Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 48. Kembali ke Penginapan


__ADS_3

"Pedang itu adalah hadiah dari Tetua An. Di antara semua tetua, hanya dia yang paling peduli padaku. Tanpa bantuan darinya mungkin aku telah mati di Hutan Kenestapaan," cerita Fang Yin.


Tuan Xi menyesal telah percaya pada Tetua Song yang dia anggap sebagai saudara.


Dia kemudian mengajak Fang Yin untuk turun dan meminta maaf padanya.


Fang Yin menceritakan semuanya termasuk tentang keracunan masal yang terjadi di akademi.


Bukan Fang Yin yang meracuni mereka melainkan terjadi tanpa kesengajaan. Justru Fang Yin-lah yanh telah mengobati mereka semuanya dan itu menjadi awal mula dia mendapat tempat di hati teman-temannya.


Jian Heng terdiam melihat semua yang terjadi tanpa banyak bicara. Dia merasa seperti orang asing yang tidak mengerti apa-apa. Ingin ikut berbicara tetapi dia tidak tahu jalan ceritanya.


'Xiao Yin! Aku benar-benar seperti orang asing sekarang. Sebelum ini aku telah merasa sangat dekat denganmu meskipun kita baru saja saling mengenal.' Jian Heng menatap Fang Yin yang terus mengobrol dengan Tuan Xi di hadapannya.


"Xiao Yin, aku pergi dulu ke penginapan," pamit Jian Heng ketika obrolan Fang Yin sedang terjeda keheningan.


Fang Yin menoleh ke arah Jian Heng. Hampir saja dia melupakan teman barunya itu karena terlalu asyik mengobrol bersama ayah angkatnya.


"Tunggu aku sebentar lagi!" pintanya pada Jian Heng.


Jian Heng mengangguk.

__ADS_1


Fang Yin kembali beralih menatap Tuan Xi.


"Ayah! Hari sudah larut malam. Aku harus segera kembali ke penginapan untuk beristirahat," pamit Fang Yin pada Tuan Xi Liang.


"Baiklah! Jaga dirimu baik-baik! Jika tujuanmu sudah tercapai, pulanglah! Ibumu sudah sangat merindukanmu!" ucap Tuan Xi yang merasa jika Fang Yin sedang ada kepentingan dengan pemuda di hadapannya itu.


Melihat keduanya keluar dari rumah Tuan Xiao, Tuan Xi memiliki untuk menanyakan perihal Fang Yin dan Jian Heng pada kerabatnya itu.


Jian Heng memberi hormat pada semua orang yang ada di sana sebelum pergi meninggalkan tempat itu.


Begitu juga dengan Fang Yin, dia juga melakukan hal yang sama mengikuti apa yang dilakukan oleh Jian Heng.


'Selain tampan, tata kramanya juga sangat baik. Sayang sekali aku belum pernah melihat kemampuannya,' gumam Fang Yin dalam hati saat dalam perjalanan menuju ke penginapan.


"Apa rencanamu besok?" tanya Jian Heng ketika mereka sudah semakin dekat dengan penginapan.


"Rencana? Emm ... sepertinya tidak ada yang berubah. Aku ingin melanjutkan perjalananku untuk mencari Kitab Sembilan Naga."


"Kamu tidak ingin pulang bersama ayahmu? Aku lihat dia bukan orang sembarangan," ucap Jian Heng sambil terus menatap Fang Yin, dalam hati dia berharap agar Fang Yin tidak pergi bersama ayahnya.


Fang Yin menggeleng.

__ADS_1


"Dia sudah mengerti jika aku senang berpetualang. Aku bukan tipe seorang putri yang senang tinggal di rumah meskipun aku pernah melakukan hal itu." Tanpa sadar Fang Yin hampir keceplosan dengan identitasnya sebagai seorang putri.


"Maksudku! Ibu angkatku selalu memanggil guru tata krama dan semua tentang pengajaran untuk seorang putri bangsawan, tapi aku tidak menyukainya," imbuh Fang Yin mencoba merubah pandangan Jian Heng bahwa dirinya bukan berasal dari seorang putri yang sebenarnya.


"Oh, aku pikir kamu benar-benar seorang putri sebelum diangkat oleh keluarga Xi."


Deg


'Hampir saja aku membuka identitasku dengan tidak sengaja. Untung saja Jian Yu percaya dengan alasanku.' Fang Yin masih berdebar mendengar pernyataan Jian Heng.


"Aku hanya putri seorang tabib sebelum aku kehilangan orang tua kandungku. Aku ditipu oleh seseorang yang kutolong lalu dijual sebagai budak," cerita Fang Yin kali ini dia tidak berbohong.


"Kamu harus berhati-hati dengan orang yang baru kamu kenal. Tidak semua orang itu baik dan tulus."


Fang Yin menganggu menanggapi ucapan Jian Heng.


Mereka kini telah sampai di penginapan dan disambut oleh penjaga penginapan yang menyimpan kunci kamar mereka.


Jian Heng dan Fang Yin baru tahu jika ternyata kamar yang mereka tempati saling berdekatan. Sebelum mereka masuk ke kamar mereka masing-masing, mereka membuat kesepakatan untuk membangunkan salah satu dari mereka bagi yang bangun lebih awal.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2