Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 285. Rasa Iri


__ADS_3

Dengan penuh percaya diri wanita itu maju ke hadapan Fang Yin. Dia mengabaikan isyarat dari Patriak Shi yang memintanya untuk menjauh dari sana. Wanita itu tetap pada pendiriannya untuk ikut bersama Fang Yin dan Jian Heng pergi mencari makanan untuk seluruh anggota Klan Shi.


Wanita itu adalah Shi An Hui, putri dari Patriak Shi.


"Tidak, Nona. Di luar sangat berbahaya. Sebaiknya Anda tetap tinggal di sini bersama yang lainnya." Fang Yin tidak ingin membawanya pergi.


An Hui terlihat kecewa. Dia tidak terima dengan sikap Fang Yin yang seolah merasa hebat. Menurutnya, dia juga bisa melakukan apa yang dilakukan oleh Fang Yin.


Dengan gaya sombongnya, An Hui berjalan mengelilingi Fang Yin dengan tangan yang terlipat di dada. Dia mengamati tubuh Fang Yin dari atas hingga ujung kaki. Tidak ada aura energi yang besar dari tubuhnya.


"Memangnya kamu bisa apa? Bukankah kita sama-sama wanita. Aku bisa melindungi diriku sendiri, jadi kamu tidak perlu khawatir." An Hui tidak bergeming.


Mendengar hal itu Fang Yin tidak langsung marah. Dia ingin berdebat dengan cara yang elegan tanpa menimbulkan keributan.


Fang Yin duduk di samping anak yang kelaparan tadi dan terlihat santai. Semua orang menatapnya dengan tatapan tidak mengerti. Mereka tidak tahu apa yang ingin dilakukannya.


"Kenapa kamu malah duduk?" An Hui menatap jengah pada Fang Yin.


"Bukankah kamu merasa hebat? Jadi kamu saja yang pergi. Aku ingin lihat apa yang bisa kamu lakukan." Fang Yin berbicara dengan santai.


Sikap konyol Fang Yin membuat Jian Heng menggeleng. Jika sudah begini, dia juga tidak bisa membujuknya lagi. Kekasihnya itu sangat keras kepala dan suka seenaknya. Tidak ada yang bisa memaksanya sampai dia ingin melakukannya sendiri.


"Ini tidak benar. Kau bilang ingin membantu mencarikan makanan untuk kami. Sekarang tiba-tiba kamu malah duduk bersantai dan memintaku untuk berangkat sendiri. Baiklah, aku akan pergi bersama Pangeran Ketiga saja kalau begitu." An Hui berbalik dan menatap ke arah Jian Heng.


Tangan Fang Yin mengepal. Urat-urat di wajahnya menegang. Dia merasa sangat kesal pada sikap An Hui yang tidak tahu malu itu.


"Aku tidak bisa pergi tanpa, Yin'er. Jika dia menolak untuk pergi maka aku juga akan tetap tinggal." Jian Heng melirik ke arah Fang Yin yang terlihat tidak bersemangat.


"Bantu ibumu dan yang lainnya memasak makanan di belakang saja." Patriak Shi menarik tangan An Hui dengan paksa.


Awalnya An Hui menolak. Tidak ingin menjadi pusat perhatian orang, akhirnya dia memilih pasrah dan pergi mengikuti ayahnya.


Jian Heng berjalan mendekati Fang Yin dan berdiri mematung di hadapannya. Fang Yin masih terlihat enggan untuk menatapnya dan melihat ke samping.


"Ayo kita berangkat!" Jian Heng mengulurkan tangannya untuk membantu Fang Yin bangkit dari duduknya.


Tidak ingin menjadi tontonan di sana, Fang Yin pun akhirnya setuju untuk berangkat. Dia menyambut tangan Jian Heng lalu berdiri di hadapannya.


Mereka tidak bercakap-cakap lagi. Fang Yin dan Jian Heng pergi keluar dari pondok itu dan berdiri di tengah tebalnya salju. Suku es memang sengaja menanamkan formasi pelindung gurun salju di wilayahnya agar tidak ada pihak lain yang masuk ke sana. Suasana akan semakin kacau jika ada pihak lain di luar suku es dan gletser yang ikut campur.


"Pangeran Ketiga, bagaimana jika kita pergi dengan melintasi dimensiku. Kita tidak bisa berlama-lama meninggalkan Klan Shi. Hatiku tidak tenang, aku takut jika suku gletser tiba-tiba datang menyerang."


