Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 368. Berhasil Selamat


__ADS_3

Saat dalam perjalanannya, Fang Yin sudah tidak bisa merasakan apa pun di sekelilingnya. Pandangan matanya terasa gelap dan tidak bisa melihat meskipun matanya terbuka.


Kesadarannya perlahan menghilang dan membuatnya tidak sadarkan diri ketika tubuhnya sampai di kamarnya. Fang Yin terbaring di tempat semula sebelum kepergiannya menuju ke dimensi naga. Jejak energi terakhir yang tertinggal membuatnya mendarat di sana.


Perbedaan waktu yang ada di dimensi naga dan dunia manusia membuatnya pergi dalam waktu yang cukup lama. Terhitung dia telah menghilang selama satu minggu.


Selir Shi dan Tian Feng mengerahkan semua orang untuk mencarinya. Begitu juga dengan Shi Jun Hui dan Shi Han Wu yang turun langsung untuk mencarinya.


Selir Ning datang ke kamar Fang Yin untuk membereskan kamar itu. Dia pun merasa sangat sedih melihat anak tirinya itu menghilang dengan tiba-tiba. Beberapa pengawal mengikutinya di belakang dengan membawa wewangian dan beberapa alat kebersihan.


Mata Selir Ning terlihat sembab karena menangis bersama Selir Shi sebelum datang ke kamar Fang Yin. Seorang pelayan membukakan pitu kamar itu untuknya. Mereka melangkah masuk dan mulai membersihkan dan menata kamar.


Keberadaan tempat tidur Fang Yin yang sedikit terlindung membuat mereka tidak bisa langsung melihat Fang Yin yang telah kembali ke kamarnya.


Seorang pelayan datang mendekati tempat tidur Fang Yin. Tubuhnya tersentak ke belakang dan jatuh karena terkejut melihat ada sesosok tubuh di sana.


"Arrgh!" pekiknya.


Teriakan itu memancing rasa penasaran pelayan lain dan juga Selir Ning.


"Ada apa?" tanya Selir Ning.


Tangan pelayan itu bergerak terlebih dahulu sebelum mulutnya berbicara. Dia menunjuk ke arah tempat tidur Fang Yin sambil berusaha untuk mengeluarkan suaranya.


"I-i-itu Yang Mulia." Mulutnya bergetar dan tidak bisa mengucapkan kata-kata dengan jelas.


Tidak sabar menunggunya bicara, Selir Ning dan dua pelayan lain memilih untuk pergi melihat tempat tidur Fang Yin. Ketiganya pun tersentak saat melihat seseorang tidur di sana.


Kelambu Fang Yin yang menutupi tempat tidurnya menghalangi pandangan dan membuat mereka tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang yang sedang tidur di tempat itu.


Selir Ning memberi isyarat kepada ketiga pelayannya untuk berjalan di belakangnya. Mereka menurut. Meskipun jarang bertarung setidaknya Selir Ning menguasai teknik beladiri untuk berjaga-jaga jika orang itu adalah penyusup.


Dengan cekatan Selir Ning membuka kelambu yang menutupi tempat tidur dengan menariknya. Kelambu itu jauh ke lantai dan terlihat siapa orang yang tidur di sana.


Mata Selir Ning terbelalak ketika mendapati putri sambungnya sedang tidur dalam keadaan yang tidak berdaya. Beberapa tubuhnya terdapat luka dengan baju yang sangat kotor dan terkoyak dibeberapa bagian. Dia tidak menyadari jika Fang Yin telah pulang.


"Yin'er!" panggilnya pelan.


Fang Yin tidak menyahut karena dirinya sedang tidak sadarkan diri. Wajahnya memucat dengan mata yang tertutup rapat.


"Yin'er, kamu dengar aku?" ulang Selir Ning.


Tidak ada jawaban.


Ekspresi wajah Selir Ning mulai panik. Dan menggoyang-goyangkan tubuh Fang Yin untuk membangunkannya. Melihat Fang Yin tidak juga terbangun, kecemasannya kian memuncak.


"Pengawal! Pengawal!" teriak Selir Ning sambil menangis.


Selir Ning bukan Selir Shi yang mengerti tentang ilmu pengobatan. Dia tidak mengerti apa yang terjadi pada Fang Yin saat ini.


