
Tidak ingin membahayakan nyawa phoenix lain, Fang Yin meyakinkan dirinya bahwa dia bisa menyerap seluruh isi Kitab Sembilan Naga bintang tujuh ke dalam pikirannya dalam waktu satu purnama. Dia memperbaiki posisi duduknya dan meningkatkan fokus.
Kitab Sembilan Naga bintang tujuh melayang di hadapannya. Fang Yin menggerakkan tangannya ke depan dan mengalirkan Qi pada kitab itu sehingga tulisan di dalamnya terproyeksi menjadi barisan huruf bercahaya di udara.
Fang Yin membaca dan memahami tulisan yang membentang didepannya lalu menyerapnya ke dalam inti pikirannya. Bahasa dalam kitab ini begitu kompleks dengan perbaikan pada kelemahan teknik sebelumnya.
Sebelum masuk ke tahap lanjut, Fang Yin harus benar-benar menguasai teknik yang dia pelajari sebelumnya untuk menghindari kerusakan jaringan meridiannya. Setiap teknik memiliki tingkat kesulitannya dan resiko yang berbeda-beda, begitu juga dengan teknik perpindahan antar dimensi.
Kitab Sembilan Naga bintang ke tujuh menjadi bagian kitab tersulit dari kesembilan kitab lainnya. Bagian ini juga menentukan seseorang untuk bisa melanjutkan ke bagian selanjutnya.
Untuk menyelesaikan halaman pertama, Fang Yin membutuhkan waktu yang cukup lama. Yang dilakukannya bukan sekedar membaca dan memahami saja melainkan juga memperbaiki struktur energi dan menyetabilkan elemen-elemen penting yang terbentuk di dalam tubuhnya.
Dia bisa saja melewati ini dan memperbaikinya setelah latihan, tetapi hal itu akan membuatnya bekerja dua kali dan membuat pekerjaannya menjadi semakin lama.
Fang Yin merasakan sesuatu yang berbeda di dalam tubuhnya setelah melakukan perbaikan sesuai petunjuk. Kini dia tidak mengeluh lagi dan mempelajari halaman selanjutnya dengan lebih bersemangat.
Malam itu dia hanya sanggup mempelajari dan menyerap 2 halaman saja. Mengingat pagi sebentar lagi akan menjelang, Fang Yin menyudahi latihannya dan menghabiskan sisa malam untuk beristirahat.
Memaksakan diri untuk berlatih keras bisa berakibat fatal bagi dirinya. Kesalahan dalam pemahaman dan kurangnya konsentrasi akan membuat budidaya energinya menjadi berantakan. Bukan hasil yang baik yang akan dia dapatkan melainkan cidera dengan tingkat ringan maupun berat.
Fang Yin mendekati ambang kesadarannya seolah-olah dia sedang berada di dalam dimensi asing yang baru pertama kali dia kunjungi. Di sana dia melihat ribuan gerakan yang tergambar jelas di sekelilingnya.
Rasa penasaran menuntunnya untuk mengikuti gerakan jurus yang tergambar di sana. Fang Yin melakukan gerakan sesuai petunjuk hingga menghasilkan sebuah gerakan yang harmonis. Ini merupakan teknik ringan yang sangat mudah dipraktekkan.
Fang Yin tidak tahu ini dimensi apa dan mengapa tiba-tiba muncul di ambang kesadarannya.
__ADS_1
Di alam bawah sadar dan ambang bawah sadar memiliki perbedaan. Seseorang yang masuk di alam bawah sadar tidak mengalami hal-hal yang nyata meskipun sedang melakukan aktifitas seperti di alam nyata. Sedangkan pada kondisi ambang kesadaran seseorang masih memegang kendali atas tubuhnya sehingga dia bisa merasakan secara nyata apa yang dilakukannya, berkeringat, dan juga merasakan sakit.
Beberapa kali dia mengulangi gerakan yang telah dia lakukan sebelumnya. Merasa sudah menguasainya, Fang Yin menguncinya dalam ingatan sebagai teknik yang bisa dia gunakan setiap saat ketika bertarung.
Malam telah berlalu dan berganti pagi. Fang Yin terjaga meskipun dia tidak benar-benar tertidur. Tubuhnya sudah terbiasa terbangun pada waktu yang sama tanpa ada yang membangunkannya.