Wajah Jian Heng terlihat tidak senang dengan cara Fang Yin memanggilnya. Dia merasa seperti ada jarak yang membuat mereka jauh meskipun saling berdekatan.


"Yin'er, bisakah kamu memanggilku kakak. Atau mungkin yang lebih berkesan dari itu juga boleh. Aku merasa kita seperti orang lain jika kamu terus memanggilku seperti itu." Jian Heng mengulurkan tangannya untuk membelai wajah Fang Yin tetapi Fang Yin segera menundukkan wajahnya.


Rona wajahnya bersemu merah. Kekesalannya akibat ulah An Hui seketika telah menghilang. Hampir saja dia tidak mempercayai Jian Heng.


"Kakak Heng ...." Fang Yin terlihat malu-malu memanggil Jian Heng dengan sebutan kakak.


Jian Heng tersenyum senang. Dia mengeluarkan sesuatu di tangannya, sebuah kain berwarna hitam yaaaang biasa dipakai oleh Fang Yin untuk menutup wajahnya.


Meskipun Jian Heng tidak mengatakan apa-apa tetapi Fang Yin tahu jika pria itu ingin dia kembali menutup wajahnya. Belum saatnya identitasnya terbuka di depan publik. Cukup dia dan keluarganya saja yang boleh tahu untuk saat ini hingga waktunya tiba.

__ADS_1


"Terimakasih, Kak Heng. Aku baru berpikir untuk memakainya lagi." Fang Yin telah kembali menutupi wajahnya.


"Benar, wajah cantikmu akan membuat para bidadari merasa iri. Ayo kita berangkat!" Pujian sederhana Jian Heng membuat Fang Yin kembali tersipu.


Fang Yin berusaha mengesampingkan urusan pribadinya dan kembali pada tujuannya. Dia berkonsentrasi dan membagi energinya pada Jian Heng. Tidak ada waktu lagi untuk bersantai.


Mereka memasuki portal yang menghubungkan mereka dengan dimensi tujuh elemen dan melintasi dimensi pribadi Fang Yin untuk keluar pada tempat tujuannya. Jian Heng berpikir jika Fang Yin akan memegang tangannya seperti sebelumnya, tetapi itu tidak terjadi.


'Aku terlalu banyak berharap. Gadis ini terlalu polos untuk mengambil kesempatan. Sepertinya aku harus banyak mengambil inisiatif untuk menakhlukkannya.' Jian Heng menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar.


Fang Yin memilih tempat yang berada di luar tempat tujuannya. Mereka berpindah di perbatasan kota. Kedatangannya yang tiba-tiba akan mengejutkan bagi siapa saja yang melihatnya. Untuk itu, dia memilih untuk mengambil jarak dari tempat tujuan utamanya.


Keduanya berjalan santai melewati keramaian menuju ke sebuah kios penjual bahan makanan. Fang Yin dan Jian Heng berpencar untuk menyingkat waktu. Selain bahan makanan mentah yang belum diolah, keduanya juga membeli makanan yang siap untuk dikonsumsi.


Sebagai seorang dokter di dunia sebelumnya, Fang Yin lebih berhati-hati memilih makanan. Dia membedakan makanan untuk orang dewasa dan anak-anak. Lain halnya dengan Jian Heng yang membeli makanan sesuai jumlah orang yang ada di sana.


Mereka menyimpan apa yang mereka beli ke dalam cincin penyimpanannya. Setidaknya untuk seminggu ke depan stok makanan mereka masih aman. Mereka tidak perlu khawatir lagi akan merasa kelaparan.


"Kak Heng, sebaiknya kita tidak mengeluarkan semua bahan makanan yang kita beli. Pondok itu terlalu sempit untuk menyimpan semua yang kita beli."


Jian Heng sependapat dengan Fang Yin. Mereka tidak akan bisa beristirahat dengan nyaman di dalam ruangan yang sempit dan penuh dengan barang.


"Kamu benar, Yin'er."


Mereka berdua kembali menggunakan teknik lintas dimensi untuk kembali ke Gunung Perak. Sudah cukup lama mereka berbelanja hingga matahari berada tepat di atas kepala mereka. Perut keduanya merasa lapar, tetapi mereka mengabaikannya dan memilih untuk makan bersama-sama dengan Klan Shi.