Kedua pengawal yang berjaga di luar kamar berlari menghampiri Selir Ning yang sedang menangis meraung-raung. Salah satu dari mereka langsung mengerti apa yang terjadi dan segera pergi untuk menyampaikan berita ini kepada Selir Shi dan Tian Feng.


"Yang Mulia, apa yang terjadi?" tanya pengawal yang tinggal di ruangan itu dengan wajah panik.


"Bodoh! Harusnya kalian tahu jika Yin'er sudah kembali."


"Kami tidak bergeser dari tempat kami berdiri tetapi tidak ada seseorang pun yang datang." Pengawal itu membela diri.


Selir Ning melambaikan tangannya tidak ingin berdebat lagi. Mungkin saja apa yang dikatakan oleh pengawal itu benar. Bisa saja Fang Yin menggunakan teknik teleportasi dan sejenisnya untuk datang ke sana.


Selir Shi dan Tian Feng datang tergesa menghampiri Fang Yin. Keduanya segera memeriksa keadaan Fang Yin dengan teliti tanpa banyak bicara. Melihat wajah cemas Selir Shi, kesedihan Selir Ning semakin menjadi-jadi.


Tian Feng mulai mengalirkan Qi pengobatan ke tubuh Fang Yin. Meskipun tidak menyembuhkannya setidaknya mampu membuat jantung dan paru-parunya tetap terjaga.


Denyut nadi Fang Yin sangat lemah, Selir Shi memberinya pijatan di beberapa bagian untuk memperlancar peredaran darahnya. Pada titik-titik tertentu terjadi penyumbatan.


"Ada beberapa titik yang tidak bisa aku perbaiki sekarang. Sepertinya Yin'er sedang mengalami luka dalam yang cukup serius," ucap Selir Shi dengan wajah sedih.


"Bukan," ucap Tian Feng.


Selir Shi menatapnya tidak mengerti. Suaminya itu memiliki pendapat yang berbeda dengannya.


"Yin'er kehilangan sebagian besar energi pendampingnya. Luka dalam biasa tidak akan membuatnya seperti ini. Dantiannya menyimpan banyak energi dan memungkinkannya bisa memulihkan luka dalamnya dengan cepat. Namun, itu tidak bisa terjadi mengingat energi pendampingnya terkuras habis."


Penjelasan Tian Feng membuat Selir Shi semakin panik. Keadaan ini tidak mudah untuk Fang Yin. Seseorang yang kehilangan energi pendampingnya dalam jumlah banyak bisa mengalami kelumpuhan secara permanen.


Selir Shi menjatuhkan tubuhnya dan terduduk di lantai. Apa yang disampaikan oleh Tian Feng membuat hatinya terguncang. Air matanya menetes tetapi dia tidak mengeluarkan suara dalam tangisnya.


Selir Ning menghampirinya lalu memeluk bahunya. Mereka berdua berbagi kesedihannya.


"Yu Jie! Apa yang terjadi?" tanya Yu Ruo saat tiba di kamar Fang Yin.


Tidak lama kemudian Shi Han Wu dan Shi Jun Hui datang menyusul.


Sebagai orang yang pertama kali menemukan Fang Yin, Selir Ning menjelaskan apa yang dia tahu.


"Yin'er tiba-tiba sudah ada di kamar ini. Pengawal yang berjaga di luar tidak melihatnya datang dan memasuki kamarnya. Kemungkinan Yin'er menggunakan teknik teleportasi untuk sampai di sini," jelas Selir Ning sambil terisak.


Shi Han Wu dan Shi Jun Hui ikut memeriksa tubuh Fang Yin. Mereka tidak menyangka jika cucu mereka sampai kehilangan energi pendampingnya.

__ADS_1


"Kita tidak bisa berdiam diri. Keadaan Fang Yin akan semakin memburuk jika tidak segera diberikan pertolongan." Shi Han Wu terlihat cemas.


"Apakah guru memiliki solusi untuk ini? Tubuh Yin'er tidak merespon ketika aku menrasfer energi pendampingku untuknya." Tian Feng menatap Shi Han Wu penuh harap.


Shi Han Wu terlihat menghela nafasnya. Hanya ada satu jalan yang bisa mereka lakukan. Fang Yin harus dibawa ke Kolam Naga yang ada di Bukit Lentera Emas.


