Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 249. Dalam Perjamuan


__ADS_3

Kaisar Xi memberikan sambutannya sebelum jamuan makan malam dimulai. Acara perjamuan ini merupakan ungkapan rasa syukur atas kesembuhannya. Secara khusus, Kaisar Xi memberikan penghargaan pada Fang Yin dengan gelar kebangsawanan.


Semua orang menatap kagum pada Fang Yin terutama kaum adam. Sebagian besar kaum wanita meresponnya dengan cibiran. Mereka tidak mau mengakui kemampuan Fang Yin karena hati mereka dipenuhi oleh rasa iri.


Jian Heng terus menatap Fang Yin dengan bangga dan selalu menyunggingkan senyuman untuknya. Sayangnya, Fang Yin masih merasa kesal padanya dan mengabaikannya.


Dari tempat duduknya, Jing Jihua bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukan oleh Jian Heng. Dia semakin membenci Fang Yin dan menganggapnya sebagai wanita penggoda.


'Hanya aku yang pantas untuk menikah dengan Pangeran Ketiga. Aku harus menyingkirkan wanita udik ini,' gumam Jing Jihua dalam hati.


Bukan hanya Jing Jihua yang merasa iri pada Fang Yin, para putri bangsawan pun memiliki kedengkian yang sama. Mereka sakit hati ketika melihat ketiga pangeran tampan itu berebut untuk mendapatkan perhatiannya.


Dalam jamuan besar seperti ini, para tamu tidak mengambil sendiri makanannya, pelayan istana melayani tamu undangan dan mengambilkan makanan untuk mereka.


Fang Yin yang tidak terbiasa dengan makanan istana terlihat bingung. Dia tidak tahu nama-nama makanan yang disajikan dalam perjamuan ini. Agar tidak terlihat memalukan, dia memasang telinganya lebar-lebar guna mendengar para tamu yang menyebutkan nama makanan yang mereka inginkan.


Selir Tang merasa heran saat Fang Yin meminta pelayan untuk membawakannya makanan vegetarian.


"Nona Xiao, apakah Anda tidak menyukai daging dan makanan hewani?"


Pertanyaan Selir Tang membuatnya kebingungan. Dia sendiri tidak tahu makanan yang baru saja dia minta.


"Su-suka, Yang Mulia."


"Lalu mengapa kamu memilih menu sayuran dan buah-buahan yang dikeringkan?"


Fang Yin masih memikirkan jawabannya, tetapi Jian Heng telah lebih dulu datang menghampiri mereka. Rupanya sejak tadi dia memperhatikan ibu dan kekasihnya itu.


"Karena aku sudah memesankan makanan lain untuk Xiao Yin." Jian Heng menyodorkan makanan yang telah diterimanya pada Fang Yin lalu memesannya lagi.


Dia berharap setelah ini Fang Yin tidak akan mengacuhkannya lagi.


'Kamu memang telah menyelamatkanku dari rasa malu, Tetua Yu, tapi bukan berarti aku sudah memaafkanmu. Kamu membuatku sangat kesal.'


Fang Yin berpura-pura bersikap baik pada Jian Heng ketika dia berada di hadapan Selir Tang.


Jian Heng tidak mempedulikan pandangan orang dan memilih duduk bersama Selir Tang dan Fang Yin. Beberapa kali Kaisar Xi memberi isyarat yang memintanya untuk kembali ke tempat duduknya. Namun, dia mengabaikannya dan tetap diam tak bergeming.


"Sayang, kamu tidak seharusnya duduk di sini," ucap Selir Tang lembut.


"Aku ingin ibu menyuapiku. Sudah lama ibu tidak melakukannya. Rasanya pasti lebih enak."


Selir Tang menggeleng. Sebandel apapun putranya, dia tetap tidak bisa untuk bersikap keras padanya. Semua orang memakluminya karena selama ini mereka terpisah cukup lama.


Hati Fang Yin mulai mencair melihat kasih sayang diantara keduanya. Dalam hati dia merasa iri dan ingin merasakan kasih sayang seorang ibu. Belum saatnya dia menjemput dan tinggal bersama Selir Shi.


Jing Jihua tidak tahan melihat pria pujaannya memperhatikan wanita lain. Seorang yang duduk di dekat Fang Yin pergi untuk mengambil sesuatu. Dia merasa ini kesempatan untuk mengambil tempat duduknya. Selir Tang tidak akan menegurnya karena dia menduduki kursi yang kosong, meskipun sebenarnya apa yang dilakukannya tak jauh beda.

__ADS_1


Jian Heng menatapnya jengah.


"Maaf, aku ingin bergabung bersama kalian. Boleh, ya?" Jing Jihua mengedip-ngedipkan matanya.


"Tidak boleh!" sergah Jian Heng langsung.


Selir Tang memelototi keduanya lalu memintanya untuk diam ketika makan.


'Haish. Malas sekali aku duduk berdekatan dengan wanita ini.' Fang Yin melirik ke arah Jing Jihua sekilas lalu kembali menikmati makanannya.


"Kamu bisa, ya, makan dengan tetap memakai penutup wajah. Kenapa tidak kamu lepaskan saja cadarmu itu?" celetuk Jing Jihua.


Jian Heng ingin menjawab pertanyaan Jing Jihua yang berniat memojokkan Fang Yin. Namun, Fang Yin mengangkat tangannya memintanya untuk diam.


"Penutup wajah ini tidak ada hubungannya denganmu, Tuan Putri. Anda tidak perlu meresahkannya."