Perjalanan singkat itu membawa keduanya kembali ke depan pondok besar milik suku es. Sebelumnya pondok ini hanya digunakan pada acara-acara tertentu saja. Bisa dikatakan pondok ini adalah gedung serbaguna yang biasa digunakan untuk sebuah perayaan.


Jian Heng mengetuk pintu ketika mereka tiba di sana dan menunggu seseorang untuk membukakan pintu untuk mereka.


Di dalam pondok itu seluruh Klan Shi menikmati makan siang mereka, kecuali keluarga Fang Yin. Mereka tidak menyadari kepergian Fang Yin dan terlihat kebingungan mencarinya.


"Yin'er, kamu dari mana saja? Sejak tadi aku mencarimu. Mereka bilang kalian pergi mencari bahan makanan." Selir Shi menghampiri Fang Yin. Kedua tangannya memegang lengan Fang Yin dan menatapnya dalam. Masih tampak sisa-sisa kekhawatiran di wajahnya.


"Maafkan aku, Ibu. Aku terbiasa hidup bebas sehingga lupa untuk berpamitan padamu." Fang Yin memeluk ibunya merasa bersalah.


"Sudah, lupakanlah! Ayo kita makan!" Selir Shi merenggangkan pelukannya dan mengajak Fang Yin dan Jian Heng pergi bersamanya.


Semua orang menatap Jian Heng dan Fang Yin dengan tatapan merendahkan. Mereka pikir keduanya tidak benar-benar mencari bahan makanan untuk mereka. Di tengah makan siang mereka saling berbisik satu sama lain membicarakan keduanya.


Fang Yin dan Jian Heng saling berpandangan.


Selir Shi yang merasa tidak senang putrinya dan calon menantunya menjadi bahan gunjingan. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membungkam mulut mereka.


"Tutup telingamu, Yin'er. Kita makan bersama kakek nenekmu." Selir Shi berjalan meninggalkan Fang Yin berharap putrinya itu akan mengikutinya di belakang.


Fang Yin dan Jian Heng tidak bergerak dari tempatnya. Mereka menatap jengah wajah-wajah menyebalkan di hadapan mereka.


Patriak Shi juga terlihat acuh pada keduanya dan berpikir jika mereka hanya membual saja. Mereka datang dengan tangan kosong ketika pergi dan kembali dengan keadaan yang sama. Keduanya terlihat peduli tetapi tidak melakukan apa-apa untuk mewujudkan kepeduliannya.


"Patriak Shi!" panggil Fang Yin dengan suara lantang.


Meskipun hatinya sangat kesal, Patriak Shi tidak bisa mengabaikan panggilannya. Dia berjalan kehadapan Fang Yin lalu memberi hormat. Bagaimanapun juga, wanita di hadapannya itu adalah putri Kaisar Gu meskipun masih diragukan kebenarannya.

__ADS_1


Fang Yin mengulurkan tangannya ke depan tepat di atas sebuah meja panjang. Berbagai jenis makanan yang siap disantap muncul dari sana dan tertata rapi di atas meja.


Jian Heng juga melakukan hal yang sama. Makanan yang mereka keluarkan cukup untuk makan siang ini dan sore hari nanti.


Setelah selesai mengeluarkan makanan-makanan yang mereka simpan, Fang Yin dan Jian Heng pergi meninggalkan tempat itu dan bergabung bersama Selir Shi.


Patriak Shi berdiri mematung dan melihat semua makanan-makanan lezat itu dengan tatapan tak percaya. Selama ini dia hanya mendengar saja tentang cincin penyimpanan yang dimiliki oleh keluarga kerajaan. Kini dia menyaksikannya dengan kedua matanya.


Beberapa anggota Klan Shi membantunya untuk membagi makanan-makanan itu kepada seluruh anggota klan termasuk keluarga Fang Yin. Mereka juga mendapatkan bagian makanan yang sama seperti yang lainnya.


Shi Han Wu berbicara pada Fang Yin setelah menggelengkan kepalanya, "Anak nakal! Kamu sangat senang mempermainkan perasaan orang lain rupanya."


"Mereka yang senang menduga-duga tanpa bertanya, Kek. Kami telah bekerja keras hari ini, jadi biarkan kami makan." Fang Yin mengambil mangkuk kosong untuk Jian Heng lalu mengambil untuk dirinya sendiri.


Keluarga itu terlihat bahagia menikmati kebersamaan mereka. Sesekali mereka berceloteh dan tertawa di sela-sela makan mereka. Selir Shi merasa telah kehilangan banyak momen yang seharusnya dia lalui bersama Fang Yin.