"Kita harus segera membawanya ke Bukit Lentera Emas untuk memulihkannya. Saat ini tubuh Yin'er sedang tidak stabil dan mengalami kemunduran. Semakin menundanya maka keadaan Yin'er akan semakin memburuk," jelas Shi Han Wu.


Penjelasan Shi Han Wu membuat semua orang semakin khawatir. Mereka tidak menyangka jika Fang Yin akan mengalami ini.


"Aku akan mempersiapkan keberangkatan kita," ucap Shi Jun Hui.


Perjalanan ini akan melibatkan banyak orang untuk berjaga-jaga mengingat Bukit Lentera Emas berada di wilayah perbatasan Benua Utara. Meskipun Kaisar Jing berhubungan baik dengan mereka tetapi para penjaga dan penduduk awam tidak akan mudah untuk percaya.


Shi Han Wu membawa serta Yu Ruo, Selir Shi dan juga Selir Ning. Dalam perjalanan ini dan meminta Tian Feng untuk tinggal dan mengurus istana selama mereka pergi.


Waktu keberangkatan pun tiba. Pengawal dan pasukan yang mereka miliki sangat terbatas, untuk itu mereka memilih untuk berangkat dan mengandalkan keluarga mereka saja. Perjalanan ini juga cukup berbahaya dan harus dilakukan dengan cepat demi keselamatan Fang Yin.


Kereta yang membawa Fang Yin berada di tengah sedangkan Shi Jun Hui dan Shi Han Wu berjaga di bagian belakang. Rombongan Fang Yin berjalan melintasi wilayah Benua Timur di bagian utara dengan rute yang cukup sulit.


Shi Jun Hui memimpin di depan dan Shi Han Wu mengawal di belakang. Mereka melewati jalanan terjal dan medan yang cukup sulit.


Jalur yang mereka lewati bukan jalur utama sehingga mereka tidak bertemu pengguna jalan lain yang melintas. Butuh waktu sehari semalam untuk mencapai Bukit Lentera Emas. Namun, sepertinya mereka akan sampai lebih cepat dari perkiraan.


Saat matahari mulai terbenam, mereka sudah melewati lebih dari tiga perempat perjalanan. Diperkirakan mereka akan sampai di tempat tujuan sebelum tengah malam.


Untuk menghemat waktu mereka tidak beristirahat. Shi Han Wu rela memberikan pil penambah tenaga untuk kuda-kuda mereka agar bisa melaju dengan cepat dan tidak mudah lelah.


Bukit Lentera Emas sudah terlihat. Di puncak bukit terlihat api berwarna keemasan yang selalu menyala dalam kegelapan. Api itu berasal dari sumber energi yang memancar dari Kolam Naga.


"Bukit Lentera Emas sudah terlihat. Kita harus berhati-hati. Ada penduduk yang mendiami kaki bukit. Aku dengar mereka memiliki sifat kejam dan bengis." Shi Han Wu bersikap waspada.


"Kita bisa bergerak pelan agar tidak ada yang menyadari kedatangan kita." Shi Jun Hui meminta mereka memelankan kudanya.


Mereka melewati jalan yang dikelilingi oleh pepohonan besar yang tumbuh di kanan kiri jalan. Suara binatang malam bersahut-sahutan memecah keheningan malam.


Shi Jun Hui melompat turun dan menuntun kudanya. Shi Han Wu pun melakukan hal yang sama. Mereka melangkah pelan menaiki bukit.


Cahaya terang dari puncak bukit semakin dekat. Keadaan di sekeliling Bukit Lentera Emas terlihat jelas dengan penerangan dari cahaya itu.


"Itu goanya!" tunjuk Shi Jun Hui.


Shi Han Wu melihatnya dengan mata batinnya. Mereka tersenyum senang karena sebentar lagi akan sampai di tempat tujuan mereka.


Jarak antara goa dan tempat mereka berdiri kurang dari seratus kaki. Shi Jun Hui memutuskan untuk mengikat kuda-kudanya di tempat itu.


"Kita berhenti sampai di sini saja. Aku yang akan menggendong Yin'er ke dalam," ucap Shi Jun Hui.