Selir Tang tersenyum bangga mendengar jawaban tegas Fang Yin. Sebelum menjadi selir Kaisar Xi, dia adalah seorang kultivator yang kuat. Namun, tidak ada yang tahu tentang latar belakangnya.


'Selain penampilannya yang aneh, wanita ini juga sangat sombong. Bagaimana bisa Pangeran ketiga tertarik pada gadis yang angkuh dan tidak ada lembut-lembutnya sama sekali ini.' Jing Jihua mendelik melihat Fang Yin.


Setiap kali dia melihatnya, kebenciannya pun semakin bertambah. Diam-diam dia berpikir untuk menyingkirkan Fang Yin dari pertarungan cintanya.


Makan malam telah usai. Para pembesar istana mulai meninggalkan ruangan. Hanya tinggal keluarga inti saja.


Jing Jihua dengan tidak tahu malunya tetap diam di sana meskipun keluarganya telah pergi meninggalkan tempat itu.


"Yang Mulia, malam telah larut. Jika sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, saya pamit undur diri untuk beristirahat." Fang Yin berbicara dengan kedua tangannya menyatu di depannya.


"Silakan, Nona Xiao. Kami juga akan pergi beristirahat."


Kaisar Xi berdiri dan diikuti oleh para ratu meninggalkan tempat. kedua pangeran juga mengikuti di belakang, sementara Jian Heng menyusul di belakangnya bersama Fang Yin dan Jing Jihua.


Jing Jihua mengambil posisi di tengah untuk menghalangi Fang Yin dan Jian Heng agar tidak berdekatan. Dengan penuh percaya diri dia menggamit lengan Jian Heng tanpa permisi.


"Jing Jihua, lepaskan! Jaga sikapmu! Kau cari saja pria yang menyukaimu. Aku tidak menyukaimu!" bentak Jian Heng sambil mendorong tubuh Jing Jihua.


Jing Jihua limbung dan hampir jatuh. Namun, Fang Yin menahannya sehingga dia tetap berdiri dengan tegak.


Bukannya berterima kasih, Jing Jihua malah mendorong Fang Yin. Dan mengibas-ngibas bekas sentuhan Fang Yin ditubuhnya.


"Tidak usah berpura-pura baik padaku. Kamu telah mempengaruhi Pangeran ketiga untuk membenciku."


Tidak ingin mengundang keributan dan menjadi tontonan orang-orang, Jian Heng menarik tangan Fang Yin dan membawanya terbang ke atas atap. Gerakan mereka yang sangat cepat membuat keduanya hampir tak terlihat.


Jing Jihua mencari mereka ke sekelilingnya, tetapi tidak menemukannya. Orang-orang yang melihatnya tidak tahu jika dia sedang mencari Jian Heng.


Jian Heng dan Fang Yin melompat dari satu atap ke atap yang lain hingga mereka tiba di istananya. Keduanya lalu turun dan berhenti di taman.

__ADS_1


"Tuan Pangeran, Anda begitu tidak sopan membawaku pergi tanpa ijin." Kata-kata Fang Yin menyiratkan kekesalannya.


"Aku gerah berada di dekat wanita itu. Rasanya aku ingin pergi saja dari istana ini sekarang."


Meskipun terlihat samar, tetapi Fang Yin bisa melihat dengan jelas jika dia sangat kesal.


"Jadi kamu tidak ingin tinggal di istana karena dia?" tanya Fang Yin mulai melunak.


"Dia salah satunya. Aku tidak tergiur dengan perebutan kekuasan. Hidup di alam bebas membuatku lebih tertantang dan merasa jadi diri sendiri. Tidak ada yang mengatur, tidak ada persaingan, dan tidak ada perjodohan. Aku bebas."


Jian Heng berjalan pelan menuju ke sebuah batu lalu duduk. Fang Yin mengikutinya dan duduk di sampingnya.


"Aku tahu ini sulit bagimu, tapi aku akan sendirian di sini jika kamu pergi sekarang."


Jian Heng tersenyum. Secara tidak langsung Fang Yin memintanya untuk tetap bersamanya.


"Kamu tidak perlu khawatir. Selesaikan tugasmu di sini dengan baik. Aku akan menunggumu."


"Terimakasih." Fang Yin merasa lega.


Jian Heng adalah seorang pria yang bertanggung jawab. Dia yang membawa Fang Yin ke sana, tidak mungkin dia akan meninggalkannya.


Hampir saja dia melupakan tentang gulungan yang akan dia berikan untuk Fang Yin. Dia membuka tangannya, sebuah gulungan muncul di sana.


"Aku punya sesuatu untukmu."


Fang Yin menerima gulung itu. Dia mengamatinya terlebih dahulu sebelum membukanya.


"Apa ini?"


"Bukalah! Gulungan itu berisi teknik dimensi ruang dan waktu. Aku tidak membutuhkannya karena aku tidak menguasai teknik itu. Dulu aku mendapatkannya secara tidak sengaja di sebuah makam kuno."


"Terimakasih, Yang Mulia."


Baru saja akan membuka gulungan itu, tiba-tiba Fang Yin merasakan akan kedatangan beberapa orang menuju ke sana. Dia mengurungkan niatnya dan memilih untuk menyimpan gulungan itu sebelum ada yang melihatnya.


Jian Heng menoleh ke belakang karena dia juga merasakan hal yang sama dengannya.


"Ada yang datang."


Mereka berdua mengucapkan kalimat itu secara berbarengan.


Langkah kaki mereka semakin jelas. Mereka yakin jika jumlahnya lebih dari dua orang. Keduanya kemudian berdiri dan berjalan mendekati gerbang istana Jian Heng.


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2