Andai pemberontakan itu tidak ada mungkin keduanya kini hidup bahagia dan tinggal di istana dengan segala kenyamanannya. Namun, tentu semua tidak semulus dan seindah yang mereka bayangkan. Pasti ada kerikil-kerikil tajam yang mewarnai kehidupan istana yang penuh persaingan.


An Hui menatap iri pada kebahagiaan Fang Yin dan keluarganya. Sebelumnya mereka tidak saling mengenal dekat. Namun, ketampanan Jian Heng telah membutakan hatinya dan hanya memperlihatkan keburukan saja tentang pesaingnya.


Wanita itu meminta ijin pada ayahnya untuk pergi keluar setelah membantu para wanita membereskan makanan dan menyimpannya untuk makan malam.


"Di luar sangat berbahaya, Hui. Sebaiknya kamu tetap berada di sini," cegah Patriak Shi.


"Aku merasa sangat bosan, Ayah. Udara di dalam ruangan ini sangat pengap setelah kedatangan dua ekor kutu busuk." An Hui menyindir Fang Yin dan Shi Han Wu yang berada tidak jauh dari tempatnya. Dia sengaja memberikan tekanan dan nada yang tinggi saat mengucapkan dua kata terakhirnya.


Fang Yin terlihat memejamkan matanya untuk beberapa detik sembari mengatur napasnya. Kata-kata An Hui memang sangat tidak sopan, tetapi dia tidak ingin merusak suasana hatinya dengan memikirkannya.


Selir Shi terlihat marah. Ketika dia hendak beranjak, Fang Yin menahannya dengan memegang tangannya. Wanita paruh baya itu akhirnya luluh dan mengurungkan niatnya.


Beruntung Shi Han Wu sedang asyik mengobrol bersama Jian Heng, Shi Jun Hui dan Yu Ruo sehingga tidak mendengar ucapan An Hui. Pondok itu bisa hancur dengan kemarahannya jika sampai dia tersinggung.


Patriak Shi merasa tidak enak pada Selir Shi dan Fang Yin. Sorot matanya menunjukkan ketidakberdayaan. Rasa bersalah menggunung di hatinya karena sejak kecil dia terlalu memanjakan An Hui yang telah kehilangan ibunya sejak bayi.


Tanpa persetujuan darinya An Hui tetap pergi meninggalkan ruangan itu. Hatinya merasa sakit ketika ayahnya menunjukkan wajah bersalahnya pada Fang Yin dan ibunya.


Ruangan itu kembali tenang. Para penghuninya duduk bergerombol bersama kerabat dekat mereka. Sendau gurau dan obrolan ringan menjadi penghibur di tengah ketegangan akan keberadaan suku gletser.


Dalam jarak yang sangat jauh, Fang Yin mendengar sebuah pertarungan. Ketajaman pendengarannya membuatnya gelisah. Sayup-sayup suara itu terdengar sangat mirip dengan suara An Hui.


Selir Shi melihat perubahan sikap Fang Yin dan bertanya, "Apa yang sedang kamu pikirkan, Yin'er? Tenanglah!"


Selir Shi mengusap rambut Fang Yin dengan lembut.


"An Hui dalam bahaya. Aku tidak tahu harus menolong gadis sombong itu atau tidak. Dia sendiri yang pergi untuk menyerahkan nyawanya pada musuh."


Ucapan Fang Yin terdengar oleh Patriak Shi dan orang-orang yang berada di sekelilingnya. Meskipun belum tahu apakah yang dikatakan Fang Yin benar atau tidak, mereka terlihat sangat khawatir.


"Kita tidak bisa membalas kejahatan dengan kejahatan, Yin'er. Bagaimanapun juga dia adalah anggota klanmu, orang yang memiliki darah yang sama denganmu." Jian Heng tahu betul jika Fang Yin tidak suka bermain-main dengan ucapannya.


Shi Han Wu terlihat acuh, tetapi Shi Jun Hui tidak. Dia terlihat sangat khawatir pada An Hui. Selama ini dia dikenal sebagai gadis yang baik dan senang membantu. Dia merasa tersaingi oleh Fang Yin hingga sikapnya berubah.


"Kita harus menolongnya." Jun Hui beranjak dari duduknya dan menepuk bahu Patriak Shi sebagai isyarat untuk mengajaknya berangkat.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2