Shi Jun Hui berjalan di depan dengan membawa Fang Yin. Di sampingnya Shi Han Wu menyertainya sedangkan para wanita berjalan di belakang.


Mereka menurunkan kewaspadaannya karena hampir mencapai Kolam Naga berada. Namun, saat mereka hampir mencapai goa di mana Kolam Naga berada, berkelebat bayangan hitam melintas di hadapan mereka.


Sebuah lemparan pisau mengarah pada Shi Jun Hui dan Fang Yin. Shi Han Wu menangkap pisau-pisau itu dan mengembalikannya ke arah dari mana pisau itu berasal.


"Siapa kalian?" seru Shi Han Wu.


Penampilannya yang sekarang akan sulit dikenali oleh para bandit. Setelah tinggal di istana, dia lebih rapi dan berwibawa. Identitas sebagai Pendekar Iblis Buta yang selalu lusuh dan kumal telah dia tanggalkan.


"Hahaha! Salam hormat para bangsawan. Sebelum mencabut nyawa kalian aku ingin memperkenalkan diri." Pria berjubah hitam dan memegang pedang berbicara dengan percaya diri.


"Oh, jadi kalian adalah kelompok Bandit Naga. Aku mendengar nama besar kalian. Sungguh ancaman yang kamu ucapkan begitu menakutkan, bagaimana jika kita bernegoisasi," tawar Shi Han Wu.


"Kamu pikir kamu siapa? Kami bisa mendapatkan apa yang kami inginkan, untuk apa bernegoisasi." Bandit itu sangat sombong.


"Baiklah! Jangan sampai kalian menyesal dengan keputusan kalian." Shi Han Wu mengeluarkan kecapinya.


Alunan nada lambat mulai terdengar. Gelombang energi keluar dari dawai kecapi yang bergetar saat dipetik. Shi Han Wu mengarahkan energi yang terkumpul pada para bandit yang berdiri di hadapannya.


Para bandit yang berjumlah delapan orang itu melompat ke udara dan menyerang Shi Han Wu dari jarak jauh.


Shi Jun Hui berusaha untuk melindungi Fang Yin sembari menghalau serangan yang menghampirinya.


Selir Shi, Selir Ning dan Yu Ruo pun ikut andil di dalam pertarungan. Sisi lembut mereka menghilang saat aura kejam menyelimuti tubuh mereka. Ketiganya melompat ke udara dan bersiap untuk menyerang para bandit.


Pertarungan di antara mereka tidak bisa terhindarkan lagi. Kedua belah pihak sama-sama kuat dan terlihat seri. Namun, Shi Han Wu belum menunjukkan kekuatannya yang sebenarnya.


Serangan para bandit berhasil mengenai Shi Jun Hui dan Selir Shi. Mereka terus terdesak ke belakang dan terluka.


Apa yang terjadi pada keduanya membuat Shi Han Wu tidak terima. Aura yang menyelimuti tubuhnya meningkat tajam. Dengan sekali serang dia berhasil menjatuhkan lawannya.


Satu-persatu tubuh para bandit tertangkap olehnya dan diperlakukan seperti sebuah mainan. Shi Han Wu membuat tulang-tulang mereka seperti remuk. Kedelapan bandit terkapar tak berdaya dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Kita masuk sekarang sebelum gangguan kembali datang!" perintah Shi Han Wu. Dia memintanya berjalan di depan sementara dirinya berjalan di belakang untuk berjaga.


Kolam Naga berhasil dicapai. Airnya terlihat berkilauan saat terkena cahaya energi yang dipancarkan oleh kekuatan Shi Han Wu.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Shi Jun Hui.


Shi Han Wu mengeluarkan sebuah kain yang panjang. Dia membuat pancang lalu mengikat kedua ujung kain di sana. Setelah terikat dengan kuat dia kembali ke hadapan Shi Jun Hui dan yang lainnya.

__ADS_1


"Sekarang kamu letakkan tubuh Fang Yin di tengah kain ini. Jangan khawatir, tubuhnya hanya akan terendam sebagian saja." Shi Han Wu meyakinkan Shi Jun Hui yang menatapnya ragu.


Shi Jun Hui mengangguk. Dia lalu melompat ke udara menuju ke tengah kolam. Setelah sampai di sana dia bergerak turun secara perlahan lalu meletakkan tubuh Fang Yin di sana.


