Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 201


__ADS_3

Pria itu mengabaikan rasa sakitnya dan nekat memukul Jian Heng dengan cambuknya. Sesaat sebelum cambuk itu menyentuh tubuh Jian Heng, besi dingin yang melilit tubuh Jian Heng menyala merah seperti magma.


Rupanya diam-diam Jian Heng telah menyerap esensi energi di dalamnya. Besi yang sudah tidak memiliki esensi energi itu, kini dia biarkan meleleh dan jatuh ke tanah.


Para pengawal pria itu mundur ke belakang takut terkena lelehan besi panas yang menetes mengelilingi tubuh Jian Heng. Cambuk di tangan pria yang dia pukulkan ke tubuh Jian Heng tidak berarti apa-apa.


"Aku tidak ada permusuhan denganmu. Aku hanya tidak menyukai caramu memperlakukan wanita dengan cara yang tidak manusiawi. Ambil ini!" Jian Heng melemparkan sebutir pil pemulih untuk pria kejam itu.


Sisi manusianya tidak membiarkannya untuk pergi meninggalkan pria itu mati oleh jurusnya.


"Aku tidak akan berterima kasih untuk bantuanmu." Pria itu melihat sekilas pil pemberian Jian Heng lalu menelannya.


Jian Heng berhenti sebentar tanpa menoleh, mengibaskan bajunya lalu berjalan meninggalkan tempat itu.


Ketika salah satu pengawal ingin menghalangi langkah Jian Heng, pria itu menarik tangannya dan memintanya untuk diam dan membiarkan Jian Heng pergi dari sana.


Jian Heng berjalan santai menuju ke pedagang makanan yang sudah buka. Hanya ada beberapa pedagang saja di sana karena hari masih terlalu pagi.


Perjalanannya kali ini, Jian Heng ingin sedikit bersantai dengan berjalan kaki menuju ke Gunung Serigala Merah. Pemandangan indah Benua Utara membuatnya merasa betah berada di sana. Terlepas dari cara hidup yang merendahkan wanita, Benua Utara merupakan negara yang sangat maju.


Banyak sekali inspirasi yang didapatkan oleh Jian Heng tentang tata ruang kota dan desa. Suatu saat jika dia kembali ke negaranya, dia bisa menerapkan pengalaman yang dia dapatkan ini.


Gunung Serigala Merah berada di bagian tengah wilayah Benua Utara. Jika tidak ada halangan, Jian Heng akan sampai di sana dalam dua hari dengan berjalan kaki.


Kembali ke tempat Fang Yin berada,


Zheng Bairan mengantarkan Fang Yin untuk pergi ke Kolam Misteri di Gunung Serigala Merah sebagai ganti ketidak tahuannya tentang Kitab Sembilan Naga bintang enam yang dia cari.


Fang Yin tidak ingin diantarkan hingga mencapai Gunung Serigala Merah. Dia hanya ingin diantarkan sampai di perbatasan kota saja.

__ADS_1


Berada di dekat orang asing membuat Fang Yin merasa tidak nyaman. Susah payah dia menyembunyikan identitasnya, dengan sering berinteraksi akan membuatnya mudah di kenali.


"Terimakasih, Tuan. Sebaiknya Anda kembali saja. Tidak perlu mengantarku hingga ke kota. Aku tidak mau nantinya Anda akan merepotkanku." Fang Yin meminta Zheng Bairan untuk kembali.


"Terimakasih, Nona. Berhati-hatilah! Di negara ini wanita kuat akan diburu." Zheng Bairan kembali mengingatkan Fang Yin.


"Hmm. Aku tahu." Fang Yin melompat menuruni jalanan landai di lereng perbukitan.


Zheng Bairan melihat ke arah Fang Yin hingga dia benar-benar tidak terlihat. Setelah tidak ada yang perlu ditunggu lagi, dia pun berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu.


Sekitar satu kilometer dari tempatnya sekarang, kota yang megah di Benua Utara berdiri dengan keanekaragaman di dalamnya. Aktifitas penduduk kota lebih ramai dari tempat yang dikunjungi oleh Fang Yin sebelumnya.


