Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 41. Akhir Pertarungan


__ADS_3

Fang Yin bukanlah orang yang mudah untuk dipengaruhi. Ia mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh Jian Heng karena dia tidak ingin membuat permusuhan dengannya. Ke depannya, Fang Yin masih ada kepentingan dengan Jian Heng untuk mempelajari Kitab Sembilan Naga yang ada padanya.


Ketiga pembunuh bayaran itu merasa sedikit lega dengan kehadiran Jian Heng di sana. Mereka seakan mendapatkan angin segar dari kehampaan yang hampir mengambil napas mereka. Apalagi Fang Yin tampak menurut pada pria tampan itu.


Di kejauhan Xiao Chen yang melihat pertarungan dari awal dari tempat yang tersembunyi ikut merasa tegang.


'Pantas saja Tetua Yu begitu tertarik pada wanita aneh itu. Di balik penampilannya yang buruk, rupanya dia memiliki kemampuan yang sangat luar biasa. Dia terlihat seumuran denganku atau mungkin sedikit lebih tua. Ah, entahlah!' Xiao Chen bergumam sambil menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Terlihat Fang Yin kembali menghadap pada ketiga musuhnya yang tidak berdaya lagi dan berdiri membelakangi Jian Heng.


Tidak ingin Jian Heng mengeluarkan kata-kata yang bisa saja mempengaruhi pikirannya, Fang Yin mempercepat rencana yang telah dia persiapkan untuk menghukum pembunuh bayaran itu.


Fang Yin terlihat memposisikan kedua tangannya di samping tubuhnya dan membuka kedua telapak tangannya. Kakinya berdiri menyilang dan bersiap untuk bergerak memutar. Rupanya Fang Yin ingin melakukan Jurus Merendahkan Bayangan langsung pada intinya.


Jian Heng mencoba menganalisa apa yang akan dilakukan oleh Fang Yin pada ketiga orang itu. Dalam hati dia merasa harap-harap cemas akan apa yang terjadi setelah ini.


Wush ... wush ... wush!

__ADS_1


"Aaarrrgghhh!"


Teriakan panjang mengakhiri jurus yang dimainkan oleh Fang Yin.


Tubuh Fang Yin yang berputar kini berada sedikit menjauh dari ketiga musuhnya itu. Putaran Fang Yin melambat dan bersiap untuk melakukan teknik pembatalan energi dengan Jurus Napas Naga. Dia menyerap jejak-jejak energi yang telah dia lepaskan dan menyimpannya kembali ke dalam tubuhnya.


Ketiga pembunuh bayaran itu terjatuh ketika tidak ada lagi kristal es yang menopang tubuhnya.


Kondisi ketiganya terlihat sangat menyedihkan. Mereka masing-masing kehilangan satu matanya, satu tangannya dan rambut mereka dipangkas tidak merata oleh Fang Yin. Bajunya yang terkoyak membuat mereka terlihat seperti orang gila dan mungkin sebentar lagi akan benar-benar gila karena merasa sangat frustasi.


"Tidak usah melotot seperti itu. Kamu memintaku untuk tidak membunuh mereka, bukan? Lihatlah! Aku sangat bermurah hati dengan membiarkan mereka tetap hidup dan melepaskan mereka." Fang Yin berbicara pada Jian Heng dengan nada kemenangan.


"Tapi ... tapi!" Jian Heng menunjuk ketiga pembunuh bayaran itu dan menatap mereka dengan perasaan yang sulit dimengerti.


"Jadi kamu lebih senang melihat aku mati daripada melihat mereka seperti itu!" Fang Yin berjalan meninggalkan Jian Heng dengan perasaan kesal.


'Dasar wanita aneh! Kenapa dia bisa berpikir begitu, ya? Aku hanya ingin berusaha melindunginya dari hal buruk yang mungkin saja bisa terjadi kedepannya. Huhh! Serba salah! Wanita merasa dirinya selalu benar.' Jian Heng menggeleng lalu melenggang mengejar Fang Yin.

__ADS_1


Fang Yin membelah kerumunan penduduk yang sejak tadi berkumpul di sekitar tempat itu. Mereka mundur memberi jalan sebelum Fang Yin sampai di hadapannya. Setiap orang memiliki pemikiran dan pendapat yang berbeda untuk Fang Yin.


Ada yang setuju dengan apa yang dilakukan oleh Fang Yin, ada yang menilai Fang Yin terlalu kejam, dan ada pula yang menganggap itu sebagai hal yang wajar.


Apapun pendapat mereka, Fang Yin tidak peduli akan hal itu. Di dunia kultivasi yang kejam ini tidak ada hukum yang mengikat mereka di alam bebas. Semua ditentukan oleh kekuatan. Siapa yang kuat maka dialah yang akan menang.


"Hei! Tunggu!" panggil Jian Heng yang berlari-lari kecil menyusul Fang Yin.


"Kamu urus saja mereka! Bukankah kamu peduli?" ketus Fang Yin ketika mereka sudah berjalan bersama.


"Aku tidak peduli sama mereka. Sama sekali mereka bukan urusanku. Tapi yang aku pedulikan itu kamu."


Ucapan Jian Heng membuat Fang Yin menghentikan langkahnya sejenak lalu menatap pria asing yang tiba-tiba begitu dekat dengannya itu.


****


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2