Suasana masih remang-remang ketika Fang Yin keluar dari dalam kamarnya dan melihat suasana di dimensi ras phoenix pada pagi hari. Mereka melakukan aktifitas seperti makhluk hidup lainnya.
Entah apa yang dilakukan oleh mereka, Fang Yin hanya mengamatinya tanpa banyak bertanya. Kehidupan antara binatang roh dan manusia memang banyak perbedaan meskipun ada sebagian yan sama pula.
Ada dua phoenix yang mengantarkan buah-buahan untuknya dan menatanya di atas meja kamarnya. Mereka meminta Fang Yin untuk mengatakan apa yang dia butuhkan, maka mereka akan melayaninya dengan baik.
Fang Yin merasa tidak membutuhkan sesuatu saat ini. Rasanya dia tidak perlu mandi di sana karena tidak ada kamar mandi atau bak untuk menampung air. Tidak mungkin Fang Yin mandi di danau dan membuat phoenix yang tinggal di sana merasa ketakutan melihat simbol Dewi Naga yang menjadi aktif.
"Sepertinya aku harus membangun kolam mandi dalam dimensi yang aku ciptakan. Aku bisa melepaskan penatku dari dunia nyata yang menyiksa." Fang Yin melambungkan angan-angannya.
Dimensi ruang Fang Yin masih menjadi tempat kosong tak berpenghuni. Butuh energi yang besar dan kecermatan untuk membuatnya memiliki bangunan atau segala sesuatu yang menjadi keinginannya. Seperti dimensi ras phoenix yang mungkin telah ada sejak ribuan tahun yang lalu.
Pagi itu Fang Yin mengunjungi Han Han seorang diri tanpa Ying Ruo. Sebagai seorang pemimpin ras, tentunya dia memiliki kesibukan tersendiri yang harus diselesaikan.
Kamar Han Han masih tertutup ketika dia sampai di sana, penjaga yang biasanya berdiri di depan pintunya juga tidak ada di sana. Fang Yin mengetuk pintu kamar itu hingga beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban.
"Apakah Anda mencari Tuan Han Han?" tanya phoenix yang kebetulan lewat di hadapan Fang Yin.
"Apakah kamu melihatnya?" tanya Fang Yin setelah menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Mari ikut saya," ucap phoenix itu berjalan mendahului Fang Yin. Akan sulit menjelaskan sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain selain ras phoenix.
Fang Yin dibawa ke sebuah tempat di mana berdiri sebuah menara kira-kira setinggi lima belas kaki. Di bawah menara, phoenix-phoenix berdiri mengelilinginya dengan kedua telapak tangan terbuka ke atas.
'Apa yang sedang mereka lakukan? Sepertinya mereka sedang melakukan upacara.' Fang Yin menduga-duga.
Phoenix yang datang bersama Fang Yin pun bergabung pada barisan mereka.
Di barisan paling depan, Ying Ruo berdiri untuk memimpin. Han Han terlihat berdiri dibelakangnya. Di barisan paling belakang adalah phoenix kecil yang masih terlihat anak-anak.
Fang Yin berdiri mematung melihat upacara itu dari tempat yang tersembunyi. Hanya phoenix yang tadi bersamanya saja yang tahu akan keberadaannya.
Matahari mulai muncul dari ufuk timur. Sinarnya terpancar mengenai sebuah cermin yang diteruskan ke pucuk menara. Di atas menara muncul dua buah cahaya yang terlihat merah seperti api dan putih seperti salju.
Cahaya itu akan turun menjadi energi yang dibagi pada seluruh ras phoenix yang mengikuti upacara. Mereka memiliki kesempatan yang berbeda-beda untuk menyerap energi sesuai dengan kondisi tubuhnya.
Mereka terlihat gelisah karena cahaya energi itu tidak kunjung turun. Wajah-wajah cemas mereka membuat Fang Yin merasa aneh. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ying Ruo terlihat sedang menenangkan mereka di kejauhan.
'Apa ini?' Fang Yin melihat tubuhnya mulai mengeluarkan Qi Awan Salju tanpa direncanakan.
Hawa dingin menyelimuti alam disekelilingnya dan membuatnya menjadi pusat perhatian. Rambutnya memanjang dan memutih dengan mahkota yang bercahaya. Dia sendiri tidak mengerti mengapa Qi Awan Salju dalam tubuhnya tak terkendali.
****
Bersambung ....
__ADS_1