Tubuh Fang Yin turun sedikit demi sedikit ke dalam kolam dan menyentuh air hingga terendam sebagian.


Permukaan air Kolam Naga yang semula tenang mulai bergelombang. Aura energi membumbung tinggi dari dalam kolam dan merambat naik menyelimuti tubuh Fang Yin.


"Apakah Yin'er akan segera pulih setelah ini?" tanya Selir Shi pada ayahnya.


Shi Jun Hui beralih menatap Shi Han Wu karen dia yang paling tahu tentang masalah ini. Pengetahuannya tentang pengobatan berada jauh di bawahnya, begitu juga dengan pengalamannya.


"Aku belum pernah melihat pengobatan dengan cara ini karena apa yang dialami oleh Yin'er sangat langka. Kalaupun ada yang kehilangan energi pendampingnya maka dia tidak akan bisa bertahan hidup untuk waktu yang lama."


Penjelasan Shi Han Wu membuat semua orang tercengang. Selir Shi terlihat sedih dan tidak bisa berharap banyak pada putrinya. Asal dia selamat maka Selir Shi sudah sangat bahagia.


Selir Shi dan yang lainnya berjalan mendekat untuk melihat penyerapan esensi energi dari Kolam Naga. Air yang semula jernih kini berubah menjadi putih susu. Dari permukaannya terpantul cahaya ke lubang atas goa.


Cahaya yang menyelimuti tubuh Fang Yin terus terkumpul dan membuatnya terlihat seperti kepompong yang menyala. Hawa di dalam goa berubah menjadi hangat. Seluruh keluarga Fang Yin merasa harap-harap cemas menanti penyerapan energi yang dilakukannya selesai.


"Langit mulai terang tetapi Fang Yin belum juga tersadar." Selir Ning terlihat sedih. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Selir Shi.


"Bersabarlah. Putri kita sedang berjuang antara hidup dan mati saat ini." Selir Shi mencoba menenangkannya meskipun dia sendiri tidak bisa tenang.


Tubuh Fang Yin yang terbungkus oleh cahaya energi bergerak ke atas lalu kembali turun dengan cepat memasuki Kolam Naga. Suara dentuman air yang terhantam tubuhnya menggema. Kejadian ini mengejutkan semua orang.


Kelima anggota keluarga Fang Yin melompat ke atas untuk melihat apa yang terjadi padanya. Mereka terlihat khawatir dan berharap Fang Yin baik-baik saja.


Permukaan Kolam Naga kembali tenang setelah menelan tubuh Fang Yin. Di kedalamannya terlihat sebuah titik cahaya yang membias di permukaan. Tidak ada yang tahu kedalaman Kolam Naga yang memiliki lebar sekitar sepuluh kaki tersebut.


"Ayah! Aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada putriku." Selir Shi mulai menangis.


"Mengapa hidupnya selalu dipenuhi dengan kesulitan? Aku rela menerima rasa sakit untuk menggantikannya," imbuh Selir Shi.


"Tenanglah Yu Jie! Semuanya pasti akan baik-baik saja. Yin'er seorang yang kuat. Kamu tidak akan pernah bisa menggantikan penderitaannya karena kamu tidak setangguh dirinya," ucap Shi Jun Hui.


"Itu benar. Yin'er telah menghadapi banyak penderitaan dan kesulitan yang menjadikannya seorang yang sangat tangguh." Shi Han Wu sangat mengenal Yin'er melebihi kakek kandungnya.


Penglihatannya sangat tajam di mana dia bisa melihat keadaan Fang Yin di dalam Kolam Naga baik-baik saja.


"Semoga saja Yin'er segera kembali." Yu Ruo percaya jika Fang Yin baik-baik saja.


Permukaan Kolam Naga mulai beriak. Susana di sekitarnya pun ikut berubah. Udara yang tenang berubah menjadi badai kecil yang membetuk pusaran di atas permukaan air.


Pusaran udara di atas permukaan air membuat air Kolam Naga terangkat dan membentuk kerucut dengan ujung yang runcing di bagian bawah.


