Palao memilih untuk turun karena dadanya semakin terasa nyeri.


Fang Yin terbang tanpa artefak daun melesat dalam ketinggian. Pandangan matanya melihat ke bawah untuk mencari tempat yang kira-kira aman untuk singgah sebelum malam benar-benar menjadi gelap gulita.


Malam ini Fang Yin tidak ingin menginap di sebuah penginapan, dia memilih untuk mencari tempat yang jauh dari pemukiman penduduk. Selain matanya yang bisa melihat dengan jelas di malam hari, Fang Yin juga bisa memiliki insting roh naga yang kuat.


'Sepertinya tempat itu sedikit tenang.' Fang Yin turun di atas sebuah bukit yang tidak banyak pepohonan besar.


Dia tidak merasakan adanya binatang roh dan hawa manusia di sana. Mungkin ada hewan berbisa yang hidup di sana, tetapi itu bukan masalah untuknya. Sebelum binatang itu mendekatinya, tentu Fang Yin akan merasakan kehadirannya.


'Perutku sangat lapar. Kebiasaanku sebagai seorang manusia yang hidup di jaman modern, belum sepenuhnya menghilang. Aku terbiasa dengan pola makan tiga kali sehari dan pola hidup sehat, tiba-tiba harus hidup sebagai seorang kultivator yang mengembara. Astaga!'


Sisi terdalam Agata Moen meresapi kemalangan dan petualangan yang dia jalani. Sebagai seorang dokter yang baru saja menikmati kehidupan idealnya, dia merasa ini adalah sebuah kemalangan. Untung saja dia adalah orang yang suka tantangan, jadi apapun kehidupan yang dia jalani tidak membuatnya depresi.


Keberuntungan kembali berpihak padanya. Ternyata pohon yang menjadi tempatnya bernaung adalah sebuah pohon mangga yang sedang berbuah lebat.


Fang Yin segera melompat ke atas pohon dan memetik mangga yang telah masak. Dia mengambil beberapa buah untuk di makan.


"Lumayan! Perutku tidak lagi kelaparan."


Setelah perutnya terisi, Fang Yin mengeluarkan Kitab Sembilan Naga bintang enam yang baru saja dia dapatkan.

__ADS_1


Kitab itu diletakkan di tangan kirinya lalu membukanya dengan tangan kanannya dengan segel mantra yang telah dia pelajari dari kitab sebelumnya. Seseorang tidak akan bisa membuka Kitab Sembilan Naga bintang ke enam, sebelum dia menguasai Kitab Sembilan Naga bintang lima.


Mulai dari Kitab Sembilan Naga bintang lima, ada mantra khusus untuk membuka kitab-kitab selanjutnya.


Fang Yin mulai membuka halaman pertama dan tidak sabar membaca isinya. Namun dia terkejut ketika di halaman itu hanya tertulis sebuah kalimat, "Rumput Mahkota Naga."


"Apa-apaan ini! Aku pikir aku bisa langsung mempelajari kitab ini setelah bisa membukanya. Huhh!" Terlihat wajah kecewa Fang Yin ketika dia harus mencari rumput langka lagi.


Semangatnya yang menggebu-gebu menjadi lenyap seketika. Dengan malas dia menjatuhkan tubuhnya di tanah dan bersandar pada pohon tempatnya berlindung.


Bugh!


Sebuah mangga jatuh menimpa bahunya, pohon itu bergoyang karena hentakkan punggungnya saat dia bersandar.


"Kamu juga ikut menertawakanku, ya? Terima ini!" Fang Yin meninju pohon mangga itu untuk meluapkan kekesalannya.


Tetapi sungguh sial, pukulan Fang Yin malah membuat buah mangga berjatuhan semakin banyak dan menimpa dirinya.


"Menyebalkan!" Fang Yin beranjak lalu pergi meninggalkan pohon itu.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2