Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 250. Ketahuan


__ADS_3

Jian Heng meraih tangan Fang Yin dan membawanya ke tempat yang tersembunyi. Mereka bisa melihat orang yang datang tetapi orang yang datang tidak bisa melihat keduanya.


Fang Yin tidak menyadari jika Jian Heng bukan hanya menyamarkan hawa kehadiran mereka saja. Dia telah menguasai teknik ilusi mata yang mampu membuatnya dan orang yang berada bersamanya tak terlihat.


Rombongan yang datang semakin mendekat. Di barisan paling depan adalah Jing Jihua dan pengawal pribadinya. Sedangkan dibelakangnya ada Changyi dan pengawal istana.


"Pangeran Pertama, lihatlah! Pangeran Ketiga tidak ada di tempat. Wanita itu pasti telah menculiknya. Aku dan pengawal telah mencari mereka ke seluruh penjuru istana, tetapi tidak juga menemukannya." Jing Jihua meneteskan air mata buaya.


Di sini seolah-olah Fang Yin lah yang paling bersalah. Kebersamaan mereka sebelum Jian Heng menghilang, membuatnya menjadi orang terakhir yang melihat keduanya. Jing Jihua sebenarnya tidak tahu bagaimana cerita yang sesungguhnya karena mereka tiba-tiba menghilang dari pandangannya.


"Jangan bicara yang tidak-tidak! Sebaiknya kita tunggu para pengawalku kembali." Changyi meminta Jing Jihua untuk bersabar.


Tidak lama kemudian, prajurit yang menyisir ulang seluruh istana satu persatu kembali. Mereka datang dan tidak melaporkan jika Jian heng dan Fang Yin tidak mereka temukan.


Tangis Jing Jihua semakin menjadi-jadi membuat Changyi merasa kesal. 'Pantas Jian Heng tidak menyukainya. Rupanya wanita ini penuh drama,' pikirnya.


"Jian Heng sudah dewasa. Dia tahu apa yang baik untuknya dan tidak. Mungkin dia sedang berjalan ke luar istana untuk bersenang-senang bersama Nona Xiao Yin."


Ucapan Changyi semakin membangkitkan rasa cemburu Jing Jihua. Dia memang sengaja melakukannya agar wanita itu berhenti untuk mengejar adiknya.


Jing Jihua menangis meraung-raung tetapi Changyi meninggalkannya begitu saja. Kali ini, dia menangis dengan serius. Karena tidak ada yang menghiraukannya, Jing Jihua pun segera kembali ke istana Perdana Menteri.


Suasana kembali aman. Jian Heng dan Fang Yin keluar dari persembunyiannya.

__ADS_1


"Kelihatannya dia sungguh-sungguh dengan perasaannya. Mengapa kamu tidak menerimanya saja?"


"Karena aku sudah menyukai orang lain." Jian Heng menatap Fang Yin penuh arti, berharap dia mengerti akan perasaannya.


Fang Yin tidak tahu jika orang lain yang dimaksud oleh Jian Heng adalah dirinya. Dia berpaling dan berkata, "Semoga kalian bahagia."


Hatinya terasa remuk ketika mengatakan itu. Melihat status Jian Heng yang tinggi, dia tidak berani untuk berharap.


"Dia adalah kamu."


Bara api yang membakar hati Fang Yin seketika menjadi padam. Dia diam saja ketika Jian Heng mendekatkan wajahnya untuk mengecup keningnya. Matanya terpejam karena tidak sanggup menatap mata sayu Jian Heng.


"Aaahh, aduhh!" pekik Jian Heng.


"Dasar Anak Nakal. Aku berkeliling mencarimu hingga lelah, kamu malah asyik bermesraan di sini. Aku akan melaporkan ini pada ayah."


Mata Jian Heng membulat saat mendengar ancaman dari kakaknya itu. Dengan cepat dia menarik tangan kakaknya dan menatapnya memelas.


"Jangan katakan ini pada ayah, Kak. Kumohon!" Jian Heng memohon.


Sebenarnya Changyi ingin sekali mengerjai adiknya itu, tetapi melihat Fang Yin yang sangat malu, dia mengurungkannya. Ayahnya baru saja sembuh, tidak mungkin dia mengatakan hal yang tidak penting seperti ini.


"Tidak masalah. Asal kamu mau melakukan hal yang aku suruh."

__ADS_1


Tidak ada pilihan lain bagi Jian Heng, dia harus melakukan apa yang diminta oleh kakaknya.


Changyi meminta Jian Heng untuk tidur di luar kamar, sementara kamarnya menjadi tempat tidurnya malam ini. Sebenarnya dia tidak yakin jika Jian Heng akan menurutinya. Namun, ternyata adiknya itu benar-benar menurutinya.


Sebagai seorang kultivator yang terbiasa hidup di alam bebas, tidur di luar ruangan bukanlah sebuah hal yang berat bagi Jian Heng. Changyi merasa heran melihat adiknya itu tidak melawan atau meminta keringanan darinya.


Mereka bertiga pun berpisah karena hari telah malam. Fang Yin masuk ke kamarnya, Changyi masuk ke kamar Jian Heng dan Jian Heng duduk di atas batu besar yang ada di taman..


Changyi berkeliling melihat-lihat isi kamar adiknya. Sebagai seorang pangeran, kamar Jian Heng termasuk sederhana. Barang-barangnya tidak banyak dan perabot yang dimiliki merupakan produk dari kalangan bawah dengan kualitas rendah. Tidak ada yang tahu jika Jian Heng membelinya dengan harga mahal demi menolong warga miskin.


Sebuah lukisan yang berada di atas tempat tidur, menarik perhatian Changyi. Dari kejauhan lukisan itu hanya terlihat bagian bawahnya saja karena bagian atasnya tergulung. Perlahan dia membuka gulungan dan membentangkannya.


Seorang gadis yang sangat cantik dengan tatanan rambut yang sangat mirip dengan seseorang.


"Aku seperti merasa tidak asing dengan wanita ini, tapi siapa, ya?" Changyi berusaha mengingat-ingat siapa wanita yang ada di gambar.


****


Bersambung ...



Numpang promo novel karya temanku ya kak... Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2