Gunung Serigala Merah berada tidak terlalu jauh dari kota itu. Namun Fang Yin tidak ingin gegabah. Dia ingin mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang seluk beluk Kolam Misteri terlebih dahulu sebelum datang ke sana.


Matahari di siang itu sangat terik, Fang Yin berteduh di bawah sebuah pohon. Semalam dia kurang nyenyak saat tertidur karena Qing dan Zhao selalu membuat keributan. Mereka terus saja saling mengganggu satu sama lain tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya akan terganggu.


Fang Yin tinggal selama dua hari dua malam di rumah itu karena harus membantu mengobati Zheng Bairan yang terluka akibat pertarungannya bersama Zheng Moran. Pria tua itu terlalu memaksakan dirinya untuk bertarung melawan Zheng Moran meskipun baru selesai diobati oleh Fang Yin sebelumnya.


Di pinggir kota tidak terlalu ramai karena Fang Yin berhenti di sebuah jalanan kecil. Beberapa orang yang lalu lalang di depannya menatapnya dengan aneh. Apalagi penampilannya yang menutupi wajahnya membuat mereka merasa penasaran.


'Lebih baik aku masuk ke kota daripada duduk di sini dan dikira orang gila.' Fang Yin beranjak lalu berjalan ke pusat kota.


Ada seorang nenek tua yang sedang kepayahan membawa air. Entah bagaimana ceritanya di kota yang sangat maju itu tidak menjamin kehidupan seorang lansia.


Fang Yin datang menghampiri nenek tua itu yang membuat sang nenek berhenti sejenak lalu menatapnya sambil tersenyum.


"Bolehkah aku membantumu, Nek?" tanya Fang Yin tidak ingin berbasa-basi.


"Terimakasih, Nak. Tidak perlu membantuku." Nenek tua itu bergegas pergi dan dengan cepat meninggalkan Fang Yin.

__ADS_1


"Aneh? Apakah aku terlihat menakutkan?" Fang Yin mengerutkan dahinya.


Tidak ingin banyak berpikir, Fang Yin pun melanjutkan langkahnya.


Anak-anak kecil berlarian tanpa lelah dan saling berkejaran. Mereka tidak mempedulikan terik matahari yang panas membakar kulit. Masa kanak-kanak memang tidak mudah lelah dan selalu banyak tingkah.


Seorang anak laki-laki menabrak anak perempuan dan membuat kincir anginnya menjadi rusak. Anak perempuan itu menangis tetapi anak pria yang menabraknya tidak peduli dan meninggalkannya.


Fang Yin datang menghampiri anak perempuan itu lalu duduk berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka.


"Kincir anginnya rusak, ya?" tanya Fang Yin.


Anak perempuan itu mengangguk.


"Coba kakak betulkan." Fang Yin membuka telapak tangannya di depan anak perempuan itu.


Anak itu terlihat ragu-ragu, tetapi setelah berpikir sejenak, dia menyerahkan kincir anginnya yang penyok pada Fang Yin. Fang Yin membetulkannya dengan hati-hati dan akhirnya kincir angin itu kembali berputar dengan normal meskipun tidak sebagus sebelumnya.


"Terimakasih, Kakak." Anak perempuan itu tersenyum lalu berlari riang sambil memainkan kincir anginnya.


"Sama-sama."


Saat Fang Yin beranjak berdiri, punggungnya menabrak seseorang yang sedang berdiri di belakangnya. Dia tidak tahu jika ada orang yang berdiri di sana dan entah sejak kapan dia berada di belakangnya.


'Sepertinya aku mengenal aroma wangi tubuhnya. Tetapi rasanya tidak mungkin jika itu dia. Mungkin saja hidungku sedang berhalusinasi. Eh, tapi mana ada hidung berhalusinasi.' Tidak tahan dengan rasa penasarannya, Fang Yin pun memutar tubuhnya untuk melihat siapa orang yang berdiri di belakang punggungnya.


Sesosok pria yang sangat dikenalnya berdiri dengan tegap dan sedang tersenyum menatapnya. Fang Yin merasakan jantungnya seperti sedang melompat dari tempatnya.


****

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2