Tidak hanya satu pusaran saja yang terbentuk melainkan beberapa. Pusaran-pusaran menghadirkan energi dengan warna cahaya yang berbeda. Kolam Naga terlihat sangat indan dengan pusaran energi yang mirip seperti bunga-bunga yang mengambang di atas kolam.


Saat semua orang terlena dengan keindahannya tiba-tiba permukaan air mulai bergelombang. Kepala naga muncul dari dalam kolam lalu bergerak menarik tubuhnya ke atas. Fang Yin berubah menjadi naga setelah masuk ke dalam Kolam Naga.


Naga berwarna kuning keemasan perwujudan dari Fang Yin melesat ke udara dan berputar-putar mengelilingi ruangan dalam goa. Sisa-sisa air di tubuhnya menetes dan membiaskan warna pelangi yang sangat indah.


Keluarga Fang Yin berdiri menunggunya di tepi kolam. Mereka merasa lega saat melihat Fang Yin selamat dan kembali bertransformasi menjadi naga emas.


Fang Yin meliuk-liuk saat bergerak turun ke hadapan keluarganya. Saat tubuhnya menyentuh tanah, dia kembali menjadi seorang manusia.


"Yin'er memberi hormat pada semuanya." Fang Yin menyatukan kedua tangannya untuk memberi hormat pada keluarganya.


"Yin'er!" pekik Selir Shi berlari memeluknya.


Mereka bergantian memeluk Fang Yin dengan penuh keharuan. Satu persatu mereka mengungkapkan kebahagiaannya.


Keharuan telah berakhir dan suasana kembali tenang. Shi Jun Hui bersiap untuk menanyakan kepergian Fang Yin selama seminggu ini.


"Yin'er, kamu telah menghilang selama satu minggu. Kami sangat khawatir. Seluruh wilayah Benua Timur telah dijelajahi tetapi tidak ada yang tahu di mana keberadaanmu." Shi Jun Hui mengungkapkan apa yang membuatnya merasa penasaran.


"Maafkan aku, Kek. Aku tidak bermaksud untuk membuat kalian merasa khawatir. Meskipun kalian menjelajahi seluruh dunia maka kalian tidak akan pernah menemukanku."


Semua orang tercengang saat mendengar jawaban dari Fang Yin. Mereka tahu jika ada dimensi lain yang bisa ditembus oleh Fang Yin setiap saat. Hal yang membuat mereka merasa aneh yaitu mengapa Fang Yin pergi dalam waktu yang lama dan kembali dalam keadaan tidak sadarkan diri dan terluka.


"Kamu berlatih terlalu keras, Yin'er. Bagaimana bisa kamu kehilangan energi pendampingmu hingga ke dasar-dasarnya? Bagi orang lain mungkin mereka tidak akan bisa selamat." Shi Jun Hui berbicara dengan sedikit kesal.


Fang Yin terlihat bingung untuk memulai dari mana. Terlalu panjang untuk menceritakannya secara detail sementara mereka saat ini sedang berada di tempat yang asing.


"Aku akan menceritakannya ketika kita sampai di istana. Apa yang aku alami sangat banyak dan tidak mungkin aku ceritakan di sini sekarang. Kita tidak bisa bersantai di tempat yang asing." Fang Yin merasakan hawa kehidupan lain di luar goa.


"Baiklah! Mari kita pulang." Shi Han Wu mulai melangkah tetapi Fang Yin memegang tangannya.


Mereka semua menatap Fang Yin dengan tatapan ingin tahu. Tidak mungkin Fang Yin menghalanginya tanpa alasan.


"Aku merasakan hawa kehidupan di luar goa ini. Aku takut jika mereka akan menjadi ancaman bagi kita."


Pernyataan Fang Yin kembali membuat mereka tercengang. Insting seorang Dewi Naga tidak bisa diremehkan, mereka akan mengikuti arahan dari Fang Yin setelah ini.


"Kakek Wu dan kakek Hui keluarlah melalui pintu dari mana kalian masuk. Aku, ibu dan nenek akan keluar melalui lubang udara di atas langit-langit goa," jelas Fang Yin.


Mereka mengangguk setuju dan melakukan rencana yang disusun oleh Fang Yin.


Shi Jun Hui dan Shi Han Wu berjalan terlebih dahulu menuju ke mulut goa sedangkan para wanita melompat ke atas menuju ke lubang angin yang cukup besar.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2